MEMUTUS SILATURAHNI
@daras09
Anggi dan adiknya Angga begitu senang pagi ini, ini hari Jum'at, hari yang sangat ditunggu keduanya setiap minggu, karena nanti malam mereka akan mendengar kembali cerita yang akan disampaikan umaknya setiap Jumat malam tiba. Jum'at di minggu yang lalu mereka mendengar cerita yang cukup panjang, karena itu butuh waktu sampai tiga Jum'at untuk menamatkan cerita tersebut, tapi Anggi dan Angga tetap senang karena ceritanya sangat menarik ditambah lagi umaknya sangat lihai dalam bercerita sehing mereka sangat penasaran bagaimana akhir ceritanya, tapi tetap harus sabar karena sudah janji kalau sudah jarum jam kecil menujuk angka sembilan harus segera pergi tidur agar besok bisa bangun pagi untuk sahur bersama dibulan ramadhan tahun ini dan biasanya dilanjutkan menunai sholat subuh bersama kedua orangtuanya. Sebagai anak yang patuh dan penurut apa kata orantua, Anggi dan Angga menerima dengan senang hati apa yang disampaikan dan diinginkan kedua orangtuanya, apalagi mereka sudah diajarkan juga di sekolah oleh guru agamanya, bahwa sebagai anak tidak boleh membantah perkataan orangtua, jangankan membantah menyebut kata akh saja tidak diizinkan agama, apalagi sampai melawan perintahnya. Ridhonya orangtua sama dengan ridho Allah, barang siapa yang melawan kepada orangtua berarti sama saja melawan perintahNya. Anggi dan Angga selalu patuh akan perintah kedua orangtua, karena tidak mau dapat murka dari Allah. Keduanya sempat bergidik ngeri pada satu kisah yang pernah didengarkan dari umaknya pada suatu hari di Jumat malam saat ibunya sedang menceritakan sebuak kisah tentang seorang anak yang berubah menjadi sebuah danau yang sangat panas. Dengan sangat tekun dan penasaran keduanya mendengarkan Umaknya berkisah.
"Dikisahkan disebuah kampung namanya Padang Bolak Tapanuli Selatan Sumatera Utara, hiduplah seorang ibu dengan anaknya yang bernama Sampuraga. Sampuraga hidup berdua dengan Ibunya karena ayahnya sudah meninggal dunia. Karena ayahnya tidak meninggalkan harta, kehidupan sampuraga dan Ibunya sangat susah. Tanah tak punya untuk mereka mendirikan rumah, sehingga Sampuraga dan Ibunya terpaksa tinggal dipinggir hutan yang tidak jauh dari desa. Walaupun hidup kehidupan mereka susah, mereka tidak pernah mengeluh, mereka tetap bekerja keras untuk mendapatkan makan. Sampura sangan menyayangi Ibunya, apalagi umur Ibunya tidak muda lagi. Hingga pada suatu hari Sampuraga tidak kuat lagi harus hidup susah bersama Ibunya, selain itu Sampuraga sangat ingin membahagiakan orantuanya yang hanya tinggal satu-satunya sepeninggal Ayahnya, sementara keluarga lain mereka tak punya. Dengan sangat berat akhirnya Sampuraga menyampaikan niatnya yang ingin pergi meratau ke kota untuk memperbaiki kehidupan Sampuraga dengan Ibunya. Awalnya Ibunya sangat keberatan dengan rencana kepergian anaknya ke kota, dengan air mata yang berderai Ibunya memohon agar jangan ditinggalkan sendiri, apalagi usia Ibunya yang sudah sangat tua. Pada akhirnya sang Ibu tetap memberi restu dan berdoa untuk Sampuraga agar berhasi di rantau, dan segera pulang. Sampuraga mengiyakan semua apa yang diminta dan yang dinasehatkan Ibunya. Pada suatu hari yang sudah mereka sepakati, maka berangkatlah Sampura menujuh kota, sementara Ibunya ditinggal sendiri di kampung meneruskan pekerjaan mereka mengambil kayu dihutan kemudian dijual, uang dari hasil penjualan kayu dipakai untuk membeli kebutuhan sehari-hari.
"Akhirnya Sampuraga sampai di kota tujuannya Negeri Mandailing namanya. Awal sampai di kota Sampura langsung mendatangi sebuah kedai kopi, sambil memesan segelas kopi dan sekaligus melepas lelah. Sampura bertanya pada pemilik kedai apakah membutuhkan pegawai. Nasib mujur memang sedang berpihak pada dirinya, langsung dapat bekerja tanpa perlu susah lagi mencari kemana-nama. Hari itu juga Sampuraga langsung bekerja. Sampuraga bertugas sebagai pencuci segala perabotan pecah belah yang sudah selesai dipakai pelanggan, tapi Sampuraga tidak pernah putus asah, Dia bekerja dengan rajin dan sungguh-sungguh, yang lebih utama lagi Sampura selalu berlaku jujur. Di samping itu Sampuraga bertekat harus berhasil agar bisa segera membahagiakan Ibu yang ditinggalkannya di kampung sendiri di samping hutan belantara. Agar Sampuraga tidak terlalu resah akan nasib Ibunya, Sampuraga tidak pernah berhenti memohon kepada Yang Kuasa agar selama Dia pergi Ibunya selalu dalam lindunganNya.
"Sampuraga yang ulet, rajin dan jujur akhirnya berhasil jadi saudagar yang kaya raya. Keberhasilan sampuraga sampai juga ke kampung halamannya di Padang Bolak. Tapi Ibunya tidak pernah tahu kalau yang sering diceritakan tentang saudagar yang kaya raya itu adalah anaknya Si Sampuraga. Sampuraga yang berniat awal ingin membahagiakan ibunya ternyata melupakan niatnya, tak pernah sekalipun Sampuraga berkunjung ke kampung halamannya di Padang Bolak untuk melihat nasib ibunya yang sudah lama ditinggalkan oleh Sampuraga. Hingga pada suatu hari berita tentang saudagar kaya raya itu akan menikahi putri yang pernah menjadi majikannya yang cantik jelita, ketika awal Sampuraga datang ke Negeri Mandailing. Karena kebaikan dan kejujuran Sampuraga membuat ayah dari sang putri meminta Sampuraga untuk menikahinya. Pesta Sampuraga akan dirayakan selama tiga hari tiga malam. Masyarakat yang ingin menyaksikan diundang untuk datang, undangan tersebut disampaikan juga ke kampung Sampuraga di Padang Bolak.
"Ketika tiba hari pernikahan Sampuraga dan Sang putri mantan majikannya, maka berduyun-duyunlah masyarakat mendatangi tempat acara yang dilaksanakan di rumah ayah Sang Putri yang luas bah istana. Saat pesta Sedang berlangsung, tiba-tiba ada seorang wanita tua memanggil Sampuraga yang sedang bersanding dengan Sang Putri yang sudah syah jadi istrinya. Sampuraga sempat tertegun dengan suara panggilan itu, karena Dia sangat kenal betul dengan suara yang memanggilnya, tapi Sampuraga tidak sedikitpun merespon panggilan wanita tua yang datang dengan pakaian lusu seperti pengemis. Sampura malu mengakui sang Ibu. Berkali-kali wanita memanggil namanya tetap Sampuraga tidak menghiraukan, sampai sang istri dan mertuanya bertanya siapa wanita yang memanggilnya Sampuraga tidak mau mengakui. Masyarakat yang menyaksikan kejadian itupun mulai mengejek wanita tua itu tidak tahu malu, mengaku-ngaku sebagai seorang ibu dari seorang saudagar kaya-raya, bahkan Sang Ibu dikatai orang gila. Sang tetap teguh dengan pendiriannya bahwa laki-laki yang sedang bersanding dengan wanita cantik itu adalah anak kandungnya. Akhirnya orang-orang yang hadir dalam pesta itu ramai-ramai menyeret wanita tua itu agar segera meninggalkan tempat. Sebelum Ibu Sampuraga pergi dia terlebih dahulu mohon kepada Yang Kuasa agar Tuhan menunjukkan Kekuasaannya. Akhirnya Ibu Sampura meninggalkan pesta anaknya, dan baru beberapa langka wanita tua berjalan tiba-tiba langit mengeluarkan bunyi petir yang sangat kuat sehingga mengejutkan orang yang berada di tempat itu, mereka semua mersa sangat ketakutan. Setelah petir berlalu disusul hujan yang sangat deras seperti air yang ditumpahkan dari langit ke bumi begitu dasyatnya. Tidak menunggu lama terjadilah banjir yang sangat besar sehinngga menghanyutkan semua yang ada di pesta hari itu. Setelah hujan reda, banjir mulai surut, tapi khusus di daerah tempat pesta terbentuk sebuah danau kecil yang mengeluarkan hawa yang sangat panas seperti air yang dimasak sampai mendidik. Tangan akan melepuh kalau coba-coba menyentuhnya. Daun kecil itu selain panas, juga akan menggelar kalau sampai dipanggir Smpuraga. Ternyata Sampuraga sudah dikutuk Ibunya lewat doanya pada yang kuasa, berubah menjadi danau panas yang diberi nama 'Danau Sampuraga Si Anak Durhaka'.
Begitulah akhir kisak anak atau siapa pun yang suka memutuskan silaturahmi, apalagi terhadap keluarga sendiri, terhadapat saudara, teman, bahkan dengan seorang Ibu yang sudah dengan susah payah mengandung sembilan bulan yang semakin hari semakin lemah, tapi tetap berjuang untuk kebahagiaan anak-anaknya. Begitulah pengorbanan seorang Ibu kepada semua anaknya. Tidak perlu sedih kalau Ibu marah-marah tidak mungkin Ibu marah tanpa sebab, semua marahnya tentulah ditujuhkan untuk keberhasilan anaknya. Binatang saja sayang anaknya, apalagi manusia yang sudah diberikan akan budi yang baik oleh Tuhan yang tidak ada bandingnya dengan makhluk apapun namanya di muka bumi ini. begitu umak mengakhiri kisah 'Danau Sampuraga Si Anak Durhaka'
Setelah selesai menunaikan sholat Subuh berjama'ah bersama kedua orangtuanya, Anggi dan juga Angga tidak melanjutkan tidur lagi, tapi segera bersiap untuk berangkat kesekolah meskipun waktu masih pagi sekali, meskipun sebenarnya masih bisa melanjutkan tidur pagi mereka. Tapi takut nanti tidurnya kebablasan lebih baik melakukan hal lain yang bermaanfaat, begitu pesan umaknya. Bisa melanjutkan tadarus Al-quran, membantu mamak membersihkan piring kotor yang sudah dipakai saat sahur tadi atau membereskan kamar sendiri. banyak yang bisa kita lakukan, dan dijamin tidak akan terlambat datang ke sekolah atau mungkin ke tempat kerja, karena waktu yang kita miliki sangat luas.
Jakarta, 100519
#Day6
#OneDay OnePost30HRDC
#WraitingChallenge30HDRC
#30HariRamadhanDalamCerita
#Bianglalahijrah
"Akhirnya Sampuraga sampai di kota tujuannya Negeri Mandailing namanya. Awal sampai di kota Sampura langsung mendatangi sebuah kedai kopi, sambil memesan segelas kopi dan sekaligus melepas lelah. Sampura bertanya pada pemilik kedai apakah membutuhkan pegawai. Nasib mujur memang sedang berpihak pada dirinya, langsung dapat bekerja tanpa perlu susah lagi mencari kemana-nama. Hari itu juga Sampuraga langsung bekerja. Sampuraga bertugas sebagai pencuci segala perabotan pecah belah yang sudah selesai dipakai pelanggan, tapi Sampuraga tidak pernah putus asah, Dia bekerja dengan rajin dan sungguh-sungguh, yang lebih utama lagi Sampura selalu berlaku jujur. Di samping itu Sampuraga bertekat harus berhasil agar bisa segera membahagiakan Ibu yang ditinggalkannya di kampung sendiri di samping hutan belantara. Agar Sampuraga tidak terlalu resah akan nasib Ibunya, Sampuraga tidak pernah berhenti memohon kepada Yang Kuasa agar selama Dia pergi Ibunya selalu dalam lindunganNya.
"Sampuraga yang ulet, rajin dan jujur akhirnya berhasil jadi saudagar yang kaya raya. Keberhasilan sampuraga sampai juga ke kampung halamannya di Padang Bolak. Tapi Ibunya tidak pernah tahu kalau yang sering diceritakan tentang saudagar yang kaya raya itu adalah anaknya Si Sampuraga. Sampuraga yang berniat awal ingin membahagiakan ibunya ternyata melupakan niatnya, tak pernah sekalipun Sampuraga berkunjung ke kampung halamannya di Padang Bolak untuk melihat nasib ibunya yang sudah lama ditinggalkan oleh Sampuraga. Hingga pada suatu hari berita tentang saudagar kaya raya itu akan menikahi putri yang pernah menjadi majikannya yang cantik jelita, ketika awal Sampuraga datang ke Negeri Mandailing. Karena kebaikan dan kejujuran Sampuraga membuat ayah dari sang putri meminta Sampuraga untuk menikahinya. Pesta Sampuraga akan dirayakan selama tiga hari tiga malam. Masyarakat yang ingin menyaksikan diundang untuk datang, undangan tersebut disampaikan juga ke kampung Sampuraga di Padang Bolak.
"Ketika tiba hari pernikahan Sampuraga dan Sang putri mantan majikannya, maka berduyun-duyunlah masyarakat mendatangi tempat acara yang dilaksanakan di rumah ayah Sang Putri yang luas bah istana. Saat pesta Sedang berlangsung, tiba-tiba ada seorang wanita tua memanggil Sampuraga yang sedang bersanding dengan Sang Putri yang sudah syah jadi istrinya. Sampuraga sempat tertegun dengan suara panggilan itu, karena Dia sangat kenal betul dengan suara yang memanggilnya, tapi Sampuraga tidak sedikitpun merespon panggilan wanita tua yang datang dengan pakaian lusu seperti pengemis. Sampura malu mengakui sang Ibu. Berkali-kali wanita memanggil namanya tetap Sampuraga tidak menghiraukan, sampai sang istri dan mertuanya bertanya siapa wanita yang memanggilnya Sampuraga tidak mau mengakui. Masyarakat yang menyaksikan kejadian itupun mulai mengejek wanita tua itu tidak tahu malu, mengaku-ngaku sebagai seorang ibu dari seorang saudagar kaya-raya, bahkan Sang Ibu dikatai orang gila. Sang tetap teguh dengan pendiriannya bahwa laki-laki yang sedang bersanding dengan wanita cantik itu adalah anak kandungnya. Akhirnya orang-orang yang hadir dalam pesta itu ramai-ramai menyeret wanita tua itu agar segera meninggalkan tempat. Sebelum Ibu Sampuraga pergi dia terlebih dahulu mohon kepada Yang Kuasa agar Tuhan menunjukkan Kekuasaannya. Akhirnya Ibu Sampura meninggalkan pesta anaknya, dan baru beberapa langka wanita tua berjalan tiba-tiba langit mengeluarkan bunyi petir yang sangat kuat sehingga mengejutkan orang yang berada di tempat itu, mereka semua mersa sangat ketakutan. Setelah petir berlalu disusul hujan yang sangat deras seperti air yang ditumpahkan dari langit ke bumi begitu dasyatnya. Tidak menunggu lama terjadilah banjir yang sangat besar sehinngga menghanyutkan semua yang ada di pesta hari itu. Setelah hujan reda, banjir mulai surut, tapi khusus di daerah tempat pesta terbentuk sebuah danau kecil yang mengeluarkan hawa yang sangat panas seperti air yang dimasak sampai mendidik. Tangan akan melepuh kalau coba-coba menyentuhnya. Daun kecil itu selain panas, juga akan menggelar kalau sampai dipanggir Smpuraga. Ternyata Sampuraga sudah dikutuk Ibunya lewat doanya pada yang kuasa, berubah menjadi danau panas yang diberi nama 'Danau Sampuraga Si Anak Durhaka'.
Begitulah akhir kisak anak atau siapa pun yang suka memutuskan silaturahmi, apalagi terhadap keluarga sendiri, terhadapat saudara, teman, bahkan dengan seorang Ibu yang sudah dengan susah payah mengandung sembilan bulan yang semakin hari semakin lemah, tapi tetap berjuang untuk kebahagiaan anak-anaknya. Begitulah pengorbanan seorang Ibu kepada semua anaknya. Tidak perlu sedih kalau Ibu marah-marah tidak mungkin Ibu marah tanpa sebab, semua marahnya tentulah ditujuhkan untuk keberhasilan anaknya. Binatang saja sayang anaknya, apalagi manusia yang sudah diberikan akan budi yang baik oleh Tuhan yang tidak ada bandingnya dengan makhluk apapun namanya di muka bumi ini. begitu umak mengakhiri kisah 'Danau Sampuraga Si Anak Durhaka'
Setelah selesai menunaikan sholat Subuh berjama'ah bersama kedua orangtuanya, Anggi dan juga Angga tidak melanjutkan tidur lagi, tapi segera bersiap untuk berangkat kesekolah meskipun waktu masih pagi sekali, meskipun sebenarnya masih bisa melanjutkan tidur pagi mereka. Tapi takut nanti tidurnya kebablasan lebih baik melakukan hal lain yang bermaanfaat, begitu pesan umaknya. Bisa melanjutkan tadarus Al-quran, membantu mamak membersihkan piring kotor yang sudah dipakai saat sahur tadi atau membereskan kamar sendiri. banyak yang bisa kita lakukan, dan dijamin tidak akan terlambat datang ke sekolah atau mungkin ke tempat kerja, karena waktu yang kita miliki sangat luas.
Jakarta, 100519
#Day6
#OneDay OnePost30HRDC
#WraitingChallenge30HDRC
#30HariRamadhanDalamCerita
#Bianglalahijrah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar