Rabu, 19 Februari 2020

LEMBAR KERJA

TEKS 1
BOB SADINO
Bob Sadino lahir di Lampung 3 Maret 1933.  Dia berasal dari keluarga yang berkecukupan dan merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Orang tua Om Bob meninggal saat dirinya masih berusia 19 tahun. Bob mewarisi kekayaan orang tuanya mengingat semua saudara kandungany sudah mapan semua. Di samping itu, Bob merupakan anak terakhir dan ditinggal di usianya yang masih muda. Lantas, Bob menghabiskan sebagian harta warisannya untuk keliling dunia. Saat keliling dunia, Bob juga singgah di Belanda. Bahkan dia pernah menetap di Belanda selama 9 tahun dan bekerja di sana. Bob pernah bekerja di Djakarta Lloyd di Amsterdam dan di Hamburg, Jerman. Tak hanya bekerja, Bob bahkan bertemu dengan jodohnya saat dia di Belanda. Dia bertemu dengan Soelami Soejoed dan pada tahun 1967, dia membawa keluarganya pulang ke Indonesia. Tak ketinggalan, dia juga membawa serta dua mobil Mercedes yang dibuat tahun 1960an.
Salah satu Mercedesnya dijual dan membeli tanah sementara yang lain disimpan dan disewakan. Selain itu, dia sendiri yang menjadi sopir saat ada yang menyewa mobilnya. Namun sayangnya, Bob mengalami kecelakaan hingga membuat mobilnya rusak parah. Karena tidak punya uang untuk memperbaiki mobilnya, Bob beralih menjadi tukang batu dengan gaji Rp.100,-. Dia pun mengalami depresi dengan tekanan hidup yang dia jalani. Tak lama kemudian, temannya menyarankan agar dia memelihara ayam untuk melawan depresi. Bob mengikuti saran dari temannya dan muncul ide untuk membuka usaha. Berangkat dari nol, dia dan istrinya lantas menjadi peternak ayam. Semenjak menjadi peternak ayam, Bob mendapatkan inspirasi bahwa ayam saja bisa bertahan untuk hidup, mengapa manusia tidak bisa dan kalah dengan ayam. Dengan usaha keras dan kesabaran, dia dan istrinya memiliki banyak pelanggan. Ya meski, dia sering dimaki oleh para pelanggannya.


TEKS 2
GARAM DAN AIR
Di sebuah desa ada seorang anak perempuan umurnya kira-kira 13 sampai 16 tahun. Dia seorang anak yang cantik juga pintar tapi sayangnya dia memiliki sifat suka mengeluh ketika ada masalah datang menghampirinya. Sekecil apapun masalah itu dia selalu mengeluh dan menggerutu.
Suatu hari dia sedang berjalan menuju sekolah, tiba-tiba lewat seorang teman sekolahnya dengan mengendarai sepeda baru. Dia menatap temannya yang sedang mengendarai sepeda sambil mengeluhkan dirinya yang cuma berjalan kaki. Sesampainya di rumah  diapun mengeluhkan hal ini kepada ibunya. “Bu, aku capek setiap hari harus berjalan kaki ke sekolah, kenapa Ibu tidak membelikan aku sepeda baru supaya aku tidak perlu capek-capek berjalan kaki”.
Dia merasa dalam hidup ini hanya dia seorang yang selalu mendapat masalah tidak seperti teman-temannya yang lain yang bisa hidup enak dan tidak pernah punya masalah. Padahal semua manusia di muka bumi tidak pernah lepas dari masalah.
Ibunya mulai resah dengan sikap anaknya yang selalu mengeluh. Hingga di suatu hari, Ibu anak ini mengajaknya ke dapur, dia mengambil garam, gelas, dan sebuah panci kemudian mengisi gelas dan panci dengan air sampai penuh. Dia kemudian memasukan satu sendok garam kedalam gelas yang berisi air dan satu sendok lagi ke dalam panci. Sang anak mulai penasaran dengan apa yang sedang dilakukan ibunya.
“Untuk apa air garam itu bu?” Sang Ibu pun berkata, “sekarang coba kamu minum air yang ada di dalam gelas”. Anak  itu pun meminumnya dan mengeluh, “rasanya sangat asin bu!”, Ibunya kemudian menyuruh anak itu untuk mencicipi air yaang ada di dalam panci. “Rasanya asin bu, tapi tidak seasin air yang di gelas tadi” Kata anak itu dengan nada penasaran. Setelah itu sang ibu mengajaknya ke sebuah danau yang berada tidak jauh dari rumah mereka.
“Sekarang coba kamu lemparkan segenggam garam ke dalam danau itu!”. Dengan wajah yang masih penasaran anak itu melemparkan segenggam garam ke dalam danau. “Kenapa bu? Untuk apa ibu menyuruhku melemparkan garam ke danau?”. Sang ibu kemudian berkata, “Nak, kamu adalah anak yang cerdas, menurut kamu bagaimana rasa air danau setelah kamu melemparkan segenggam garam ke dalamnya?” dengan spontan anak itu menjawab, “Tentu saja rasanya tidak akan berubah bu, tapi aku masih penasaran kenapa ibu melakukan semua ini?”
Dengan nada yang lembut ibunya menjelaskan bahwa garam yang dimasukkan ke dalam gelas, panci dan danau itu diibaratkan masalah setiap orang yang ada di dunia. Tinggal bagaimana sikap kita menghadapi masalah itu. Apakah kita akan seperti gelas dan panci ketika ditimpa sedikit masalah akan berubah menjadi asin? Ataukah kita adalah danau yang ketika ditimpa masalah sebesar apapun tidak akan berubah rasa sedikitpun.
Setelah mendengarkan penjelasan ibunya, anak ini mulai mengerti bahwa setiap orang di atas bumi ini pasti punya masalah entah itu masalah yang besar atau masalah yang kecil, tetapi jika kita menghadapinya dengan lapang dada, maka sebesar apapun masalah yang menimpa tidak akan mengubah kita menjadi orang yang suka mengeluh dan lupa untuk bersyukur.







3 komentar: