Rabu, 22 Mei 2019



SISI VPN YANG SIAP MENGGIGIT

@daras09


'Kok ngak bisa? tiga kata ini aku posting di laman facebookku kemari malam sekitar pukul 19.08. Aku posting ini karena tidak bisa membuka semua media sosial yang aku ikuti selama, tidak dapat terbuka seperti biasa. Gambar yang menyertai tulisan semuanya putih kecuali satu tulisan saja. bingung dan tanya dalam hati tentunya gencar menyapa. Tidak berapa lama postingan itu mengudara sudah disambut dengan pertanyaan "ga bisa apa bunda? begitu juga yang memberikan jempol tangannya. Aku coba mencari info dengan membuka laman simbah, ternyata memang disengaja melambatkan laju koneksi internet agar tidak dapat mengakses segala keadaan yang sedang terjadi saat ini. Sebelum mengetahui penyebab situasi itu sempat pikiran negatif terjadi pada gawai. Ternyata ada yang lebih parah lagi tingkat kebingungannya dari aku, gawai sampai dimatikan berkali-kali, direstal ulang berkali-kali ternyata tetap tidak bisa, oleng-oleng tidak jelas. Mungkin se Indonesia Raya jangan -jangan sama oleng-olengnya hehehe......

       Ditengah sedikit galau itu ada yang menyarankan agar mengunduh VPN agar jaringan internetnya lancar kembali. Mencoba mengunduh lagi dan sudah berhasil tinggal tayang mencoba benarkah yang dikabarkan teman-teman yang sering bersama karena sama-sama bingung dan kesal, tapi aku dihapus lagi, sampai pagi tadi tetap mencoba lagi ketika sudah sampai di tempat kerja, dan terpaksa dengan secepatnya aku buang dari gawaiku karena ternyata sangat berbahaya, bahaya apa ya tanya hatiku, mencoba bertanya dalam hatiku. Untuk menjawab semua rasa ketidak tahuan akan sisi negatif menggunakan VPN apalagi yang berkonten gratis alias tidak berbayar akhinya kebuat janui dengan yang memiliki kemampuan yang luar biasa karena mampu menjawab hampir semua hal yang kita ingin ada jawabanyan, hehehe.... pada tahu dong semuanya apa yang aku maksud? Benar saja kalau menggunakan VPN itu dapat membahaya. Hal apa saja yang membahayakan itu, yok kita simak siapa tahu manfaat.

          Tentu semua sudah tahu apa yang sedang kita alami saat ini di negeri tercinta kita yang kaya raya ini katanya. Biasanya kalau bicara kaya selayaknyalah penghuni di dalamnya bahagia, aman dan nyaman karena semua fasilitas yang dibutuhkan sudah tersediah tinggal menggunakan saat dibutuhkan. Begitulah sedikit gambarannya, belum lagi harta yang tersimpan di bilik-biliknya memang benar kaya dengan terbentangnya lahan yang sangat luas terhampar luas bagaikan permata yang indah terpampang di depan mata yang dikenakan seorang putri cantik jelita. Ternyata yang  terjadi kerusakan yang kita saksikan di mana-mana, kesengsaraan yang memprihatinkan yang kita saksikan setiap harinya, bergumul dengan peluh hanya untuk mendapatkan sedikit rezeki biar bisa bertahan hidup. Sementara orang yang seharusnya tidak berhak, dengan enak dan entengnya tanpa malu menggondol semua yang sudah diwariskan para leluhur untuk generasi penerusnya agar mampu hidup mandiri berdiri di kaki sendiri tanpa harus juga melangkah pergi keluar rumah untuk mendapatka yang diingin karena hak sudah dirampas orang yang tidak bertanggungjawab, dengan resiko yang tidak boleh dianggap sepele karena bisa saja ada kabar tapi kabar yang mengatakan kalau sudah menghadap yang kuasa untuk mempertanggungjawabkan hal yang tidak pernah dilakukaan. Hanya ingin mempertahankan kehormatan harta yang tinggal di badan. Situasi yang saat ini terjadi akhirnya sangat berdampak yang diluar keinginan yang diharapkan, hingga berjatuhan korban bahkan sampai merenggut nyawa yang tidak berdosa.

Begitu gentingnya situasi ini yang berdampingan lagi dengan berbagai gambar yang bermunculan silih berganti berlombah-lombah menampakkan diri, dari hal yang tidak enak di pandang sampai mengiris rasa yang menyaksikan. Terpaksa beberapa pintu masuk dunia maya katanya dilambatkan sehingga membuat resa ketika memandang karena bergoyang-goyang tak jelas, hingga sampai kapan tak bisa menjawab dengan jelas. Semua resa karena terganggu dengan segala aktifitas yang selama ini sudah berlangsung nyaman, mulai dari yang hanya sekedar nampang-nampang dari hasil jepretan, menyampaikan kelangsungan hidup karena numpang juga menjajakan berbagai kebutuhan dan mencurahkan hati lewat tulisan. Bagaikan tersesat jalan semua mencari jalan keluar agar tetap aktifitas jalan hingga sampai ketujuan. Semua berkeluh kesah karena tanpa didahului mendung hujan turun mengguncang siang yang memancarkan senyum.

VPN tercetuskan jadi bahan bahasan tiba-tiba jadi primadona. Langsung mengunduh tanpa bertanya hal yang akan terjadi bila menggunakan, yang penting bisa melanjutkan keinginan terus berjalan sesuai harapan. Sempat hati kepincut tanpa pikir langsung ikut nimbrung, alhamdulilah diingatkan segera mundur sebelum terbentur pada sebuah penyesalan yang akan mengikut sepanjang langkah pada kehidup muncul. VPN (Virtual Private Network) jadi tumpuan harapan pada saat pintu dunia maya tidak bisa diakses seperti biasa. Saling menyarankan karena sudah mencoba dan berhasil menggunakan, kembali normal sesuai harapan. Jaringan ini katanya lebih aman dari koneksi internet biasa. Tapi ternyata VPN juga memiliki resiko yang wajib diketahui. karena bisa menganbil data pribadi sipemakai secara diam-diam, apalagi koneksi yang diunduh digunakan memilih yang gratisan. Kehilangan data perbankan atau data penting lainnya sangat tinggi untuk disadap, yang menyebabkan kerugian pada pemiliknya. Hal ini sudah lewat penelitian para peneliti dari 'Data61/CSIRO,UC Berkeley, UNSW Sydney dan UCSI, menunjukkan ada 283 aplikasi VPN sebagiannya mengalami   atau rentan terhdap virus yang dikeluarkan aplikasi ini. Karena itu marih kita lebih berhati-hati lebih baik. Semoga tulisan ini bermanfaat, kalau penasaran marih mencari informasi agar lebih terbukti kebenarannya. Semoga bermanfaat jadi bahan renungan sambil bersabar sedikit walaupun hati sudah mulai tak tahan. Semoga mereka yang berwenang segera sadar ada hal yang dikorbankan yang menjerit karena kehidupan butuh segera dituntaskan. Boleh takut, tapi sebaik-baik takut hanya kepada Allah sang pemilik seutuhnya kerajaan di langit dan juga di bumi. Manusia hanya singga sementara suatu hari akan kembalikan hal yang dititipkan kepada Sang Pemilik. Hidup hanya sekedip tidak ada yang abadi. Takutlah akan pembalasan yang sungguh pedih, kurangi arogansi mulailah berbelok pelan apalagi usia yang sudah merambat menujuh singgah sana mentari akan mendarat memulai malam yang akan pekat.

Jakarta, 18-19 Ramadhan 1440 Hijriah/ 23-240519 Masehi

#Day(17)
#OneDay OnePost30HRDC
#WraitingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah




Selasa, 21 Mei 2019


MALAM NUZULUL QUR'AN

@daras09




     Puasa Ramadhan bulan ini sudah beranjak keangka tujuh belas, itu berarti sudah berada di salah satu hari yang sangat istimewa, karena tanggal tujuh belas ini merupakan tonggak sejarah hadirnya Kitab Allah SWT ke muka bumi ini, lewat perantara Malaikat Jibril yang disampaika kepada seorang hambah Allah yang begitu sangat istimewa dari makhluk Allah yang lainnya yaitu junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW. HambaNya yang dengan penuh kepatuhan menjalankan semua perintah yang disampaikan dengan seluruh jiwa raganya. Sebagai pengikut beliau yang setia pantaslah di malam sebelum tanggal tujuh belas seluruh Masjid dan Musollah yang ada dipenjuru bumi ini selalu memperingati malam istimewa ini, ada rasa lebih ketika malam ini sudah mulai mendekat sudah saling mengingatkan malam yang sangat indah dan istimewa ini. Ceramah yang disampaikan pasti berkisah tentang kedasyatan kisah ini. Selalu dibicarakan walaupun yang mengalami masa ini yaitu Nabi Muhammad SAW sudah pergi menghadap Allah untuk selama-lamanya berabat-abat yang lalu.

     Malam Nuzulul Qur'an, Malam di mana turunnya Al-Qur'an dari Allah SWT lewat perantara Malaikat Jibril. Saat itu Nabi Muhammad sudah berumur 40 tahun, dan sudah menikah dengan Siti Khalijah seorang wanita janda keturunan bangsawan yang kaya raya. Saat menikahi Siti Khadijah umur Nabi Muhammad 25 tahun. Meskipun menikahi janda, tapi dalam kisah sejarahnya Siti Khadijah seorang istri yang sangat disayang dan dicintai Rasulullah. Rasa cinta ini sering menimbulkan rasa cemburu di hati istrinya yang lain meskipun Siti Khadijah sudah pergi lebih dahulu menghadapa Yang Kuasa. Suatu ketika tepatnya di bulan Ramadhan Nabi Muhammad SAW pamit kepada istrinya Siti Khadijah untuk meninggalka hiruk pikuk kota Makkah. Nabi Muhammad, kalau istilah milenial sekarang sedang galau hatinya memikirkan kemusrikan yang sudah keterlaluan di sekitarnya, menyebabkan Nabi muhammad ingin pergi menenangkan dirinya yang risau. Tempat yang dipilih Rasulullah untuk menghindar sejenak adalah tinggal dan merenung sendiri di Gua Hiro yang berada di Jabal Nur berjarak 2 mil atau 3,218 km dari kota Mekkah. Perjalanan yang cukup jauh juga. Keinginan Nabi Muhammad untuk menepi sejenak dari keadaan kota Mekkah kemudian disampaikan kepada sang istri tercinta. Siti Khadijah mengizinkan keinginan sang suami. Maka berangkatlah Nabi Muhammad  SAW menujuh Gua Hiro, dengan membawa bekal yang disiapkan sang istri agar tidak capek pulang pergi mengambil perbekalan.

         Gua Hiro sebuah gua yang kecil dengan ukuran panjang hanya 4 hasta, dan lebar 1,75 hasta. Nabi Muhammad menyendiri di sana selama sebulan penuh di bulan Ramadhan. Tentu kedatangan Beliau di Gua Hiro tentu seizin Allah SWT. Awal kedatanganya tidak ada satupun yang ganjil, seluruh waktunya beliau habiskan untuk beribadah kepada Sang Pencipta, hingga suatu malam tepatnya malam ketujuh belas kedatangannya di Gua Hiro, tiba-tiba beliau didatangi seseorang yang menyerupai manusia yang berbadan tegap yang ternyata utusan Allah SWT, Malaikat Jibril namanya. Ternyata di usia Nabi Muhammad empat pulih tahun menandai tanda-tanda kenabiannya mulai jelas. Malaikat Jibril menyodori secarik kertas kemudian memintah Muhammad untuk membacanaya, tapi Nabi menolak karena Beliau memang tidak pernah bersekolah sehingga tiak bisa membaca. Badan Nabi kemudian dipeluk sekuat-kuatnya oleh manusia yang berbadan tegap itu, hingga Nabi Muhammad merasa kesakitan di sekujur tubuhnya dan juga tidak bisa bergerak karena pelukan yang kuat itu, hal itu dilakukan sampai dua kali, tapi tetap Muhammad menjawab tidak bisa membaca, dan seperti yang pertama Nabi kembali dipeluk sekencang-kencangnya sampai Nabi merasakan sakit diseluruh tubuhnya baru dekapan tersebut dilepaskan. Pada hitungan ketiga setelah melepaskan dekapannya seperti yang dilakukan pada perinta pertam dan kedua, akhirnya laki-laki yang mendatangi Nabi Muhammad, barulah mengajari Nabi untuk membacanya.

"Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusi dari segumpal darah. Bacalah, bahwa Tuhanmu yang maha pemurah. yang mengajar manusia dengan perantara kalam. Dia yang mengajarkan manusia apa yang belum diketahuinya. (Q.S. Al-Alaq:1-5)". 

WAhyu pertama yang diterimah Nabi Muhammad SAW, yaitu Qur'an Surat Al-Alaq ayat 1-5. Setelah kejadian itu Nabi Muhammad bergegas pulang ke Kota Mekkah menemui istrinya dalam keadaan yang gemetaran badan berkeringat karena merasa ketakutan. Nabi kemudian menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya kemudian meminta istrinya untuk menyelimuti agar rasa takutnya hilang. Siti Khadijah menuruti perintah suaminya untuk menyelimuti sekujur tubuh Nabi Muhammad. Ketika Nabi masih berada dalam selimutnya, wahyu kedua diturunkan ALLAH SWT lewat Malaikat Jibril.
Memerintahakan agar orang yang sedang berselimut yaitu Nabi Muhammad agar segera bangun. Berikan peringatan, agungkanlah nama Tuhanmu, bersihkanlah pakaianmu, dan janganlah kamu memberi dengan maksud meminta atau memperoleh balasan yang lebih banyak. Bersabarlah dalam menjalankan atau memenuhi perintah Tuhanmu. Sejak Nabi tahu kalau beliau sudah mendapat wahyu dari Allah lewat perantara Malaikat Jibril, akhirnya Nabi Muhammad memulai seruannya untuk berbuat baik, meninggalkan semua kemungkaran yang selama ini sudah meraja lelah hampir di sudut-sudut Kota Mekkah. Seruan itu dimulai Beliau dari orang-orang yang berada di sekitarnya. Seperti istrinya Siti Khadijah, Abu Bakar dan Ali bin Abi Tholib sepupu Nabi Muhammad sekaligus menantunya setelah menikah dengan anaknya Fatimah.

Begitulah pada akhirnya Nabi Muhammad menjalankan perintah Allah SWT, dari mulai sembunyi-sembunyi sampai terus terang, bahkan samapai terjadi berbagai perang yang bertujuan menyampaikan hanya ajaran Allah SWT harus ditaati dan dijalankan karena hanya ajaran Allahlah nantinya yang akan membawa kita ke dalam surganNya Allah seperti yang sudah dijanjikannya kepada orang-orang yang beriman dan menjalankan perinta dan menjauhi laranganNya. Berabat-abat sejarah ini sudah berlalu, tapi pengikut beliau yang sangat mencintai, meskipun tidak pernah bertemu langsung dengan beliau tetap mengenang sejarah ini dengan begitu suka cita, yang tergambar acara yang dilaksanakan di Masjid, juga di Musallah di seluruh penjuru dunia. Untuk memperingati malam turunnya Al-Quran atau disebut juga 'Malam Nuzulul Qur'an. Selamat menjalankan menjalankan ibadah puasa Ramadhan semoga tulisan yang masih jauh dari sempurna ini menjadi sebuah ladang ilmu. Mohon maaf bila tidak berkenan, berikan keritikan sebagai penyempurna tulisan.

   
   
 Jakarta, 17 Ramadhan 1440 Hijriah/220519 ( Nuzulul Qur'an)

#Day(16)
#OneDay OnePost30HRDC
#WraitingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah











Senin, 20 Mei 2019


KETEGUHAN dan KEKUATAN HATI IBU

@daras09




     Sudah bertahun-tahun lamanya aku selalu melewati jalan ini untuk pergi ke tempat aku selama ini mengabdikan ilmuku setelah menyelesesaikan pendidikanku di salah astu perguan swasta yang terkenal dengan makanan gudeknya yang sangat lezat meskipun kata orang kemanisan tapi bagiku sudah akrab di lida, padahal sebagai seorang yang besar di Sumatera yang sangan kental dengan rasa pedas dan asinnya tentu tidak masuk akal sekali kan senang dengan yang manis? Tapi seperti kata orang bijak bisa karena biasa atau di mana tanah dipijak disitu langit dijunjung. kita harus bisa menyesuaikan diri agar bisa berbaur dengn situasi seperti apapun.

     Kembali keperjalan pagi ini, jalan yang aku lalui setiap hari dari mulai dari masa masih sepi karena angkutan roda dua dan empat masih belum seramai ini saat itu, jarak tempu menujuh tempat aku kerja hanya dilalui lebih kurang lima sampai sepuluh menit perjalanan, hal ini terjadi karena jalanan masih sepi sehingga tidak ada terjadi kemacetan apalagi sampai parah tidak bisa bergerak. Tapi seiring berjalannya waktu, penggunaan kendaraan semakin banyak, disamping mudahnya transaksi kepemilikan kendaraan, baik roda dua juga roda empat, tidak membutuhkan uang yang banyak bahkan, sudah mendapatkan kendaraan pribadi, tinggal memikirkan cicilan tiap bulanya. Meningkatnya kepemilikan  kendaraan ini, tapi tidak didukung dengan perluasan jalan, atau seluas apapun jalannya kalau kendaraan terus bertbah tentu kemacetan dari tingkat sedang sampai parah pasti akan tetap terjadi. meskipun dua tahun belakangan ini sudah mulai berkurang kemacetannya, meskipun penuh kendaraan tidak sampai menghambat dalam perjalan. Tapi tetap aku tidak berani dengan kedaraan umum, apalagi sekarang dengan adanya gojek daring tentu aku cukup sekali memesan kendaraan dari rumah sampai ke tempat kerja, tidak perlu naik turun angkot seperti dulu, juga untuk menghemat waktu dan tenaga. Kalau ada yang lebih praktis tentu akan lebih memilih yang lebih praktislah, apalagi dengan kondisi jalanan Jakarta yang tidak bisa dihitung secara matematika dengan angkan yang pasti hasilnya. Tidak ingin terlambat tentu harus menyegerakan diri lebih diwaktu pagi, sudah pagi saja kadang masih dihadapkan pada kemacetan, apalagi lebih siang ntah apa yang akan terjadi.

     Begitulah keseharian di setiap pagi menyusuri jalanan ini, jalan Raya Ciracas melewati salah satu pasar Ciracas juga namanya. Begitu damainya diawal kehadiranku menyusuri jalan ini menujuh ke tempat kerja yang kira-kira dari rumah kalau tidak macet hanya dua puluh menitan. Mulai dari sepi sehingga perjalanan lancar, sampai macet total tidak bisa bergerak dan terpaksa mencari jalan alternatif kalau tidak ingin terlambat sampai ke tempat bertugas, hingga sekarang lancar meskipun masih kadang ada kepadatan lalu lintas, tapi masih bisa dilalui tanpa khawati terlambat. Sebagi pusat perdagangan berbagai kebutuhan makanan pokok, tentu sepanjang jalan berbagai barang kebutuhan akan ditemukan dijajahkan para pedang yang banyak dan ditimpali pula para pembeli yang datang silih berganti untuk mendapatkan kebutuhan keluarga masing-masing di rumah. Dari kendaraan yang aku tumpangi pemandangan indah ini menurut aku kadang sangat mengelitik hati kecilku. Menyaksikan keragaman tingkah laku pembeli dan penjual, mulai dari memarkir kendaraan sembarangan sehingga kendaraan lain susah untuk lewat, berjualan hampir memasuki jalan, menyebrang asal tanpa lihat kiri kanan sampai barang yang dijual kadang tidak masuk akal. Semua itu memancing keningku ikut berkerut, sampai bibirku juga ikut mengembangkan senyum. Tentu apapun itu yang tergambar semua usaha setiap individu untuk mencari kehidupan demi kelangsungan hidup semua anggota keluarga di rumah. Masuk akal atau tidakanya hanya mereka yang melakoni yang tahu alasannya.

     Di tengah rasa yang menggelitik hati, tiba-tiba mataku melihat satu pemandangan lain, seorang ibu yang sedang duduk tidak jauh dari jalan, bahkan sudah hampir menyentuh bibir jalanan. Dihadapan sang ibu teronggok jualan yang dengan setia menunggu pembeli menawar, kalau aku lihat dari masih banyaknya jumlah yang dijual belum satupun pembeli kayaknya datang untuk menawar. Tapi sang ibu dengan setia duduk menunggu pembeli dengan pandangan kosong menatap kendaraan yang lalu lalang. Sang ibu menjual bahan baku yang biasanya dipakai untuk variasi isi kolak biar kelihatan enak dan segar, kalau tidak salah namanya butiran mutiara, bentuknya ada yang bulat agak kecil-kecil dan segi empat seperti permainan dadu. Kesabaran sang ibu tetap menunggu pembeli yang datang, jadi mengingatkan kepada Ibuku dulu yang sering sekali berjualan, baik di rumah dengan membuat semacam kios kecil untuk berjualan atau kadang sampai di bawa jualannya sampai ke pasar. Terkadang kami anak-anaknya suka heran bahkan salah satu dari anak nomor duanya sampai marah karena tetangga sekitar sering ikut mengejek mengapa harus capek berjualan, bukankah anak-anak sudah berhasil? Ditambah penghasilan dari sawah juga berlimpah, begitulah kadang orang luar memberi tanggapan meskipun mereka tidak tahu alasan dibalik semua itu. Seperti penonton bola yang lebih pintar dan lihai dari pemain sebenarnya yang sedang bertanding padahal kalau diposisi pemain, jangankan main dengan baik jangan-jangan menedang bola saja belum tentu bisa. Aku sih diam saja mendengar semua ocehan itu, aku lebih percaya Ibuku yang luar biasa itu,  dengan kekuatan yang mungkin hanya dimiliki sebagaian wanita, mampu berjuang menyekolahkan anak-anaknya sampai pencapaian tertinggi, meskipun Ibuku hanya seorang wanita kampung yang hanya sekolah sampai kelas tiga Sekolah Rakyat kalau sekarang namanya Sekolah Dasar. Terpaksa atau mungkin dipaksa berhenti secara tidak langsung karena sekolah tempat belajar dihancurkan saat pendudukan Jepang yang kejam walaupun hanya dua setengah tahun. Makanya selalu berpesan kepada anak-anaknya agar menjaga negara jangan sampai kembali dijajah bangsa lain, karena dijajah itu sangat tidak enak, ibarat tinggal di rumah sendiri, tapi tidak dapat leluasa beraktifitas seperti yang diinginkan sang pemilik rumah. Kadang aku berandai-andai kalaulah Ibuku yang hebat itu bisa sekolah lebih tinggi tentulah akan lebih hebat lagi yang bisa dilakukankan, hanya sekolah seperti itu saja dia mampu mengantar anaknya kejenjang tertinggi. Jadi tidak perlulah mendengar keluhan dari luar yang tidak bertanggungjawab nenurut aku. lagian kenapa keluarga orang lain ayng harus dikeluhkan, yang sudah jelas hasilnya di depan mata mereka, mengapa tdak mengelukahkan keluarga sendiri agar bisa lebih jelas, jangan-jangan jeles dengan keberhasilan seorang Ibu yang hanya samapai kelas tiga Sekolah Rakyat itu, tak taulah tak akan aku pikirkan, dan tak akan aku masukkan ke dalam hatiku. tentu ada sesuatu dibalik semua itu, begitulah aku selalu menyampaikan kemungkinan maksud yang dilakukan Ibu kami itu.

     Benar sekali, ternyata usur punya usut mengapa masih menginginkan berjualan, mengapa tidak istirahat saja dari semua aktifitas, bukannya lebih baik mengaji, jalan-jalan mendatangi anak, bermain dengan cucu, atau apalah yang dianggap menyenangkan diri. Jawaban yang sangat menggetarkan. Aktiftas hariannya tidak pernah mengganggu apapun, baik itu ibadah, ataupu semua yang disebutkan. Beliau tetap melakukan aktifitas berdagangnya agar daya ingatnya yang sudah mulai melemah karena dimakan usia akan tambah melemah,bahkan akan menpercepat pikun kalau kerja otaknya didiamkan. Dengan berjualan, semua akan mengurangi rasa pikun menurut beliau cepat datang. Sebuah pelajaran ayng sangat berharga bagi saya. Ibuku yang hebat terimakasih sudah mengajariku jadi seorang yang punya percaya diri yang selalu aku bawah setiap hari dilangkahku hingga saat ini, dan tidak lupa mengajarkan kepada anak didikku kalau percaya diri itu tidak ada sekolahnya, tapi bukan tidak bisa dipelajari. Mulai dari hal kecil, ketika ujian tidak menyontek, percaya pada kekuatan sendiri, kalau sudah berusaha tinggal selanjutnya serahkan yang kuasa, yang penting sudah berusah. Semoga semua pelajaran yang menjadi warisan yang tidak terlupa 'Percaya Diri, menjadi tambahan penyelamat baginya di sisi Allah SWT. Begitu juga pada keluarga yang lain agar lebih kuat kalau mendengar keluhan yang tidak membangun, yang bisa merusak kelutuhan keluarga. Menjadikan kiat yang diwariskan orangtua bila kelak usia sudah mulai merambat menujuh senja.

Jakarta, 16 Ramadhan 1440 Hijriah/210519 (Malam Nuzululqur'an)


#Day(15)
#OneDay OnePost30HRDC
#WraitingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah




Sabtu, 18 Mei 2019


SINGKIRKAN PELIT JIKA INGIN MELEJIT

@daras09




"Selamat ya kamu diterima, semoga tambah sukses ditempat yang baru"
"iya terimakasih. Aamiin."
"Rezeki memang sudah ada yang mengatur, tidak akan tertukar kalau sudah waktunya ya?"
"Alhamdulilah, mohon doanya urusan ke depannya juga lancar"
"Iya sekali lagi selamat ya!"

     Begitu setiap kali satu-satu mereka di dalam ruangan itu mendapatkan kehidupan atau rezekinya yang mulai mendaki menemukan muaranya setelah sekian lama dengan sabar bertahan dalam situasi rezeki pas-pasan. Ternyata dibalik semua kesabaran itu ada hal penting yang kadang tidak kita sadari bahwa kehadiran orang-orang disekitar kita merupak salah satu sumber doa yang tidak kalah pentingnya. Merasa paling hebat tidak butuh bantuan, akhirnya mengabaikan kalau tenaga yang kita berikan kepada orang lain, dan diakhiri ucapan terimakasih karena sudah ringan tangan dalam membatu ternyata tanpa kita sadari adalah doa. Berbagi ilmu tanpa meminta imbalan selain ladang pahala bagi yang memberikan, juga merupakan doa yang akan mengiringi langka ringan untuk mendapatkan  derajat yang lebih tinggi. Kapan itu datang tentu tidak bisa kita pastikan kehadirannya, bisa cepat atau lambat, tapi yang jelas Allah tidak tidur, akan menjawab semua doa-doa dan doa orang disekeliling kita yang merasa bangga dan senang dengan bantuan yang sebenarnya sangat sepele dan tenaga kadang tidak begitu dibutuhkan sekali.

     Pelit atau tidak mau berbagi pasti dimiliki setiap individu itu sudah tidak dapat terbantahkan. Pelit pasti kalau diminta berbagi itu adalah suami. Pasti pelit bahkan pakai banget pelitnya, siapa pula yang mau suaminya dibagi dengan perempuan lain, sekuat tenaga pasti tetap bertahan kalau tidak ada pembagian cinta dengan wanita lain, bahkan dengan ibu dari suami saja, walaupun itu hak dari sang ibu kadang masih terjadi hal yang tidak diinginkan, apalagi sampai dengan wanita lain, bahkan kadang lebih baik melepas dari pada harus berbagi kalau memang sudah tidak bisa lagi kompromi. Kalau begitu pelit seperti apa yang tidak harus kita miliki yang bisa menghambat segala bentuk langkah kita walaupun tidak jaminan, tapi sering terjadi pada sekitar? Pelit yang dimaksud, tidak adanya empati kita terhadap mereka yang minta pertolongan padahal pertolongan yang diminta misalnya hanya untuk tolong printkan, tolong saya tidak bisa membuka data di dalam pleadis sepertinya kena virus, dan bentuk permintaan tolong lainnya. Boro-boro menawarkan diri, dimintai tolong saja, akan keluar beribu alasan, bahkan kalau perlu alasan yang ada diseluruh bumi ini akan dikeluarkan. Akhirnya memang orang tidak akan menghampiri lagi, karena tidak guna minta bantuan karena akan keluar lagi alasan seribu satu malam, kayak dongeng saja. Ternyata tahu tidak, saat itu tanpa disadari rezeki sudah terhambat menghampiri. Reziki itu tidak hanya dalam bentuk harta, rezeki lain masih banyak, rezeki suami soleh atau istri soleha, pekerjaan yang tingkat penghasilannya lebi yang akan menghampiri. Tapi karena terlena dengan pelit dan tidak mau perbagi, membantu dan yang lainya, akhir harus siap juga tetap duduk ditempat menyaksikan teman yang lain satu persatu meninggalkan dalam kesendirian atas apa yang sudah dilakukan dan diyakini selama ini, pelit dan selalu menghitung tenaga dengan hanya selembar uang yang kadang hanya datang sesaat, sementara masih ada lembaran yang lain yang lebih banyak teronggok tak berhasrat mendekati. Singkirkan pelit kalau ingin melejit, bukan sekedar kata dan ilusi karena sudah terbukti dan berada di hadapan sendiri. Agama juga menganjurkan untuk berbagi, dengan berbagi bukan menghilangkan atau mengurangi tapi akan melimpahkan yang jumlahnya diluar batas nalar, silahkan buktikan.
Salam berbagi tambah berkah di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini.


Jakarta, 14 Ramadhan 1440 Hijriah/ 190519 (Edisi berbagi nasehat)

#Day(14)
#OneDay OnePost30HRDC
#WraitingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Jumat, 17 Mei 2019


WAJIBKAH BERSUCI DARI HADAS BESAR SEBELUM BERPUASA

@daras09


Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

     Bismillahirrohmaanirrohim, syukur alhamdulilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan hidayahNya kepada para hambaNya yang selalu berjalan sesuai dengan aturanNya. Rahmat dan salam  semoga tercurahkan kepada junjungan kita nabi besar Muhammad SAW, yang telah membawa manusia dari zaman hijahiliah, ke alam yang terang seperti yang kita sudah rasakan saat ini. Menjalankan perintahnya tanpa bersembunyi lagi seperti diawal kehadiran Islam di tengah masyarakat Arab saat itu. Sebelum melanjutkan tulisan ini, yang pertama yang akan disampaikan adalah permohonan maaf bila yang saya sampaikan ini kurang berkenan atau kurang tepat mohon kritikan perbaikan yang membangun tentunya karena saya juga dalam belajar, tapi bukan berarti saya muallaf loh. sejak lahir saya sudah islam, yang dilahirkan orangtua yang islam taat. Bahkan bukan bermaksud menyombongkan diri takut ayahanda di sana kenapa-kenapa karena anaknya sok tahu. Selama ini disamping saya tidak berani bahas yang ada hukumnya seperti ini, karena teringat ketika saya kecil dulu saat mengikuti perlombaan ceramah saat bulan bulan Ramadhan seperti saya ceritakan pada salah satu tulisan saya 'Uji Nyali di Bulan Ramadhan. Ayah saya selalu berpesan agar isi ceramahnya tidak berhubungan dengan 'Fiqih, takut salah kata ayah waktu itu. Jadi semacam terbentuk hati tidak berani untuk bicara, karena takut salah tadi. Tapi waktu berlalu saya semakin dewasa, sekarang umur sudah bertambah dari tahun ke tahun, walaupun katanya berkurang jatah kontraknya di muka bumi ini, dan saya juga membutuhkan ilmu-ilmu yang akan menuntun kita jangan sampai salah, akhirnya memberanikan diri membuka ilmu ini dan mencoba menuliskannya. Seperti kata saya diawal tadi kalau salah mohon dibantu membenarkan, tapi jangan mencelah agar ilmu ini ada manfaatnya.

     Salah satu pertanyaan yang sering menggelitik dibenak saya atau mungkin kita semua 'Bolehkah kita berpuasa, padahan kita belum bersuci, mungkin dari tadi malam kita bersama dengan orang tercinta, tapi karena terlambat bangun sudah hampir menjelang diakhir sahur kita belum sempat bersuci, sementara kita harus mengejar sahur untuk berpuasa. Memang makan sahur bukan satu syarat untuk berpuasa, tapi kalau tidak sahur ditakutkan kita tidak kuat sementara pada siang hari aktifitas yang kita jalani sangat melelahkan, yang biasanya kalau kita lelah bisa kita isi bensin untuk tenaga dengan minum atau makan, hal tidak tidak dapat kita lakukan saat bulan Ramadhan. Makanan yang halal bila sampai masuk lewat mulut kemudian sampai ketenggorokan mengalir kelambung hingga kenyang yang disengaja maka haram hukumnya, dosa besar bagi yang melakukan makan dan minum dengan sengaja di siang hari ketika bulan Ramadan. Karena itu sangat dianjurkan agar kita memulai rutinitas berpuasa dengan makan sahur terlebih dahulu, soal lauknya terserah selerah dan tentu kemampuan. Isyah Allah dengan niat ikhlas, Allah memberi pertolongan agar tenaga kuat sampai magrib menjelang saatnya kita dihalalkan untuk menyentuh makanan.

     Kembali kebembahasan awal 'sahkah puasa bagi yang belum bersuci sementara panggilan subuh sudah datang, tanda awal puasa hari itu dimulai, berarti makanan dalam bentuk apapu sudah harus dihentikan. Kasus yang sering terjadi karena ketidak tahuan, jadi meninggalkan puasa, bahkan sholat juga mungkin saja ditinggalkan juga, karena terlambat bangun atau bangun sudah mepet sahur. Tidak ada alasan bagi seseorang untuk meninggalkan puasa, atau meninggalkan puasa tanpa alasan yang jelas.

"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memasuki waktui subuh, sementara beliau sedang dalam keadaan berhadas besar atau junub karena berhubungan dengan istrinya. Kemudian beliau mandi dan berpuasa" (HR. Bukhari 1926 dan Turmudzi 779)

Ketika seseorang dalam keadaan berhadas besar saat bangun tidur sementara sudah berada dipenghujung sahur yang sebentar lagi akan berganti subuh, maka memilih antara sahur atau mandi dahulu, tentu yang harus didahulukan adalah melaksanakan sahur dahulu baru kemudian mandi untuk bersuci. Puasa tidak sah bila sudah memasuki waktu subuh atau batas sahur adalah sebelum adzan subuh berkumandang, karena itu sahur harus didahulukan, kemudian dilanjutkan mandi untuk bersuci.

Allah SWT berfirman  "Jika kalian dalam keadaan junub, bersucilah.." (QS. Surat Al- Maidah: 6)

Karena itu jangan sampai tidak berpuasa karena tidak dalam keadaan bersuci, tapi bersucilah terlebih dahulu sebelum melaksanakan sholat, karena syarat syah sholat adalah terhindar dari hadas kecil maupun hadas besar. Selamat menjalankan ibadah puasa bulan Ramadhan 1440 Hijriah semoga  amalan puasa kita di bulan ramadhan ini selalu dalam keberkahan dari Allah SWT. Hal yang saya sampai ini dapat bermanfaat dan menjadi ladang ilmu bagi semua. Aamiin Yarobbal Alamin.

Jakarta, 13 Ramadhan 1440 Hijriah/ 180519 (Edisi berbagi ilmu)

#Day(13)
#OneDay OnePost30HRDC
#WraitingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah


KATAKAN 

@daras09



     Pagi itu seperti biasa aku kembali melakukan aktifitas harian yang sudah dijalani sekian tahun lamanya, kata orang sih mencerdaskan kehidupan generasi muda demi kalangsungan hidup berbangsa dan bernegara, insyah Allah semoga. Kedatanganku pagi ini agak molor tiga menit dari yang smestinya masuk pukul enam tiga puluh. Aku datang rutinitas keseharian sudah dimulai yaitu mengaji. Khusu hari jum'at selalu diisi dengan pembacaan surat yasin. begitu juga dengan siswa dan teman yang beragama lain dengan kegiatan agama yang mereka anut. Dengan kegiatan harian sebelum memulai pelajaran, apalagi ini sedang berada dalam lingkungan bulan yang istimewa yaitu bulan suci Ramadhan, diharapkan mampu membentuk kepribadian siswa menjadi lebih seimbang dalam menjalan kehidupannya kelak saat sudah tidak berada di lingkungan sekolah. Mungkin saat ini belum bisa berharap banyak pada anak-anak yang sedang akan tumbuh lebih besar, tapi dengan keyakinan tidak akan ada yang sia-sia akan sesuatu kebaikan.

Selepas kegiatan pagi itu aku tidak ke ruang guru seperti biasanya, tapi berbelok ke perpustakaan. Sempat bercanda sejenak dengan teman yang bertugas 'tumben katanya sambil tersenyum. Dengan alasan masih ngantuk karena bangun pagi untuk menyiapkan sahur, aku balas balek candaannya, padahal ingin singgah ke sana karena ingin lebih nyaman menyelesaikan koreksian ulangan harian anak yang belum terselesaikan, kalaupun sambil ngantuk-ngantuk tentu lebih nyaman sekedar merebahkan kepala sejenak, apalagi pasti lebih senyap lagi karena anak-anak pasti belum datang berkunjung sebab masih jam pelajaran berlangsung. Apalagi pagi itu sekitar pukul sepuluan ada janji dengan orangtua untuk bertemu dalam rangka sosialisai pematangan acara syukuran siswa kelas sembilan, yang kebetulan sekali berdekatan ruangannya dengan perpustakaan, alias capek bolak-baleklah pikirku mencari tempat yang lebih mudah menjangkau tanpa harus capek naik turun lagi. Maka jadilah aku bersemedi di ruang perpustakaan sekolah. Mulai mengoreksi sambil sesekali merebahkan kepala ke atas meja tempat kertas-kertas kerjaan ulangan harian siswa yang sedang aku koreksi, karena mata yang lima watt kadang datang menyerang tak tertahankan. sejenak saja lumayan kantuk yang meyereng dapat dihalau sejenak. Terkadang aku juga menoleh melihat ke gawai untuk memastikan sudah pukul berapa karena takut keasyikan lupa kalau sudah janji ada pertemuan. Mendekati waktu pukul sembilan tiga puluh kegiatan aku hentikan karena akan dimulai pertemuan dengan orangtua. Ternyata niat awal ingin langsung ke acara pertemuan, eh.... naik ke ruang guru tanpa sadar, tapi sudahlah mungkin lebih aman semua barang bawaan kalau disimpan ditempat semestinya pikirku sambil berjalan mengarah ke tempat dudukku di ruang guru. 

     Belum lagi aku sempat duduk tiba-tiba teman yang duduk di sampingku mengulurkan gawainya minta dikoreksi tulisan yang dibuatnya karena mau diposting di facebooknya, dengan sedikit ragu dan sempat bertanya dalam hati aku ulurkan tangan menyambutnya, sejenak memperhatikan kalimat-kalimat yang sudah tertulis, mencoba meminta mengurangi, memperbaiki dan menambahkan kekurangan di sana sini. Berbincang sejenak dengan tulisannya, memberi semangat semoga bermanfaat bagi siapa saja nantinya yang membaca. Di awal membaca aku tidak punya perasaan tertentu dengan tulisannya, mungkin karena tugas saat itu hanya menbaca sejenak dan memberi komentar sedikit memberi masukan. Apalagi kisah yang akan disampaikan itu sangat sering sekali kita perbincangkan, bahkan bisa dikatakan setiap hari pasti tersempet ke sana. Tapi ketika aku sudah duduk di acara pertemuan orantua yang akhirnya dimulai pukul sepuluh lewat sepuluh molor dikit ngak apa-apalah toh sudah rutinitas kita kan selalu begitu seberkas geli menyusup di reluk hatiku. Acara pertemuan dimulai, sambil mendengarkan uraian acara yang akan berlangsung, iseng-iseng aku buka gawaiku, tanganku menyusuru halaman media sosial dan berakhir di halaman facebook, sejenak berhenti pada tulisan di halaman facebook teman yang meminta tulisannya dikoreksi, membaca sedikit serius, memaknai kalimat-kalimat demi kalimat, tanpa terasa hati rasa tersentuh, pengen rasanya menangis tapi tidak mungkin nanti pada bertanya apa gerangan terjadi. Tulisan sederhana berisi ungkapan hati akan sebuah pengalaman akan keistimewaan seorang anak kecil yang cantik, lucu bahkan pasti punya keistimewaan di tengah kekurangan yang tidak dirasakan mungkin bagi sebagian orangtua yang lainnya, yang memiliki buah hati sesuai keinginan lahir ke bumi.


"C anak istimewa. Tentu setiap keluarga sangat bahagia ketika penerus yang akan melanjutkan generasi selanjtnya akan segara hadir ke dunia. Rasa syukur yang dalam tidak lupa dipanjatkan pada yang kuasa akan anugerah yang sudah dititpkan. menjalani kehidupan bersama sang calon baby selama sembilan bulan membawa kemana-mana dengan rasa lelah tetap beraktifitas sampai sang pujaan hati hadir di tengah keluarga. Rasa syukur tiada prasangka ananda kan sehat sempurna begitu angan membuncah di dalam dada. Tangis pertama menyapa akan hadirnya kedunia mengukir senyum bahagia, ananda sudah hadir dengan selamat.  Rahir dengan kondisi sama dengan anak lainnya, tiba-tiba tanpa berita bagaikan kapal yang sudah beerlayar terpaksa kembali ke dermaga, mungkin ada yang salah butuh dibenahi dari pada terjadi hal yang tidak diinginkan nantinya. Seperti itulah perasaan yang mendera hati tidak terima apa yang terjadi gerangan dengan ananda yang diawal tiada masalah, ternyata pertumbuhannya tidak semestinya anak pada umumnya. Semua berjalan lambat. Hati sedih terluka tiada terkata pasti sudah, marah dan menyesal apa yang sudah terjadi ketika ananda belum hadir di dunia ikut menyapa. Semua sudah dijalankan sesuai nasehat yang selalu menyapa. Tapi sang penyayang yang paling depan tampil perkasa, Ibunda cantik hati langsung menyapa dengan ketegaran yang maha sempurna, memberi masukan jangan menyerah. Jangan lupa ada Yang Kuasa diantara kita, tempat meminta yang Maha Sempurna. Pegangan tangan jangan dilepas, tak ada yang perlu dipersalahkan pada kehendakNya. Bergerak cepat jangan lengah, ada tangan lain penyambung Yang Kuasa meninta penyembuhan ananda. Syukur tiada terkira usaha dengan doa sudah di depan mata, ananda sudah mulai tampil dengan lincanya. Gerakan dan kebiasaan manis pada seusianya sudah jelas kearahnya".

Terharu dan bangga karena tidak semua pribadi bisa berkata jujur akan suatu hal yang tidak sempurna. Menutupi padahal hati sakit ingin berkata jujur. Menutupi, menyimpan bahkan menyakiti karena dianggap aib keluarga. Padahal tanpa kita sadari kita sudah berbuat kezaliman atas ciptaannya. Hanya mereka yang hebatlah yang mampu berkata, berkata pada suatu kenyataan bahwa ini sudah ada dihadapan kita, bersatu dan berpengangan tangan agar mampu menyelamatkan buah hati atau keluarga tercinta. Semoga bermanfaat untuk wawasan bagi semua tiada yang tak mungkin bagiNya, berusaha dan berdoa selalu jangan perna berhenti selanjutnya serahnya pada ahliNya. Mohon maaf bila tak berkenan, tidak bermaksud menggurui hanya sekedar menyampaikan kebanggaan hati pada situasi teman yang begitu hebat dan perduli pada keluarga, yang menjadi kekuatan juga bagiku dan semoga untuk yang lainnya.


Jakarta, 13 Ramadhan 1440 Hijriah/180519 (Edisi Bersyukur)

#Day(12)
#OneDay OnePost30HRDC
#WraitingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah






Kamis, 16 Mei 2019

SABAR DAN BERSYUKUR
@daras09


Siang itu tanpa ada asap tiba-tiba seorang teman yang bertemu di kamar mandi untuk bersuci dan sekalian mengambil air u'du tiba-tiba  bertanya tentang keluarga. Tentu timbul tanda tanya ada apa gerangan, kok sasaran keluarga maksudnya apa? Tidak menjawab salah, kalau dijawab apa tujuannya, keuntungan dan kepentingannya untuk apa. Sekedar untuk tahu atau ada maksud lainnya. Kalau dijawab dan bercerita apakah dia amanah untuk tidak menyampaikan berita kemana-mana atau menyampaikan tidak sesuai kenyataan. Meskipun dahi berkerut penuh tanya akhirnya coba menjawab seadanya. Dengan harapan terpuaskan hatinya.


Begitulah mungkin sebagian hidup dan keseharian yang akan kita jumpai, baik itu dalam lingkungan keluarga, maupun ketika kita berada dilingkungan teman-teman di sekitar rumah atau di tempat kita bekerja. Ragam hal yang kita temui merupakan liku hidup yang harus dihadapi. Bersyukur dalam menghadapi tiap peristiwa  merupakan sikap dewasa sebagai bentuk syukur bahwa kita masih diberikan sedikit akan situasi yang tidak menyenangkan, tapi tetap harus di jalani dan dihadapi  karena sudah kodrat pergaulan hidup di dunia. Ada orang yang senang melihat bila ada kelebihan yang ditemukannya pada orang disekitar, bahkan dijadikan sesuatu ilmu baru yang harus dipelajari juga demi kebaikan diri dan mungkin orang sekitar. Tapi ada juga yang sebaliknya, selalu mencari apa yang kurang pada orang lain, mengorek cerita hanya agar bisa menjadi bahan menyampaikan berita yang dibuat redaksi ulang yang jauh dari kisah nyata.

Semua kejadian yang sering menimpah kita ini tentu membuat diri tidak nyaman, tapi tentu hal ini tidak mampu kita hindari apalagi bagi sesorang yang ada disatu situasi tempat di mana berkumpulnya beberapa karakter, dan dari sekian karakter itu, tentu ada satu atau dua orang yang bertingkah sesuka hatinya tanpa segan, tanpa malu dan tidak perduli menyakiti orang yang penting aku aman dan nyaman. Semuanya tentu kembali kepada hati kita, ingin ikut arus yang pada akhirnya bisa jadi sengketa yang tidak mungkin membuat kita bahagi dan nyaman atau kembali kepada perintaNya agar meningkatkan rasa kesabaran dan tetap bersyukur akan segala kelebihan dan kekurangan yang seperti makanan yang tersaji di depan mata, ada yang enak tapi membuat penyakit atau biasa saja malah menanbah sehat bagi jiwa begitu juga raga kita. Semoga menjadi raga dan batin yang kuat dalam menghadapi semua permainan baik yang datang dari diri sendiri atau yang tentunya datang dari luar. Selamat menjalankan puasa Ramadhan 1440 Hijriah.
Jakarta, 12 Ramadhan 1440 Hijriah/170519 (Edisi Tawakal)

#Day(11)
#OneDay OnePost30HRDC
#WraitingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah