Selasa, 11 Juni 2019

JANGAN PAKSAKAN SUDAH ADA YANG MENGATUR (1)

                                             
 JANGAN PAKSAKAN SUDAH ADA YANG MENGATUR

Oleh @daras09
"Mengapa kalau dan siang pasti ada malam. Mengapa kalau ada yang cantik pasti ada yang jelek.
Mengapa kalau ada tinggi ada juga yang pendek. Mengapa kalau ada cantik pasti ada yang ganteng?"
     
Mengapa aku sudah sampai di bangunan yang sudah tua ini tanya Batu dalam hatinya?meskipun pertanyaan yang bergelanyut di hatinya tidak ada jawaban, tetap saja Batu melangkahkan kakinya memasuki gedung tua itu. Mengapa Batu mengatakan tua padahal masih kokok tertanjap ke bumi tidak pernah goya sekencang apapun angin bertiup. Ya... iyalah masa cuma angin saja bisa merusak bahkan menghancurkan bangunan ini, senyum geli sendiri terbit di bibir Batu yang seksi tebal sedikit hitam. Sejenak langkahnya terhenti, keraguan tiba-tiba menyerang kalbu terdalamnya untuk melanjutkan masuk ke bagian terdalam bangunan yang tinggal selangkah lagi karena Batu memang sudah berada di depan pintu masuk.

Sekelebat banyangan terakhir ketika mendatangi bangunan tua ini pada bulan Ramadhan tahun lalu, dengan niat dan hati gembira ingin bergelut mesra dengan sanak saudara setelah lima tahun tidak bisa bersama. Kesibukannya memulai karir baru, meninggalkan dunia pekerjaan yang selalu harus ikut aturan orang yang berhak memiliki tempat Batu mencari penghidupan setelah menyelesaikan belajarnya di salah satu perguruan tinggi swasta di tempat Batu saat ini bergelut mencari rezeki. Berkat kegigihan dan pengalaman selama berkecimpung di tempatnya akhirnya usaha Batu tidak sia-sia, bahkan kehidupannya lebih layak saat ini dibanding sebelumnya. Hanya ada satu yang belum berhasil menghampiri Batu, dan itulah pangkal pengsengketaan antara Batu dengan penghuni bangunan tua ini, padahal Batu sangat mencintai dan menyayaginya. Dia yang telah menghadirkan Batu ke bumi yang indah ini dengan bertaruh segala kehidupannya sampai semua keberhasilan yang diraih Batu saat ini, merupakan kerja keras dan doa yang tiada berhenti dihembuskan seperti nafasnya yang kadang tersengal karena harus berjalan ke sana dan ke sini dengan langkah kadang tergopoh untuk mencukupi segala kebeutuhan anak kebanggaannya. Penghuni gedung tua ini sudah tua, mungkin sudah setua atau bahkan lebih tua dari bangunan ini. Wajarlah Dia meminta agar yang dibanggakan dan diperjuangkan hingga berhasil segera dapat memberinya menantu dan cucu di sisa hidupnya yang tidak seberapa lama lagi di dunia. Hal inilah yang menjadi pangkal perbincangan yang kadang bahkan selalu menimbulkan ketengan di antara Batu dan Dia. Tidak ada yang mau mengalah, karena masing-masing punya argumen yang sama hebatnya.
"Tak kasihan melihat Umak yang sudah tua ini? Masa hanya perempuan satu saja tak bisa kau dapatkan ditempatmu kerja atau di sekitar kau tinggal di sana, bawa untuk menantu yang akan memberikan cucu untuk Umak dan yang akan melanjutkan generasi ke depan." 
Wajah Batu seketika beruba, kalau dilukiskan bisa lukisan tak mau menerima karena hasilnya akan sangat tidak bisa di pandang mata. Tapi Batu tetap bertahan jangan sampai terpancing karena Batu tidak mau sekejappun menyakiti hati perempuan tua yang tercinta dengan sepenuh jiwa. 
"Kalau kau tidak bisa juga, Umak akan kawinkan juga kamu sekarang dengan paribanmu, sudah tamat Dia sekolah keguruan, dan sudah mengajar, apalagi yang kurang. Lagi pula Dia itu kan saudara kita, lebih baik kau kasih makan saudara sendiri dari pada kasih ke orang lain. 
Untuk kalimat umaknya yang terakhir ini terpaksa Batu membalas, dan balasan jawaban dari Batu inilah yang membuat kedua anak beranak itu sampai tidak tahu lagi kalau mereka masih punya hubungan keluarga, darah dalam tubuh mereka yang satu itu tidak dianggap lagi. Batu menolak keras permintaan Umaknya yang akan menjodohkannya dengan anak tulangnya, yang disebut juga paribannya. Perjodohan yang terlalu dekat atau masih di ruang lingkup keluarga dapat menghasilakan keturunan yang kurang baik, walaupun tiori itu belum bisa dipastikan kebenarannya, atau hanya alasan Batu agar tidak terjadi perjodohannya, hanya hati Batu dan Tuhan yang tahu jawaban pastinya. Sekeras apapun Umaknya meminta bahkan memohon kesediaan Batu, bahkan dengan alasan akan rusak hubungan keluarga karena Umaknya sudah meminta anak gadis tulangnya itu, tetap hati Batu tidak bergeser sejengkalpun. Mungkin jadi tiori yang dipaparkan Batu hanya alasan saja, karena hatinya tidak sedikitpun kepincut wajah cantik nan elok, pintar dan sholeha yang dimiliki gadis itu. Hati Batu hanya terpaut ke gadis itu tidak lebih dari rasa sayang seorang abang kepada adiknya. Batu dari kecil sudah bersama gadis beda lima tahun umurnya dengannya. Semua perlindungan dan kasih sayang yang selalu ditunjukan tidak bisa diruba jadi kasih sayang terhadap wanita seperti layaknya laki-laki kepada perempuannya. Bagaimana mungkin aku menikahi adekku sendiri meskipun secara adat, dan agama Batu bisa melakukannya. Batu juga tidak mau merusak hubungan yang sering diceritakan gadis itu ketika curhat lewat telepon ataupun ceting dengannya untuk minta pendapat tentang orang yang dicintaintanya. Dengan goyangan pelan kepala Batu membuang semua kenangan pahit itu, saat ini hadirnya akan menebus semua sesal telah dengan lancang menyentuh reluk kecil hati yang seharusnya dijaga bagaikan gelas kristal yang mudah retak bahkan mungkin pecah berkeping. Batu telah bersiap bersiap akan kemungkinan yang akan menggulung dirinya dengan perjumpaan ini.
Tangan Batu sudah akan terangkat ingin mengetuk pintu gedung tua itu untuk mengabarkan akan kehadiran dirinya, kembali diurungkan karena pintu sudah terbuka sendiri oleh sang pemilik. Saling pandang yang memancarkan rasa rindu yang mendalam tidak terelakkan lagi, dan detik berikutnya hanya pelukan yang ditengarai tangisan yang terdengar, khususnya dari sang wanita tua yang sudah mulai terlihat keriput bertambah banyak di permukaan wajah yang tetap cantik meskipun sudah termakan usia jadi penghuni dunia. Masih dengan berpelukan pintu tertutup kembali tanda penghuninya sudah masuk ke dalam. Hanya kata maaf yang terdengar dari kedua orang yang saling mencintai itu. Tanpa dikomando dan tanpa terucap sebuah janji dari masing-masing pihak mereka sepakat tidak akan melanjutkan percakapan yang akan merusak hubungan mereka, tidak ada yang lebih indah dari kebersaan mereka dalam sebuah keluarga.
"Mengapa kalau ada siang pasti ada malam. Mengapa kalau ada yang cantik pasti ada yang jelek.
Mengapa kalau ada tinggi ada juga yang pendek. Mengapa kalau ada cantik pasti ada yang ganteng?"
⧫     
Karena sudah terjalin sejak dunia ini tercipta, mungkin mereka jodoh, seperi cantik dan ganteng, seperti pendek dan tinggi, seperti canti dan jelek, tapi bisa juga tidak berjodoh seperti malam dan siang meskipun sepadan, atau mereka berjodoh tapi belum bertemu. Karena jodoh hanya rahasia Tuhan. Tetap mengharap juga berusaha, sampai akhirnya di mana, serahkan pada Sang PemilikNya. Bolehkah menjodohkan? mengapa tidak, asalkan tetap pemegang keinginan tidak merasa terpaksa dan dipaksakan.
Jakarta, 9 Syawal 1440 H /1206 2019
@mempertemukan
@narasibulanmerah
@irayuki
#11haribertanya
#haripertama
#wraitingproject
#mempertemukan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar