Selasa, 11 Juni 2019

MENGAPA HARUS MINDER (2)

                                                 
                                                          MENGAPA HARUS MINDER

Oleh @daras09



"Mengapa harus minder dan merasa sendiri ketika yang dilakukan sudah tepat, meskipun sekitar masih asing atau belum terbiasa atau belum dapat hidayah datang merapat, atau sendiri yang ogah menjemputnya padahal tahu itu kewajiban yang sudah tercatatatkan pada sebuah petunjuk akan kemanfaatan yang lebih dari segala bentuk dan modelnya" 
Selembar kertas, mungkin tak bermakna dan berharga tanpa catatan terukir di sana. Baik ukiran lewat rangkai tangan yang menari memberi makna, atau ukiran yang ditujukan untuk mereka seseorang yang jauh di sana. Dengan berbekal lembaran kertas itulah saat ini aku sedang berdiri berhadapan di gedung bertingkat ini. Sempat aku harus melangkah pada suatu tempat yang  jauh  karena keridaktahuan. Aku langkahkan kaki dengan ringan penuh percaya diri, menjalankan  tugas yang akan kuemban lewat selembar kertas yang saat ini sudah aku genggam. Hanya selembar kertas dengan perjuangan yang tidak bisa semua dapat memiliki. Rasa syukur selalu kulapaskan karena pemilihan diri yang tidak semua bisa mencapai. Setahun menanti, waktu yang tidak pendek tapi terasakan, terasa ketika harus berpasrah diri harus mengabdi pada tempat yang tidak tahu diri menerima diri ini. Tapi harus tetap kuat karena langkah kecil yang sering kali dianggap sebelah mata dan mengejek karena tidak pantas diri yang sudah bersusahpaya berjuang mengeluarkan tak sedikit biaya dan tenaga terkuras menyatakan ketidakpantasan berada di sana. Aku tinggi, aku hebat dan aku segalanya boleh saja, tapi harus  disadari tidak akan ada langkah lebar tanpa permulaan dari langkah kecil bahkan langka kecil bisa saja akan tertati-tati. Langkah kecil inilah yang akan membawa kelangkah lebar yang tanpa disadari siap menanti, yang penting sabar saat masa itu akan datang menyapa diri. 

Menyusuri tempat yang pertama kali harus aku datangani, setelah sempat melangkah pada urutan sang waktu yang sudah lama terlewati. Sekarang di sini, menyodorkan kertas dalam genggaman, mengulurkan tanda perkenalan, kalau posisi sekarang di sini, bersama melangkah dengan pasti mohon petunjuk bila nanti melenceng ke kiri tak tahu diri. Diterima dengan satu kata yang menbuat hati bertanya 'jangan minder kepada yang lain, tetaplah teguhkan hati pada jalan yang indah ini'. Mengangguk tanda setujuh kalau hati tidak akan terjamah pada badan yang sudah terjaga karena aturan yang telah ditetapkanNya. Bibirpun berdoa semoga yang lainnya segera dapat pentunjuk dariNya kalau ini wajib hukumnya. Mengapa harus minder akan sesuatu yang indah dipandang mata, mengapa harus minder karena ini menjalankan perintahNya.
Mengapa di sini? Melangkah dengan pasti untuk mengabdikan diri lewat boca-boca kecil yang lucu dan kadang harus sabar mengurut dada, akan tingkah yang manis mereka membuat hati resa yang tiada bisa dilukis jiwa. Teruslah di sini sampai tiba suatu ketika genggaman kertas kembali ke dalam tangan, tanda berakhirnya perjalanan pengabdian pada boca-boca nakal yang akan dirindukan tapi tidak ada jatah lagi untuk bersama tergantikan pada mereka yang lebih muda.
Jakarta, 9 Syawal 1440 H /1206 2019
@mempertemukan
@narasibulanmerah
@irayuki
#11haribertanya
#harikedua
#wraitingproject
#mempertemukan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar