Minggu, 16 Juni 2019

TERUSLAH TARIKAN TANGANMU


TERUSLAH TARIKAN TANGANMU
          Sejak mentari mulai hangat menyapa bumi, Ulina sudah duduk di taman di samping rumahnya, yang berhadapan langsung ke dalam dapur yang biasanya pagi begini sudah mulai rame karena suara mamaknya yang sedang mempersiapkan sarapan pagi mereka sekeluarga, apalagi ini Minggu semua anggota keluarga berkumpul di rumah. Sekali-sekali sang mamak yang sedang sibuk sendiri itu mengalihakan pandangnya pada anaknya yang sedang duduk yang tak jauh dari dapur saat ini dia berada. Tak seperti biasa kalau anaknya duduk di sana, pancaran senyum bahagia selalu terlihat dari matanya dan tangannya yang tidak berhenti menekan tus laptop. Sang mamak sudah tahu apa yang sedang dikerjakan anaknya. Menulis semua hal yang dirasakannya, dirasakan mereka sekeluar, teman juga sahabat-sahabatnya dan lingkungan sekitarnya, baik itu sedih, bahagia bisa juga kocak, yang membuat sekeluarga terpingkal-pingkal karena begitu lucunya, menangis dan bersyukur tidak juga tertinggal semua dirangkai anaknya dalam tulisan. Kadang mencuri melirik sejenak ketika sang anak meninggalkan kursi yang sengaja dibuat begitu rupa agar saat duduk nyaman terasa. Mamaknya sangatpun sangat mendukung kegiatan anaknya yang beralih dari menekuni gawai pada hal yang tidak jelas, menjadi sebuah kegiatan baru yang membawa dampak positif bagi anak gadisnya. tapi pagi yang cerah dan indah ini, semua kegembiraan yang biasa terpancar dari warna wajah sang anak hilang bagaikan ditelan awan kelam, seperti hujan mau melucur membasahi bumi tapi tak jelas. Karena tak tahan lagi akhirnya sang mamak mengeluarka suara emasnya, yang menggelegar itu, makhlumlah batak tak ada suaranya yang koci-koci, semua pasti membara.

"Ulina! ngapa pula kau duduk di situ, berdecak terus mulut kau tak henti-henti dan tarik nafas berkali-kali? Tak berdiri kau sekejappun dari tempat kau duduk. Sudah pewe betul rupanya kau yang duduk itu, sampau tak kau hiraukan Mamak kau ini dari tadi sudah berlalu lalang bagai ojol yang ngantar penumpang. Berat kali rupanya persoalan yang terjadi? Kalau ada yang kau pikirkan dan tidak bisa kau pecahkan sendiri, biasakanlah kau berbagi sama Makmu ini juga boleh, sama yang lain yang kau percaya boleh juga, siapa tahu ada solusinya. Tapi harus kau ingat pulanya jangan sembarangan cari kawan curhat, harus benar-benar yang kau percaya biar tak kemana-mana tidak jelas lagi nanti bentuk beritanya. Belum lagi ditambah bumbu penyedap rasa, lumayan tambah enak  mala tambah pahit dan getir terasa di hati kau. Bukan solusi yang kau dapat, jadi persoalan baru yang siap menangkapmu".

Sang Mamak membuka suara menyapa anaknya yang sudah terlalu lama berdiam diri tak jelas menurutnya.

"Akh Mamak ini, tak malam tak siang suaranya tak berbatas volumenya. Kecilkanlah sedikit, pekak kuping aku, lama-lam tuli pula nanti anak gadismu yang cantik tidak, jelek juga tidak. Sudah jelek tuli pula ditambah, siapa pula yang mau melamar nantinya? kan mamak sudah gencar kali nyerocos agar anakmu ini cepat dipinang biar mamak segera dapat cucu". 

"Iya anak gadisku yang cantik, Mamak tahu itu, Yang mau  ditanya bukan masalah jodohmu itu. Mamak hanya mau tahu saja apa yang kau pikirkan sehingga duduk dari pagi sudah mau siang begini, bengong saja tak bergerak. Mamak hanya takut kau kenapa-napa atau dihinggapai begu yang sering duduk disebelah kau duduk sekarang itu.

"Ima mamakkan begunya?
"Huus, kok jade ngatain mama begu kualat kau nanti jadi anak, jauh jodohmu".

Keduanya kemumudian tertawa bersama. Ada kebahagiaan terselip di hati sang mamak begitu tawa akhirnya keluar dari selah bibir sang anak.

"curhatlah kau ada yang mengganjal hatimu". 

Himbau sang mamak kepada sang anak. Kemudian pelan-pelan hampir saja tak terdengar, tapi mamaknya berusaha menyimak dan tidak berusaha lagi untuk untuk bercanda agar segala beban yang menjadi penyebab anaknya terdiam pagi ini begitu lamanya segera terbongkar dan dapat menemukan solusi harus bagaimana menghadapi maupu menyelesaikannya. Meskipun menunggu sampai cerita itu benar-benar terungkap.

"Aku Bingung Mak dan sedikit sedih juga". 

"Bah, kalau bingung tinggal pegangan, tembok rumah kita ini sangat kokohnya dibangun sama Bapakmu. Kalau cuma kau yang pegangan tak akan pulahlah jadi gugur ke bumi. Kalau sedih biasanya juga Kau nangis-nangisnya sambil dengarin lagu, mmm... apa itu, yang selalu didendangkan kalau ada pesta kita? 

"Sau Anju Ma Au Mak".

"Haaa betul kali Kau". Sambung Mamaknya membenarkan jawaban anak gadisnya itu.

"Tapi mamak serius dong biar aku ceritakan apa yang terjadi pada hatiku"
;Ikh puitis kali kau?".

Kembali candaan itu terjadi di antara kedua anak beranak itu. Meskipun pada akhirnya mereka kembali serius. Hal ini memang disengaja agar ketegangan tak begitu terasa.

          Ulina pun mulai menyuarakan isi batinnya yang sedikit bingung, dan mungkin juga bagi mereka teman seperjuangan yang ikut serta menggoreskan kalimat-kalimat indah pada satu tantangan di dunia maya. Begitu banyaknya karya bertaburan yang tertuliskan belum juga mendapat kepercayaan pada si pembuat tatangannya. Apa ya yang jadi kriteria? Apakah aku cukupkan di sini saja? Mungkin aku memang hanya sok-sokan ingin ikut padahal sebenarnya aku bukan siapa-siapa dan memang aku bukan di sini dunianya? Sang ibu yang mendengar cerita yang disampaikan anak gadisnya seketika menyunggingkan senyum yang sangat indah yang selalu akan dilakukan seorang ibu terhadap anaknya yang sedang dalam masalah. Mmm....dengan lembut tangan yang sudah mulai kasar itu karena setiap hari dipakai untuk melayani semua penghuni rumah. Seorang ibu yang begitu sangat bertanggung jawab, dan juga pemberi semangat pada semua anak-anaknya, baik dalam keadaan senang juga berduka seperti anak gadisnya yang sekarang sedang berhadapan dengannya.

"Nak! 

sambil meletakkan tangannya membelai lembut kepala sang anak yang ditutupi kerudungnya yang pink bunga-bunga. Sehingga menambah cahaya keindahan yang dipancarkan dari wajah sang anak gadis terlihat nyata, meskipun sedikit tertutup kilatan mendung walaupun hujan tak sampai turun menyirami kedua pipih indah yang ranum bagai buah delima.

          Mengapa kau pikirkan yang baik dan tidak terbaik? Terpilih atau tidak terpilih? Tidak ada anak begitu lahir langsung nyanyi, langsung masuk sekolah SMA. Walaupun lagu timang-timang yang selalu inang senandungkan ketika kau kecil masih bersembur merah disekur tubuh. Itu hanya sekedar tembang pengantar tidurmu ketika kau sangat rewel tak mau tertidur. Mungkin kau ingin selalu mendengar suara Inangmu yang indah ini sebelum kau pejamkan mata kemudian dengkur kecil terdengar samar dari hembusan nafasmu. Tidak ada anak yang langsung berlari sebelum duduk, merangkak dan kemudian berjalan itupun tetap masih tertati-tati dulu baru berjalan dan kemudian berlari kencang menantang dunia sampai sukses yang diimpikan dapat digenggam. Mengerti kau maksud Inangmu ini kan? Jadi teruslah berlatih dan berkarya, jangan lelah meneruskan tarian tanganmu untuk mengukir kata-kata indah menurutmu sampai suatu hari kata indahmu itu menjadi indah juga dipandang yang lain disekitarmu bahkan jauh melampaui batas angan yang kau tak sangkah akan datang menghampirimu. Teruslah tarikan tanganmu.

          Senyum lebar nan indah terbit dari sela-sela bibir sang gadis kemudian menganggungkan kepala tanda mengiyakan semua yang disampaikan inangnya sangat benar adanya. Mengapa harus menyerah hanya pada suatu kata yang terpilih dan yang terbaik. Tetap semangat dan tetap berkarya harus yang lebih utama. Masih banyak diluar sana yang tidak berani memulai menyampaikan isi hatinya lewat untaikan kata demi kata, menjadi sebuah tulisan yang bermakna walau belum sempurna. Merka masih lebih asyik berkisah kemana-mana yang kadang hanya fitrna dan jatunya jadi menghamburkan dosa. 

Jakarta, 160619

Sabtu, 15 Juni 2019

ADA YANG BERBEDA



          Sekarang Kau berubah melontarkan tanya pada diri sendiri? Mengapa bisa ya? mengejar tanya berikutnya. Kaukan sudah tua alias tidak mudah lagi, seharusnya yang tua itu, wajahnya sudah pasti berkerut, jelek, penyakitan, gampang masuk angin, dikit-dikit encoknya kambu lalu minta diizinkan tidak ada di kelas. Tapi dirimu dari waktu ke waktu berdasarkan semua bukti diri yang sudah ada, kau benar membuat hatiku pangling dan kenyat-kenyut resa sendiri.


PULANG KAMPUNG (5)



PULANG KAMPUNG
@daras09
 ⧭
             Mudik kampung tahun ini? begitu tanya yang selalu terlontar saat akan datang hari di mana seluruh keluarga berbenah diri akan mengikuti tradisi, berkumpul keluarga yang dikasihi. Hanya mampu menjawab tanya itu dengan kembangan senyum yang mencoba tergambarkan semanis mungkin, walaupun ingin itu selalu datang merontah ingin segera mendaratkan diri di samping kedua yang tercinta, yang selalu setia menunggu kalah itu masih bisa bersama. Mungkin bingung hati bertanya, mengapa hanya senyum jawaban yang diterima, mengapa tidak langsung saja jawab ya atau tidak pulang saja, kan lebih pas dan elok sesuai dengan tanya yang butuh jawaban apa adanya. Ketidak puasan akan jawaban pasti sudah terasa ketika bertanya kembali mengapa tidak pulang juga. Bingung juga jawaban berikutnya karena berpikir apa kepentingan pulang begitu penting baginya?
           Tentu kalau mau jawaban dari hati terdalam, tak usah ditanya karena akan kabarkan sendiri tanpa diminta, tapi apalagi guna mereka yang tercinta telah tiada. Rindu kadang tiada tertahan ingin kembali saat-saat indah ketika lebaran. Mudik kampung sebuah keharusan karena ingin disambut dengan senyuman dan kelezatan segala santapan yang sudah disiapkan menyambut ananda yang akan datang. Semua tinggal kenangan pada masa kalau itu pernah ada dalam rentang hidup mulai menapaki sampai saat mereka tak bisa lagi tertahan ketika Sang Pemilik yang lebih berhak atas semua penghuni jagat raya telah meminta mereka kembali, karena kontrak rumah yang diberikan sudah tidak diperpanjang.
          Bila ingin jawaban yang pasti tentu semua sangat ingin kembali bahkan disetiap hari yang indah itu datang akan selalu apapun keadaannya untuk menyisahkan sebagian yang dimiliki agar bisa bersama berkumpul di hari yang fitri. Semua hanya tinggal kenangan yang tetap terpatri di hati. Walau masih ingin itu ada tapi hanya mampu menghadirkan keindahan itu lewat kisah-kisah ajaib kalah dahulu bisa bersama berbagi cerita kan rindu walau tak terucap karena gerakan lebih bermakna dari sekedar ucapan yang belum tentu enak terdengar dan dipandang mata. Walupun ucapan itu katanya juga sangat penting untuk satu pemakuan. Terserahlah silah pilih yang terbaik saja.


Jakarta, 150619
@mempertemukan
@narasibulanmerah
@irayuki
#11haribertanya
#hari......
#wraitingproject
#mempertemukan

Jumat, 14 Juni 2019

JUJUR (4)


JUJUR
Oleh@daras09

Apakah jujur masih dimiliki hati yang terdalam?

Waktu itu telah berlalu saat kau berdiri dengan kepala terangkat, dan berdiri tegap tanpa keraguan yang bersedekap memeluk dirimu yang terlihat percaya bahwa inilah saatnya, inilahlah waktu, inilah panggungku. Begitu memaknai hadirmu di sana. Sempat bertanya dalam hati apakah yang begitu genting sehingga pandangan wajahmu begitu kuat, begitu ingin segera lepas dari cengkraman hati akan sebuah gumpalan yang sudah lama tertanam bagai penyakit yang siap meledak, tapi tak tahu kapan saat yang tepat. Pelan tapi kuat kau uraikan akan semua yang tidak tepat yang terjadi yang membuat sakit pikiranmu yang masih lemah karena usiamu yang masih sangat lugu untuk memahami apa artinya. Zaman sudah berubah segala yang kehendaki siap tersaji, dari yang indah membawa kabaikan untuk diri, sampai hal yang bisa melarutkan diri tanpa bentuk. Kontrol diri yang kurang, iman sudah tak lagi bergantung ke badan, siaplah untuk diterjang. 
Semua kemalangan telah menyertai dirimu, meniggalkan semua yang nantinya akan menjadi sumber bahagia pada yang pana ini dan yang akan menyambut hidup kekalmu ke depan tak kau gauli lagi seperti hari kemarin yang sudah melekat padamu dari kau lahir. Tak ingin lanjut karena belum waktunya dan dirimu yang menginginkan masa depan yang indah, dan takut juga akan azabNya yang perih nantinya. Jujur obat hati begitu yang kau katakan, ungkapkan semua yang dirasakan, kalaupun akan dapat teguran, kaget akan ketidak percayaan akan hal yang dilakukan, bahkan hinaan yang akan menyertai harimu nanti, tapi bagiku tidak peduli apa kata mereka, aku hanya tahu apa kataNya karena itu sudah jadi larangannya saat waktu untuk itu belumlah tiba masanya. Masa saat ini menuntut masa depan yang akan membawa kebaikan kepada yang akan datang. Sujudmu yang lima waktu jangan tinggalkan, tambahkan dengan sunat yang dapat kita tunaikan siang maupun malam, menahan diri senin dan kamis, menjadi satu kenyamanan yang akan mengalir menjauhkan sejauh-jauh mungkin godaan yang akan datang kembali menyapa. 
Tidak sesaat tapi sepanjang jalan yang akan kita lalui disisa umur yang dipinjamkan kepada kita yang tidak pernah bersyukur ini. Peluk dekat mereka yang telah menyertai kehadiran di bumi terindah ini, yang telah dengan kasih menjaga dari rahim sampai hadir dengan taruhan jiwanya. Membekali kekuatan jiwa dan raga agar mampu berjalan pada segala rintangan yang terpampang di depan mata. Jangan juga lupakan mereka yang dengan sabar meski kadang mereka juga punya masala pada diri dan mereka yang tercinta, tapi tetap dengan senyum indah saat berpandangan dengan kita pada pagi ketika kita sampai pada pintu gerbang menyambut kehadiran kita setiap hari sampai menjelang siang saat kita berpisah sementara sampai besok kembali lagi dengan beragam keterampilan yang juga akan menyertai hidup kita sepanjang masa. Mereka yang tidak butuh kau ulang kembali pertemuan demi pertemuan dikala tugas dengan mereka sudah selesai tertunaikan. 
Maka jujurlah karena jujurmu yang akan membawa segala ketenangan selama melangka pada pinjaman kampung sementara sampai suatu hari kelak kita dapat undangan yang wajib kita sambut walaupun raga belum siap untuk datang ke sana, ke kampung halaman keabadian. 

Jakarta, 150619
@mempertemukan
@narasibulanmerah
@irayuki
#11haribertanya
#hari......
#wraitingproject
#mempertemukan

Rabu, 12 Juni 2019

KETIKA ANGAN TAK BERBALAS(3)



KETIKA ANGAN TAK BERBALAS
Oleh @daras09      

        Apakah arti dibalik semua ini sampai sekarang masih tetap bersarang di pikiran, bagaikan penyakit ganas yang tidak akan pernah sembuh bahkan menghilang. Mengalun kadang merdu, kadang merintih naik dan turun bagaikan kidung yang tak sampai di nyanyikan karena nafas keburu tersengal akan getirnya hari-hari saat menapaki semua cerita yang sudah terlanjur pindah ke pundak. Pernah hati ingin berpaling tak kuat lagi lutut ini menopang segala pedih akibat semaian yang tertanam, kemudian seketika niat diurungkan memandang mata indah bulat bersinar, terdiam saling memandang menuangkan harapan walau dalam diam.

       Mengapa dengan semua ini, tetap bertahan walau dalam keputusasaan yang sudah mulai merayam ke bagai benalu merusak rongga pohon tanpa ampun. Daun gugur berserakan ke bumi tanpa ada yang bisa memungut siapa tahu masi bisa bermanfaat untuk pupuk pohon yang akan mulai tumbuh berikut. Hanya diam tertunduk mencoba meresapi kalau ini sudah putusan akan doa yang pernah terangkat walau hati tidak pernah tergerak untuk meraih, hanya sekedar berharap  mungkin ini yang terbaik yang dimaksudkan.

          Segala asa sudah terwujud kini biarlah. Sudah putusan yang Penguasa bumi. Maksud baik pasti ada pada semua ini walaupun tak seindah yang pernah diangankan dan impikan. Mungkin harus bergegas membenahi hati itu yang paling hakiki agar rasa hati yang tidak berbalas sesuai tidak berlanjut jadi kering karena air hujan yang tak pernah datang menyirami tanaman. Harus kuat dalam keimanan kalau Sang Ilahi pemberi kebahagian sejati, Lakukan semampu diri walau tak sesuai harapan, semoga ridha selalu menyertai diri. Tiada keluhan apalagi sampai setiap hari, karena bahagia ada di hati sendiri.

Jakarta, 150619
@mempertemukan
@narasibulanmerah
@irayuki
#11haribertanya
#harikelima
#wraitingproject
#mempertemukan

Selasa, 11 Juni 2019

MENGAPA HARUS MINDER (2)

                                                 
                                                          MENGAPA HARUS MINDER

Oleh @daras09



"Mengapa harus minder dan merasa sendiri ketika yang dilakukan sudah tepat, meskipun sekitar masih asing atau belum terbiasa atau belum dapat hidayah datang merapat, atau sendiri yang ogah menjemputnya padahal tahu itu kewajiban yang sudah tercatatatkan pada sebuah petunjuk akan kemanfaatan yang lebih dari segala bentuk dan modelnya" 
Selembar kertas, mungkin tak bermakna dan berharga tanpa catatan terukir di sana. Baik ukiran lewat rangkai tangan yang menari memberi makna, atau ukiran yang ditujukan untuk mereka seseorang yang jauh di sana. Dengan berbekal lembaran kertas itulah saat ini aku sedang berdiri berhadapan di gedung bertingkat ini. Sempat aku harus melangkah pada suatu tempat yang  jauh  karena keridaktahuan. Aku langkahkan kaki dengan ringan penuh percaya diri, menjalankan  tugas yang akan kuemban lewat selembar kertas yang saat ini sudah aku genggam. Hanya selembar kertas dengan perjuangan yang tidak bisa semua dapat memiliki. Rasa syukur selalu kulapaskan karena pemilihan diri yang tidak semua bisa mencapai. Setahun menanti, waktu yang tidak pendek tapi terasakan, terasa ketika harus berpasrah diri harus mengabdi pada tempat yang tidak tahu diri menerima diri ini. Tapi harus tetap kuat karena langkah kecil yang sering kali dianggap sebelah mata dan mengejek karena tidak pantas diri yang sudah bersusahpaya berjuang mengeluarkan tak sedikit biaya dan tenaga terkuras menyatakan ketidakpantasan berada di sana. Aku tinggi, aku hebat dan aku segalanya boleh saja, tapi harus  disadari tidak akan ada langkah lebar tanpa permulaan dari langkah kecil bahkan langka kecil bisa saja akan tertati-tati. Langkah kecil inilah yang akan membawa kelangkah lebar yang tanpa disadari siap menanti, yang penting sabar saat masa itu akan datang menyapa diri. 

Menyusuri tempat yang pertama kali harus aku datangani, setelah sempat melangkah pada urutan sang waktu yang sudah lama terlewati. Sekarang di sini, menyodorkan kertas dalam genggaman, mengulurkan tanda perkenalan, kalau posisi sekarang di sini, bersama melangkah dengan pasti mohon petunjuk bila nanti melenceng ke kiri tak tahu diri. Diterima dengan satu kata yang menbuat hati bertanya 'jangan minder kepada yang lain, tetaplah teguhkan hati pada jalan yang indah ini'. Mengangguk tanda setujuh kalau hati tidak akan terjamah pada badan yang sudah terjaga karena aturan yang telah ditetapkanNya. Bibirpun berdoa semoga yang lainnya segera dapat pentunjuk dariNya kalau ini wajib hukumnya. Mengapa harus minder akan sesuatu yang indah dipandang mata, mengapa harus minder karena ini menjalankan perintahNya.
Mengapa di sini? Melangkah dengan pasti untuk mengabdikan diri lewat boca-boca kecil yang lucu dan kadang harus sabar mengurut dada, akan tingkah yang manis mereka membuat hati resa yang tiada bisa dilukis jiwa. Teruslah di sini sampai tiba suatu ketika genggaman kertas kembali ke dalam tangan, tanda berakhirnya perjalanan pengabdian pada boca-boca nakal yang akan dirindukan tapi tidak ada jatah lagi untuk bersama tergantikan pada mereka yang lebih muda.
Jakarta, 9 Syawal 1440 H /1206 2019
@mempertemukan
@narasibulanmerah
@irayuki
#11haribertanya
#harikedua
#wraitingproject
#mempertemukan

JANGAN PAKSAKAN SUDAH ADA YANG MENGATUR (1)

                                             
 JANGAN PAKSAKAN SUDAH ADA YANG MENGATUR

Oleh @daras09
"Mengapa kalau dan siang pasti ada malam. Mengapa kalau ada yang cantik pasti ada yang jelek.
Mengapa kalau ada tinggi ada juga yang pendek. Mengapa kalau ada cantik pasti ada yang ganteng?"
     
Mengapa aku sudah sampai di bangunan yang sudah tua ini tanya Batu dalam hatinya?meskipun pertanyaan yang bergelanyut di hatinya tidak ada jawaban, tetap saja Batu melangkahkan kakinya memasuki gedung tua itu. Mengapa Batu mengatakan tua padahal masih kokok tertanjap ke bumi tidak pernah goya sekencang apapun angin bertiup. Ya... iyalah masa cuma angin saja bisa merusak bahkan menghancurkan bangunan ini, senyum geli sendiri terbit di bibir Batu yang seksi tebal sedikit hitam. Sejenak langkahnya terhenti, keraguan tiba-tiba menyerang kalbu terdalamnya untuk melanjutkan masuk ke bagian terdalam bangunan yang tinggal selangkah lagi karena Batu memang sudah berada di depan pintu masuk.

Sekelebat banyangan terakhir ketika mendatangi bangunan tua ini pada bulan Ramadhan tahun lalu, dengan niat dan hati gembira ingin bergelut mesra dengan sanak saudara setelah lima tahun tidak bisa bersama. Kesibukannya memulai karir baru, meninggalkan dunia pekerjaan yang selalu harus ikut aturan orang yang berhak memiliki tempat Batu mencari penghidupan setelah menyelesaikan belajarnya di salah satu perguruan tinggi swasta di tempat Batu saat ini bergelut mencari rezeki. Berkat kegigihan dan pengalaman selama berkecimpung di tempatnya akhirnya usaha Batu tidak sia-sia, bahkan kehidupannya lebih layak saat ini dibanding sebelumnya. Hanya ada satu yang belum berhasil menghampiri Batu, dan itulah pangkal pengsengketaan antara Batu dengan penghuni bangunan tua ini, padahal Batu sangat mencintai dan menyayaginya. Dia yang telah menghadirkan Batu ke bumi yang indah ini dengan bertaruh segala kehidupannya sampai semua keberhasilan yang diraih Batu saat ini, merupakan kerja keras dan doa yang tiada berhenti dihembuskan seperti nafasnya yang kadang tersengal karena harus berjalan ke sana dan ke sini dengan langkah kadang tergopoh untuk mencukupi segala kebeutuhan anak kebanggaannya. Penghuni gedung tua ini sudah tua, mungkin sudah setua atau bahkan lebih tua dari bangunan ini. Wajarlah Dia meminta agar yang dibanggakan dan diperjuangkan hingga berhasil segera dapat memberinya menantu dan cucu di sisa hidupnya yang tidak seberapa lama lagi di dunia. Hal inilah yang menjadi pangkal perbincangan yang kadang bahkan selalu menimbulkan ketengan di antara Batu dan Dia. Tidak ada yang mau mengalah, karena masing-masing punya argumen yang sama hebatnya.
"Tak kasihan melihat Umak yang sudah tua ini? Masa hanya perempuan satu saja tak bisa kau dapatkan ditempatmu kerja atau di sekitar kau tinggal di sana, bawa untuk menantu yang akan memberikan cucu untuk Umak dan yang akan melanjutkan generasi ke depan." 
Wajah Batu seketika beruba, kalau dilukiskan bisa lukisan tak mau menerima karena hasilnya akan sangat tidak bisa di pandang mata. Tapi Batu tetap bertahan jangan sampai terpancing karena Batu tidak mau sekejappun menyakiti hati perempuan tua yang tercinta dengan sepenuh jiwa. 
"Kalau kau tidak bisa juga, Umak akan kawinkan juga kamu sekarang dengan paribanmu, sudah tamat Dia sekolah keguruan, dan sudah mengajar, apalagi yang kurang. Lagi pula Dia itu kan saudara kita, lebih baik kau kasih makan saudara sendiri dari pada kasih ke orang lain. 
Untuk kalimat umaknya yang terakhir ini terpaksa Batu membalas, dan balasan jawaban dari Batu inilah yang membuat kedua anak beranak itu sampai tidak tahu lagi kalau mereka masih punya hubungan keluarga, darah dalam tubuh mereka yang satu itu tidak dianggap lagi. Batu menolak keras permintaan Umaknya yang akan menjodohkannya dengan anak tulangnya, yang disebut juga paribannya. Perjodohan yang terlalu dekat atau masih di ruang lingkup keluarga dapat menghasilakan keturunan yang kurang baik, walaupun tiori itu belum bisa dipastikan kebenarannya, atau hanya alasan Batu agar tidak terjadi perjodohannya, hanya hati Batu dan Tuhan yang tahu jawaban pastinya. Sekeras apapun Umaknya meminta bahkan memohon kesediaan Batu, bahkan dengan alasan akan rusak hubungan keluarga karena Umaknya sudah meminta anak gadis tulangnya itu, tetap hati Batu tidak bergeser sejengkalpun. Mungkin jadi tiori yang dipaparkan Batu hanya alasan saja, karena hatinya tidak sedikitpun kepincut wajah cantik nan elok, pintar dan sholeha yang dimiliki gadis itu. Hati Batu hanya terpaut ke gadis itu tidak lebih dari rasa sayang seorang abang kepada adiknya. Batu dari kecil sudah bersama gadis beda lima tahun umurnya dengannya. Semua perlindungan dan kasih sayang yang selalu ditunjukan tidak bisa diruba jadi kasih sayang terhadap wanita seperti layaknya laki-laki kepada perempuannya. Bagaimana mungkin aku menikahi adekku sendiri meskipun secara adat, dan agama Batu bisa melakukannya. Batu juga tidak mau merusak hubungan yang sering diceritakan gadis itu ketika curhat lewat telepon ataupun ceting dengannya untuk minta pendapat tentang orang yang dicintaintanya. Dengan goyangan pelan kepala Batu membuang semua kenangan pahit itu, saat ini hadirnya akan menebus semua sesal telah dengan lancang menyentuh reluk kecil hati yang seharusnya dijaga bagaikan gelas kristal yang mudah retak bahkan mungkin pecah berkeping. Batu telah bersiap bersiap akan kemungkinan yang akan menggulung dirinya dengan perjumpaan ini.
Tangan Batu sudah akan terangkat ingin mengetuk pintu gedung tua itu untuk mengabarkan akan kehadiran dirinya, kembali diurungkan karena pintu sudah terbuka sendiri oleh sang pemilik. Saling pandang yang memancarkan rasa rindu yang mendalam tidak terelakkan lagi, dan detik berikutnya hanya pelukan yang ditengarai tangisan yang terdengar, khususnya dari sang wanita tua yang sudah mulai terlihat keriput bertambah banyak di permukaan wajah yang tetap cantik meskipun sudah termakan usia jadi penghuni dunia. Masih dengan berpelukan pintu tertutup kembali tanda penghuninya sudah masuk ke dalam. Hanya kata maaf yang terdengar dari kedua orang yang saling mencintai itu. Tanpa dikomando dan tanpa terucap sebuah janji dari masing-masing pihak mereka sepakat tidak akan melanjutkan percakapan yang akan merusak hubungan mereka, tidak ada yang lebih indah dari kebersaan mereka dalam sebuah keluarga.
"Mengapa kalau ada siang pasti ada malam. Mengapa kalau ada yang cantik pasti ada yang jelek.
Mengapa kalau ada tinggi ada juga yang pendek. Mengapa kalau ada cantik pasti ada yang ganteng?"
⧫     
Karena sudah terjalin sejak dunia ini tercipta, mungkin mereka jodoh, seperi cantik dan ganteng, seperti pendek dan tinggi, seperti canti dan jelek, tapi bisa juga tidak berjodoh seperti malam dan siang meskipun sepadan, atau mereka berjodoh tapi belum bertemu. Karena jodoh hanya rahasia Tuhan. Tetap mengharap juga berusaha, sampai akhirnya di mana, serahkan pada Sang PemilikNya. Bolehkah menjodohkan? mengapa tidak, asalkan tetap pemegang keinginan tidak merasa terpaksa dan dipaksakan.
Jakarta, 9 Syawal 1440 H /1206 2019
@mempertemukan
@narasibulanmerah
@irayuki
#11haribertanya
#haripertama
#wraitingproject
#mempertemukan