TERUSLAH TARIKAN TANGANMU
Sejak mentari mulai hangat menyapa bumi, Ulina sudah duduk di taman di samping rumahnya, yang berhadapan langsung ke dalam dapur yang biasanya pagi begini sudah mulai rame karena suara mamaknya yang sedang mempersiapkan sarapan pagi mereka sekeluarga, apalagi ini Minggu semua anggota keluarga berkumpul di rumah. Sekali-sekali sang mamak yang sedang sibuk sendiri itu mengalihakan pandangnya pada anaknya yang sedang duduk yang tak jauh dari dapur saat ini dia berada. Tak seperti biasa kalau anaknya duduk di sana, pancaran senyum bahagia selalu terlihat dari matanya dan tangannya yang tidak berhenti menekan tus laptop. Sang mamak sudah tahu apa yang sedang dikerjakan anaknya. Menulis semua hal yang dirasakannya, dirasakan mereka sekeluar, teman juga sahabat-sahabatnya dan lingkungan sekitarnya, baik itu sedih, bahagia bisa juga kocak, yang membuat sekeluarga terpingkal-pingkal karena begitu lucunya, menangis dan bersyukur tidak juga tertinggal semua dirangkai anaknya dalam tulisan. Kadang mencuri melirik sejenak ketika sang anak meninggalkan kursi yang sengaja dibuat begitu rupa agar saat duduk nyaman terasa. Mamaknya sangatpun sangat mendukung kegiatan anaknya yang beralih dari menekuni gawai pada hal yang tidak jelas, menjadi sebuah kegiatan baru yang membawa dampak positif bagi anak gadisnya. tapi pagi yang cerah dan indah ini, semua kegembiraan yang biasa terpancar dari warna wajah sang anak hilang bagaikan ditelan awan kelam, seperti hujan mau melucur membasahi bumi tapi tak jelas. Karena tak tahan lagi akhirnya sang mamak mengeluarka suara emasnya, yang menggelegar itu, makhlumlah batak tak ada suaranya yang koci-koci, semua pasti membara.
"Ulina! ngapa pula kau duduk di situ, berdecak terus mulut kau tak henti-henti dan tarik nafas berkali-kali? Tak berdiri kau sekejappun dari tempat kau duduk. Sudah pewe betul rupanya kau yang duduk itu, sampau tak kau hiraukan Mamak kau ini dari tadi sudah berlalu lalang bagai ojol yang ngantar penumpang. Berat kali rupanya persoalan yang terjadi? Kalau ada yang kau pikirkan dan tidak bisa kau pecahkan sendiri, biasakanlah kau berbagi sama Makmu ini juga boleh, sama yang lain yang kau percaya boleh juga, siapa tahu ada solusinya. Tapi harus kau ingat pulanya jangan sembarangan cari kawan curhat, harus benar-benar yang kau percaya biar tak kemana-mana tidak jelas lagi nanti bentuk beritanya. Belum lagi ditambah bumbu penyedap rasa, lumayan tambah enak mala tambah pahit dan getir terasa di hati kau. Bukan solusi yang kau dapat, jadi persoalan baru yang siap menangkapmu".
Sang Mamak membuka suara menyapa anaknya yang sudah terlalu lama berdiam diri tak jelas menurutnya.
Sang Mamak membuka suara menyapa anaknya yang sudah terlalu lama berdiam diri tak jelas menurutnya.
"Akh Mamak ini, tak malam tak siang suaranya tak berbatas volumenya. Kecilkanlah sedikit, pekak kuping aku, lama-lam tuli pula nanti anak gadismu yang cantik tidak, jelek juga tidak. Sudah jelek tuli pula ditambah, siapa pula yang mau melamar nantinya? kan mamak sudah gencar kali nyerocos agar anakmu ini cepat dipinang biar mamak segera dapat cucu".
"Iya anak gadisku yang cantik, Mamak tahu itu, Yang mau ditanya bukan masalah jodohmu itu. Mamak hanya mau tahu saja apa yang kau pikirkan sehingga duduk dari pagi sudah mau siang begini, bengong saja tak bergerak. Mamak hanya takut kau kenapa-napa atau dihinggapai begu yang sering duduk disebelah kau duduk sekarang itu.
"Ima mamakkan begunya?
"Huus, kok jade ngatain mama begu kualat kau nanti jadi anak, jauh jodohmu".
Keduanya kemumudian tertawa bersama. Ada kebahagiaan terselip di hati sang mamak begitu tawa akhirnya keluar dari selah bibir sang anak.
"curhatlah kau ada yang mengganjal hatimu".
Himbau sang mamak kepada sang anak. Kemudian pelan-pelan hampir saja tak terdengar, tapi mamaknya berusaha menyimak dan tidak berusaha lagi untuk untuk bercanda agar segala beban yang menjadi penyebab anaknya terdiam pagi ini begitu lamanya segera terbongkar dan dapat menemukan solusi harus bagaimana menghadapi maupu menyelesaikannya. Meskipun menunggu sampai cerita itu benar-benar terungkap.
"Ima mamakkan begunya?
"Huus, kok jade ngatain mama begu kualat kau nanti jadi anak, jauh jodohmu".
Keduanya kemumudian tertawa bersama. Ada kebahagiaan terselip di hati sang mamak begitu tawa akhirnya keluar dari selah bibir sang anak.
"curhatlah kau ada yang mengganjal hatimu".
Himbau sang mamak kepada sang anak. Kemudian pelan-pelan hampir saja tak terdengar, tapi mamaknya berusaha menyimak dan tidak berusaha lagi untuk untuk bercanda agar segala beban yang menjadi penyebab anaknya terdiam pagi ini begitu lamanya segera terbongkar dan dapat menemukan solusi harus bagaimana menghadapi maupu menyelesaikannya. Meskipun menunggu sampai cerita itu benar-benar terungkap.
"Aku Bingung Mak dan sedikit sedih juga".
"Bah, kalau bingung tinggal pegangan, tembok rumah kita ini sangat kokohnya dibangun sama Bapakmu. Kalau cuma kau yang pegangan tak akan pulahlah jadi gugur ke bumi. Kalau sedih biasanya juga Kau nangis-nangisnya sambil dengarin lagu, mmm... apa itu, yang selalu didendangkan kalau ada pesta kita?
"Sau Anju Ma Au Mak".
"Haaa betul kali Kau". Sambung Mamaknya membenarkan jawaban anak gadisnya itu.
"Tapi mamak serius dong biar aku ceritakan apa yang terjadi pada hatiku"
;Ikh puitis kali kau?".
Kembali candaan itu terjadi di antara kedua anak beranak itu. Meskipun pada akhirnya mereka kembali serius. Hal ini memang disengaja agar ketegangan tak begitu terasa.
"Bah, kalau bingung tinggal pegangan, tembok rumah kita ini sangat kokohnya dibangun sama Bapakmu. Kalau cuma kau yang pegangan tak akan pulahlah jadi gugur ke bumi. Kalau sedih biasanya juga Kau nangis-nangisnya sambil dengarin lagu, mmm... apa itu, yang selalu didendangkan kalau ada pesta kita?
"Sau Anju Ma Au Mak".
"Haaa betul kali Kau". Sambung Mamaknya membenarkan jawaban anak gadisnya itu.
"Tapi mamak serius dong biar aku ceritakan apa yang terjadi pada hatiku"
;Ikh puitis kali kau?".
Kembali candaan itu terjadi di antara kedua anak beranak itu. Meskipun pada akhirnya mereka kembali serius. Hal ini memang disengaja agar ketegangan tak begitu terasa.
Ulina pun mulai menyuarakan isi batinnya yang sedikit bingung, dan mungkin juga bagi mereka teman seperjuangan yang ikut serta menggoreskan kalimat-kalimat indah pada satu tantangan di dunia maya. Begitu banyaknya karya bertaburan yang tertuliskan belum juga mendapat kepercayaan pada si pembuat tatangannya. Apa ya yang jadi kriteria? Apakah aku cukupkan di sini saja? Mungkin aku memang hanya sok-sokan ingin ikut padahal sebenarnya aku bukan siapa-siapa dan memang aku bukan di sini dunianya? Sang ibu yang mendengar cerita yang disampaikan anak gadisnya seketika menyunggingkan senyum yang sangat indah yang selalu akan dilakukan seorang ibu terhadap anaknya yang sedang dalam masalah. Mmm....dengan lembut tangan yang sudah mulai kasar itu karena setiap hari dipakai untuk melayani semua penghuni rumah. Seorang ibu yang begitu sangat bertanggung jawab, dan juga pemberi semangat pada semua anak-anaknya, baik dalam keadaan senang juga berduka seperti anak gadisnya yang sekarang sedang berhadapan dengannya.
"Nak!
sambil meletakkan tangannya membelai lembut kepala sang anak yang ditutupi kerudungnya yang pink bunga-bunga. Sehingga menambah cahaya keindahan yang dipancarkan dari wajah sang anak gadis terlihat nyata, meskipun sedikit tertutup kilatan mendung walaupun hujan tak sampai turun menyirami kedua pipih indah yang ranum bagai buah delima.
Mengapa kau pikirkan yang baik dan tidak terbaik? Terpilih atau tidak terpilih? Tidak ada anak begitu lahir langsung nyanyi, langsung masuk sekolah SMA. Walaupun lagu timang-timang yang selalu inang senandungkan ketika kau kecil masih bersembur merah disekur tubuh. Itu hanya sekedar tembang pengantar tidurmu ketika kau sangat rewel tak mau tertidur. Mungkin kau ingin selalu mendengar suara Inangmu yang indah ini sebelum kau pejamkan mata kemudian dengkur kecil terdengar samar dari hembusan nafasmu. Tidak ada anak yang langsung berlari sebelum duduk, merangkak dan kemudian berjalan itupun tetap masih tertati-tati dulu baru berjalan dan kemudian berlari kencang menantang dunia sampai sukses yang diimpikan dapat digenggam. Mengerti kau maksud Inangmu ini kan? Jadi teruslah berlatih dan berkarya, jangan lelah meneruskan tarian tanganmu untuk mengukir kata-kata indah menurutmu sampai suatu hari kata indahmu itu menjadi indah juga dipandang yang lain disekitarmu bahkan jauh melampaui batas angan yang kau tak sangkah akan datang menghampirimu. Teruslah tarikan tanganmu.
Senyum lebar nan indah terbit dari sela-sela bibir sang gadis kemudian menganggungkan kepala tanda mengiyakan semua yang disampaikan inangnya sangat benar adanya. Mengapa harus menyerah hanya pada suatu kata yang terpilih dan yang terbaik. Tetap semangat dan tetap berkarya harus yang lebih utama. Masih banyak diluar sana yang tidak berani memulai menyampaikan isi hatinya lewat untaikan kata demi kata, menjadi sebuah tulisan yang bermakna walau belum sempurna. Merka masih lebih asyik berkisah kemana-mana yang kadang hanya fitrna dan jatunya jadi menghamburkan dosa.
Jakarta, 160619

