Sabtu, 11 Mei 2019
AYAH DALAM PERKEMBANGAN ANAK
@daras09
Pagi ini Ibu Lana tidak ada kewajiban masuk kelas, tapi bukan berarti bebas tugas. Bu Lana bertugas piket seharian sesuai dengan jadwal kegiatan satu semester yang dibagikan diawal semester.
Bu kebagian tugas mengajar tiga hari, Selasa sampai Jumat megajar, sedangkan Senin diawal minggu bertugas sebagai guru piket. Biasanya kalau guru piket itu hanya dua orang, tapi oleh kepala sekolah yang menjabat saat ini menambah satu orang, agar semua bisa terkontrol disetiap tingkat, lebih cepat diambil tindakan bila terjadi hal yang tidak diingingkan, atau mungkin ada guru yang tidak bisa hadir karena sesuatu hal. Satu tingkat, satu guru tentu sangat sepi tidak ada teman mengobrol seperti piket sebelum-sebelumnya. Kalau lapar bisa bergantian, atau kalau butuh sesuatu bisa mengambil tanpa perlu takut piket kososng. meja piket memang tidak boleh kososng karena piket tombak pintu pertama, kalau di instansi kemiliteren semuanya harus lewat pintu piket jaga kalau ingin masuk ke dalam instansi tersebut, begitu pernah kepala sekolah yang pernah bertugas, yang kebetulan suaminya seorang angkatan.
Pagi ini Bu Lana sepertinya tidak sendirian, karena ada beberapa guru yang tidak bertugas menghampirinya di meja piket. Biasanya kalau sudah kumpul begini sambil menunggu pergantian pelajaran, banyak hal yang dibicarakan bersama sesama guru, mulai dari yang ringan, lucu sampai kita tertawa terpingkal-pingkal karena ulah seorang guru yang memang sukanya membuat situasi jadi seru, tentu tidak lupa juga pembahasan berat yang bisa sampai terjadi adu argumentasi meskipun tidak samapi terjadi pertengkaran apalagi sampai terjadi adu otot. oh...tentu itu tidak akan terjadi, karena teman-teman guru Bu Lana masih punya batasan mana yang pantas dan tidaknya. Pembicaraan alot pagi ini tentang bagaimana seharusnya seorang ayah terhadap proses tumbuh kembangnya seorang anak yang dimulai dari anak dalam kandungan, dimana seorang ibu hamil kadang-kadang membutuhkan perlakuan lebih dari hari sebelum hamil, saat anak sudah lahir ke dunia yang kadang harus begandang semalaman sementara besok harus kerja, apakah seorang suami atau ayah akan membiarkan istrinya tidak tidur semalaman untuk menjaga bayinya, sementara suami dengan enaknya tidur pakai ngorok lagi dengan alasan besok kerja.
"kalau saya ngak perduli itu tugas ibunya, sayakan tugasnya mencari nafkah buat keluarga, ya.... yang jaga anak ya....istri dong". mulai keluar komentar dari Bapak yang satu.
"Aku ngak mau seperti itu sama istri. Aku juga pencari nafkah untuk keluarga, tapi seorang Bapak harus bertanggungjawab dengan tumbuh kembang anak. Aku ingi suatu hari dekat dengan anakku, menurut aku itu penting agar jangan nanti kalau kita sudah tua anak tidak segan merawat kita karena kasih sayang dan perhatian dari kedua orangtuanya sudah terbentuk di hatinya bahwa satu keluarga ya.... harus bersama dan saling memperhatikan juga menyayangi.
"Apalagi sekarang yang kerja diluar itu bukan melulu milik seorang laki-laki saja, tapi sudah milik seorang perempuan juga. Jadi tidak tepatlah bila seorang laki-laki bisa menempatkan diri agar keluarga berjalan dengan bahagia.
Menambahi seorang ibu guru yang lainnya yang ikut bersama di meja piket.
"Buatnya saja berdua masa merawat tidak mau bersama-sama? Egois itu namanyanya.
Kembali menambahi komentar sebelumnya. Disaat bersamaan setelah ungkapan terakhir dari sang Ibu guru, bel tanda pergantian pelajaran berbunyi, diskusi pagi itupun berakhir, guru-guru yang ada di bersama Bu Lana di meja piket segera membubarkan diri berlalu masuk ke dalam kelas masing. Tinggallah Ibu Lana sendiri melanjutkan tugasnay hari itu segai piket. Bu Lana cukup bingung untuk menyimpulkan perdebatan yang barusan didengarnya. Tapi Bu Lana lebih percaya apa yang pernah disampaikan suaminya,
"Anak titipan adalah titipan sangat berharga yang diberikan pada sebuah keluarga. Sudah selayaknyanya kedua orangtua harus bahu membahu dalam menjaga kelangsungan anak ke depan. Istilah anak ibu sebelum anak mampu melakukan sesuatu yang membanggakan, setelah sukses berubah menjadi anak ayah harus secepat mungkin disingkirkan dari hati dan pikiran. Anak harus ditempah dari dua sisi. Sisi Ibu berarti sebuak kelembutan, dan kehangatan, kalau anak perempuan agar bisa diajari mulai dari berbusana yang layak, apalagi seorang muslimah yang harus menutup aurat, karena ada perintah di dalamnya, dan agar terhindar juga dari sisi negatif yang bisa membahayakan keselamatan, berbicara dijaga agar tidak sembarangan memperlakukan orang. Penghargaan sangat perlu bagi orang lain, tidak perlu sombong meskipun ilmu yang dimiliki merasa lebih tinggi dengan gelar yang tidak bisa disematkan lagi. seharusnya yang memiliki ilmu harus berbagi, bukan menyakiti. Begiti juga dengan anak laki-laki, dari ibu anak mampu menghargai pasangannya, menyayangi dan mencintai, tidak untuk disakiti apalagi sampai dikasari. Sementara dari ayah, sebagai laki-laki dan kepala rumah tangga, tentu sebagai lambang bangunan kokoh yang dapat melindungi keluarga dari lapar dan dahaga, dari teriknya mentari, dan dinginya terjangan hujan. Mengajak anak laki-lakinya ke masjid, dan masih banyak yang dapat dilakukan untuk membangun sebuah hubungan kedua oarangtua dengan anak-anaknya, khususnya hubungan ayak dengan anaknya, apalagi saat perkembangan mereka sedang mencari jati diri, bila tidak ada pendampingan yang benar dari keluarga sangat dikuatirkan anak bisa jadi salah langka akan menjadi penyesalan. Tentu semua orangtua manapun di bumi ini pasti ingin mendapatkan anak yang membanggakan, baik dunia begitu juga dengan akhiratnya, karena itu mari kita bersama dampingi pertumbuhan anak-anak sampai mereka kuat dalam hantaman badai sekencang apapun datangnya.Jangan lepas tangan-tangan kecilnya yang masih lemah.
Jakarta, 120519
#Day7
#OneDay OnePost30HDRC
#WraitingChallenge30HDRC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahhijrah
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
-
SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 9 JAKARTA PENILAIAN HARIAN II SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 201 9 /20 20 LEMBAR SOAL Mata...
-
TEKS 1 BOB SADINO Bob Sadino lahir di Lampung 3 Maret 1933. Dia berasal dari keluarga yang berkecukupan dan merupakan anak bungsu dari...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar