Jumat, 17 Mei 2019

KATAKAN 

@daras09



     Pagi itu seperti biasa aku kembali melakukan aktifitas harian yang sudah dijalani sekian tahun lamanya, kata orang sih mencerdaskan kehidupan generasi muda demi kalangsungan hidup berbangsa dan bernegara, insyah Allah semoga. Kedatanganku pagi ini agak molor tiga menit dari yang smestinya masuk pukul enam tiga puluh. Aku datang rutinitas keseharian sudah dimulai yaitu mengaji. Khusu hari jum'at selalu diisi dengan pembacaan surat yasin. begitu juga dengan siswa dan teman yang beragama lain dengan kegiatan agama yang mereka anut. Dengan kegiatan harian sebelum memulai pelajaran, apalagi ini sedang berada dalam lingkungan bulan yang istimewa yaitu bulan suci Ramadhan, diharapkan mampu membentuk kepribadian siswa menjadi lebih seimbang dalam menjalan kehidupannya kelak saat sudah tidak berada di lingkungan sekolah. Mungkin saat ini belum bisa berharap banyak pada anak-anak yang sedang akan tumbuh lebih besar, tapi dengan keyakinan tidak akan ada yang sia-sia akan sesuatu kebaikan.

Selepas kegiatan pagi itu aku tidak ke ruang guru seperti biasanya, tapi berbelok ke perpustakaan. Sempat bercanda sejenak dengan teman yang bertugas 'tumben katanya sambil tersenyum. Dengan alasan masih ngantuk karena bangun pagi untuk menyiapkan sahur, aku balas balek candaannya, padahal ingin singgah ke sana karena ingin lebih nyaman menyelesaikan koreksian ulangan harian anak yang belum terselesaikan, kalaupun sambil ngantuk-ngantuk tentu lebih nyaman sekedar merebahkan kepala sejenak, apalagi pasti lebih senyap lagi karena anak-anak pasti belum datang berkunjung sebab masih jam pelajaran berlangsung. Apalagi pagi itu sekitar pukul sepuluan ada janji dengan orangtua untuk bertemu dalam rangka sosialisai pematangan acara syukuran siswa kelas sembilan, yang kebetulan sekali berdekatan ruangannya dengan perpustakaan, alias capek bolak-baleklah pikirku mencari tempat yang lebih mudah menjangkau tanpa harus capek naik turun lagi. Maka jadilah aku bersemedi di ruang perpustakaan sekolah. Mulai mengoreksi sambil sesekali merebahkan kepala ke atas meja tempat kertas-kertas kerjaan ulangan harian siswa yang sedang aku koreksi, karena mata yang lima watt kadang datang menyerang tak tertahankan. sejenak saja lumayan kantuk yang meyereng dapat dihalau sejenak. Terkadang aku juga menoleh melihat ke gawai untuk memastikan sudah pukul berapa karena takut keasyikan lupa kalau sudah janji ada pertemuan. Mendekati waktu pukul sembilan tiga puluh kegiatan aku hentikan karena akan dimulai pertemuan dengan orangtua. Ternyata niat awal ingin langsung ke acara pertemuan, eh.... naik ke ruang guru tanpa sadar, tapi sudahlah mungkin lebih aman semua barang bawaan kalau disimpan ditempat semestinya pikirku sambil berjalan mengarah ke tempat dudukku di ruang guru. 

     Belum lagi aku sempat duduk tiba-tiba teman yang duduk di sampingku mengulurkan gawainya minta dikoreksi tulisan yang dibuatnya karena mau diposting di facebooknya, dengan sedikit ragu dan sempat bertanya dalam hati aku ulurkan tangan menyambutnya, sejenak memperhatikan kalimat-kalimat yang sudah tertulis, mencoba meminta mengurangi, memperbaiki dan menambahkan kekurangan di sana sini. Berbincang sejenak dengan tulisannya, memberi semangat semoga bermanfaat bagi siapa saja nantinya yang membaca. Di awal membaca aku tidak punya perasaan tertentu dengan tulisannya, mungkin karena tugas saat itu hanya menbaca sejenak dan memberi komentar sedikit memberi masukan. Apalagi kisah yang akan disampaikan itu sangat sering sekali kita perbincangkan, bahkan bisa dikatakan setiap hari pasti tersempet ke sana. Tapi ketika aku sudah duduk di acara pertemuan orantua yang akhirnya dimulai pukul sepuluh lewat sepuluh molor dikit ngak apa-apalah toh sudah rutinitas kita kan selalu begitu seberkas geli menyusup di reluk hatiku. Acara pertemuan dimulai, sambil mendengarkan uraian acara yang akan berlangsung, iseng-iseng aku buka gawaiku, tanganku menyusuru halaman media sosial dan berakhir di halaman facebook, sejenak berhenti pada tulisan di halaman facebook teman yang meminta tulisannya dikoreksi, membaca sedikit serius, memaknai kalimat-kalimat demi kalimat, tanpa terasa hati rasa tersentuh, pengen rasanya menangis tapi tidak mungkin nanti pada bertanya apa gerangan terjadi. Tulisan sederhana berisi ungkapan hati akan sebuah pengalaman akan keistimewaan seorang anak kecil yang cantik, lucu bahkan pasti punya keistimewaan di tengah kekurangan yang tidak dirasakan mungkin bagi sebagian orangtua yang lainnya, yang memiliki buah hati sesuai keinginan lahir ke bumi.


"C anak istimewa. Tentu setiap keluarga sangat bahagia ketika penerus yang akan melanjutkan generasi selanjtnya akan segara hadir ke dunia. Rasa syukur yang dalam tidak lupa dipanjatkan pada yang kuasa akan anugerah yang sudah dititpkan. menjalani kehidupan bersama sang calon baby selama sembilan bulan membawa kemana-mana dengan rasa lelah tetap beraktifitas sampai sang pujaan hati hadir di tengah keluarga. Rasa syukur tiada prasangka ananda kan sehat sempurna begitu angan membuncah di dalam dada. Tangis pertama menyapa akan hadirnya kedunia mengukir senyum bahagia, ananda sudah hadir dengan selamat.  Rahir dengan kondisi sama dengan anak lainnya, tiba-tiba tanpa berita bagaikan kapal yang sudah beerlayar terpaksa kembali ke dermaga, mungkin ada yang salah butuh dibenahi dari pada terjadi hal yang tidak diinginkan nantinya. Seperti itulah perasaan yang mendera hati tidak terima apa yang terjadi gerangan dengan ananda yang diawal tiada masalah, ternyata pertumbuhannya tidak semestinya anak pada umumnya. Semua berjalan lambat. Hati sedih terluka tiada terkata pasti sudah, marah dan menyesal apa yang sudah terjadi ketika ananda belum hadir di dunia ikut menyapa. Semua sudah dijalankan sesuai nasehat yang selalu menyapa. Tapi sang penyayang yang paling depan tampil perkasa, Ibunda cantik hati langsung menyapa dengan ketegaran yang maha sempurna, memberi masukan jangan menyerah. Jangan lupa ada Yang Kuasa diantara kita, tempat meminta yang Maha Sempurna. Pegangan tangan jangan dilepas, tak ada yang perlu dipersalahkan pada kehendakNya. Bergerak cepat jangan lengah, ada tangan lain penyambung Yang Kuasa meninta penyembuhan ananda. Syukur tiada terkira usaha dengan doa sudah di depan mata, ananda sudah mulai tampil dengan lincanya. Gerakan dan kebiasaan manis pada seusianya sudah jelas kearahnya".

Terharu dan bangga karena tidak semua pribadi bisa berkata jujur akan suatu hal yang tidak sempurna. Menutupi padahal hati sakit ingin berkata jujur. Menutupi, menyimpan bahkan menyakiti karena dianggap aib keluarga. Padahal tanpa kita sadari kita sudah berbuat kezaliman atas ciptaannya. Hanya mereka yang hebatlah yang mampu berkata, berkata pada suatu kenyataan bahwa ini sudah ada dihadapan kita, bersatu dan berpengangan tangan agar mampu menyelamatkan buah hati atau keluarga tercinta. Semoga bermanfaat untuk wawasan bagi semua tiada yang tak mungkin bagiNya, berusaha dan berdoa selalu jangan perna berhenti selanjutnya serahnya pada ahliNya. Mohon maaf bila tak berkenan, tidak bermaksud menggurui hanya sekedar menyampaikan kebanggaan hati pada situasi teman yang begitu hebat dan perduli pada keluarga, yang menjadi kekuatan juga bagiku dan semoga untuk yang lainnya.


Jakarta, 13 Ramadhan 1440 Hijriah/180519 (Edisi Bersyukur)

#Day(12)
#OneDay OnePost30HRDC
#WraitingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah






Tidak ada komentar:

Posting Komentar