Selasa, 28 Mei 2019

PERLAKUAN SEHARUSNYA TIDAK BERBEDA


PERLAKUAN SEHARUSNYA TIDAK BERBEDA
Oleh @daras09



      Membaca salah satu postingan teman pagi ini tentang orang ketiga dalam kehidupan dalam berumah tangga, melempar anganku pada satu kisah pedih temanku yang terlalu ikut campur pihak ketiga. Pihak ketiga yang dimaksud di disni bukan kehadiran wanita idaman lain. Keluarga yang dikisahkannya, kehadiran keluarga suami yang sering sekali turut memperkeruh situasi yang seharusnya tidak melebar, bagai api yang sedang disulut cukup membakar hal yang diinginkan saja, akhirnya membakar kesegala menjuru yang akhirnya berkobar membakar sehingga tidak mampu dipadamkan. Kisah yang seharusnya hanya diukir satu kalimat, jadi mengular kemana yang diinginkan penulisnya, sesuai dengan yang dipikirkan tanpa konfirmasi, tanpa melihat kebenaran tulisan yang disambung persih penulis, belum lagi penyampai pesan berantai yang simpang siur sehingga finalnya pesan yang tidak sesuai dengan penyampai awal. Bahkan tega tanpa perasaan meminta memutuskan hubungan janji suci yang sudah direstui Allah SWT. Di mana  rasa diletakkan? Bukankah suatu hari kelak adek, anak dan cucu perempuan akan menjadi seorang menantu di keluarga suaminya? Apakah tidak ditarik kepada diri sendiri, bila perlakuan yang tidak adil akan menyertai langkah mereka dalam membina mahligai rumah tangga. Bahkan bisa saja perlakuan yang lebih tidak bisa dibayangkan setiap hari membayangi mereka sampai mereka susah menghembuskan nafas karena ketidakberdayaan. Semua itu tidak akan mustahil akan menimpah. Tapi itulah manusia meskipun tidak boleh dipukul rata, masih banyak kok yang memperlakuakan menantunya bah seorang putri sendiri yang disayang dan dijaga sepenuh hati, tidak membeda-bedakan sehingga harmonisasi dalam keluarga jadi indah dan tenteram karena adanya rasa saling mengasihi, menjaga dan menciptakan rasa saling pengertian. Coba hal ini yang diterapkan begitu indahnya hidup berkeluarga. saling mendukung dalam menciptakan keluarga sakinah, mawaddah dan warohmah.

          Masih teringat sangat jelas kejadian di tahun 2007, dia berkisah ketika suatu hari mereka harus rela berpisah kerena sudah begitu sakit yang tidak bisa lagi terobati dan jalan satu-satunya harus rela. Saudara laki-lakinya meminta suami ikut bersama membantu pada usahanya, tapi berhubung sang adik juga hanya tahu cerita saja, atau mungkin belum menyaksikan sendiri ikut juga memojokkan dirinya. Lengkaplah sudah penderitaan. Tapi Allah memang tidak tidur, seperti apapun rapatnya disimpan bangkai, suatu saat tentu bau busuknya akan mengeluarka aroma yang tidak sedap pada penciuman. Begitu juga kelakuan sang suami yang selama ini dibela akhirnya terbongkar juga. Pada akhirnya tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain mengambil putusan berpisah, dalam arti bukan berpisah sampai bercerai, sang suami sementara yang pergi dari rumah menngikuti keluarga. Memang agak jauh tempat yang ditujuh, tapi apa boleh buat mungkin ini yang terbaik, dengan tetap berharap suatu hari ada jalan terbaik untuk bisa tersambung kembali rasa yang sudah terjalin selama ini meskipun sudah terkoyak dan tidak akan bisa mulus seperti semula.

        Buah dari doa yang teraniayah memang dasyat sekali. Mereka yang selama ini selalu mengambil tempat pada lipatan tapi bukan untuk menutup satu perkara kalau bisa menghilangkan agar tercipta satu perdamaiaan yang sempurna, tapi jadi guntuing untuk memotong hingga tepisahkan. Menyebar berita yang tidak sempurna. Akhirnya dapat azab pedih, ibarat penyakit menular hinggap pada badan tak mampu diobati. Semua itu tentu datangnya dari Sang Maha Kuasa atas segala yang diinginkaNya.  Hanya kesabaranlah modal kita dalam menatap semua permasalahan dalam hidup. menyerahkan seutuhnya akan suatu waktu tentu akan ada balasnya atas perbuatan. Tetap yakin akan datangnya pertolongan apalagi dari Allah seharusnya yang harus diyakini. Begitulah yang seharusnya dilakukan, sabar pintu dari segala penangkal apapun yang akan bermaksud menerjang pertahanan kokok yang bermaksud menghajar dari segala penjuru.

      Subhanallah, sangat bangga dengannya yang sangat begitu sabar, bahkan berkata segala sesuatunya pasti sudah kehendakNya, tinggal kita harus kuat menjalani. Masih banyak yang bisa dilakukan. Reziki di mana-mana sudah ditempatkan tinggal dicari dengan kerja keras, pantang menyerah. Semoga menjadi pelajaran agar jangan bertindak keterlaluan, jangan membedakan siapapun mereka, karena Allah tidak pernah membedakan kecuali dengan keimanan dan ketakwaan umatnya. Mengapa malah kita yang bukan siapa-siapa jadi berbuat sesukanya. takutlah akan azabNya yang maha pedih dan dasyat tiada terhitung berapun jumlahnya.

Jakarta, 25 Ramadhan 1440 Hijriah/ 300519 Masehi

#Day(22)
#OneDay OnePost30HRDC
#WraitingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar