Oleh @daras09
Dua minggu sebelum lebaran biasanya aku sudah mulai memasak kue untuk lebaran, hal ini aku lakukan karena kakak yang biasanya menyiapkan kue untuk menjelang lebaran tiba sudah tidak tinggal di rumah lagi, beliau sudah pergi ke kota Yogya untuk melanjutkan sekolah menengah keguruannya kalau dulu di sebut SPG (Sekolah Pendidikan Guru). Aku juga bingung kenapa ya harus melanjutkan jauh-jauh padahal di kotakumjuga ada sekolah meskipun perjalanan cukup jauh karena jarak tempuhnya delapan jam perjalanan atau satu harilah dari kampungku, jadi kalau lebaran bisa tetap pulang kampungkan? dan aku tentu tidak akan pusing-pusing harus menyiapakan kue kalau akan lebaran. Belumlagi aku sama sekali tahu bagaimana membuatnya, karena akukan masih kecil barutamant Sekolah Dasar pula, umurku baru dua belas menjelang tiga belas tahun, apa sih yang dapat dilakukan anak seusia itu? Tapi tidak ada kan yang tidak mungkin kalau mau belajar? Berkat persetujuan orangtuaku wabil khusus bunda tercinta, yang tentu saja masih menginginkan kami punya kue lebaran selain kue yang hanya dua macam yang bisa dibuat bundaku, tapi kue yang dibuat bunda ini yang ternyata kehadirannya yang wajib harus ada, katanya tanpa kue khas lebaran ini tidak merasa lebaran. Kue bundaku ini sangat enak lain dari buatan orang kebanyakan di kampungku, itu sih kata mereka yang sudah menyicipinya, bahkan ada yang sampai pesan karena anaknya hanya mau kue butan bunda ini, padahal bisa dibuatkan ke orang lain kan? Bundaku tentu dengan senag hati akan membuatkannya karena yang minta cucunya juga walaupun bukan cucu kandung, tapi masih ada hubungan keluarga dari pihak kakaknya bunda. kue buatan bunda itu namanya 'alame yang dibuat satu minggu sebelum lebaran agar bisa dipotong-potong saat lebaran untuk diberikan ke tetangga atau tamu yang datang berlebaran ke rumah. Satu lagi kue utama lebaran yang harus ada yaitu lomang. Sama dengan alame, lomang buatan bunda juga sangat lezat dan guri, semua takarannya sangat pas. Jadi kue yang aku akan buat ini atau yang selalu dibuat kakak dulu sebelum pergi sekolah ke kota Yogya hanya kue pendamping saja. Tapi tetap harus ada untuk membuat lebih seru hahaha jadi geli sendiri. Seperti lomba saja, sang juara satu, dua dan tiga sudah ditetapkan, tapi juara harapan satu, dua dan tiga harus tetap disertakan. Seharusnya untuk apa toh juaraya sudah ada, tapi itulah seninya kali ya?
Berangkat ke rumah kakak sepupuh yang jarak tempuh memakana waktu satu jam dari rumah kami, aku belajar membuat kue dengan susah payah, capek, panas, ngantuk berbaur menyertai berpuasa, apalagi badan dan usia masih kecil, akhirnya hasil kue buatan berhasil di bawah pulang ke hadapan bunda dan tidak mengecewakan. Aku lakukan belajar membuat kue dengan kakak sepupuh hanya sekali saja karena tahun berikutnya saat Ramdhan tiba aku sudah bisa membuat sendiri di rumah. Cukup lima jenis kue saja sangat senang rasanya, begitu juga tentunya dengan bunda meskipun tidak ditunjukkan langsung pujiannya, denganmemberikan biaya untuk menyiapkan bahan-bahannya aku rasa itu sudah cukup pernyataan akan kesukaan bundaku. Aku biasanya memasak kue lebih awal, dua minggu sebelum lebaran. Pertama karena sudah mulai libur sekolah, dan aku tidak bisa seperti kakak yang sangat kuat membuat kue. Aku harus cicil sedikit demi sedikit biar tidak terlalu capek, dan takut puasanya terganggu, tidal lucukan gara membuat kue meninggalkan kewajiban yang utama perintah Allah SWT. Aku juga harus memasak untuk kami sekeluarga, karena bunda tidak mungkin masak lagi setelah pulang dari sawah, kasihankan sudah capek seharian dipanggang matahari yang sangat garang memancarkan cahayanya, harus bekerja lagi samapi di rumah, apalagi pulangnya sudah mau menjelang magrib, begitu juga dengan ayah sangat tidak mungkin sekali, pulang dari kantor, lanjut ke sawah menemani bunda sambil menjemput. Biarpun aku masih belasan usianya aku harus bisa membantu bunda dan ayah semampu yang aku bisa. Selama ini apa saja yang aku sajikan di atas meja, baik hari biasa atau saat bulan ramadhan khususnya saat buka puasa, bunda, ayah dan kedua adikku tidak pernah komplen, itu artiya masakan yang aku sajikan tentu sudah layak untuk disantap.
Hari yang ditunggu-tunggupun tiba juga, bahkan seluruh umat muslim seluruh Dunia. Bulan kemenangan yang penuh ceria setelah satu bulan menahan lapar, nafsu yang akan membatalkan pahala puasa, seperti bergunjing, bersambung lida sehingga keluar kata-kata yang tidak pantas alhamduliah bisa dilewati, ya tidak menutup nyinyir pasti ada tapi segera sadar itu yang utama karena sedang berpuasa. Satu Syawal bulan kemenangan, telah di sepan mata. Pagi-pagi sekali setelah sholat subuh berjam'ah biasanya ayah tidak segerah beranjak dari sajadanya tapi dilanjutka dengan takbir memujih kebesaran Allah SWT dan mungkin ayah menyampaikan kegembiraannya juga. Sambil mendengar ayah takbir, bunda biasanya melanjutkan berkemas-kemas, bunda menyiapkan sarapan pagi itu sebelum berangkat sholat idul fitri, karena sholat idul fitri bukan hari raya kurban puasa dulu sebentar, setelah sholat selesai baru boleh menyentuh makananan. Kalau idul firi kita makan dulu baru berangkat ke tempat menunaikan sholat idul fitri. Di kampungku beda dengan di kota lain khususnya Indonesia bagian barat, sholat dimulai pukul tujuh pagi, kalau di desa tempat kami sholat idul fitri dimulai pukul delapan. Tempat untuk sholat juga tidak jauh dari rumah, jalan kaki ditemput paling lama lima menit sudah sampai. Jadi tidak perlu kauatir terlambat, apalagi tempat sholatnya milik sebuah organisasi keagamaan yang tertua di Indonesia, di mana ayahku salah satu pengurus bahkan jadi ketuanya. Kalaupun ayah sudah tidak ketua lagi karena harus ada regulasi kepemimpinan agar semua bisa jadi pemimpin selanjutnya bila kelak yang sudah berumur harus kembali menghadap yang kuasa. Ayahku tetap dianggap salah satu sesepuh dan tokoh dalam lingkungan organisasi ini, biasanya pasti ditunggu bila ada yang belum datang. tapi sepanjang yang aku ketahui ayahku atau keluarga kami tidak pernah harus menundah sholat untuk menunggu kedatangan keluarga kami di tempat diselenggarakannya solat idul fitri. Munggkin inilah yang menjadi ayahku sangaat dianggap ketokohannya di dalam masyarakat di dea kami, tidak hanya dalam lingkungan organisasi saja, tapi mencakup satu kecamatan alhamdulilah ayah sangat dikenal masyarakat. Makanya setelah sholai id selesai, khususnya masyarakat sekitar organisasi, dan masyarakat dari organisasi lain akan berbondong-bondong datang kerumah lebih dahulu, padahal masih ada yang lebih tinggi jabatan yang ada di desanyaku, tapi tidak jadi persoalan bagi pejabat tersebut karena mungkin dia paham, bahkan belau sendiri ikut bergabung datang dengan masyarakat yang lain, kemudian baru mengunjung rumah dinas beliau.
Setelah sepi tamu yang datang, kalaupun datang lagi paling sore atau malam, itupun lebih sering tinggal keluarga dekat, biasanya ponakan bunda atau ayah, bisa juga kakak kandung atau adek kandung ayah atau bunda. Kadang juga aku heran, seharusnya ayah atau bunda yang datangkan menemui mereka, apalagi yang lebih tua dari ayah maupun bunda, tapi belum sempat ayah dan bunda datang karena banyaknya tamu yang datang silih berganti ke rumah, tanpa diminta mereka sudah datang sendiri sebelum ayah maupun bunda datang mengunjungi mereka. Mungkin juga mereka ngerti kali akan tamu yang datang ke rumah sehinngga ayah maupun bunda belum sempat datang berkunjung. Akupuntidak mengerti, ya sudahlah serahkan pada mereka yang saja, enaknya bagaimana yang penting silaturahmi jangan sampai terputus, siapapun yang punya waktu bolehlah mendahului menurut saya tidak usah terlalu kaku. Kaku itu menandakan sombong tidak mampu bergerak secara elastis. Tentu Allah tidak senang dengan orang yang selalu menganggap dirinya lebih paling hebat dari orang lain. aku gerak-gerakkan badanku yang terasa pegal, apalagi kakiku yang sudah mulai menjerit kalau punya mulut, karena dari mulai pagi setelah pulang sholat id tidak henti-henti dengan indahnya berputar-putar bagaikan penari balet yang tidak beraturan bergerak kesana kemari melayani semua tamu ayah dan bunda. Akh aku tepok jidatku karena baru ingat adek laki-lakiku yang ganteng ternyata minta dibuatkan racikan lontong kacang yang aku buat sehari sebelum lebaran. Kalau sajian ini khusus untuk kalangan keluarga saja, karena buatnya tidak banyak, makanya ketika adekku tadi minta aku bisikkan agar sabar sampai tamunya pulang. Adekku mengiyakan dengan senang hati karena di bibirnya tersungging senyuman tanda setujuh dengan denga. apa yang aku ucapkan padanya. Aku lihat sejenak adek masuk ke kamarnya, mungkin sambil menunggu tamunya selesai sambil iler ditahan menunggu racikan lontong kacang siap disantab. Kalau lapar tidak mungkinlah karena sebelum sholat id tadi kami sudah terlebih dahulu makan masakan bunda yang sangat lezat tiada duanya. Tapi masakan kakaknya yang tidak ada duanya harus di coba juga dong, begitu kata adekku kalau ingin secepatnya aku menyajikan makanan yang merupan salah satu makanan kegemarannya, tentu diriku juga. Sesuai dengan janji, akupun segera menyiapkan lontong sayur untuk adikku, bahkan rencananya akan aku antar langsung ke kamarnya, sebagai ungkapan terimakasih sudah mau sabar menunggu kakaknya selesai membantu bunda melayani semua tamu. Sengaja juga aku siapkan dua piring, satu untuk adekku, yang satu lagi untukku. Akupun ingin juga ikut menikmati lontong kacang buatan tangangku sendiri. Walupun nanti akhirnya setengah dari lontong di piringku akan berpinda ke piring adekku, aku yakin dia pasti minta nambah, biar cepat isi piringkulah yang pertama diliriknya. Akupun tidak akan marah dengan kelakuan adekku itu, karena adekku sangat manja padaku walaupun dia seorang laki-laki, kalau dalam adat aku seharusnya yang memberi kepada kakak perempuannya. Sekarang biarlah aku yang melakukan itu hingga suatu hari kelak setelah dewasa yang sukses adikku mampu melakukan tanggungkawabnya sebagai anak lelaki yang bertanggungjawab.
Di kedua tanganku sudah bertengger dua piring lontong sayur. Siap meluncur memberikan kejutan. Dengan pelan aku dorong pintu kamar adikku, karena kauk tahu adekku tidak pernah lagi berani menutup pintunya dari dalam, karena adekku pernah bermimpi katanya sangat seram, sehingga adekku teriak teriak dari dalam yang membuat kami yang sedang asyik bersama mimpi juga terpaksa terbangun kaget melompat semua dari tempat tidur menujuh kamar adekku. Tapi tidak bisa kami langsung mengetahui mengapa adek berteriak, atau menenangkannya karena pintu dikunci dari dalam, sedang adek dalam dalam keadaan histeris sehingga tidak ada pikirannya untuk lamgsung membuka pintu. Terpaksa ayah dengan pelan-pelan dan sabar meminta adek tenang, tarik nafas dan jangan lupa baca surat al-ikhlas, surat yang baru dipelajari adek ketika mulai masuk sekolah di kelas satu Sekolah Dasar. Barulah ayah, bunda,dan aku bisa masuk untuk melihat adek setelah pintu dibuka sendiri sama adek. Ayah memang jempolan juga, bisa mempengaruhi adek yang sedang dalam keadaan kalap karena sangat ketakutan. Begtu pintu terbuka adek langsung berhambur ke pelukan ayah, tangis dan jeritannya sudah tidak terbendung lagi. Cukup lama kami membuat adek agar tenang, mulai dari bunda yang memintaku mengambil air putih untu adek, dengan harapan setelah minum adek bisa tenang, sampai mengajak adek membaca ayat-ayat pendek yang dibimbing ayah. Akhirnya setelah lama membujuk dan mengatakan kalau mimpi adalah bunga tidur, jangan lupa mengambil air uduk sebelum tidur, membaca doa agar mimpinya tidak yang serem-serem. adek hanya mampu menggelengkan kepala tanpa bisa menjawab pertanyaan ayah. Malam itu terpaksa kami tidur di kamar adek beramai-ramai. Adek sang pemilik kamar yang tetap kekeh tidak mau pindah tidur walaupun untuk sementara malam itu, ke kamar bunda bertiga dengan ayah, atau ikut aku berdua tidur ke dalam kamarku. Karena tempat tidur adek yang hanya muat tiga orang, aku, bunda dan adek itupun dengan sangat berdempet-dempetan karena pada dasarnya tempat tidur adek seharusnya hanya bisa diisi dua orang saja. Tapi karena adek terlihat lebih merasa terlindungi dengan keadaan itu akhirnya kami tetap mengalah tidur seranjang bertiga. Sedangkan ayah harus rela menggelar tempat tidur untuk satu orang di bawah tempat tidur adek, sebab adek tidak izinkan ayah keluar meskipun ibu dan aku sudah ada yang siap menemani adek. Sejak saat itu, walaupun sudah lama sekali berlalu bahkan sudah bertahun-tahun, sekarang adekku juga sudah sekolah menengah pertama satu tingkat di bawahku, karena umurku dan adekku hanya beda dua tahun. Tapi bunda memang sudah membiasakan kami dari kecil tidur di kamar sendiri, kalau dulu kakak masih ada kami tidur bersama kakak. Adek tidak pernah lagi mengunci kamar dari dalam, tapi adek minta kalau masu masuk tolong diketuk dulu, dan jangan lupa ucapkan salam ya tekan adekku syarat boleh menginjakkan kaki di kamarnya. Kami semua setujuh, karena yang diminta adek sangat wajar sekali, agar jangan asal masuk kamar orang lain seenak sendiri meskipun itu satu rumah tetap harus mengedapankan saling menghormati dan menghargai privasi masing-masing, begitu juga dengan bunda dan ayah akan mengetuk duluan klau mau masuk ke dalam kamar anak-anaknya.
Dengan sangat hati-hati karena takut piring yang berisi lontong kacang jatuh dari tangan, aku coba panggil adekku, aku sudah panggil sampai tiga kali belum ada tanda-tanda akan dipersilahkan masuk, karena penaasaran dan sedikut melanggar permintaan adek, kan darurat pikirku kalau nanti adek protes karena aku masuk sebelum diperbolehkan. Aku dorongkan ujung jariku ke daun pintu, seketika kamar adekku terbuka pintunya sangat lebar sehingga aku bisa dengan leluasa melihat keberaan ke dalam kamar adek, apa gerangan yang terjadi sehingga adek tidak mau menjawab panggilan salam yang aku ucapkan, bahkan sampai tiga kali dengan sangat kencang mala yang salam ketga. Eh ternyata kamar kosong melompong, aku hanya menyaksikan kamar yang tempat tidurnya belum dirapikan. Akhirnya aku tinggalkan kamar adek dan mencoba bertanya ke bunda yang sedang duduk menyender di kursi ruang keluarga yang tidak jauh dari kamar adek, mungkin bunda sangat lelah karena dari kemarin sudah mempersiapkan kebutuhan lebaran hari ini. Belum lagi kedatangan tamu yang silih berganti dari pagi, baru agak siang bunda bisa istirahat, itupun kali hanya beberapa jam saja, tapi bunda memilih istirahannya di ruang keluarga saja. Bunda menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu adek kemana ketika aku tanya keberadaannya, dikamarpun tidak kelihatan batang hidungnya kataku sambil sedikit kesal. Tapi tiba-tiba terbit senyum di bibirku, dengan sedikit tergersah aku melangkahkan kakiku ke arah samping rumah kami. Di samping rumah ada sedikit sisa tanah yang sengaja tidak dibangun atau tepatnya tidak diizinkan ayah untuk dibangun, kata ayah biar ada rongga udara, dan bisa juga tempat duduk-duduk bersatai. Benar saja pendapat ayah saat akan membangun rumah kami, aku, adek dan juga keluarga lainnya sering sekali singga di sana. Bunda juga menyulap tempat tersebut menjadi sebuah taman kecil, yang diisi tanaman sayur dan bunga, walaupu lebih banyak sayurnya. Kata bunda bisa untuk memetik sayur saat dibutuhkan untuk makan saat bunda lupa bawah sayur dari sawah.
Dengan sangat hati-hati karena takut piring yang berisi lontong kacang jatuh dari tangan, aku coba panggil adekku, aku sudah panggil sampai tiga kali belum ada tanda-tanda akan dipersilahkan masuk, karena penaasaran dan sedikut melanggar permintaan adek, kan darurat pikirku kalau nanti adek protes karena aku masuk sebelum diperbolehkan. Aku dorongkan ujung jariku ke daun pintu, seketika kamar adekku terbuka pintunya sangat lebar sehingga aku bisa dengan leluasa melihat keberaan ke dalam kamar adek, apa gerangan yang terjadi sehingga adek tidak mau menjawab panggilan salam yang aku ucapkan, bahkan sampai tiga kali dengan sangat kencang mala yang salam ketga. Eh ternyata kamar kosong melompong, aku hanya menyaksikan kamar yang tempat tidurnya belum dirapikan. Akhirnya aku tinggalkan kamar adek dan mencoba bertanya ke bunda yang sedang duduk menyender di kursi ruang keluarga yang tidak jauh dari kamar adek, mungkin bunda sangat lelah karena dari kemarin sudah mempersiapkan kebutuhan lebaran hari ini. Belum lagi kedatangan tamu yang silih berganti dari pagi, baru agak siang bunda bisa istirahat, itupun kali hanya beberapa jam saja, tapi bunda memilih istirahannya di ruang keluarga saja. Bunda menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu adek kemana ketika aku tanya keberadaannya, dikamarpun tidak kelihatan batang hidungnya kataku sambil sedikit kesal. Tapi tiba-tiba terbit senyum di bibirku, dengan sedikit tergersah aku melangkahkan kakiku ke arah samping rumah kami. Di samping rumah ada sedikit sisa tanah yang sengaja tidak dibangun atau tepatnya tidak diizinkan ayah untuk dibangun, kata ayah biar ada rongga udara, dan bisa juga tempat duduk-duduk bersatai. Benar saja pendapat ayah saat akan membangun rumah kami, aku, adek dan juga keluarga lainnya sering sekali singga di sana. Bunda juga menyulap tempat tersebut menjadi sebuah taman kecil, yang diisi tanaman sayur dan bunga, walaupu lebih banyak sayurnya. Kata bunda bisa untuk memetik sayur saat dibutuhkan untuk makan saat bunda lupa bawah sayur dari sawah.
Benar saja perkiraan awal, ternyata adek benar ada di sana. Wajah sedang ditutup pakai kesua tangannya saat aku sampai di sana, kayaknya adek juga sedang tiduran di bale-bale kecil yang sengaja kami bangun berdua, tentu atas persetujuan ayah dan bunda, bahkan ayah sampai turun tangan dalam pembangunannya, ikh kayak bangun gedung aja hahaha. Dengan pelan-pelan aku dekati adek untuk membangunkannya, tapi karena aku membangunkan adek dengan suara kencang, adek sampai kaget karena dia pikir siapa yang datang. Setelah dia sadar akan kehadiranku apalagi dengan membawa pesana yang diminta dan ditunggu dari tadi, senyum senag akhirnya mengalir dari bibirnya. sebelum menyantab lontong kacang pemberianku sejenak ucapan terimakasih mengalir dari bibirnya. Aku tersenyum lalu menganggung tanda ucapan terimkasih diterimah, selanjutnya suaranya tidak terdengar lagi karena sibuk dengan mkanannya atau ada yang dipikirkan, aku juga bingung menjawabnya, tidak biasanya adekku begitu. Makan tetap jalan, bicara tetap lancar, itulah kebiasaan adekku sehari-harinya kalau kami sedang makan bersama, atau berdua kalau bunda dan ayah sedang tidak ada di rumah, ketika kami sudah pulang sekolah. Aku biarkan saja kelakuannya sampai nanti dia bicara sendiri. Kebiasan kami yang lain sering curhat-curhatan kalau ada sesuatu, atau minta pendapat dulu sebelum menyampaikan ke ayah ataupun bunda. Benar saja setelah meminta sebagaian dari lontong kacang dari piringku, adek mulai menyampaikan isi hatinya.
"Kak, ngak enak ya!"
Adek sudah memulai curhatnya, meskipun aku belum mengerti apa yang dia maksud".
"Ngak enak apanya, lontong kacang kakak ngak enak?"
"Akh kakak, ngak ada hubungannya dengan lontong kacang kakak yang enaknya luar biasa itu".
"Terus apa maksud kamu, yang jelas kalau ngomong jangan buat kakak bingunglah dek".
Aku coba memperingatkan agar jangan membuat bingung.
"Itu loh kak, tidak enak karena Ramadhannya sudah berlalu saja, sebulan rasanya sekejap saja tiba-tiba sudah lebaran".
"Terus di mananya yang kutang enaknya?"
Aku mencoba memancing agar isi hatinya bisa keluar leibi banyak lagi. tapi adek tidak mampu menjawab lebih panjang alasan yang lebih tepan akan mengapa hatinya tidak enak dengan bulan Ramadhan yang sudah berlalu tanpa terasa pergi meninggalkan hambah Allah yang mugkin belum merasa banyak melakukan amalan selama bulan Ramadhan. mungkin jadi adek merasakan seperti itu, aku coba menebak.
"Dek berdoa saja ya sama Allah SWT. agar kita semua, ayah bunda, kamu, dan kakak, pokoknya semua umat islam yang selalu merindukan datangnya bulan yang penuh barokah, selalu diberi kesehtan dan umur yang panjang agar kita masih bisa bertemu dan bersama Ramadhan pada tahun-tahu yang akan datang, dengan meningkatnya amalan yang kita kerjakan nanti di bandingkan bulan Ramdhan tahun ini".
Sambil aku elus kepalanya dengan kasih sayang seorang kakak. Aku lihat kepalanya menganggung tanda setujuh dengan ucapanku.
"Tapi untuk menghilangkan rasa kita yang sedih itu, ada obatnya loh, bahkan pahalanya sangat besar kalau kita mampu dan mau menjalannya stelah Ramadhan pergi meninggalkan kita".
"Obat?"
Kembali harapan timbul di matanya setelah aku mengungkapkan kalimat barusan.
"Iya obatnya ada".
"akh kakak jangan berteleh-teleh lah langsung aja pada pokok pembicaraan, bikin bingung aja nih kakak".
Tabiat aslinya sudan mulai pelan-pelan bermunculan, aku hanya bisa tertawa geli dalam hatiku. Agar tidak membuat adekku lebih senewen lagi, akhinya aku mulai menjelelasnya semua hal yang aku maksutkan.
"Dek, bulan Ramadhan bokeh saga pergi dan memang harus pergi karena aturannya bulan Ramdhan hanya ada sebulan dalam sekali tahun. Tapi bukan berarti kita tidak bisa mendapat amalan yang yang setelah selesai bukan penuh baerkah tersebut"
Akupun mulai menjelaskan hal-hal yang bisa kita lakukan setelah selesai Ramdhan. Bulan Ramadhann yang penuh berkah, bulan yang membuat umat berlombah-lombah melakukan segala kegiatan yang bermanafaat agar mendapat pahala, yang tentu saja dimulai dari berpuasa sehari penuh dari berkumandangnya adzan subuh tanda berhenti melakukan segala aktiftas memasukkan jenis makanan apapun ke dalam mulut, karena makanan yang kita konsumsi selama kita melaksanakan puasa akan haram disantap meskipun makanan tersebut bukan makanan yang haram seperti babi yang diharamkan untuk di makan. Sampai tiba kumandang adzan pada waktu mulai terbenamnya matahari tanda malam akan meninggalkan siang yang berlangsung selama satu bulan penuh, satu bulan bisa tiga puluh hari seperti yang dijalankan tahun ini, bisa juga hanya dua puluh sembilan hari. Selesai melaksanakan ibadah wajib yaitu berpuasa, tentu menginginkan lagi pahala yang lain, pahala lain tersebut, antara lain melaksanakn sholat taraweh empat rakaat dan ditambahkan witir tiga rakaat lagi, ada juga yang menjalankan dua puluh rakaat taraweh kemudian witir tiga rokaat sehingga jumlahnya dua puluh tiga. Di posisi manapun jumlah taraweh tentu semuanya menginginkan amalan yang dikerjakan memperolah pahala dari Allah SWT. Tidak berhenti pada sholat taraweh saja masih ada lagi aktifitas selama ramadhan yang juga mendatangkan pahala yaitu membaca Al-quran, bersedakah, dan yang hukumnya wajib dilakukan seperti kewajiban berpuasa, membayar zakat sesuai dengan takaran yang sudah ditentukan. Sampai tiba hari kemenangan merayakan Idul Fitri, sebagai bentuk rasa syukur setelah satu bulan penuh dengan segala perjuangan menjalankan puasa selama bulan Ramadhan.
Tentu dalam pikiran akan muncul selesai Ramadhan maka habis juga kegiatan yang akan menutup pahala, samapai bulan Ramadhan datang lagi pada tahun yang akan datang. Ternyata anggapan itu salah, karena setelah puasa Ramadhan berlalu masih bisa melaukan ha-hal yang dapat memberikan berkah dan pahala yang sangat tinggi nilainya. Cukup berat juga, soalnya saat itu dilaksanakan makanan yang enak-enak masih banyak, tapi untuk sementara harus rela ditinggalkan sampai adzan magrib berkumandang. Amalan setelah Ramdhan sering orang menyebutkan puasa syawal, yang dijalankan selama enam hari. Walaupu sifatnya sunnah yang berarti boleh dilakukan dapat pahala, bila puasa tidak dilakukan tidak berdosa dan tidak dapat pahala karena tidak wajib hukumnya. Nabi Muhammad SAW sering sekali melakukan puasa di bulan syawal setelah Beliau menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Hal yang kita dapatkan dari puasa syawal selama 6 hari yang dimulai pada hari kedua 'seperti berpuasa selama satu tahun' jadi nilai puasa kita jadi lebih lengkap. Selain berpuasa syawal masih ada hal lain lagi yang menampah pundi-pundi amalan, berkumpul dengan keluarga, baik yang dekat maupun yang jauh, tetangga jangan sampai dilupakan. bahkan orang di Indonesia punya tradisi pulang kampung yang mungkin tidak dimiliki bangsa lain di seantero bumi ini. Semua itu dilakukan agar bisa berkumpul dengan keluarga di kampung, bersilaturrahmi dengan seluruh anggota keluarga, kawan yang masih tinggal di sana ataupu tetangga.
Setelah Ramadan berakhir ada satu hal lagi yang sering sekali direncanakan jauh-jauh hari yaitu melangsungkan pernikahan. Perencaan ini mungkin dilakukan agar tidak repot-repot mengumpulkan keluarga karena saat itu sedang libur bersama, kalau dilain waktu akan meninggalkan tugas se hari-hari yang belum tentu dapat izin karena banyaknya hal yang harus dikerjakan di tempat bekerja. Di harapkan juga dengan menikah di bulan Syawal keberkahan yang didapatkan akan berlimpah bagi kehidupan pasangan yang melangsungkan pernikahan. Tokoh yang sangat kita kenal walaupun lewat kisah orangtua ataupun guru kita, yang juga menjadi teladan bagi umat islam dalam menjalankan hidup dan yang akan menyelamatkan kita agar terhindar dari ganasnya sang api neraka, Belai Nabi besat kita Muhamammag SAW. Beliau meminang Siti Aisyah Rodiallahu Anhu terjadi pada saat setelah Ramadhan yaitu dibulan Syawal.
"Demikianlah keutamaan yang dapat kita dapatkan setelah selesai menjalankan puasa Ramadhan dek, yang kemudian kita lengkapi amalannya saat kita berada di bulan Syawal. Semoga bermanfaat untuk kita semua"
Aku akhiri penjelasan panjang lebarku tentang pahala yang masih dapat kita dapatkan meskipun bulan Ramdhan telah berlalu meninggalkan kita.
"Okay kakak sayang yang baik dan pintar atas semua penjelasannya".
Sambil beranjang dengan cepat meninggalkan aku sendirian. Tapi sebelum niat melangkah untuk meninggalkan aku, aku pegang kakinya kuat-kuat sehingga dia tidak bisa melangkah.
"Lepasin Kak!
Pintanya menghiba, tapi aku tidak mau melepaskannya sebelum dia menjawab mengapa aku tiba-tiba harus mau ditinggal sendirian.
"Kakak, aku mau ke bunda"
"Ngapain ke Bunda?"
"Kata Kakak tadi kalau mau dapat pahala setelah Ramadhan pergi harus melakukan tiga hal, aku mau minta tolong sama bunda agar mengizinkan aku melakukan tiga hal itu agar mendapat pahala walaupun sambil menunggu hadirnya bulan Ramadhan tahun depan".
"Haaaa adek mau minta dinikahkan sama Bunda?" Dek masih kecil, nanti istrinya mau dikasih makan apa? Belum lagi kalau lahir anaknya. Memang adek sudah siap?
Kejarku untuk memberkan peringatan kalau umurnya masih belum pantas untuk menikah.
"Kakak!"
Teriakannya mengagetkanku, sampani aku tutup kupingku sakin besarnya suara yang dikeluarkannya. Sehingga Bunda juga Ayah yang ternyata sudah pulang ke rumah setelah selesai berkunjung ke rumah pejabat kantor kecamatan, berhamburan mendatangi kami ke samping rumah. Tanpa di komando kami berdua langsung menyampaikan hal yang ada dalam pikiran kami masing-masing, aku dengan pemikiranku sendiri kalau adek akan minta izin mau menikah, sedang adek dengan pikirannya sendiri yang bertentangan dengan jalan pikiran aku. Ayah Bunda tentu ketawa terpingkal-pingkal dengan apa yang aku sampaikan, begitu juga yang dipaparkan adek. Setelah ketawa mereka berhenti, meskipun senyum-senyum geli akan tingkah kami berdua masih terlihat jelas di wajah Bunda dan ayah, akhirnya keduanya menasehati kami agar jangan cepat mengambil keputusan sebelum dipikirkan matang-matang.
"Aduh, Kakak kalau mau mengomentari sesuatu bok dipikir dulu, adek juga gitu jangan asal juga. Wajar Kakak berekasi seperti itu, walaupun reaksi yang Kakak sampaikan tetap salah. Jangan gara-gara salah paham jadi menimbulkan permasalahan baru.
Bunda memberikan tanggapannya atas situasi yang sedang terjadi antara aku dan adek. Untuk menghindari hal yang tidak inginkan.
"Tapi anak Ayah memang hebat, sudah bisa menjelaskan pahala lain yang dapat kita peroleh setelah Ramadhan berlalu meninggalkan kita".
Ayah juga tidak mau ketinggalan menambahkan pendapatnya. Pada akhirnya permasalahan yang salah paham, dapat terselesaikan dengan cantik, dan memuaskan hati kedua belah pihak. ikh kayak sengketa besar saja pikirku. Adekku akhirnya, walaupu setelah lebaran berlalu satu minggu meminta agar semua ikutan menjalankan sunnah Nabi Muhammad pada zaman kerasulannya, dan yang dijalankan umat islam sesudah Baliau tidak ada lagi di muka bumi ini. Sampai umat islam di zaman sekarang, meskipun hukumnya tidak wajib alias sunnah, Tapi pahala yang didapat tidak dapat terkira.
Jakarta, 3 Syawal 1440 Hijriah/070619
Setelah Ramadan berakhir ada satu hal lagi yang sering sekali direncanakan jauh-jauh hari yaitu melangsungkan pernikahan. Perencaan ini mungkin dilakukan agar tidak repot-repot mengumpulkan keluarga karena saat itu sedang libur bersama, kalau dilain waktu akan meninggalkan tugas se hari-hari yang belum tentu dapat izin karena banyaknya hal yang harus dikerjakan di tempat bekerja. Di harapkan juga dengan menikah di bulan Syawal keberkahan yang didapatkan akan berlimpah bagi kehidupan pasangan yang melangsungkan pernikahan. Tokoh yang sangat kita kenal walaupun lewat kisah orangtua ataupun guru kita, yang juga menjadi teladan bagi umat islam dalam menjalankan hidup dan yang akan menyelamatkan kita agar terhindar dari ganasnya sang api neraka, Belai Nabi besat kita Muhamammag SAW. Beliau meminang Siti Aisyah Rodiallahu Anhu terjadi pada saat setelah Ramadhan yaitu dibulan Syawal.
"Demikianlah keutamaan yang dapat kita dapatkan setelah selesai menjalankan puasa Ramadhan dek, yang kemudian kita lengkapi amalannya saat kita berada di bulan Syawal. Semoga bermanfaat untuk kita semua"
Aku akhiri penjelasan panjang lebarku tentang pahala yang masih dapat kita dapatkan meskipun bulan Ramdhan telah berlalu meninggalkan kita.
"Okay kakak sayang yang baik dan pintar atas semua penjelasannya".
Sambil beranjang dengan cepat meninggalkan aku sendirian. Tapi sebelum niat melangkah untuk meninggalkan aku, aku pegang kakinya kuat-kuat sehingga dia tidak bisa melangkah.
"Lepasin Kak!
Pintanya menghiba, tapi aku tidak mau melepaskannya sebelum dia menjawab mengapa aku tiba-tiba harus mau ditinggal sendirian.
"Kakak, aku mau ke bunda"
"Ngapain ke Bunda?"
"Kata Kakak tadi kalau mau dapat pahala setelah Ramadhan pergi harus melakukan tiga hal, aku mau minta tolong sama bunda agar mengizinkan aku melakukan tiga hal itu agar mendapat pahala walaupun sambil menunggu hadirnya bulan Ramadhan tahun depan".
"Haaaa adek mau minta dinikahkan sama Bunda?" Dek masih kecil, nanti istrinya mau dikasih makan apa? Belum lagi kalau lahir anaknya. Memang adek sudah siap?
Kejarku untuk memberkan peringatan kalau umurnya masih belum pantas untuk menikah.
"Kakak!"
Teriakannya mengagetkanku, sampani aku tutup kupingku sakin besarnya suara yang dikeluarkannya. Sehingga Bunda juga Ayah yang ternyata sudah pulang ke rumah setelah selesai berkunjung ke rumah pejabat kantor kecamatan, berhamburan mendatangi kami ke samping rumah. Tanpa di komando kami berdua langsung menyampaikan hal yang ada dalam pikiran kami masing-masing, aku dengan pemikiranku sendiri kalau adek akan minta izin mau menikah, sedang adek dengan pikirannya sendiri yang bertentangan dengan jalan pikiran aku. Ayah Bunda tentu ketawa terpingkal-pingkal dengan apa yang aku sampaikan, begitu juga yang dipaparkan adek. Setelah ketawa mereka berhenti, meskipun senyum-senyum geli akan tingkah kami berdua masih terlihat jelas di wajah Bunda dan ayah, akhirnya keduanya menasehati kami agar jangan cepat mengambil keputusan sebelum dipikirkan matang-matang.
"Aduh, Kakak kalau mau mengomentari sesuatu bok dipikir dulu, adek juga gitu jangan asal juga. Wajar Kakak berekasi seperti itu, walaupun reaksi yang Kakak sampaikan tetap salah. Jangan gara-gara salah paham jadi menimbulkan permasalahan baru.
Bunda memberikan tanggapannya atas situasi yang sedang terjadi antara aku dan adek. Untuk menghindari hal yang tidak inginkan.
"Tapi anak Ayah memang hebat, sudah bisa menjelaskan pahala lain yang dapat kita peroleh setelah Ramadhan berlalu meninggalkan kita".
Ayah juga tidak mau ketinggalan menambahkan pendapatnya. Pada akhirnya permasalahan yang salah paham, dapat terselesaikan dengan cantik, dan memuaskan hati kedua belah pihak. ikh kayak sengketa besar saja pikirku. Adekku akhirnya, walaupu setelah lebaran berlalu satu minggu meminta agar semua ikutan menjalankan sunnah Nabi Muhammad pada zaman kerasulannya, dan yang dijalankan umat islam sesudah Baliau tidak ada lagi di muka bumi ini. Sampai umat islam di zaman sekarang, meskipun hukumnya tidak wajib alias sunnah, Tapi pahala yang didapat tidak dapat terkira.
Jakarta, 3 Syawal 1440 Hijriah/070619






