KETEGUHAN dan KEKUATAN HATI IBU
@daras09
@daras09
Sudah bertahun-tahun lamanya aku selalu melewati jalan ini untuk pergi ke tempat aku selama ini mengabdikan ilmuku setelah menyelesesaikan pendidikanku di salah astu perguan swasta yang terkenal dengan makanan gudeknya yang sangat lezat meskipun kata orang kemanisan tapi bagiku sudah akrab di lida, padahal sebagai seorang yang besar di Sumatera yang sangan kental dengan rasa pedas dan asinnya tentu tidak masuk akal sekali kan senang dengan yang manis? Tapi seperti kata orang bijak bisa karena biasa atau di mana tanah dipijak disitu langit dijunjung. kita harus bisa menyesuaikan diri agar bisa berbaur dengn situasi seperti apapun.
Kembali keperjalan pagi ini, jalan yang aku lalui setiap hari dari mulai dari masa masih sepi karena angkutan roda dua dan empat masih belum seramai ini saat itu, jarak tempu menujuh tempat aku kerja hanya dilalui lebih kurang lima sampai sepuluh menit perjalanan, hal ini terjadi karena jalanan masih sepi sehingga tidak ada terjadi kemacetan apalagi sampai parah tidak bisa bergerak. Tapi seiring berjalannya waktu, penggunaan kendaraan semakin banyak, disamping mudahnya transaksi kepemilikan kendaraan, baik roda dua juga roda empat, tidak membutuhkan uang yang banyak bahkan, sudah mendapatkan kendaraan pribadi, tinggal memikirkan cicilan tiap bulanya. Meningkatnya kepemilikan kendaraan ini, tapi tidak didukung dengan perluasan jalan, atau seluas apapun jalannya kalau kendaraan terus bertbah tentu kemacetan dari tingkat sedang sampai parah pasti akan tetap terjadi. meskipun dua tahun belakangan ini sudah mulai berkurang kemacetannya, meskipun penuh kendaraan tidak sampai menghambat dalam perjalan. Tapi tetap aku tidak berani dengan kedaraan umum, apalagi sekarang dengan adanya gojek daring tentu aku cukup sekali memesan kendaraan dari rumah sampai ke tempat kerja, tidak perlu naik turun angkot seperti dulu, juga untuk menghemat waktu dan tenaga. Kalau ada yang lebih praktis tentu akan lebih memilih yang lebih praktislah, apalagi dengan kondisi jalanan Jakarta yang tidak bisa dihitung secara matematika dengan angkan yang pasti hasilnya. Tidak ingin terlambat tentu harus menyegerakan diri lebih diwaktu pagi, sudah pagi saja kadang masih dihadapkan pada kemacetan, apalagi lebih siang ntah apa yang akan terjadi.
Begitulah keseharian di setiap pagi menyusuri jalanan ini, jalan Raya Ciracas melewati salah satu pasar Ciracas juga namanya. Begitu damainya diawal kehadiranku menyusuri jalan ini menujuh ke tempat kerja yang kira-kira dari rumah kalau tidak macet hanya dua puluh menitan. Mulai dari sepi sehingga perjalanan lancar, sampai macet total tidak bisa bergerak dan terpaksa mencari jalan alternatif kalau tidak ingin terlambat sampai ke tempat bertugas, hingga sekarang lancar meskipun masih kadang ada kepadatan lalu lintas, tapi masih bisa dilalui tanpa khawati terlambat. Sebagi pusat perdagangan berbagai kebutuhan makanan pokok, tentu sepanjang jalan berbagai barang kebutuhan akan ditemukan dijajahkan para pedang yang banyak dan ditimpali pula para pembeli yang datang silih berganti untuk mendapatkan kebutuhan keluarga masing-masing di rumah. Dari kendaraan yang aku tumpangi pemandangan indah ini menurut aku kadang sangat mengelitik hati kecilku. Menyaksikan keragaman tingkah laku pembeli dan penjual, mulai dari memarkir kendaraan sembarangan sehingga kendaraan lain susah untuk lewat, berjualan hampir memasuki jalan, menyebrang asal tanpa lihat kiri kanan sampai barang yang dijual kadang tidak masuk akal. Semua itu memancing keningku ikut berkerut, sampai bibirku juga ikut mengembangkan senyum. Tentu apapun itu yang tergambar semua usaha setiap individu untuk mencari kehidupan demi kelangsungan hidup semua anggota keluarga di rumah. Masuk akal atau tidakanya hanya mereka yang melakoni yang tahu alasannya.
Di tengah rasa yang menggelitik hati, tiba-tiba mataku melihat satu pemandangan lain, seorang ibu yang sedang duduk tidak jauh dari jalan, bahkan sudah hampir menyentuh bibir jalanan. Dihadapan sang ibu teronggok jualan yang dengan setia menunggu pembeli menawar, kalau aku lihat dari masih banyaknya jumlah yang dijual belum satupun pembeli kayaknya datang untuk menawar. Tapi sang ibu dengan setia duduk menunggu pembeli dengan pandangan kosong menatap kendaraan yang lalu lalang. Sang ibu menjual bahan baku yang biasanya dipakai untuk variasi isi kolak biar kelihatan enak dan segar, kalau tidak salah namanya butiran mutiara, bentuknya ada yang bulat agak kecil-kecil dan segi empat seperti permainan dadu. Kesabaran sang ibu tetap menunggu pembeli yang datang, jadi mengingatkan kepada Ibuku dulu yang sering sekali berjualan, baik di rumah dengan membuat semacam kios kecil untuk berjualan atau kadang sampai di bawa jualannya sampai ke pasar. Terkadang kami anak-anaknya suka heran bahkan salah satu dari anak nomor duanya sampai marah karena tetangga sekitar sering ikut mengejek mengapa harus capek berjualan, bukankah anak-anak sudah berhasil? Ditambah penghasilan dari sawah juga berlimpah, begitulah kadang orang luar memberi tanggapan meskipun mereka tidak tahu alasan dibalik semua itu. Seperti penonton bola yang lebih pintar dan lihai dari pemain sebenarnya yang sedang bertanding padahal kalau diposisi pemain, jangankan main dengan baik jangan-jangan menedang bola saja belum tentu bisa. Aku sih diam saja mendengar semua ocehan itu, aku lebih percaya Ibuku yang luar biasa itu, dengan kekuatan yang mungkin hanya dimiliki sebagaian wanita, mampu berjuang menyekolahkan anak-anaknya sampai pencapaian tertinggi, meskipun Ibuku hanya seorang wanita kampung yang hanya sekolah sampai kelas tiga Sekolah Rakyat kalau sekarang namanya Sekolah Dasar. Terpaksa atau mungkin dipaksa berhenti secara tidak langsung karena sekolah tempat belajar dihancurkan saat pendudukan Jepang yang kejam walaupun hanya dua setengah tahun. Makanya selalu berpesan kepada anak-anaknya agar menjaga negara jangan sampai kembali dijajah bangsa lain, karena dijajah itu sangat tidak enak, ibarat tinggal di rumah sendiri, tapi tidak dapat leluasa beraktifitas seperti yang diinginkan sang pemilik rumah. Kadang aku berandai-andai kalaulah Ibuku yang hebat itu bisa sekolah lebih tinggi tentulah akan lebih hebat lagi yang bisa dilakukankan, hanya sekolah seperti itu saja dia mampu mengantar anaknya kejenjang tertinggi. Jadi tidak perlulah mendengar keluhan dari luar yang tidak bertanggungjawab nenurut aku. lagian kenapa keluarga orang lain ayng harus dikeluhkan, yang sudah jelas hasilnya di depan mata mereka, mengapa tdak mengelukahkan keluarga sendiri agar bisa lebih jelas, jangan-jangan jeles dengan keberhasilan seorang Ibu yang hanya samapai kelas tiga Sekolah Rakyat itu, tak taulah tak akan aku pikirkan, dan tak akan aku masukkan ke dalam hatiku. tentu ada sesuatu dibalik semua itu, begitulah aku selalu menyampaikan kemungkinan maksud yang dilakukan Ibu kami itu.
Benar sekali, ternyata usur punya usut mengapa masih menginginkan berjualan, mengapa tidak istirahat saja dari semua aktifitas, bukannya lebih baik mengaji, jalan-jalan mendatangi anak, bermain dengan cucu, atau apalah yang dianggap menyenangkan diri. Jawaban yang sangat menggetarkan. Aktiftas hariannya tidak pernah mengganggu apapun, baik itu ibadah, ataupu semua yang disebutkan. Beliau tetap melakukan aktifitas berdagangnya agar daya ingatnya yang sudah mulai melemah karena dimakan usia akan tambah melemah,bahkan akan menpercepat pikun kalau kerja otaknya didiamkan. Dengan berjualan, semua akan mengurangi rasa pikun menurut beliau cepat datang. Sebuah pelajaran ayng sangat berharga bagi saya. Ibuku yang hebat terimakasih sudah mengajariku jadi seorang yang punya percaya diri yang selalu aku bawah setiap hari dilangkahku hingga saat ini, dan tidak lupa mengajarkan kepada anak didikku kalau percaya diri itu tidak ada sekolahnya, tapi bukan tidak bisa dipelajari. Mulai dari hal kecil, ketika ujian tidak menyontek, percaya pada kekuatan sendiri, kalau sudah berusaha tinggal selanjutnya serahkan yang kuasa, yang penting sudah berusah. Semoga semua pelajaran yang menjadi warisan yang tidak terlupa 'Percaya Diri, menjadi tambahan penyelamat baginya di sisi Allah SWT. Begitu juga pada keluarga yang lain agar lebih kuat kalau mendengar keluhan yang tidak membangun, yang bisa merusak kelutuhan keluarga. Menjadikan kiat yang diwariskan orangtua bila kelak usia sudah mulai merambat menujuh senja.
Jakarta, 16 Ramadhan 1440 Hijriah/210519 (Malam Nuzululqur'an)
Kembali keperjalan pagi ini, jalan yang aku lalui setiap hari dari mulai dari masa masih sepi karena angkutan roda dua dan empat masih belum seramai ini saat itu, jarak tempu menujuh tempat aku kerja hanya dilalui lebih kurang lima sampai sepuluh menit perjalanan, hal ini terjadi karena jalanan masih sepi sehingga tidak ada terjadi kemacetan apalagi sampai parah tidak bisa bergerak. Tapi seiring berjalannya waktu, penggunaan kendaraan semakin banyak, disamping mudahnya transaksi kepemilikan kendaraan, baik roda dua juga roda empat, tidak membutuhkan uang yang banyak bahkan, sudah mendapatkan kendaraan pribadi, tinggal memikirkan cicilan tiap bulanya. Meningkatnya kepemilikan kendaraan ini, tapi tidak didukung dengan perluasan jalan, atau seluas apapun jalannya kalau kendaraan terus bertbah tentu kemacetan dari tingkat sedang sampai parah pasti akan tetap terjadi. meskipun dua tahun belakangan ini sudah mulai berkurang kemacetannya, meskipun penuh kendaraan tidak sampai menghambat dalam perjalan. Tapi tetap aku tidak berani dengan kedaraan umum, apalagi sekarang dengan adanya gojek daring tentu aku cukup sekali memesan kendaraan dari rumah sampai ke tempat kerja, tidak perlu naik turun angkot seperti dulu, juga untuk menghemat waktu dan tenaga. Kalau ada yang lebih praktis tentu akan lebih memilih yang lebih praktislah, apalagi dengan kondisi jalanan Jakarta yang tidak bisa dihitung secara matematika dengan angkan yang pasti hasilnya. Tidak ingin terlambat tentu harus menyegerakan diri lebih diwaktu pagi, sudah pagi saja kadang masih dihadapkan pada kemacetan, apalagi lebih siang ntah apa yang akan terjadi.
Begitulah keseharian di setiap pagi menyusuri jalanan ini, jalan Raya Ciracas melewati salah satu pasar Ciracas juga namanya. Begitu damainya diawal kehadiranku menyusuri jalan ini menujuh ke tempat kerja yang kira-kira dari rumah kalau tidak macet hanya dua puluh menitan. Mulai dari sepi sehingga perjalanan lancar, sampai macet total tidak bisa bergerak dan terpaksa mencari jalan alternatif kalau tidak ingin terlambat sampai ke tempat bertugas, hingga sekarang lancar meskipun masih kadang ada kepadatan lalu lintas, tapi masih bisa dilalui tanpa khawati terlambat. Sebagi pusat perdagangan berbagai kebutuhan makanan pokok, tentu sepanjang jalan berbagai barang kebutuhan akan ditemukan dijajahkan para pedang yang banyak dan ditimpali pula para pembeli yang datang silih berganti untuk mendapatkan kebutuhan keluarga masing-masing di rumah. Dari kendaraan yang aku tumpangi pemandangan indah ini menurut aku kadang sangat mengelitik hati kecilku. Menyaksikan keragaman tingkah laku pembeli dan penjual, mulai dari memarkir kendaraan sembarangan sehingga kendaraan lain susah untuk lewat, berjualan hampir memasuki jalan, menyebrang asal tanpa lihat kiri kanan sampai barang yang dijual kadang tidak masuk akal. Semua itu memancing keningku ikut berkerut, sampai bibirku juga ikut mengembangkan senyum. Tentu apapun itu yang tergambar semua usaha setiap individu untuk mencari kehidupan demi kelangsungan hidup semua anggota keluarga di rumah. Masuk akal atau tidakanya hanya mereka yang melakoni yang tahu alasannya.
Di tengah rasa yang menggelitik hati, tiba-tiba mataku melihat satu pemandangan lain, seorang ibu yang sedang duduk tidak jauh dari jalan, bahkan sudah hampir menyentuh bibir jalanan. Dihadapan sang ibu teronggok jualan yang dengan setia menunggu pembeli menawar, kalau aku lihat dari masih banyaknya jumlah yang dijual belum satupun pembeli kayaknya datang untuk menawar. Tapi sang ibu dengan setia duduk menunggu pembeli dengan pandangan kosong menatap kendaraan yang lalu lalang. Sang ibu menjual bahan baku yang biasanya dipakai untuk variasi isi kolak biar kelihatan enak dan segar, kalau tidak salah namanya butiran mutiara, bentuknya ada yang bulat agak kecil-kecil dan segi empat seperti permainan dadu. Kesabaran sang ibu tetap menunggu pembeli yang datang, jadi mengingatkan kepada Ibuku dulu yang sering sekali berjualan, baik di rumah dengan membuat semacam kios kecil untuk berjualan atau kadang sampai di bawa jualannya sampai ke pasar. Terkadang kami anak-anaknya suka heran bahkan salah satu dari anak nomor duanya sampai marah karena tetangga sekitar sering ikut mengejek mengapa harus capek berjualan, bukankah anak-anak sudah berhasil? Ditambah penghasilan dari sawah juga berlimpah, begitulah kadang orang luar memberi tanggapan meskipun mereka tidak tahu alasan dibalik semua itu. Seperti penonton bola yang lebih pintar dan lihai dari pemain sebenarnya yang sedang bertanding padahal kalau diposisi pemain, jangankan main dengan baik jangan-jangan menedang bola saja belum tentu bisa. Aku sih diam saja mendengar semua ocehan itu, aku lebih percaya Ibuku yang luar biasa itu, dengan kekuatan yang mungkin hanya dimiliki sebagaian wanita, mampu berjuang menyekolahkan anak-anaknya sampai pencapaian tertinggi, meskipun Ibuku hanya seorang wanita kampung yang hanya sekolah sampai kelas tiga Sekolah Rakyat kalau sekarang namanya Sekolah Dasar. Terpaksa atau mungkin dipaksa berhenti secara tidak langsung karena sekolah tempat belajar dihancurkan saat pendudukan Jepang yang kejam walaupun hanya dua setengah tahun. Makanya selalu berpesan kepada anak-anaknya agar menjaga negara jangan sampai kembali dijajah bangsa lain, karena dijajah itu sangat tidak enak, ibarat tinggal di rumah sendiri, tapi tidak dapat leluasa beraktifitas seperti yang diinginkan sang pemilik rumah. Kadang aku berandai-andai kalaulah Ibuku yang hebat itu bisa sekolah lebih tinggi tentulah akan lebih hebat lagi yang bisa dilakukankan, hanya sekolah seperti itu saja dia mampu mengantar anaknya kejenjang tertinggi. Jadi tidak perlulah mendengar keluhan dari luar yang tidak bertanggungjawab nenurut aku. lagian kenapa keluarga orang lain ayng harus dikeluhkan, yang sudah jelas hasilnya di depan mata mereka, mengapa tdak mengelukahkan keluarga sendiri agar bisa lebih jelas, jangan-jangan jeles dengan keberhasilan seorang Ibu yang hanya samapai kelas tiga Sekolah Rakyat itu, tak taulah tak akan aku pikirkan, dan tak akan aku masukkan ke dalam hatiku. tentu ada sesuatu dibalik semua itu, begitulah aku selalu menyampaikan kemungkinan maksud yang dilakukan Ibu kami itu.
Benar sekali, ternyata usur punya usut mengapa masih menginginkan berjualan, mengapa tidak istirahat saja dari semua aktifitas, bukannya lebih baik mengaji, jalan-jalan mendatangi anak, bermain dengan cucu, atau apalah yang dianggap menyenangkan diri. Jawaban yang sangat menggetarkan. Aktiftas hariannya tidak pernah mengganggu apapun, baik itu ibadah, ataupu semua yang disebutkan. Beliau tetap melakukan aktifitas berdagangnya agar daya ingatnya yang sudah mulai melemah karena dimakan usia akan tambah melemah,bahkan akan menpercepat pikun kalau kerja otaknya didiamkan. Dengan berjualan, semua akan mengurangi rasa pikun menurut beliau cepat datang. Sebuah pelajaran ayng sangat berharga bagi saya. Ibuku yang hebat terimakasih sudah mengajariku jadi seorang yang punya percaya diri yang selalu aku bawah setiap hari dilangkahku hingga saat ini, dan tidak lupa mengajarkan kepada anak didikku kalau percaya diri itu tidak ada sekolahnya, tapi bukan tidak bisa dipelajari. Mulai dari hal kecil, ketika ujian tidak menyontek, percaya pada kekuatan sendiri, kalau sudah berusaha tinggal selanjutnya serahkan yang kuasa, yang penting sudah berusah. Semoga semua pelajaran yang menjadi warisan yang tidak terlupa 'Percaya Diri, menjadi tambahan penyelamat baginya di sisi Allah SWT. Begitu juga pada keluarga yang lain agar lebih kuat kalau mendengar keluhan yang tidak membangun, yang bisa merusak kelutuhan keluarga. Menjadikan kiat yang diwariskan orangtua bila kelak usia sudah mulai merambat menujuh senja.
Jakarta, 16 Ramadhan 1440 Hijriah/210519 (Malam Nuzululqur'an)
#Day(15)
#OneDay OnePost30HRDC
#WraitingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar