Kamis, 06 Juni 2019

MELANJUTKAN PAHALA USAI RAMADHAN

MELANJUTKAN PAHALA USAI RAMADHAN

Oleh @daras09



        Dua minggu sebelum lebaran biasanya aku sudah mulai memasak kue untuk lebaran, hal ini aku lakukan karena kakak yang biasanya menyiapkan kue untuk menjelang lebaran tiba sudah tidak tinggal di rumah lagi, beliau sudah pergi ke kota Yogya untuk melanjutkan sekolah menengah keguruannya kalau dulu di sebut SPG (Sekolah Pendidikan Guru). Aku juga bingung kenapa ya harus melanjutkan jauh-jauh padahal di kotakumjuga ada sekolah meskipun perjalanan cukup jauh karena jarak tempuhnya delapan jam perjalanan atau satu harilah dari kampungku, jadi kalau lebaran bisa tetap pulang kampungkan? dan aku tentu tidak akan pusing-pusing harus menyiapakan kue kalau akan lebaran. Belumlagi aku sama sekali tahu bagaimana membuatnya, karena akukan masih kecil barutamant Sekolah Dasar pula, umurku baru dua belas menjelang tiga belas tahun, apa sih yang dapat dilakukan anak seusia itu? Tapi tidak ada kan yang tidak mungkin kalau mau belajar? Berkat persetujuan orangtuaku wabil khusus bunda tercinta, yang tentu saja masih menginginkan kami punya kue lebaran selain kue yang hanya dua macam yang bisa dibuat bundaku, tapi  kue yang dibuat bunda ini yang ternyata kehadirannya yang wajib harus ada, katanya tanpa kue khas lebaran ini tidak merasa lebaran. Kue bundaku ini sangat enak lain dari buatan orang kebanyakan di kampungku, itu sih kata mereka yang sudah menyicipinya, bahkan ada yang sampai pesan karena anaknya hanya mau kue butan bunda ini, padahal bisa dibuatkan ke orang lain kan? Bundaku tentu dengan senag hati akan membuatkannya karena yang minta cucunya juga walaupun bukan cucu kandung, tapi masih ada hubungan keluarga dari pihak kakaknya bunda. kue buatan bunda itu namanya 'alame yang dibuat satu minggu sebelum lebaran agar bisa dipotong-potong saat lebaran untuk diberikan ke tetangga atau tamu yang datang berlebaran ke rumah. Satu lagi kue utama lebaran yang harus ada yaitu lomang. Sama dengan alame, lomang buatan bunda juga sangat lezat dan guri, semua takarannya sangat pas. Jadi kue yang aku akan buat ini atau yang selalu dibuat kakak dulu sebelum pergi sekolah ke kota Yogya hanya kue pendamping saja. Tapi tetap harus ada untuk membuat lebih seru hahaha jadi geli sendiri. Seperti lomba saja, sang juara satu, dua dan tiga sudah ditetapkan, tapi juara harapan satu, dua dan tiga harus tetap disertakan. Seharusnya untuk apa toh juaraya sudah ada, tapi itulah seninya kali ya?

         Berangkat ke rumah kakak sepupuh yang jarak tempuh memakana waktu satu jam dari rumah kami, aku belajar membuat kue dengan susah payah, capek, panas, ngantuk berbaur menyertai berpuasa, apalagi badan dan usia masih kecil, akhirnya hasil kue buatan berhasil di bawah pulang ke hadapan bunda dan tidak mengecewakan. Aku lakukan belajar membuat kue dengan kakak sepupuh hanya sekali saja karena tahun berikutnya saat Ramdhan tiba aku sudah bisa membuat sendiri di rumah. Cukup lima jenis kue saja sangat senang rasanya, begitu juga tentunya dengan bunda meskipun tidak ditunjukkan langsung pujiannya, denganmemberikan biaya untuk menyiapkan bahan-bahannya aku rasa itu sudah cukup pernyataan akan kesukaan bundaku. Aku biasanya memasak kue lebih awal, dua minggu sebelum lebaran. Pertama  karena sudah mulai libur sekolah, dan aku tidak bisa seperti kakak yang sangat kuat membuat kue. Aku harus cicil sedikit demi sedikit biar tidak terlalu capek, dan takut puasanya terganggu, tidal lucukan gara membuat kue meninggalkan kewajiban yang utama perintah Allah SWT. Aku juga harus memasak untuk kami sekeluarga, karena bunda tidak mungkin masak lagi setelah pulang dari sawah, kasihankan sudah capek seharian dipanggang matahari yang sangat garang memancarkan cahayanya, harus bekerja lagi samapi di rumah, apalagi pulangnya sudah mau menjelang magrib, begitu juga dengan ayah sangat tidak mungkin sekali, pulang dari kantor, lanjut ke sawah menemani bunda sambil menjemput. Biarpun aku masih belasan usianya aku harus bisa membantu bunda dan ayah semampu yang aku bisa. Selama ini apa saja yang aku sajikan di atas meja, baik hari biasa atau saat bulan ramadhan khususnya saat buka puasa, bunda, ayah dan kedua adikku tidak pernah komplen, itu artiya masakan yang aku sajikan tentu sudah layak untuk disantap. 

       Hari yang ditunggu-tunggupun tiba juga, bahkan seluruh umat muslim seluruh Dunia. Bulan kemenangan yang penuh ceria setelah satu bulan menahan lapar, nafsu yang akan membatalkan pahala puasa, seperti bergunjing, bersambung lida sehingga keluar kata-kata yang tidak pantas alhamduliah bisa dilewati, ya tidak menutup nyinyir pasti ada tapi segera sadar itu yang utama karena sedang berpuasa. Satu Syawal bulan kemenangan, telah di sepan mata. Pagi-pagi sekali setelah  sholat subuh berjam'ah biasanya ayah tidak segerah beranjak dari sajadanya tapi dilanjutka dengan takbir memujih kebesaran Allah SWT dan mungkin ayah menyampaikan kegembiraannya juga. Sambil mendengar ayah takbir, bunda biasanya melanjutkan berkemas-kemas, bunda menyiapkan sarapan pagi itu sebelum berangkat sholat idul fitri, karena sholat idul fitri bukan hari raya kurban puasa dulu sebentar, setelah sholat selesai baru boleh menyentuh makananan. Kalau idul firi kita makan dulu baru berangkat ke tempat menunaikan sholat idul fitri. Di kampungku beda dengan di kota lain khususnya Indonesia bagian barat, sholat dimulai pukul tujuh pagi, kalau di desa tempat kami sholat idul fitri dimulai pukul delapan. Tempat untuk sholat juga tidak jauh dari rumah, jalan kaki ditemput paling lama lima menit sudah sampai. Jadi tidak perlu kauatir terlambat, apalagi tempat sholatnya milik sebuah organisasi keagamaan yang tertua di Indonesia, di mana ayahku salah satu pengurus bahkan jadi ketuanya. Kalaupun ayah sudah tidak ketua lagi karena harus ada regulasi kepemimpinan agar semua bisa jadi pemimpin selanjutnya bila kelak yang sudah berumur harus kembali menghadap yang kuasa. Ayahku tetap dianggap salah satu sesepuh dan tokoh dalam lingkungan organisasi ini, biasanya pasti ditunggu bila ada yang belum datang. tapi sepanjang yang aku ketahui ayahku atau keluarga kami tidak pernah harus menundah sholat untuk menunggu kedatangan keluarga kami di tempat diselenggarakannya solat idul fitri. Munggkin inilah yang menjadi ayahku sangaat dianggap ketokohannya di dalam masyarakat di dea kami, tidak hanya dalam lingkungan organisasi saja, tapi mencakup satu kecamatan alhamdulilah ayah sangat dikenal masyarakat. Makanya setelah sholai id selesai, khususnya masyarakat sekitar organisasi, dan masyarakat dari organisasi lain akan berbondong-bondong datang kerumah lebih dahulu, padahal masih ada yang lebih tinggi jabatan yang ada di desanyaku, tapi tidak jadi persoalan bagi pejabat tersebut karena mungkin dia paham, bahkan belau sendiri ikut bergabung datang dengan masyarakat yang lain, kemudian baru mengunjung rumah dinas beliau. 

        Satu hari penuh biasanya aku tidak akan meninggalkan rumah, karena hari pertama ini arus lalu lalang tamu ke rumah sangat deras tiada henti-hentinya, untuk kue juga tidak langsung ludes hahaha. Tapi mungkin bukan itu yang ditujuh mereka yang datang, karena di rumah mereka juga pasti banyak kue seperti di rumah, bahkan mungkin lebih banyak macamnya dari kue yang dibuat anak kecil seperti diriku. Tradisi berkunjung ke rumah yang dianggap lebih tua mungkin itu sebabnya, atau ada lagi yang sering didapatkan mereka khususnya anak kecil dari bundaku, tidak lain tidak bukan amplop lebaran, konon katanya lebih banyak bila dibandingkan di rumah yang lain, jadi rugi kalau tidak datangkan ke rumah bunda  hahaha. Memang bundaku itu is the best bangetlah menurutku, masak pintar, mencari uang kuat, menyekolahkan anak-anaknya sampai level tertinggi, dan selalu membagi hasil yang diperolehnya dari bekerja keras di sawah. Kata bundaku hasil pekerjaannya dibagi tiga, satu bagian untuk keluarga, satu bagian untuk dirinya sendiri dan satu bagian lagi untuk bersedekah atau berbagi dengan dengan orang lain. Bundaku bukan anak sekolah yang memiliki ilmu yang tinggi, bunda hanya seorang gadis desa yang hanya sempat sekolah sampai kelasa tiga Sekolah Dasar, yang saat itu namanya Sekolah Rakyat yang khusus diperuntukkan bagi masyarakat kelas bawah, itupun tidak sampai naik kelas karena  penjajahan Jepang menghancurkan sekolah tempat bundaku menuntut ilmu. Kalau dilihat dari silsilah pendidikannya tentu bunda hanya menyekolahkan anaknya sampai sekolah tingkat Sekolah Dasar, atau paling tinggi tamat Sekolah Menengah Atas, tapi cita-cita bundaku sangat luar biasa untuk anak-anaknya. Kata bunda tidak enak hidup seperti dirinya, hujan salah kedinginan. panas juga salah, karena itu Anak-anaknya harus menyelesaikan sekolah tertinggi mungkin agar bisa merubah hidup, tapi tetap kata bunda tidak boleh sombong. Kalaupun yang mau meneruskan kerjaan yang ditekuninya harus dengan cara modren. 

        Setelah sepi tamu yang datang, kalaupun datang lagi paling sore atau malam, itupun lebih sering tinggal keluarga dekat, biasanya ponakan bunda atau ayah, bisa juga kakak kandung atau adek kandung ayah atau bunda. Kadang juga aku heran, seharusnya ayah atau bunda yang datangkan menemui mereka, apalagi yang lebih tua dari ayah maupun bunda, tapi belum sempat ayah dan bunda datang karena banyaknya tamu yang datang silih berganti ke rumah, tanpa diminta mereka sudah datang sendiri sebelum ayah maupun bunda datang mengunjungi mereka. Mungkin juga mereka ngerti kali akan tamu yang datang ke rumah sehinngga ayah maupun bunda belum sempat datang berkunjung. Akupuntidak mengerti, ya sudahlah serahkan pada mereka yang saja, enaknya bagaimana yang penting silaturahmi jangan sampai terputus, siapapun yang punya waktu bolehlah mendahului menurut saya tidak usah terlalu kaku. Kaku itu menandakan sombong tidak mampu bergerak secara elastis. Tentu Allah tidak senang dengan orang yang selalu menganggap dirinya lebih paling hebat dari orang lain. aku gerak-gerakkan badanku yang terasa pegal, apalagi kakiku yang sudah mulai menjerit kalau punya mulut, karena dari mulai pagi setelah pulang sholat id tidak henti-henti dengan indahnya berputar-putar bagaikan penari balet yang tidak beraturan bergerak kesana kemari melayani semua tamu ayah dan bunda. Akh aku tepok jidatku karena baru ingat adek laki-lakiku yang ganteng ternyata minta dibuatkan racikan lontong kacang yang aku buat sehari sebelum lebaran. Kalau sajian ini khusus untuk kalangan keluarga saja, karena buatnya tidak banyak, makanya ketika adekku tadi minta aku bisikkan agar sabar sampai tamunya pulang. Adekku mengiyakan dengan senang hati karena di bibirnya tersungging senyuman tanda setujuh  dengan denga. apa yang aku ucapkan padanya. Aku lihat sejenak adek masuk ke kamarnya, mungkin sambil menunggu tamunya selesai sambil iler ditahan menunggu racikan lontong kacang siap disantab. Kalau lapar tidak mungkinlah karena sebelum sholat id tadi kami sudah terlebih dahulu makan masakan bunda yang sangat lezat tiada duanya. Tapi masakan kakaknya yang tidak ada duanya harus di coba juga dong, begitu kata adekku kalau ingin secepatnya aku menyajikan makanan yang merupan salah satu makanan kegemarannya, tentu diriku juga. Sesuai dengan janji, akupun segera menyiapkan lontong sayur untuk adikku, bahkan rencananya akan aku antar langsung ke kamarnya, sebagai ungkapan terimakasih sudah mau sabar menunggu kakaknya selesai membantu bunda melayani semua tamu. Sengaja juga aku siapkan dua piring, satu untuk adekku, yang satu lagi untukku. Akupun ingin juga ikut menikmati lontong kacang buatan tangangku sendiri. Walupun nanti akhirnya  setengah dari lontong di piringku akan berpinda ke piring adekku, aku yakin dia pasti minta nambah, biar cepat isi piringkulah yang pertama diliriknya. Akupun tidak akan marah dengan kelakuan adekku itu, karena adekku sangat manja padaku walaupun dia seorang laki-laki, kalau dalam adat aku seharusnya yang memberi kepada kakak perempuannya. Sekarang biarlah aku yang melakukan itu hingga suatu hari kelak setelah dewasa yang sukses adikku mampu melakukan tanggungkawabnya sebagai anak lelaki yang bertanggungjawab.

          Di kedua tanganku sudah bertengger dua piring lontong sayur. Siap meluncur memberikan kejutan. Dengan pelan aku dorong pintu kamar adikku, karena kauk tahu adekku tidak pernah lagi berani menutup pintunya dari dalam, karena adekku pernah bermimpi katanya sangat seram, sehingga adekku teriak teriak dari dalam yang membuat kami yang sedang asyik bersama mimpi juga terpaksa terbangun kaget melompat semua dari tempat tidur menujuh kamar adekku. Tapi tidak bisa kami langsung mengetahui mengapa adek berteriak, atau menenangkannya karena pintu dikunci dari dalam, sedang adek dalam dalam keadaan histeris sehingga tidak ada pikirannya untuk lamgsung membuka pintu. Terpaksa ayah dengan pelan-pelan dan sabar meminta adek tenang, tarik nafas dan jangan lupa baca surat al-ikhlas, surat yang baru dipelajari adek ketika mulai masuk sekolah di kelas satu Sekolah Dasar. Barulah ayah, bunda,dan aku bisa masuk untuk melihat adek setelah pintu dibuka sendiri sama adek. Ayah memang jempolan juga, bisa mempengaruhi adek yang sedang dalam keadaan kalap karena sangat ketakutan. Begtu pintu terbuka adek langsung berhambur ke pelukan ayah, tangis dan jeritannya sudah tidak terbendung lagi. Cukup lama kami membuat adek agar tenang, mulai dari bunda yang memintaku mengambil air putih untu adek, dengan harapan setelah minum adek bisa tenang, sampai mengajak adek membaca ayat-ayat pendek yang dibimbing ayah. Akhirnya setelah lama membujuk dan mengatakan kalau mimpi adalah bunga tidur, jangan lupa mengambil air uduk sebelum tidur, membaca doa agar mimpinya tidak yang serem-serem. adek hanya mampu menggelengkan kepala tanpa bisa menjawab pertanyaan ayah. Malam itu terpaksa kami tidur di kamar adek beramai-ramai. Adek sang pemilik kamar yang tetap kekeh tidak mau pindah tidur walaupun untuk sementara malam itu, ke kamar bunda bertiga dengan ayah, atau ikut aku berdua tidur ke dalam kamarku. Karena tempat tidur adek yang hanya muat tiga orang, aku, bunda dan adek itupun dengan sangat berdempet-dempetan karena pada dasarnya tempat tidur adek seharusnya hanya bisa diisi dua orang saja. Tapi karena adek terlihat lebih merasa terlindungi dengan keadaan itu akhirnya kami tetap mengalah tidur seranjang bertiga. Sedangkan ayah harus rela menggelar tempat tidur untuk satu orang di bawah tempat tidur adek, sebab adek tidak izinkan ayah keluar meskipun ibu dan aku sudah ada yang siap menemani adek. Sejak saat itu, walaupun sudah lama sekali berlalu bahkan sudah bertahun-tahun, sekarang adekku juga sudah sekolah menengah pertama satu tingkat di bawahku, karena umurku dan adekku hanya beda dua tahun. Tapi bunda memang sudah membiasakan kami dari kecil tidur di kamar sendiri, kalau dulu kakak masih ada kami tidur bersama kakak. Adek tidak pernah lagi mengunci kamar dari dalam, tapi adek minta kalau masu masuk tolong diketuk dulu, dan jangan lupa ucapkan salam ya tekan adekku syarat boleh menginjakkan kaki di kamarnya. Kami semua setujuh, karena yang diminta adek sangat wajar sekali, agar jangan asal masuk kamar orang lain seenak sendiri meskipun itu satu rumah tetap harus mengedapankan saling menghormati dan menghargai privasi masing-masing, begitu juga dengan bunda dan ayah akan mengetuk duluan klau mau masuk ke dalam kamar anak-anaknya.

         Dengan sangat hati-hati karena takut piring yang berisi lontong kacang jatuh dari tangan, aku coba panggil adekku, aku sudah panggil sampai tiga kali belum ada tanda-tanda akan dipersilahkan masuk, karena penaasaran dan sedikut melanggar permintaan adek, kan darurat pikirku kalau nanti adek protes karena aku masuk sebelum diperbolehkan. Aku dorongkan ujung jariku ke daun pintu, seketika kamar adekku terbuka pintunya sangat lebar sehingga aku bisa dengan leluasa melihat keberaan ke dalam kamar adek, apa gerangan yang terjadi sehingga adek tidak mau menjawab panggilan salam yang aku ucapkan, bahkan sampai tiga kali dengan sangat kencang mala yang salam ketga. Eh ternyata kamar kosong melompong, aku hanya menyaksikan kamar yang tempat tidurnya belum dirapikan. Akhirnya aku tinggalkan kamar adek dan mencoba bertanya ke bunda yang sedang duduk menyender di kursi ruang keluarga yang tidak jauh dari kamar adek, mungkin bunda sangat lelah karena dari kemarin sudah mempersiapkan kebutuhan lebaran hari ini. Belum lagi kedatangan tamu yang silih berganti dari pagi, baru agak siang bunda bisa istirahat, itupun kali hanya beberapa jam saja, tapi bunda memilih istirahannya di ruang keluarga saja. Bunda menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu adek kemana ketika aku tanya keberadaannya, dikamarpun tidak kelihatan batang hidungnya kataku sambil sedikit kesal. Tapi tiba-tiba terbit senyum di bibirku, dengan sedikit tergersah aku melangkahkan kakiku ke arah samping rumah kami. Di samping rumah ada sedikit sisa tanah yang sengaja tidak dibangun atau tepatnya tidak diizinkan ayah untuk dibangun, kata ayah biar ada rongga udara, dan bisa juga tempat duduk-duduk bersatai. Benar saja pendapat ayah saat akan membangun rumah kami, aku, adek dan juga keluarga lainnya sering sekali singga di sana. Bunda juga menyulap tempat tersebut menjadi sebuah taman kecil, yang diisi tanaman sayur dan bunga, walaupu lebih banyak sayurnya. Kata bunda bisa untuk memetik sayur saat dibutuhkan untuk makan saat bunda lupa bawah sayur dari sawah. 

         Benar saja perkiraan awal, ternyata adek benar ada di sana. Wajah sedang ditutup pakai kesua tangannya saat aku sampai di sana, kayaknya adek juga sedang tiduran di bale-bale kecil yang sengaja kami bangun berdua, tentu atas persetujuan ayah dan bunda, bahkan ayah sampai turun tangan dalam pembangunannya, ikh kayak bangun gedung aja hahaha. Dengan pelan-pelan aku dekati adek untuk membangunkannya, tapi karena aku membangunkan adek dengan suara kencang, adek sampai kaget karena dia pikir siapa yang datang. Setelah dia sadar akan kehadiranku apalagi dengan membawa pesana yang diminta dan ditunggu dari tadi, senyum senag akhirnya mengalir dari bibirnya. sebelum menyantab lontong kacang pemberianku sejenak ucapan terimakasih mengalir dari bibirnya. Aku tersenyum lalu menganggung tanda ucapan terimkasih diterimah, selanjutnya suaranya tidak terdengar lagi karena sibuk dengan mkanannya atau ada yang dipikirkan, aku juga bingung menjawabnya, tidak biasanya adekku begitu. Makan tetap jalan, bicara tetap lancar, itulah kebiasaan adekku sehari-harinya kalau kami sedang makan bersama, atau berdua kalau bunda dan ayah sedang tidak ada di rumah, ketika kami sudah pulang sekolah. Aku biarkan saja kelakuannya sampai nanti dia bicara sendiri. Kebiasan kami yang lain sering curhat-curhatan kalau ada sesuatu, atau minta pendapat dulu sebelum menyampaikan ke ayah ataupun bunda. Benar saja setelah meminta sebagaian dari lontong kacang dari piringku, adek mulai menyampaikan isi hatinya.

"Kak, ngak enak ya!"

Adek sudah memulai curhatnya, meskipun aku belum mengerti apa yang dia maksud".

"Ngak enak apanya, lontong kacang kakak ngak enak?"

"Akh kakak, ngak ada hubungannya dengan lontong kacang kakak yang enaknya luar biasa itu".

"Terus apa maksud kamu, yang jelas kalau ngomong jangan buat kakak bingunglah dek".

Aku coba memperingatkan agar jangan membuat bingung.

"Itu loh kak, tidak enak karena Ramadhannya sudah berlalu saja, sebulan rasanya sekejap saja tiba-tiba sudah lebaran". 

"Terus di mananya yang kutang enaknya?"

Aku mencoba memancing agar isi hatinya bisa keluar leibi banyak lagi. tapi adek tidak mampu menjawab lebih panjang alasan yang lebih tepan akan mengapa hatinya tidak enak dengan bulan Ramadhan yang sudah berlalu tanpa terasa pergi meninggalkan hambah Allah yang mugkin belum merasa banyak melakukan amalan selama bulan Ramadhan. mungkin jadi adek merasakan seperti itu, aku coba menebak.

"Dek berdoa saja ya sama Allah SWT. agar kita semua, ayah bunda, kamu, dan kakak, pokoknya semua umat islam yang selalu merindukan datangnya bulan yang penuh barokah, selalu diberi kesehtan dan umur yang panjang agar kita masih bisa bertemu dan bersama Ramadhan pada tahun-tahu yang akan datang, dengan meningkatnya amalan yang kita kerjakan nanti di bandingkan bulan Ramdhan tahun ini". 

Sambil aku elus kepalanya dengan kasih sayang seorang kakak. Aku lihat kepalanya menganggung tanda setujuh dengan ucapanku.

"Tapi untuk menghilangkan rasa kita yang sedih itu, ada obatnya loh, bahkan pahalanya sangat besar kalau kita mampu dan mau menjalannya stelah Ramadhan pergi meninggalkan kita".

"Obat?"

Kembali harapan timbul di matanya setelah aku mengungkapkan kalimat barusan.

"Iya obatnya ada".

"akh kakak jangan berteleh-teleh lah langsung aja pada pokok pembicaraan, bikin bingung aja nih kakak". 

Tabiat aslinya sudan mulai pelan-pelan bermunculan, aku hanya bisa tertawa geli dalam hatiku. Agar tidak membuat adekku lebih senewen lagi, akhinya aku mulai menjelelasnya semua hal yang aku maksutkan.

"Dek, bulan Ramadhan bokeh saga pergi dan memang harus pergi karena aturannya bulan Ramdhan hanya ada sebulan dalam sekali tahun. Tapi bukan berarti kita tidak bisa mendapat amalan yang yang setelah selesai bukan penuh baerkah tersebut"

       Akupun mulai menjelaskan hal-hal yang bisa kita lakukan setelah selesai Ramdhan. Bulan Ramadhann yang penuh berkah, bulan yang membuat umat berlombah-lombah melakukan segala kegiatan yang bermanafaat agar mendapat pahala, yang tentu saja dimulai dari berpuasa sehari penuh dari berkumandangnya adzan subuh tanda berhenti melakukan segala aktiftas memasukkan jenis makanan apapun ke dalam mulut, karena makanan yang kita konsumsi selama kita melaksanakan puasa akan haram disantap meskipun makanan tersebut bukan makanan yang haram seperti babi yang diharamkan untuk di makan. Sampai tiba kumandang adzan pada waktu mulai terbenamnya matahari tanda malam akan meninggalkan siang yang berlangsung selama satu bulan penuh, satu bulan bisa tiga puluh hari seperti yang dijalankan tahun ini, bisa juga hanya dua puluh sembilan hari. Selesai melaksanakan ibadah wajib yaitu berpuasa, tentu menginginkan lagi pahala yang lain, pahala lain tersebut, antara lain melaksanakn sholat taraweh empat rakaat dan ditambahkan witir tiga rakaat lagi, ada juga yang menjalankan dua puluh rakaat taraweh kemudian witir tiga rokaat sehingga jumlahnya dua puluh tiga. Di posisi manapun jumlah taraweh tentu semuanya menginginkan amalan yang dikerjakan memperolah pahala dari Allah SWT. Tidak berhenti pada sholat taraweh saja masih ada lagi aktifitas selama ramadhan yang juga mendatangkan pahala yaitu membaca Al-quran, bersedakah, dan yang hukumnya wajib dilakukan seperti kewajiban berpuasa, membayar zakat sesuai dengan takaran yang sudah ditentukan. Sampai tiba hari kemenangan merayakan Idul Fitri, sebagai bentuk rasa syukur setelah satu bulan penuh dengan segala perjuangan menjalankan puasa selama bulan Ramadhan.

     Tentu dalam pikiran akan muncul selesai Ramadhan maka habis juga kegiatan yang akan menutup pahala, samapai bulan Ramadhan datang lagi pada tahun yang akan datang. Ternyata anggapan itu salah, karena setelah puasa Ramadhan berlalu masih bisa melaukan ha-hal yang dapat memberikan berkah dan pahala yang sangat tinggi nilainya. Cukup berat juga, soalnya saat itu dilaksanakan makanan yang enak-enak masih banyak, tapi untuk sementara harus rela ditinggalkan sampai adzan magrib berkumandang. Amalan setelah Ramdhan sering orang menyebutkan puasa syawal, yang dijalankan selama enam hari. Walaupu sifatnya sunnah yang berarti boleh dilakukan dapat pahala, bila puasa tidak dilakukan tidak berdosa dan tidak dapat pahala karena tidak wajib hukumnya. Nabi Muhammad SAW sering sekali melakukan puasa di bulan syawal setelah Beliau menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Hal yang kita dapatkan dari puasa syawal selama 6 hari yang dimulai pada hari kedua 'seperti berpuasa selama satu tahun' jadi nilai puasa kita jadi lebih lengkap. Selain berpuasa syawal masih ada hal lain lagi yang menampah pundi-pundi amalan, berkumpul dengan keluarga, baik yang dekat maupun yang jauh, tetangga jangan sampai dilupakan. bahkan orang di Indonesia punya tradisi pulang kampung yang mungkin tidak dimiliki bangsa lain di seantero bumi ini. Semua itu dilakukan agar bisa berkumpul dengan keluarga di kampung, bersilaturrahmi dengan seluruh anggota keluarga, kawan yang masih tinggal di sana ataupu tetangga.

          Setelah Ramadan berakhir ada satu hal lagi yang sering sekali direncanakan jauh-jauh hari yaitu melangsungkan pernikahan. Perencaan ini mungkin dilakukan agar tidak repot-repot mengumpulkan keluarga karena saat itu sedang libur bersama, kalau dilain waktu akan meninggalkan tugas se hari-hari yang belum tentu dapat izin karena banyaknya hal yang harus dikerjakan di tempat bekerja. Di harapkan juga dengan menikah di bulan Syawal keberkahan yang didapatkan akan berlimpah bagi kehidupan pasangan yang melangsungkan pernikahan. Tokoh yang sangat kita kenal walaupun lewat kisah orangtua ataupun guru kita, yang juga menjadi teladan bagi umat islam dalam menjalankan hidup dan yang akan menyelamatkan kita agar terhindar dari ganasnya sang api neraka, Belai Nabi besat kita Muhamammag SAW. Beliau meminang Siti Aisyah Rodiallahu Anhu terjadi pada saat setelah Ramadhan yaitu dibulan Syawal.

"Demikianlah keutamaan yang dapat kita dapatkan setelah selesai menjalankan puasa Ramadhan dek, yang kemudian kita lengkapi amalannya saat kita berada di bulan Syawal. Semoga bermanfaat untuk kita semua"

Aku akhiri penjelasan panjang lebarku tentang pahala yang masih dapat kita dapatkan meskipun bulan Ramdhan telah berlalu meninggalkan kita.

"Okay kakak sayang yang baik dan pintar atas semua penjelasannya".

Sambil beranjang dengan cepat meninggalkan aku sendirian. Tapi sebelum niat melangkah untuk meninggalkan aku, aku pegang kakinya kuat-kuat sehingga dia tidak bisa melangkah.

"Lepasin Kak!

Pintanya menghiba, tapi aku tidak mau melepaskannya sebelum dia menjawab mengapa aku tiba-tiba harus mau ditinggal sendirian.

"Kakak, aku mau ke bunda"

"Ngapain ke Bunda?"

"Kata Kakak tadi kalau mau dapat pahala setelah Ramadhan pergi harus melakukan tiga hal, aku mau minta tolong sama bunda agar mengizinkan aku melakukan tiga hal itu agar mendapat pahala walaupun sambil menunggu hadirnya bulan Ramadhan tahun depan".

"Haaaa adek mau minta dinikahkan sama Bunda?" Dek masih kecil, nanti istrinya mau dikasih makan apa? Belum lagi kalau lahir anaknya. Memang adek sudah siap?

Kejarku untuk memberkan peringatan kalau umurnya masih belum pantas untuk menikah.

"Kakak!" 

Teriakannya mengagetkanku, sampani aku tutup kupingku sakin besarnya suara yang dikeluarkannya. Sehingga Bunda juga Ayah yang ternyata sudah pulang ke rumah setelah selesai berkunjung ke rumah pejabat kantor kecamatan, berhamburan mendatangi kami ke samping rumah. Tanpa di komando kami berdua langsung menyampaikan hal yang ada dalam pikiran kami masing-masing, aku dengan pemikiranku sendiri kalau adek akan minta izin mau menikah, sedang adek dengan pikirannya sendiri yang bertentangan dengan jalan pikiran aku. Ayah Bunda tentu ketawa terpingkal-pingkal dengan apa yang aku sampaikan, begitu juga yang dipaparkan adek. Setelah ketawa mereka berhenti, meskipun senyum-senyum geli akan tingkah kami berdua masih terlihat jelas di wajah Bunda dan ayah, akhirnya keduanya menasehati kami agar jangan cepat mengambil keputusan sebelum dipikirkan matang-matang.

"Aduh, Kakak kalau mau mengomentari sesuatu bok dipikir dulu, adek juga gitu jangan asal juga. Wajar Kakak berekasi seperti itu, walaupun reaksi yang Kakak sampaikan tetap salah. Jangan gara-gara salah paham jadi menimbulkan permasalahan baru.

Bunda memberikan tanggapannya atas situasi yang sedang terjadi antara aku dan adek. Untuk menghindari hal yang tidak inginkan.

"Tapi anak Ayah memang hebat, sudah bisa menjelaskan pahala lain yang dapat kita peroleh setelah  Ramadhan berlalu meninggalkan kita".

Ayah juga tidak mau ketinggalan menambahkan  pendapatnya. Pada akhirnya permasalahan yang salah paham, dapat terselesaikan dengan cantik, dan memuaskan hati kedua belah pihak. ikh kayak sengketa besar saja pikirku. Adekku akhirnya, walaupu setelah lebaran berlalu satu minggu meminta agar semua ikutan menjalankan sunnah Nabi Muhammad pada zaman kerasulannya, dan  yang dijalankan umat islam sesudah Baliau tidak ada lagi di muka bumi ini. Sampai umat islam di zaman sekarang, meskipun hukumnya tidak wajib alias sunnah, Tapi pahala yang didapat tidak dapat terkira.

Jakarta, 3 Syawal 1440 Hijriah/070619     

Senin, 03 Juni 2019

MENULIS ASYIK UNTUK CURHAT


MENULIS ASYIK UNTUK CURHAT

Oleh @daras09



          Tentu ketukan dua jari ini tidak seindah dan sebagus hasil karya mereka yang sudah melalang buana dengan segala bentuk kisah. Mereka bahkan sudah jadi yang terkenal dan mendapati pundi-pundi dari aktifitas menulis mereka. Tapi aku tetap bangga dan tidak pernah puas memandangi satu persatu hasil goresan tangan ini dengan suka cita. Berbagai ragam gambar untuk menjelaskan gambaran isi cerita, atau hanya sekedar pemanis tulisan agar tidak bosab kalah melihat, kemudian mulai menyusur sedikt demi sedikt kisah atau sekedar memberikan sebuah situsi yang kadang datang menghampiri apalagi bila itu sesuatu yang menyulitkan, semoga tulisan jadi inspirasi bagi yang baca dan bisa mengambil jalan yang terbaik yang akan ditujuh. Kadang juga timbul hati membuat suatu kisah, kadang berhasil kadang tidak.

         Kegiatan menulis sebenarnya suatu situasi yang sangat menyenangkan dan menggembirakan hati, apalagi saat hati sedang tidak bisa diajak kompromi karena kesedihan yang tiba-tiba melanda jiwa, bagai gelombang pasang ingin rasanya terhempas agar rasa yang membara segera lepas, bebas dari rongga dada yang sangat sesak. Ingin curhat tentu saja, karena dengan curhat katanya melepas setengah masalah yang sedang bertengger di hati. Tentu benar sekali tak bisa ditamping, tapi kalau sembarang curhat pada yang tidak tepat resiko kamar hati tidak dijamin selamat, tersebar tanpa permisi jadi bahan konsumsi topik gratis di sana-sini, belum lagi yang disampaikan tidak sesuai kisah awal, ditambah dan dibumbui, digoreng dan dibakar sampai tidak berbentuk. Sangat memilukan hati itu pasti, niat ingin lepas bebas seperti niat awal, malah tambah menggila resa menghampiri.
       
        Menulis suatu kegiatan menuangkan isi hati, pikiran, dan gagasan yang dituangkan dalam bentuk tulisan, yang tujuannya bisa untuk menjelaskan agar terjadi satu keyakinan atas sesuatu hal yang sedang terjadi, baik dengan diri sendiri, atau situasi yang sedang terjadi. Lewat menulis juga kita dapat mempengaruhi agar orang yang membaca tulisan kita dapat melakukan seperti apa yang kita inginkan. Kalau ingin lebih rinci tujuan menulis, mari simak tujuan menulis berikut:
Menulis itu untuk memberitahukan atau menjelaskan sesuatu hal. Menulis untuk meyakinkan agar mengikuti seperti yang diinginkan. Menulis untuk menggambarkan susuatu yang pernah kita saksikan atau tempat sedang atau sudah kita datangani agar pihak lain dapat mengetahui. Menceritakan suatu kejadian kepada pembaca atau disebut juga karangan narasi.

          Dari uraian di atas jelas sekali semua tujuan menulis untuk menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Kalau kita sandingkan dengan tindakan yang kita lakukan ketika melakukan curhat kepada oarang lain atau teman, bukannya sama saja untuk menyampaikan sesuatu hal. Perbedaannya hanya pada bentuknya saja. Curhat langsung dilakukan secara lisan dan menulis dilakukan secara tertulis. Curhat lebih banyak mendatangkan mudhorot atau ketidak baikan, baik bagi yang curhat langsung dan bagi yang dicurhati kalau tidak dapat dipercaya, yang bisa saja akan menimbulkan pertengkaran karena yang curhat tidak bisa amanah dengan janji yang sudak diminta agar tidak menyampaikan pada yang lain. Jadi untuk lebih aman walaupun seratus persen tidak dapat dijamin, tentu curhat lewat tulisan lebih asyik dan terjamin lebih aman. Menangis dan tertawa lebay ketika terjadi  curhat tentu tidak akan ada yang tahu, waktu yang yang dibutuhkan tidak terbatas, kapanpun dan dimanapun terserah tidak akan ada yang melarang, tidak akan ada berita yang disampaikan yang tidak sesuai dengan curhatan. Menulis sangat tepat dan tempat asyik untuk curhat sepuas yang diinginkan. Karena itu mari menulis untuk mencurhatkan apa yang sedang dirasakan, tanpa perlu takut dan cemas kalau curhatan disalah gunakan mereka yang tidak bertanggungjawab. Menulis juga bila ditekuni, dapat menjadi pundi-pundi penambah uang jajan, bahkan bisa jadi ladang pekerjaan.

Jakarta, 130619

KISAH ITU AKHIRNYA TERJAWAB

Oleh @daras09

        


          Setiap kali ada satu acara spesial tentu tidak dapat ditampik lagi kalau ingin tampil sempurna saat itu. Di samping agar beda dengan yang hadir atau paling sedikit samalah tidak malu-maluin jadi bahan bualn-bulan gosip yang hadir pada acara tersebut. Karena tidak semuanya hati manusia bisa kita pegang untuk tidak mengumbar yang tidak elok dipandang mata. Begitu jugalah semua keluarga besar tempat Arini mengajar. Guru dan karyawan mempercantik diri hari itu, tidak ketinggalan murid-muridnya juga tampil lain dari pada yang lain dari hari-hari biasa hingga kadang kita agak paling sedikit karena penampilan hari itu. Hanya agak kesal sedikit, karena setelah selesai acara kalau yang laki-laki tentu sangat fleksibel karena tidak dibutuhkan berpenampilan seperti perempuan, hehehe ya iyalah, kan laki-laki masah sih harus pakai bedak dan lain segalanya seperti perempuan, bisa-bisa nanti jadi lain pula kan ceritanya mmm. Kalau yang laki-laki sampai rumah sampai rumah tinggal buka karena hanya mengenakan baju yang sangat simpel dan muda untk dilepas, sedangkan perempuan sedikit butuh ekstra membongkar seluruh asesoris yang ada di bandan, khususnya bagian kepala yang dikenakan jilbab tadinya dengan tusukan peniti di mana-mana, kalaulah bisa tu kepala bicara mungkin kepala akan protes mengapa ditusuk sedemikian banyaknya. Tapi demi semua serasi dan seimbang direla-relain saja. Belum lagi bagian wajah khu, semakin berkerut dan bibir maju beberapa senti ke depan. Tapi tentu bagi mereka yang tidak tahu caranya, kalau yang sudah tahu harus bagaimana menghilangkan khususnya yang berada dia bagian wajah tidak menjadi suatu hal yang susah. 

          Ketika Arini pulang ke rumah setelah selesai tentunya acara tasyakuran dan pelepasan siswa kelas IX tahun ini. Arini segera kembali ke rumahnya karena sudah sangat ingin cepat-cepat membuka semua asesoris dan balutan dempul yang sudah bertengger di wajahnya sejak pagi hari. Sesampainya di rumah Arini melepas pelan penutup kepalanya yang dililit peniti-peniti kecil, walaupun sedikit memakan waktu harus lebih didahulukan, karena tidak mungkinkan masuk kamar mandi kepala masih berkerudung, apalagi di rumah bukan di ruang publik, stelah semua peniti yang menempel bisa dilepaskan dengan perasaan lega karena kepala rasanya ringat setelah merasa membawa beban yang berkilo-kilo rasanya, tapi demi semua dan hanya sekali setahun ini ya direlain saja. Arini kemudian melanjutkan membersihkan semua polesan yang disematkan perias yang didatangkan ke sekolah. Setelah merasa  semua kembali kepada semula Arini segera keluar kamar mandi, saat hendak keluar pintu kamar mandi ternya sang suami tercinta sudah kembali dari bekerja. Mengetahui kedatangan suami seperti biasa Arini langsung mengulurkan tangannya kepada suami sebagai bentuk penghormatan dan kasih sayang pada suaminya. Tapi bukanya disambut uluran tangannya, sang suami mala seperti orang terpaku memandang sambil mengerutkan dahi. Karena bingung mengapa suaminya tidak menyambut uluran tangannya, Arini menegur suami mengapa tidak langsung menjambut uluran tanggannya, untuk menyampaikan rasa heran yang tiba-tiba melanda hatinya akan kelakuan sang suami yang tidak biasa. Arini tambah lagi bingungnya karena sekarang suaminaya tertawa begitu kencangnya. Karena kesal dan tambah bingung juga Arini bergegas ingin meninggalkan suaminya untuk masuk ke dalam kamar hendak mengganti bajunya dengan yang bersih. Belum juga kakinya melangkah san suami sudah meraih salah satu tangnnya, hampir saja Arini jatuh terjungkal kalau tidak cepat ditahan sang suami. Kalimat protes yang datang dari bibirnya tidak dihiraukan suami, tangan Arini tetap dipegang kemudian diajak melangkah mendekati kaca yang tidak jauh dari mereka, yang sengaja diletakkan di luar kamar untuk penghuni atau tamu yang ingin berkaca. Dibuat cukup besar sampai seluruh badan bisa terlihat. Bahkan Arini lebih sering mematut dirinya pada kaca di luar kamarnya agar bisa melihat semua badannya, jadi tahu mana yang kurang sebelum berangkat mengajar. Bagi Arini guru itu harus rapi ketika berdiri di depan kelas agar anak didik lebih bersemangat untuk belajar. Guru harus bisa jadi contoh sebuah kerapihan, jangan meminta anak didiknya rapi sementara gurunya compak-camping tidak jelas.

          Arini berteriak histeris ketika menyadari bentuk wajanya yang belepotan bekas bedak saat bardandan tadi selesai menghadiri acara tasyakuran dan pelepasan sekolahnya. Kalau tidak cepat-cepat mulut Arini dibekap sang suami, bisa-bisa para tetangga hadir mendengar teriakannya. Arini segera sadar perbutannya berteriak begitu kencang tidaklah benar, seharusnya beristighfar yang harus keluar karena kekagetan yang ditampilkan wajahnya yang jadi sangat mengerikan hahahaha. Arini segera berlari kembali ke arah kamar mandi untuk mencuci wajahnya agar cemong di wajahnya karena polesan bedak dan semua jenis rias apalagi lipstik yang paling sangat parah, sehingga wajahnya merah semua. Bersusah paya Arini mencoba menghalau semua riasannya dengan mengulaskan sabun merkali-kali akhirnya berhasil. Tapi tetap Arini tidak puas kerena menurut Arini biarpun hilang sangat tidak efesien karena sangat memakan waktu lama. Arini ingin suatu produk yang bisa menghalau itu bedak berikut kroni-kroninya dengan cepat tanpa harus mengulas sabun berkali-kali ke wajah, belum lagi menggosok-gosok karena lipstik si warna merah menyala berpindah dari bibir bertransmigrasi ke wajah Arini, itu yang membuat wajah Arini jadi menakutkan. Disamping itu kasihan dengan wajah bisa terluka karena terlalu diusap-usap dengan kencang, karena wajah salah satu bagian kulit yang sangat sensitif meskipun hanya untuk orang tertentu saja, Alhamdulilah Arini tidak mengalami hal apapun selama proses wajahnya diulaskan sabun berkali-kali, yang penting jangan pakai rinso pula, mentang-mentang iklan rinso bisa menghilangkan noda lantas mengambil rinso biar noda di wajah segera hilang hahaha.

          Hari Sabtu sang suami sudah mulai libur walaupun cuti sebenarnya mulai tanggal tiga Juni. Berhubung suami pengen beli sandal maklumlah kan mau lebaran, pagi itu mereka sekeluarga berangkat mengunjungi salah satu Mall yang tidak begitu jauh dari rumah mereka. Memilih Mall yang akan didatang dengan pertimbangan tidak terlalu jauh, barang-barang yang dijual selain bagus masih bisa terjangkaulah, untung-untung ada diskon harganya jadi miring, uangnya bisa dipakai untuk membeli yang lain, atau ditabung kata Arini pada suaminya ketika mengusulkan tempat yang akan didatangi. Pukul sembilan pagi mereka sudah menyusuri jalan yang masih lengang, mungkin karena masih pagi atau mungkin sudah pulang kampung. Tidak sampai satu jam akhirnya mereka sampai di tempat yang ditujuh. Setelah memarkir kendaraan mereka di tempat yang muda dijangkau kalau terjadi ledakan pengunjung karena minggu terakhir sebelum menujuh lebaran bisa saja penduduk asli Jakarta atau mereka yang tidak pulang kampung seperti keluarga Arini tahun ini memutuskan tidak pulang karena libur tidak lama dan ulangan akhir semester juga berlangsung setelah lebaran, masuk sehari tanggal tiga belas, besoknya tanggal empat belas langsung tempur, belum lagi Arini yang harus mempersiapkan rapot kelas sembilan yang akan dibagikan pada tanggal empat belas itu meskipun siang hari setelah ujian berlangsung. Mungkin kalau Senin dan selasa harus di rumah untuk bersih-bersih atau mempersiapkan yang akan dimasak nanti sehari sebelum lebaran. Jalan-jalan Jakarta memang sepi, karena setengah penduduk atau mungkin lebih sudah berada di kampung masing-masing. Tapi jangan tanya pasar tradisional tetap saja ramai merayap untuk membeli persiapan lebaran. Arini sudah mengantisipasi itu semua dengan berbelanja semua kebutuhan lebih awal. 

          Setelah kendaraan terparkir dan memeriksa hal-hal yang tidak diinging terhadap kendaraan apalagi ini menjelang lebaran kesempatan dalam kesempitan juga banyak jadi perlu kehatian-hatian, tapi bukan berarti di hari-hari lain tidak hati-hati loh. Tetap hati-hati tapi menjelang hari besar seperti ini harus berhati-hati lebih ekstra lagi. Kemudian mereka melangkah memasuki pintu masuk Mall setelah melewati pemeriksaan terhadap barang bawaan, tak terkecuali apapun yang penting bawaan, tapi disaat masuk saja tentunya. Mereka langsung memasuki satu nama tempat berbelanja yang sudah sangat terkenal, seperti Mall di dalam Mall jadinya, semua perlengkapan mulai dari pakaian, sepatu, tas,alat kosmetik dan mainan anak bisa kita jumpai. Ketika sedang mencari-cari yang akan dibeli suaminya, mata Arini tertujuh pada satu konter, apalagi kalau bukan konter alat-alat kecantikan perempuan, ditambah lagi SPGnya begitu rama memanggil akhirnya Arini menunju ke sana setelah mendapat restu dari sang suami. Arini masih penasaran akan wajahnya yang belepotan karena pemakaian alat kosmetik khususnya lipstik yang digunakan perias, tahan sih tahan tapi begitu susahnya untuk dihapus sampai wajahnya merah semua yang menyebabkan suaminya tertawa seakan meledek dirinya, memakai bisa saat menghapus tidak bisa. Oh ala pikir Arini semuda itukah alat dan cara menghapusnya? Ikh gemes deh pikir Arini, hanya dengan baby oil dituangkan ke kapas atau ketisu kemudian usapkan ke bibir seketika segala hal yang menempel pada bibir bin salah bin abra kadabra seketika leyap tak berbekas. Pada dasarnya lipstik akan segera hilang kalau bertemu dengan minyak, makanya kalau ingin lipstiknya utuh alias tidak muda luntur ketika berada di salah satu acara, hindari menikmati makanan berminyak, kalaupun tetap dimakan upayakan jangan kontak langsung dengan bibir. Kalau bedak bersihkan saja dengan pembersih wajah seperti biasa jangan dicuci dulu dengan sabun. kalaupun akan disambun saat mandi upayakan terlebih dahulu dibersihkan. Sang SPG menerangkan begitu detailnya sampai Arini paham dengan menganggungkan kepala. Sebagai ucapan terimakasih karena sudah didandani atau tepatnya kursus sederhana berdandan untuk sehari-hari, Arini minta izin pada suami untuk membeli beberapa alat riasnya yang kebetulan juga sudah habis. Sebenarnya bisa saja langsung Arini membeli sendiri, karena suaminya tidak pernah mengutik-utik dan bertanya tentang penghasilan yang didapat sang istri dari pekerjaannya sebagai guru. Tapi sebagai istri yang baik dan soleha Arini tetap saja minta izin sang suami untuk membeli kalau Arini butuh hal yang ingin dibeli. Arini sangat puas dengan perjalanannya bersama suaminya hari itu, ketika di dalam mobil saat pulang Arini bercerita ilmu yang di dapatnya hari itu, tidak akan terjadi lagi suami tertawa melihat wajahnya tak jelas kalau harus didandani suatu hari kelak. Indahnya berbagi ilmu.


Jakarta, 29 Ramadhan 1440 Hijriah/ 030619 Masehi

#Day(29)
#OneDay OnePost30HRDC
#WraitingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah 

Minggu, 02 Juni 2019

KISAH ITU AKHIRNYA TERJAWAB

KISAH ITU AKHIRNYA TERJAWAB

Oleh @daras09


          Setiap kali ada satu acara spesial tentu tidak dapat ditampik lagi kalau ingin tampil sempurna saat itu. Di samping agar beda dengan yang hadir atau paling sedikit samalah tidak malu-maluin jadi bahan bulan-bulan gosip yang hadir pada acara tersebut. Karena tidak semuanya hati manusia bisa kita pegang untuk tidak mengumbar yang tidak elok dipandang mata. Begitu jugalah semua keluarga besar tempat Arini mengajar. Guru dan karyawan mempercantik diri hari itu, tidak ketinggalan murid-muridnya juga tampil lain dari pada yang lain dari hari-hari biasa hingga kadang kita agak paling sedikit karena penampilan hari itu. Hanya agak kesal sedikit, karena setelah selesai acara kalau yang laki-laki tentu sangat fleksibel karena tidak dibutuhkan berpenampilan seperti perempuan, hehehe ya iyalah, kan laki-laki masah sih harus pakai bedak dan lain segalanya seperti perempuan, bisa-bisa nanti jadi lain pula kan ceritanya mmm. Kalau yang laki-laki  sampai rumah tinggal buka karena hanya mengenakan baju yang sangat simpel dan muda untuk dilepas, sedangkan perempuan sedikit butuh ekstra membongkar seluruh asesoris yang ada di bandan, khususnya bagian kepala yang dikenakan jilbab dengan tusukan peniti di mana-mana, kalaulah bisa itu kepala bicara mungkin kepala akan protes mengapa ditusuk sedemikian banyaknya. Tapi demi semua serasi dan seimbang direla-relain saja. Belum lagi bagian wajah khu, semakin berkerut dan bibir maju beberapa senti ke depan. Tapi tentu bagi mereka yang tidak tahu caranya, kalau yang sudah tahu harus bagaimana menghilangkan khususnya yang berada dia bagian wajah tidak menjadi suatu hal yang susah. 

          Ketika Arini pulang ke rumah setelah selesai menghadiri acara tasyakuran dan pelepasan siswa kelas IX tahun ini. Arini segera kembali ke rumah karena sudah sangat ingin cepat-cepat membuka semua asesoris dan balutan dempul yang sudah bertengger di wajahnya sejak pagi hari . Sesampainya di rumah Arini melepas pelan penutup kepalanya yang dililit peniti-peniti kecil, walaupun sedikit memakan waktu harus lebih didahulukan, karena tidak mungkinkan masuk kamar mandi kepala masih berkerudung, apalagi di rumah bukan di ruang publik, setelah semua peniti yang menempel bisa dilepaskan dengan perasaan lega karena kepala rasanya ringat setelah merasa membawa beban yang berkilo-kilo rasanya, tapi demi semua dan hanya sekali setahun ini ya direlain saja. Arini kemudian melanjutkan membersihkan semua polesan yang disematkan perias yang didatangkan ke sekolah. Setelah merasa  semua kembali kepada semula Arini segera keluar kamar mandi, saat hendak keluar pintu kamar mandi ternyata sang suami tercinta sudah kembali dari bekerja. Mengetahui kedatangan suami seperti biasa Arini langsung mengulurkan tangannya kepada suami sebagai bentuk penghormatan dan kasih sayang pada suaminya. Tapi bukanya disambut uluran tangannya, sang suami mala seperti orang terpaku memandang sambil mengerutkan dahi. Karena bingung mengapa suaminya tidak menyambut uluran tangannya, Arini menegur suami mengapa tidak langsung menjambut uluran tanggannya, untuk menyampaikan rasa heran yang tiba-tiba melanda hatinya akan kelakuan sang suami yang tidak biasa. Arini tambah lagi bingungnya karena sekarang suaminaya tertawa begitu kencangnya. Karena kesal dan tambah bingung juga Arini bergegas ingin meninggalkan suaminya untuk masuk ke dalam kamar hendak mengganti bajunya dengan yang bersih. Belum juga kakinya melangkah sang suami sudah meraih salah satu tangannya, hampir saja Arini jatuh terjungkal kalau tidak cepat ditahan sang suami. Kalimat protes yang datang dari bibirnya tidak dihiraukan suami, tangan Arini tetap dipegang kemudian diajak melangkah mendekati kaca yang tidak jauh dari mereka, yang sengaja diletakkan di luar kamar untuk penghuni atau tamu yang ingin berkaca. Dibuat cukup besar sampai seluruh badan bisa terlihat. Bahkan Arini lebih sering mematut dirinya pada kaca di luar kamarnya agar bisa melihat semua badannya, jadi tahu mana yang kurang sebelum berangkat mengajar atau mau pergi ke suatu tempat yang akan didatangi Arini, baik sendiri ataupun bersama keluarga. Bagi Arini dengan berpenampilan yang pantas sama saja kita menghargai diri sendiri, apalagi bagi seorang guru harus rapi ketika berdiri di depan kelas agar anak didik lebih bersemangat untuk belajar. Guru harus bisa jadi contoh sebuah kerapihan, jangan meminta anak didiknya rapi sementara gurunya compak-camping tidak jelas.

          Arini berteriak histeris ketika menyadari bentuk wajanya yang belepotan bekas bedak saat bardandan tadi selesai menghadiri acara tasyakuran dan pelepasan sekolahnya. Kalau tidak cepat-cepat mulut Arini dibekap sang suami, bisa-bisa para tetangga hadir mendengar teriakannya. Arini segera sadar perbutannya berteriak begitu kencang tidaklah benar, seharusnya beristighfar yang harus keluar karena kekagetan yang ditampilkan wajahnya yang jadi sangat mengerikan hahahaha. Arini segera berlari kembali ke arah kamar mandi untuk mencuci wajahnya agar cemong di wajahnya karena polesan bedak dan semua jenis rias apalagi lipstik yang paling sangat parah, sehingga wajahnya merah semua. Bersusahpaya Arini mencoba menghalau semua riasannya dengan mengulaskan sabun berkali-kali akhirnya berhasil. Tapi tetap Arini tidak puas kerena menurut Arini biarpun hilang sangat tidak efesien karena sangat memakan waktu lama. Arini ingin suatu produk yang bisa menghalau itu bedak berikut kroni-kroninya dengan cepat tanpa harus mengulas sabun berkali-kali ke wajah, belum lagi menggosok-gosok karena lipstik si warna merah menyala berpindah dari bibir bertransmigrasi ke wajah Arini, itu yang membuat wajah Arini jadi menakutkan. Disamping itu kasihan dengan wajah bisa terluka karena terlalu diusap-usap dengan kencang, karena wajah salah satu bagian kulit yang sangat sensitif meskipun hanya untuk orang tertentu saja, Alhamdulilah Arini tidak mengalami hal apapun selama proses wajahnya diulaskan sabun berkali-kali, yang penting jangan pakai rinso pula, mentang-mentang iklan rinso bisa menghilangkan noda lantas mengambil rinso biar noda di wajah segera hilang hahaha.

          Hari Sabtu sang suami sudah mulai libur walaupun cuti sebenarnya mulai tanggal tiga Juni. Berhubung suami pengen beli sandal maklumlah kan mau lebaran, pagi itu mereka sekeluarga berangkat mengunjungi salah satu Mall yang tidak begitu jauh dari rumah mereka. Memilih Mall yang akan didatangi dengan pertimbangan tidak terlalu jauh, barang-barang yang dijual selain bagus masih bisa terjangkaulah, untung-untung ada diskon harganya jadi miring, uangnya bisa dipakai untuk membeli yang lain, atau ditabung kata Arini pada suaminya ketika mengusulkan tempat yang akan didatangi. Pukul sembilan pagi mereka sudah menyusuri jalan yang masih lengang, mungkin karena masih pagi atau mungkin sudah pulang kampung. Tidak sampai satu jam akhirnya mereka sampai di tempat yang ditujuh. Setelah memarkir kendaraan mereka di tempat yang muda dijangkau kalau terjadi ledakan pengunjung karena minggu terakhir sebelum menujuh lebaran bisa saja penduduk asli Jakarta atau mereka yang tidak pulang kampung seperti keluarga Arini tahun ini memutuskan tidak pulang karena libur tidak lama dan ulangan akhir semester juga berlangsung setelah lebaran, masuk sehari tanggal tiga belas, besoknya tanggal empat belas langsung tempur, belum lagi Arini yang harus mempersiapkan rapot kelas sembilan yang akan dibagikan pada tanggal empat belas, meskipun siang hari setelah ujian berlangsung tetap harus sudah selesai. Mungkin kalau Senin dan selasa harus di rumah untuk bersih-bersih atau mempersiapkan yang akan dimasak nanti sehari sebelum lebaran. Jalan-jalan Jakarta memang sepi, karena setengah penduduk atau mungkin lebih sudah berada di kampung masing-masing. Tapi jangan tanya pasar tradisional tetap saja ramai merayap untuk membeli persiapan lebaran. Arini sudah mengantisipasi itu semua dengan berbelanja semua kebutuhan lebih awal. 

          Setelah kendaraan terparkir dan memeriksa hal-hal yang tidak diinging terhadap kendaraan apalagi ini menjelang lebaran kesempatan dalam kesempitan juga banyak jadi perlu kehatian-hatian, tapi bukan berarti di hari-hari lain tidak hati-hati loh. Tetap hati-hati tapi menjelang hari besar seperti ini harus berhati-hati lebih ekstra lagi. Kemudian mereka melangkah memasuki pintu masuk Mall setelah melewati pemeriksaan terhadap barang bawaan, tak terkecuali apapun yang penting bawaan, tapi disaat masuk saja tentunya. Mereka langsung memasuki satu nama tempat berbelanja yang sudah sangat terkenal, seperti Mall di dalam Mall jadinya, semua perlengkapan mulai dari pakaian, sepatu, tas,alat kosmetik dan mainan anak bisa kita jumpai. Ketika sedang mencari-cari yang akan dibeli suaminya, mata Arini tertujuh pada satu konter, apalagi kalau bukan konter alat-alat kecantikan perempuan, ditambah lagi SPGnya begitu rama memanggil akhirnya Arini menunju ke sana setelah mendapat restu dari sang suami. Arini masih penasaran akan wajahnya yang belepotan karena pemakaian alat kosmetik khususnya lipstik yang digunakan perias, tahan sih tahan tapi begitu susahnya untuk dihapus sampai wajahnya merah semua yang menyebabkan suaminya tertawa seakan meledek dirinya, memakai bisa saat menghapus tidak bisa. Oh ala pikir Arini semuda itukah alat dan cara menghapusnya? Ikh gemes deh pikir Arini, hanya dengan baby oil dituangkan ke kapas atau ketisu kemudian usapkan ke bibir seketika segala hal yang menempel pada bibir bin salah bin abra kadabra seketika leyap tak berbekas. Pada dasarnya lipstik akan segera hilang kalau bertemu dengan minyak, makanya kalau ingin lipstiknya utuh alias tidak muda luntur ketika berada di salah satu acara, hindari menikmati makanan berminyak, kalaupun tetap dimakan upayakan jangan kontak langsung dengan bibir. Kalau bedak bersihkan saja dengan pembersih wajah seperti biasa jangan dicuci dulu dengan sabun. kalaupun akan disambun saat mandi upayakan terlebih dahulu dibersihkan. Sang SPG menerangkan begitu detailnya sampai Arini paham dengan menganggungkan kepala. Sebagai ucapan terimakasih karena sudah didandani atau tepatnya kursus sederhana berdandan untuk sehari-hari, Arini minta izin pada suami untuk membeli beberapa alat riasnya yang kebetulan juga sudah habis. Sebenarnya bisa saja langsung Arini membeli sendiri, karena suaminya tidak pernah mengutik-utik dan bertanya tentang penghasilan yang didapat sang istri dari pekerjaannya sebagai guru. Tapi sebagai istri yang baik dan soleha Arini tetap saja minta izin sang suami untuk membeli kalau Arini butuh hal yang ingin dibeli. Arini sangat puas dengan perjalanannya bersama suaminya hari itu, ketika di dalam mobil saat pulang Arini bercerita ilmu yang di dapatnya hari itu, tidak akan terjadi lagi suami tertawa melihat wajahnya tak jelas kalau harus didandani suatu hari kelak. Indahnya berbagi ilmu.


Jakarta, 29 Ramadhan 1440 Hijriah/ 030619 Masehi

#Day(29)
#OneDay OnePost30HRDC
#WraitingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah 

SEMENTARA CERITA BERAKHIR DI SINI


SEMENTARA CERITA BERAKHIR DI SINI

Oleh @daras09




          Seperti kata bijak yang sering diungkapkan 'Bila ada pertemuan tentu akan ada perpisahan, bila ada siang tentu akan berganti dengan datangnya malam'. Begitu jugalah silaturahmi yang terjalin dari kisah-kisah kecil yang ditulis lalu kemudian di post setiap hari. Butuh tenaga, pemikiran dan kelonggaran waktu, apalagi bagi mereka yang masih bekerja di luar rumah, sampai di rumah masih disuguhi tugas-tugas lainnya yang sudah menanti untuk dibelai. Apalagi bulan suci yang begitu spesial ini, menambah ibadah lain tentu sangat diinginkan sekali, karena waktu-waktu seperti ini hanya datang sekali, tentu ingin melakukan hal yang istimewa agar tidak pergi begitu saja dengan sia-sia. Memang kita manusia biasa yang pasti tidak bisa meraup semua walau ingin, tapi tetap melakukan yang terbaik semampu yang bisa dilakukan dan usahakan tentu lebih baik dari pada tidak sama sekali.

         Besok diujung hari berakhirnya bulan ramadhan, berakhir pula segala cerita tentang tantangan menulis ini, lengkap tiga puluh hari tulisan bagi yang konsisten. Ada yang lancar setiap hari ada juga yang kadang sampai kosong dua sampai tiga hari, bahkan ada yang sampi sepuluh hari, tapi memang niat ingin belajar dan juga bentung tanggungjawab karena sudah ikut mendaftar sebagai kata lain pengikat diri kalau sudah siap meskipun tidak secara tertulis dan tidak dengan sanksi. tapi tetap melakukan sampai bisa mencapai sesuai janji hati. Awalnya sedikit ragu, tapi yakinkan hati kalau ini bulan suci berdoa pada Ilahi insya Allah yang penting yakinkan hati. Bagai sumur kadang airnya berlimpah sampai puas mengambil sesuai yang diminta tanpa henti, tapi kadang sumurpun akan kering bahkan setetespun tak dijumpai, gersang bagai musim kemarau panjang. Butuh berdiam diri sejenak, sampai bingung juga datang menyapa. Ternyata hanya sementara karena berikutnya sumurpun mulai menitiskan airnya dari lubang-lubung tanah dari disegala arah.

          Begitulah kalau percaya dan Allah berkehendang tidak ada yang mustahil baginya, tetap beruasaha jangan menyerah, iringi dengan doa pasti akan bisa. Mentari akan tetap terbit di ufuk timur dan tenggelam ke ufuk barat, berganti dengan indahnya cahaya rembulan pada malam kelam. Kelam bukan berarti mematikan harapan, Karena esok hari akan segera terbit lagi sang fajar pagi pembawa harapan bagi umatnya yang percaya ketentuanNya yang Maha penolong bagi hambaNya. Tetaplah berjuang walaupun besok kita sudah akan berakhir dengan tulisan kita setiap hari di bulan penuh berkah ini, mari berdoa agar kita bersua kembali dengan Ramadhan yang lebih spesial lagi, amalan ibadah tambah lebih tinggi, semoga Allah meridhoi kita bisa bersama Ramdhan lagi. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1440 Hijriah Minal Aidin Wal Faizin Mohon Maaf Lahir dan Batin. Semoga pertemuan ini tetap berlanjut walaupun hanya dapat berkisah di dunia maya, Insyah Allah siapa tahu bisa jumpa sampai darat. Sementara Cerita berakhir di sini.
 
Jakarta, 29 Ramadhan 1440 Hijriah/ 030619 Masehi

#Day(30)
#OneDay OnePost30HRDC
#WraitingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah 

MEREKA YANG PERLU DIKASIHANI

MEREKA YANG PERLU DIKASIHANI

Oleh @daras09


          Membaca satu tulisan pagi tadi membuat hati sangat miris dan sedih rasanya, kemudian menarik ke diri sendiri bagaimana rasanya kalau sanpai hal itu terjadi pada diri sendiri, tentulah rasa sangat malang, mentang-mentang lou lebih kaya dari gue dengan seenak hati tanpa berpikir kalau yang ada saat itu di sana seba
giannya kehidupannya mungkin tidak seenak yang lou alami, atau mentang-mentang lou yang duluan lahir ke muka bumi ini kemudia lebih dulu berhasil kemudian menikah, dan anak lou lahir duluan, besar duluan dan dengan fasiltas yang lou punya bisa menggaraf masa depan mereka dengan sempurna hingga sampai pada titik seperti yang lou harapkan. Tapi sadar tidak bawah hidup ini ada yang mengemudikan, yang mengatur segala regulasi tentang diri kita semua. Mungkin maksud lou tidak bermaksud ingin dengan sengaja menyampaikan itu semua, mungkin jadi hanya sekedar menyampaikan rasa gembira, pembelajaran bagi yang lain agar bisa meniru cara lou kalau ingin berhasil, baik sih maksudnya, jadi tidak secara tidak langsung sebenarnya sedang membagi pelajaran cara hidup kalau ingin sukses dalam keluarga dan dalam mendidik anak kalau ingin sukses dalam pendidikan dan karir ke depan. Tapi sayang niat baik tidak disertai dengan cara penyampaian yang baik, akan berakhir dengan sia-sia. Bermaksud ingin berbagi tapi cara menyampaikan kesannya sombong, menggurui, dan tidak paham yang nama perasaan sekitar yang mungkin jadi menilai tidak seperti yang diinginkan awal, akan terjadilah pikiran negatif terhadap penyampai informasi yang seharusnya baik dan sebagai pelajaran kalau ingin sukses seperti yang terjadi pada diri sendiri dan keluarga. Apalagi yang disampaikan berulang-ulang setiap terjadi pertemuan serupa, sekan-akan tidak ada lagi topik bahasan selain itu, tentu saja yang mendengarkan akan tidak suka dan merasa bosan. 

          Kalau yang lain menyingkir dari arena pertemuan tahunan yang seharusnya diisi dengan cengkerama menuangkan segala kerinduan karena sudah lama tidak bertemu karena kesibukan masing-masing dengan pekerjaan dan keluarga sendiri, apalagi tempat tinggal tidak berdekatan, perlu waktu beberapa jam untuk mendatangi. Tentu sangat disayangkan, karena lama-lama tali silaturahmi bisa pelan-pelan terkoyak, awalnya kecil, tipis tidak terlihat dan tidak mengganggu lama-lama robek benaran. Di samping kehilanga sanak keluarga tentu terputusnya tali silaturahmi atau sengaja diputuskan akibat kesombongan, akan berapa besar dosa yang kan kita terima dan pertanggungjawabkan kelak di hadapan Sang Khalik ketika saatnya tiba harus kembali kepadaNya, sementara kita belum sempat minta maaf, yang melakukan kesalahan pun  tidak pernah sadar kalau selama ini sudah tanpa sadar kalau telah menyakiti hati keluarga sendiri. Bagaimana pula dia sadar karena mungkin sudah tabiatnya sejak mengijankkan kaki di bumi ini. Kita tentu menginginkan keluarga yang kompak, selau saling mendukung dan tidak pernah membeda-bedakan perlakuan terhadap yang mampu dan tidak ampu. dalam hal ini sebagai hamba Allah yang diberikan kelebihan
dalam ilmu agama bahwa orang sombong dan suka ria sangat dibenci dan ditentang oleh Allah SWT.
Seharusnya kita mengasihi mereka-mereka yang suka pamer seperti ini. Mungkin jadi salah satu dari pasangan tersebut pernah mengalami suatu peristiwa dalam hidupnya yang tidak kita ketahui sangat menyedihkan dan menyakitkan keluarga. Pada akhirnya perjuangan yang dilakuakan dengan segala kesakitan selama ini bisa berhasil mengangkat derajat dan pada akahirnya juga membuat diri sombong, membalas memperlakuakan hal yang sama dengan mereka walau tidak tetap sasaran karena yang merasa memperlakukan dengan hina adalah keluarga sendiri.

          Keluarga yang sering kita temui dengan kalakuan seperti itu sudah selayaknya kita kasihani, karena ternyata kehidupan masa lalunya sangat menyedihkan, sehingga membuat dirinya melakukan hal yang sama dengan keluarg sendiri. Jadilah sementara pendengar yang yang baik bagi mereka, dan tanggapilah dengan Aamiin, pelan-pelan kalau ada celah coba dimasukkan kata-kata yang sejuk menggugah hati mereka. Kalau tetap tidak bisa marih kita doakan mereka agar segera bertaubat kembali menjalankan semua perintah. Semoga menjadi pencerahan bagi kita semua, karena dimanapun kita sedang berada, bukan hanya dilingkungan keluarga, tapi dilingkungan tempat kita mencari rezeki tetap akan menemukan mereka yang seperti itu, juga dalam lingkungan sekitar rumah kita, tapi mungkin tidak begitu berpengaruh karena bukan keluarga, hanya teman kerja dan tetangga. Mohon maaf bukan bermaksud menggurui. Untuk yang sempat bahas tentang ini maafkan tidak bermaksud yang lain, karena kisah yang disajikan menggelitik hati karena punya teman yang suka pamer seperti itu, tapi diam saja jadi pendengar yang budiman, walaupun setiap hari tidak pernah lepas dari cerita tentang anaknya yang sekolah di sinilah, begitulah. sementara anaknya yang sudah benar-benar berhasil dan sukses tenang-tenang saja, selidik punya selidik dari setiap cerita yang disampaikan, ya... benar sekali ternyata masah lalu yang kehidupannya sangat susah. Tapi tentu tidak bisa disama ratakan. Ada yang susah hidupnya setelah berhasil pribadinya tetap renda hati. semuanya kembali pada kita bagaimana cara bersikap menghadapi mereka, kalau yang aku lakukan begitulah adanya, kalau sempat aku tanggapi kalau tidak ada cara lain menghindar tapi tidak balek menyakiti. Jangan mau berdosa dan sakit hati gara-gara suatu hal yang tidak jelas. Kalau tidak bisa bawah diri apa bedanya kita dengan mereka kan? Jangan mau ikut mereka masuk ke dalam api neraka, seram khi!

Jakarta, 28 Ramadhan 1440 Hijriah/ 020619 Masehi

#Day(28)
#OneDay OnePost30HRDC
#WraitingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah 



Sabtu, 01 Juni 2019

SEMUA DIBUTUHKAN PERJUANGAN

SEMUA DIBUTUHKAN PERJUANGAN

Oleh@daras09




          Hari itu tepatnya Rabu tanggal dua puluh sembilan tahun ini tentunya. Sekolah tempat Rara mengajar mengadakan kegiatan tahunan melepas siswa yang sudah dinyatakan dan meyakinkan sesuai dengan syarat syah kelulusan yang dikeluar dinas pendidikan. Acara tersebut untuk tahun ini diadakan di luar sekolah walaupun masih di lingkungan kecamatan yang sama. Untuk menyambut dan memeriakan acara biasanya memakai pakaian seperti satu keluarga yang akan mengadakan hajatan pernikahan. Hari itu semua tampil beda, begitu juga dengan seluruh siswa. Guru, karyawan dan siswa perempuan berpenampilan sangat berbeda hari itu. Perempuan mengenakan kebaya dengan tema 'Betawi Budaya Kita', sedangkan yang laki-laki mengenakan pakaian jas lengkap dengan dasinya. Hari yang istimewa dan luar biasa, walaupun acara ini sudah berlangsung setiap tahun ketika siswa kelas sembilan lulus, tetap saja kegiatan ini punya rasa sendiri yang sulit untuk gambarnya, makanya selesai acara pasti akan masih tetap dibahas dengan begitu semangat untuk evaluasi tahun berikutnya atau hanya seru-seruan saling menggoda. Membahas pakaian guru yang diberikan dari orangtua walaupun baru pertama kali ini, biasanya guru yang beli sendiri dengan nuansa yang sudah disepakati, tapi khusus tahun ini sangat luar biasa, berkat kebaikan dan perhatian yang sangat spesial dari orangtua, setiap guru perempuan diberikan satu kebaya ciri khas betawi yang biasanya dikenakan guru setiap hari Jum'at'. Penampilan yang sedikit lebih ada pada wali kelas, dan guru yang membantu acara hari itu. Dari mulai polesan riasan yang lebih khas dari yang lain, mungkin karena wali kelas akan mendampingi anaknya untuk tampil di depan atau acara kirap masuk ke dalam gedung. Orangtua pada bingung bertanya ini siapa kok cantik-cantik yang diakahiri dengan tawa setelah tahu kalau itu wali kelas atau guru anaknnya sendiri. 

          Acara yang dimulai dari pukul tiga belas tiga puluh itu diawali dengan pembentukan formasi sesuai sekolah dan dilanjutkan dengan pelepasan burung. Tapi sayang wali kelas belum bisa hadir jadi tidak bisa turut serta. Kegiatan ini diabadikan dengan menggunakan drone. Sebelum kirap masuk ruangan siswa dengan wali kelas secara bergantian berfoto bersam, selanjutkan memasuki gedung yang dipimpin lansung pembawa acara dengan wali kelas berjalan di depan siswanya masing-masing. Acara demi acara akhirnya berlangsung mulai dari sambutan Kepala Sekolah, Pengawas, dan siswa perwakilan kelas sembilan dengan perwakilan siswa kelas tujuh dan delapan untuk menyampaikan kesan dan pesannya selama berdampingan bersama tiga tahun kebersama di satu sekolah, begitu juga ungkapan rasa kelas sembilan kepada wali kelas dan guru yang mengajar di kelas masing-masing. Akhirnya selesai semua rangkaian acara tepat pukul sembilan belas malam, yang sebelumnya diisi dengan buka puasa bersama karena tahun ini kebetulan acaranya berlangsung ketika Ramadhan. Sebuah kenikmatan dan rahmat Allah yang luar biasa, apalagi prestasi yang diraih anak-anak sangat memuaskan, peringkat sekolah yang naik, baik tingkat provinsi maupun nasional. Jerih payah perjuangan bersama keluarga besar terbayarkan sudah, tentu tidak boleh sombong dan pongah karena Allah sangat membenci orang sombong, kalau berkehendak apapun bentuk yang kita miliki bisa saja diambilnya kembali, karena segala sesuatu pasti atas kehendakNya. Mari tetap berjuang dan berusaha sebab ada yang masih belum diraih, tapi tetap rendah hati dan istigomah tetap harus dijaga agar yang sudah diraih menjadi berkah dan bermanfaat bagi semua.

          Segala sesuatu kisah pasti dimulai dari awal dan begitu juga cerita tentu akan berakhir, mau happy ending, sat ending tau tergantung. Begitu juga akhir kisah kelas sembilan tahun ini berakhir dengan happy ending, semua bahagia, semua gembira mengikuti rangkaian acara demi acara dengan khusus sampai acara berakhir dengan sempurna. Begitulah kalau anak hebat tahu diri Sedang berada dimana, mengikuti dengan semua rangkaian acara dengan gembira tapi tetap tertib tidak menimbulkan kegaduhan atau buat acara sendiri-sendiri sampai acara benar-benar selesai. Meskipun teman yang mendapat nilai lebih hingga terpanggi berjalan ke podium kehormatan untuk menerima penghargaan, teman yang lain tetap memberi aplus tanda rasa ikut bahagia akan keberhasilan teman. Ya Allah semoga anak-anak hebat ini menjadi anak sukses dikemudian hari, kerena anak-anak hebat inilah nanti yang akan melanjutkan tongkat sukses bangsa ini. Semoga ditangan mereka kelak negara ini lebih makmur, aman sehingga negara yang lain segan dan hormat, tidak mencoba mengambil yang bukan haknya. Selamat berjuang di tempat kalian yang baru sukses selalu doa guru-guru selalu menyertai langkah kecilmu untul langkah lebarmu pada suatu hari kelak. Sukses butuh perjuangan, selalu berjuang untuk meraih kesuksesan, suatu kesan terindah yang diraih setelah berusaha tanpa lelah.


Jakarta, 28 Ramadhan 1440 Hijriah/ 20619 Masehi

#Day(26)
#OneDay OnePost30HRDC
#WraitingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah