RASA INGIN TAHU
@daras09
Rasa ingin tahu pastilah dimilki setiap yang namanya manusia, bahkan rasa ingin tahu itu mungking sudah merupakan salah satu sifat dasarnya, coba kita perhatikan bayi yang masih kecil sekali umurnya hadir di bumi ini, meskipun masih kecil rasa ingin tahunya sudah ada, hal ini dapat kita lihat responnya ketika dipanggi atau kita perdengarkan suara. Apalagi manusia yang dewasa yang sudah berpikir dan punya rasa. Secuek apapun penampilannya, secuek apapun pada sistuasi lingkungan di sekitarnya, pasti rasa ingin tahu tetap masih dimiliki. Mungkin untuk bertanya langsung segan atau malu atau tidak ingin. Apalagi jama sekarang dunia sudah dalam genggaman, tinggal klik yang diinginkan segera terpampang jelas, tanpa perlu lewat pertanyaan.
Rasa ingin tahu harus selalu dimiliki, karena dengan adanya rasa ingin tahu tingkat wawasan dan keilmuan yang dimiliki tentu akan bertambah juga. Dengan wawasan yang kita miliki tentu kita tidak perlu berkecil hati bila suatu hari dihadapkan pada sebuah perbincangan, kalaupun mungkin tidak terlibat langsung, paling sedikit bisa mengikuti, walaupun hanya bisa jadi penonton di acara tersebut, tidak perlu jadi bosan karena merasa tidak memahami. Jadi rasa ingi tahu itu sangat penting dimiliki setiap individu, dengan rasa yang ingin tahu pikiran kita jadi aktif dan rasa ingin tahu itu telah membuat kita jadi pengamat.
Setelah selesai mengawas Ujian Nasional hari ketiga pagi itu, Dini tidak langsungsung pulang ke rumah, walaupun hal itu sangat biasa dilakukan karena selama mengawas tidak ada kewajiban guru pengawas di luar untuk kembali ke sekolah karena sudah dianggap dinas luar selama empat hari kegiatan UNBK berlangsung. Tapi Dini menutup keinginan itu. Pagi hari saat sudah di depan rumah ketika akan berangkat ke sekolah tempat Dini mengawas, salah satu orangtua muridnya mengabarkan salah satu anak yang ngambek tidak mau belajar selama ujian berlangsung dan meminta Bu Dini untuk menegur juga menesehati. Hati Dini campur aduk mendengar berita itu, apalagi yang diceritakan adalah anak yang selalu semangat di kelas selama terjadi proses belajar mengajar dengan semua guru, begitu berita yang selama ini sampai ketelinga Dini, dan dirasakan sendiri juga ketika berintraksi di kelas dengan anak tersebut. Menyusuri jalanan menujuh lokasi bersama ojol yang sudah dipesan, Dini mencoba menghubungi temannya yang menjadi proktor di kelas agar meminta anak yang sudah dituliskan dalam pesannya agar meminta menunggu, jangan pulang dulu ada yang harus disampaikan kepada anak yang bersangkutan. Syukur alhamdulilah berbisik bibir Dini karena pesannya sudah direspon oleh temannya. Sejenak perasaan batin Dini tenang.
Maka di dalam ruangan OSIS inilah saat ini Dini berhadapan bersama salah satu murid dan juga sebagai wali kelas. Meminta informasi apa yang sebenarnya sedang terjadi. Awalnya sangat sulit berterus terang, tapi Dini tetap menggali agar tidak terjadi lagi yang bisa mengakibatkan fatal yang tidak diinginkan. Akhirnya mengalirlah segala cerita yang tidak terduga tentang ibunya yang terlalu ingin tahu meskipun sebenarnya hal yang wajar saja bila orangtua selalu memantau anaknya kapanpun, dimanapun. Sementara sang anak sudah merasa membuat jadwal sedemikian rupa, merancang kapan saat belajar dan istrirahat. Selalu merasa kalau anaknya hanya asyik bermain saja hanya karena melihat anak sedang bermain dengan gawainya. Rasa kesal yang timbul, mengantarkan sang anak mengucapkan kata yang tidak merupakan jawaban yang diinginnya ibunya, sehingga ketegangan tidak bisa terelakan lagi. tanpa sadar kepala Dini geleng-geleng sendiri. Hati Dini sedikit sedih, mengapa harus terjadi sudah diujung akhir cerita, seharusnya tinggal tenang agar yang diharapkan dapat tercapai. Tinggal angkat tangan mohon ketenangan anak tercinta. Dini tidak bisa menyalahkan orangtua, karena apapun cara orangtua dalam bersikap kepada anak semuanya tentu demi kebaikan, caranya saja yang salah dan tidak situasi yang tepat. Sebagai guru dan orangtua siswa di sekolah. Dini hanya bisa menyampaikan sabar, dan tidak sampai melakukan hal yang menyakiti orangtua, karena bagaimanapun maksudnya pasti yang terbaik. Memohon tetap minta maaf, karena berkata tak pantas tidak selayaknya diucapkan pada orantua yang sudah membesarkan dan memberikan segalanya bagi anaknya.
Sejenak Dini menghela nafas tanda lega sudah dapat menyelesaikan masalah yang sempat menyesakkan. Ruangan OSIS segera ditinggalkan menuju ruang guru, ingin menunaikan perinta Allah yang dari tadi sudah menyapa. Belum lagi sempat mendudukkan tubuhnya untuk sejenak beristirahat, guru proktor menghadang. Apalagi ini pikir Dini, tapi apapun itu tetap harus siap mendengar. Cerita kedua mengalir siang ini, salah anak yang hampir saja menghancurkan nasib seluruhnya, meskipun dapat di atasi akhirnya. Dini hanya mampu kembali bersyukur, hanya itu yang mampu Dini lakukan. Semoga jadi pelajaran, agar lebih hati-hati ke depan. Rasa ingin tahu boleh dan harus tetap dikedepankan, tapi jangan sampai rasa ingin tahu menjadikan masalah baru, yang dapat merusak hal yang sudah tertata sempurna.
Jakarta, 9 Ramadhan 1440 Hijriah
#Day(8)
#OneDay OnePost30HRDC
#WraitingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
Maka di dalam ruangan OSIS inilah saat ini Dini berhadapan bersama salah satu murid dan juga sebagai wali kelas. Meminta informasi apa yang sebenarnya sedang terjadi. Awalnya sangat sulit berterus terang, tapi Dini tetap menggali agar tidak terjadi lagi yang bisa mengakibatkan fatal yang tidak diinginkan. Akhirnya mengalirlah segala cerita yang tidak terduga tentang ibunya yang terlalu ingin tahu meskipun sebenarnya hal yang wajar saja bila orangtua selalu memantau anaknya kapanpun, dimanapun. Sementara sang anak sudah merasa membuat jadwal sedemikian rupa, merancang kapan saat belajar dan istrirahat. Selalu merasa kalau anaknya hanya asyik bermain saja hanya karena melihat anak sedang bermain dengan gawainya. Rasa kesal yang timbul, mengantarkan sang anak mengucapkan kata yang tidak merupakan jawaban yang diinginnya ibunya, sehingga ketegangan tidak bisa terelakan lagi. tanpa sadar kepala Dini geleng-geleng sendiri. Hati Dini sedikit sedih, mengapa harus terjadi sudah diujung akhir cerita, seharusnya tinggal tenang agar yang diharapkan dapat tercapai. Tinggal angkat tangan mohon ketenangan anak tercinta. Dini tidak bisa menyalahkan orangtua, karena apapun cara orangtua dalam bersikap kepada anak semuanya tentu demi kebaikan, caranya saja yang salah dan tidak situasi yang tepat. Sebagai guru dan orangtua siswa di sekolah. Dini hanya bisa menyampaikan sabar, dan tidak sampai melakukan hal yang menyakiti orangtua, karena bagaimanapun maksudnya pasti yang terbaik. Memohon tetap minta maaf, karena berkata tak pantas tidak selayaknya diucapkan pada orantua yang sudah membesarkan dan memberikan segalanya bagi anaknya.
Sejenak Dini menghela nafas tanda lega sudah dapat menyelesaikan masalah yang sempat menyesakkan. Ruangan OSIS segera ditinggalkan menuju ruang guru, ingin menunaikan perinta Allah yang dari tadi sudah menyapa. Belum lagi sempat mendudukkan tubuhnya untuk sejenak beristirahat, guru proktor menghadang. Apalagi ini pikir Dini, tapi apapun itu tetap harus siap mendengar. Cerita kedua mengalir siang ini, salah anak yang hampir saja menghancurkan nasib seluruhnya, meskipun dapat di atasi akhirnya. Dini hanya mampu kembali bersyukur, hanya itu yang mampu Dini lakukan. Semoga jadi pelajaran, agar lebih hati-hati ke depan. Rasa ingin tahu boleh dan harus tetap dikedepankan, tapi jangan sampai rasa ingin tahu menjadikan masalah baru, yang dapat merusak hal yang sudah tertata sempurna.
Jakarta, 9 Ramadhan 1440 Hijriah
#Day(8)
#OneDay OnePost30HRDC
#WraitingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar