Setiap kali ada satu acara spesial tentu tidak dapat ditampik lagi kalau ingin tampil sempurna saat itu. Di samping agar beda dengan yang hadir atau paling sedikit samalah tidak malu-maluin jadi bahan bualn-bulan gosip yang hadir pada acara tersebut. Karena tidak semuanya hati manusia bisa kita pegang untuk tidak mengumbar yang tidak elok dipandang mata. Begitu jugalah semua keluarga besar tempat Arini mengajar. Guru dan karyawan mempercantik diri hari itu, tidak ketinggalan murid-muridnya juga tampil lain dari pada yang lain dari hari-hari biasa hingga kadang kita agak paling sedikit karena penampilan hari itu. Hanya agak kesal sedikit, karena setelah selesai acara kalau yang laki-laki tentu sangat fleksibel karena tidak dibutuhkan berpenampilan seperti perempuan, hehehe ya iyalah, kan laki-laki masah sih harus pakai bedak dan lain segalanya seperti perempuan, bisa-bisa nanti jadi lain pula kan ceritanya mmm. Kalau yang laki-laki sampai rumah sampai rumah tinggal buka karena hanya mengenakan baju yang sangat simpel dan muda untk dilepas, sedangkan perempuan sedikit butuh ekstra membongkar seluruh asesoris yang ada di bandan, khususnya bagian kepala yang dikenakan jilbab tadinya dengan tusukan peniti di mana-mana, kalaulah bisa tu kepala bicara mungkin kepala akan protes mengapa ditusuk sedemikian banyaknya. Tapi demi semua serasi dan seimbang direla-relain saja. Belum lagi bagian wajah khu, semakin berkerut dan bibir maju beberapa senti ke depan. Tapi tentu bagi mereka yang tidak tahu caranya, kalau yang sudah tahu harus bagaimana menghilangkan khususnya yang berada dia bagian wajah tidak menjadi suatu hal yang susah.
Ketika Arini pulang ke rumah setelah selesai tentunya acara tasyakuran dan pelepasan siswa kelas IX tahun ini. Arini segera kembali ke rumahnya karena sudah sangat ingin cepat-cepat membuka semua asesoris dan balutan dempul yang sudah bertengger di wajahnya sejak pagi hari. Sesampainya di rumah Arini melepas pelan penutup kepalanya yang dililit peniti-peniti kecil, walaupun sedikit memakan waktu harus lebih didahulukan, karena tidak mungkinkan masuk kamar mandi kepala masih berkerudung, apalagi di rumah bukan di ruang publik, stelah semua peniti yang menempel bisa dilepaskan dengan perasaan lega karena kepala rasanya ringat setelah merasa membawa beban yang berkilo-kilo rasanya, tapi demi semua dan hanya sekali setahun ini ya direlain saja. Arini kemudian melanjutkan membersihkan semua polesan yang disematkan perias yang didatangkan ke sekolah. Setelah merasa semua kembali kepada semula Arini segera keluar kamar mandi, saat hendak keluar pintu kamar mandi ternya sang suami tercinta sudah kembali dari bekerja. Mengetahui kedatangan suami seperti biasa Arini langsung mengulurkan tangannya kepada suami sebagai bentuk penghormatan dan kasih sayang pada suaminya. Tapi bukanya disambut uluran tangannya, sang suami mala seperti orang terpaku memandang sambil mengerutkan dahi. Karena bingung mengapa suaminya tidak menyambut uluran tangannya, Arini menegur suami mengapa tidak langsung menjambut uluran tanggannya, untuk menyampaikan rasa heran yang tiba-tiba melanda hatinya akan kelakuan sang suami yang tidak biasa. Arini tambah lagi bingungnya karena sekarang suaminaya tertawa begitu kencangnya. Karena kesal dan tambah bingung juga Arini bergegas ingin meninggalkan suaminya untuk masuk ke dalam kamar hendak mengganti bajunya dengan yang bersih. Belum juga kakinya melangkah san suami sudah meraih salah satu tangnnya, hampir saja Arini jatuh terjungkal kalau tidak cepat ditahan sang suami. Kalimat protes yang datang dari bibirnya tidak dihiraukan suami, tangan Arini tetap dipegang kemudian diajak melangkah mendekati kaca yang tidak jauh dari mereka, yang sengaja diletakkan di luar kamar untuk penghuni atau tamu yang ingin berkaca. Dibuat cukup besar sampai seluruh badan bisa terlihat. Bahkan Arini lebih sering mematut dirinya pada kaca di luar kamarnya agar bisa melihat semua badannya, jadi tahu mana yang kurang sebelum berangkat mengajar. Bagi Arini guru itu harus rapi ketika berdiri di depan kelas agar anak didik lebih bersemangat untuk belajar. Guru harus bisa jadi contoh sebuah kerapihan, jangan meminta anak didiknya rapi sementara gurunya compak-camping tidak jelas.
Arini berteriak histeris ketika menyadari bentuk wajanya yang belepotan bekas bedak saat bardandan tadi selesai menghadiri acara tasyakuran dan pelepasan sekolahnya. Kalau tidak cepat-cepat mulut Arini dibekap sang suami, bisa-bisa para tetangga hadir mendengar teriakannya. Arini segera sadar perbutannya berteriak begitu kencang tidaklah benar, seharusnya beristighfar yang harus keluar karena kekagetan yang ditampilkan wajahnya yang jadi sangat mengerikan hahahaha. Arini segera berlari kembali ke arah kamar mandi untuk mencuci wajahnya agar cemong di wajahnya karena polesan bedak dan semua jenis rias apalagi lipstik yang paling sangat parah, sehingga wajahnya merah semua. Bersusah paya Arini mencoba menghalau semua riasannya dengan mengulaskan sabun merkali-kali akhirnya berhasil. Tapi tetap Arini tidak puas kerena menurut Arini biarpun hilang sangat tidak efesien karena sangat memakan waktu lama. Arini ingin suatu produk yang bisa menghalau itu bedak berikut kroni-kroninya dengan cepat tanpa harus mengulas sabun berkali-kali ke wajah, belum lagi menggosok-gosok karena lipstik si warna merah menyala berpindah dari bibir bertransmigrasi ke wajah Arini, itu yang membuat wajah Arini jadi menakutkan. Disamping itu kasihan dengan wajah bisa terluka karena terlalu diusap-usap dengan kencang, karena wajah salah satu bagian kulit yang sangat sensitif meskipun hanya untuk orang tertentu saja, Alhamdulilah Arini tidak mengalami hal apapun selama proses wajahnya diulaskan sabun berkali-kali, yang penting jangan pakai rinso pula, mentang-mentang iklan rinso bisa menghilangkan noda lantas mengambil rinso biar noda di wajah segera hilang hahaha.
Hari Sabtu sang suami sudah mulai libur walaupun cuti sebenarnya mulai tanggal tiga Juni. Berhubung suami pengen beli sandal maklumlah kan mau lebaran, pagi itu mereka sekeluarga berangkat mengunjungi salah satu Mall yang tidak begitu jauh dari rumah mereka. Memilih Mall yang akan didatang dengan pertimbangan tidak terlalu jauh, barang-barang yang dijual selain bagus masih bisa terjangkaulah, untung-untung ada diskon harganya jadi miring, uangnya bisa dipakai untuk membeli yang lain, atau ditabung kata Arini pada suaminya ketika mengusulkan tempat yang akan didatangi. Pukul sembilan pagi mereka sudah menyusuri jalan yang masih lengang, mungkin karena masih pagi atau mungkin sudah pulang kampung. Tidak sampai satu jam akhirnya mereka sampai di tempat yang ditujuh. Setelah memarkir kendaraan mereka di tempat yang muda dijangkau kalau terjadi ledakan pengunjung karena minggu terakhir sebelum menujuh lebaran bisa saja penduduk asli Jakarta atau mereka yang tidak pulang kampung seperti keluarga Arini tahun ini memutuskan tidak pulang karena libur tidak lama dan ulangan akhir semester juga berlangsung setelah lebaran, masuk sehari tanggal tiga belas, besoknya tanggal empat belas langsung tempur, belum lagi Arini yang harus mempersiapkan rapot kelas sembilan yang akan dibagikan pada tanggal empat belas itu meskipun siang hari setelah ujian berlangsung. Mungkin kalau Senin dan selasa harus di rumah untuk bersih-bersih atau mempersiapkan yang akan dimasak nanti sehari sebelum lebaran. Jalan-jalan Jakarta memang sepi, karena setengah penduduk atau mungkin lebih sudah berada di kampung masing-masing. Tapi jangan tanya pasar tradisional tetap saja ramai merayap untuk membeli persiapan lebaran. Arini sudah mengantisipasi itu semua dengan berbelanja semua kebutuhan lebih awal.
Setelah kendaraan terparkir dan memeriksa hal-hal yang tidak diinging terhadap kendaraan apalagi ini menjelang lebaran kesempatan dalam kesempitan juga banyak jadi perlu kehatian-hatian, tapi bukan berarti di hari-hari lain tidak hati-hati loh. Tetap hati-hati tapi menjelang hari besar seperti ini harus berhati-hati lebih ekstra lagi. Kemudian mereka melangkah memasuki pintu masuk Mall setelah melewati pemeriksaan terhadap barang bawaan, tak terkecuali apapun yang penting bawaan, tapi disaat masuk saja tentunya. Mereka langsung memasuki satu nama tempat berbelanja yang sudah sangat terkenal, seperti Mall di dalam Mall jadinya, semua perlengkapan mulai dari pakaian, sepatu, tas,alat kosmetik dan mainan anak bisa kita jumpai. Ketika sedang mencari-cari yang akan dibeli suaminya, mata Arini tertujuh pada satu konter, apalagi kalau bukan konter alat-alat kecantikan perempuan, ditambah lagi SPGnya begitu rama memanggil akhirnya Arini menunju ke sana setelah mendapat restu dari sang suami. Arini masih penasaran akan wajahnya yang belepotan karena pemakaian alat kosmetik khususnya lipstik yang digunakan perias, tahan sih tahan tapi begitu susahnya untuk dihapus sampai wajahnya merah semua yang menyebabkan suaminya tertawa seakan meledek dirinya, memakai bisa saat menghapus tidak bisa. Oh ala pikir Arini semuda itukah alat dan cara menghapusnya? Ikh gemes deh pikir Arini, hanya dengan baby oil dituangkan ke kapas atau ketisu kemudian usapkan ke bibir seketika segala hal yang menempel pada bibir bin salah bin abra kadabra seketika leyap tak berbekas. Pada dasarnya lipstik akan segera hilang kalau bertemu dengan minyak, makanya kalau ingin lipstiknya utuh alias tidak muda luntur ketika berada di salah satu acara, hindari menikmati makanan berminyak, kalaupun tetap dimakan upayakan jangan kontak langsung dengan bibir. Kalau bedak bersihkan saja dengan pembersih wajah seperti biasa jangan dicuci dulu dengan sabun. kalaupun akan disambun saat mandi upayakan terlebih dahulu dibersihkan. Sang SPG menerangkan begitu detailnya sampai Arini paham dengan menganggungkan kepala. Sebagai ucapan terimakasih karena sudah didandani atau tepatnya kursus sederhana berdandan untuk sehari-hari, Arini minta izin pada suami untuk membeli beberapa alat riasnya yang kebetulan juga sudah habis. Sebenarnya bisa saja langsung Arini membeli sendiri, karena suaminya tidak pernah mengutik-utik dan bertanya tentang penghasilan yang didapat sang istri dari pekerjaannya sebagai guru. Tapi sebagai istri yang baik dan soleha Arini tetap saja minta izin sang suami untuk membeli kalau Arini butuh hal yang ingin dibeli. Arini sangat puas dengan perjalanannya bersama suaminya hari itu, ketika di dalam mobil saat pulang Arini bercerita ilmu yang di dapatnya hari itu, tidak akan terjadi lagi suami tertawa melihat wajahnya tak jelas kalau harus didandani suatu hari kelak. Indahnya berbagi ilmu.
Jakarta, 29 Ramadhan 1440 Hijriah/ 030619 Masehi
#Day(29)
#OneDay OnePost30HRDC
#WraitingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar