Senin, 21 Oktober 2019

KUMPULAN MENULIS 10 HARI

    Restui Dia Pilihanku
        (daraspane09)

“Pilihan adalah suatu hal yang dipilih. Pilihan membuat hati kitta jadi ragu, apakah sudah tepat, apakah sudah benar dengan pilihan? Bagaimana ke depannya bila ternyata salah pilih? Bukannya penyesalan yang akan mengelayuli sepanjang perjalanan hidup?”

Kupandangi foto yang dikirim ibu tadi malam, di foto itu aku melihat tampang seorang laki-laki yang seolah sedang tersenyum padaku. Foto dengan ukuran seluruh badan, sehingga aku bisa melihat kesempurnaan salah satu ciptaanNya. Di bawah foto aku membaca pesan ibu “Berpikirlah dengan jernih dalam menentukan pilihan, lama tidak menjamin akan langgengnya sebuah hubungan untuk selamanya. Ibu tidak menghalangi keinginanmu. Ibu hanya meminta berpikir lagi untuk sebuah langkah besar dalam kehidupanmu ke depan”
Tiba-tiba berkelebat wajah mas Roni, senyum dan tutur katanya yang lembut, yang membuatku selalu merasa jadi wanita yang berharga bila berada di sampingnya. Secara isi kantong mas Roni belum bisa dikatakan mapan, tapi dia selalu menyakinkanku kalau kami bisa hidup walaupun dengan sederhana yang penting tidak akan kelaparan. Mas Roni juga mengakui tidak akan punya kemampuan untuk mengajaknya pergi kerestauran yang harganya selangit itu. Tapi masakan yang akan aku sajikan nanti pasti akan lebih enak dari restaurant manapun, karena yang menyajikan seorang perempuan yang dicintainya sampai kapanpun, hanya kematian yang boleh memisahkan kami, karena kematian sudah ketentuan yang tidak mampu siapapun yang akan menghanginya.
            Kembali mataku beralih pada foto yang ada di gawaiku. Sedetik kemudian tanpa aku sadari gawaiku sudah mendarat di atas kasurku. Aku tidak perduli lagi semua hal tentang laki-laki yang diinginkan ibunku jadi pendamping hidupku nanti. Aku sudah menjatuhkan pilihanku pada mas Roni. Aku akan meminta restu ibu agar merelakan dan mengikhlaskan pilihanku, cintaku juga cinta mas Roni yang sudah teruji kesetiaannya dari aku dan masa Roni masih SMA sampai kami kuliah dan sampai detik ini juga. Restu ibuku lah selama ini yang menjadi pengganjalnya. Mas Roni tidak mau menikahiku tanpa ada restu dari orangtua kami, khususnya ibuku yang tidak pernah lelah menyodorkan calon pilihannya, walau selalu berakhir dengan penolakanku. Ibu selalu yakin kalau menikah itu harus dengan orang kaya, dengan kaya tentu uang berlimpah, dengan uang bisa menwujudkan semua yang diinginkan. Pendapat ibu yang bertentangan dengan prinsipku yang membuat aku pindah ke kota yang tidak pernah tidur ini. Aku juga meninggalkan mas Roni. Walaupun pada awalnya tidak setujug dengan keputusan yang aku ambil. Tapi akhirnya mas Roni merelakan, katanya pengujian akan kekuatan cinta. Kalau kami bisa bertahan dengan rasa yang tetap berkobar dalam dada yaitu cinta dan kasih sayang, berarti cinta kami tidak perlu lagi diragukan, dan juga sebagai pembuktian pada ibuku kalau aku dan mas Roni tidak sepantasnya dipisahkan karena hanya harta yang bisa membahagiakan cinta. Saat ini mungkin mas Roni belum mendapatkan penghasilan yang seperti diinginkan ibu. Menantu perpendidikan dan dari keluarga yang hebat. Tapi bisa sajakan yang hebat keluarganya, sedangkan anak hanya sebagai penerus kekuasaan. Bukankah lebih hebat lagi bila hal itu didapatkan dari hasil kerja kersa sendiri?
            Perdebatan antara aku dan ibu ternyata tidak berhenti walaupun kami sudah dipisahkan kota. Ibu tidak pernah lelah walaupun sejenak. Berpuluh-puluh foto dan sanjungan pada keinginan ibu. Begitu juga aku akan yang menolak dengan keras. Tapi untuk kali ini aku akan bersikap tegas, aku sudah capek dengan ini semua. Aku akan menemui ibu yang sudah berbualn-bulan aku tinggalkan. Biarpun kami berdebat rasa sayang dan rindu tentu saja tidak akan pernah hilang dari hatiku. Aku bukan anak durhaka yang suka membantah, aku hanya menyampaikan keinginanku, hasratku dan juga pilihanku yang akan aku terima dengan ikhlas apapun gelombang yang akan menghadang kelak. Karena hidup ini seperti kapal yang diterpa gelombang, baik kecil maupun dasyat. Bertahan tetap harus dilakukan sebagai bukti hati yang punya pilihan dan keinginan. Ibu restui dia pilihanku, doaku sebelum aku meninggalkan tempat aku bernaung selama di kota ini. Tujuanku menemui orang yang aku cintai dan rindukan, ibuku dan mas Roniku. Apapun yang terjadi pilihan sudah aku tetapkan. Mas Roni yang sudah menemani hari-hariku yang rasa pahit dan indah, dan sudah membuktikan akan kesetiannya walau aku tinggalkan untuk menyembuhkan laraku yang bertentangan dengan sisi keinginan ibu tercinta. Tak sejengkalpun mas Roni merasa terhina dan tersisikan atas keinginan ibu yang tidak pernah merestui hubungan kami. Inilah waktunya pilihanku sudah pasti mas Roni. 

Jakarta, 22 Oktober 2019
#ceritaoktober #10cerita #writingproject #mempertemukan #haripertama
@mempertemukan @narasibulanmerah @irayuki


Tak Seindah Kisah Dongeng
(darasPane09)
Hidup yang kita jalani ini terkadang tidak sesuai dengan yang kita harapkan seperti kisah yang ada di dongeng atau cerita, juga seperti musik yang kita suka yang membuat kita kadang terlena hingga melayang, seakan merasa kita sedang berjalan di dalamnya. Terkadang juga kita harus bersandiwara, tersenyum dan tertawa seakan kita sedang berbahagia. Padahal kita sedang dalam kondisi dilemma.
Akhir-akhir ini kondisi Jakarta sedang tidak bersahabat dengan cuaca panasnya yang semakin hari semakin memanas, begitu juga hati Yola yang sedang panas dan gunda. Sering kali air mata harus tumpah karena rasa kecewa yang terpendam, dan kebingungan harus mengambil keputusan yang tepat, agar tidak ada yang tersakiti atau merasakan penyesalan atas perbuatan saat ini. Bermacam cara, mulai dari membujuk, mengingatkan sampai berbuat kasar tetap saja tidak berhasil. Meminta bantuan dari luar sudah dilakukan juga. Tambah bingung yang akhirnya semakin dalam. 
Sore pun sudah merambat, sebentar lagi senja akan segera menghamparkan sayapnya menyelimuti permukaan langit dan bumi. Yola masih enggan meninggalkan kursinya, sementara teman-temannya yang lain sudah bergegas ketika jarum pendek menujukkan ke angka tiga. Sepi yang merayap dalam ruangan tidak dihiraukannya. Walaupun kisah-kisah mistis yang sering didengarkan ketika ruangan sepi tapi Yola tetap bergeming. Rasa kecewanya lebih mengangah saat ini, dari pada membahas hal mistis yang sering dialami beberapa temannya saat ruangan hanya ditinggali beberapa guru yang sedang menyelesaikan tugasnya.
Pertengkarannya dengan anak semata wayangnya menari-nari kembali dalam benaknya. Yola tak mengerti hal apa yang diinginkan anaknya. Rasa kecewa dengan kelakuan anaknya sudah cukup membuat kesabarannya sampai pada puncaknya. Membujuk, merayu sampai pada tindakan kasar sudah Yola lakukan, bahkan sampai melibatkan seorang psikolog sudah dilakukan. Janji akan rajin berangkat ke sekolah yang tinggal sebentar lagi akan selesai tetap tidak bisa dilaksanakan sesuai dengan janji yang selalu diucapkan. Hari ini berjanji, besok tanpa angina juga badai tiba-tiba berubah tanpa sebab. Alasan yang disampaikan pun tidak masuk ke logika berpikir Yola sebagai orangtua maupun seorang guru. Apa yang salah yang sudah dilakukan Yola. Sampai hari ini masih jadi tanda tanya besar dalam benaknya atas perubahan anaknya sejak duduk di bangku kelas sebelas Sekolah Menegah Atas.
Kembali Yola menghapus air matanya yang terus mengalir tiada henti, sampai tanpa disadarinya sesorang sudah berdiri di depannya dan menyodorkan sehelai tisu pada Yola. Sedikit terkejut, karena sesorang yang ada di hadapannya saat ini ternyata salah satu temannya, tepatnya wakil kepala sekolah yang sering pulang belakangan dari yang lain, karena tugas yang diembannya tentu saja lebih banyak dari yang lain yang membutuhkan waktu lebih setiap harinya.
“Ada masalah bu Yola? Sambil menarik kursi, kemudian mengambil duduk di hadapan Yola. “Tidak adil” hanya kata itu yang meluncur deras dari bibir yola. Karena Yola tidak sanggup lagi berkata-kata ketika berhadapan dengan temannya. Tentu saja membuat temannya bingung. “Maksudnya tidak adil itu apa ya Bu Aku bingung.?” tanya temannya. Maka mengalirlah semua keresahan hati yang selama ini selalu Yola sembunyikan dari teman-temannya. Tentang nasibnya yang berbeda dengan teman lainnya. yang punya anak bisa dibanggakan, baik itu Pendidikan begitupun dengan agamanya. Sementara dirinya, sangat malang dengan memiliki anak yang begitu sangat membuat hatinya begitu kecewa setiap waktu. Semua doa, tenaga dan materi sudah dikeluarkan, tidak sedikit. Tapia apa yang didapatkan hanya kecewa dan kecewa.
Pelan-pelan, Yola merasakan elusan lembut di bahunya, terasa nyaman sekejam mengalir membasuh relung hatinya, dengan pelan juga dia mendengarkan nasihat dari temannya, kalau hidup ini memang tidak adil. Tapi sebagai manusia yang percaya akan takdir Allah, sudah sepantasnyalah kita lebih bersyukur. Mungkin saat ini kemalangan sedang menghampiri, tapi bagi-Nya tidak ada yang tidak mungkin terjadi, tugas kita sebagai orang tua jangan sampai melepaskan sedikit pun tangan kita dari genggamananya, dan jangan juga sampai berhenti berdoa. Yang paling utama juga mencobalah selalu melihat ke bawah. Saksikanlah kalau ternyata kemalangan yang sangat begitu menyedihkan bisa saja masih lebih tidak adil bila dibandingkan dengan diri kita. Hidup ini tidak hanya indah seperti sebuah dongeng, hidup ini sebuah kenyataan. Karena itu ketidakadilan bukan untuk disesali, tapi untuk dihadapi sebagai cobaan agar lulus dalam menghadapi setiap persoalan yang akan menghampiri.

Jakarta, 23 Oktober 2019
#ceritaoktober #10cerita #writingproject #mempertemukan #harikedua
@mempertemukan @narasibulanmerah @irayukii  


Anggi Tentu Pilih Buku
  (Darmawati Pane)

“Nonton yuk nanti sore! Ajak Anton siang itu menawari Andini, ketika mereka keluar kelas menujuh lobi sekolah tempat mobil Anton diparkir. Anggi hanya diam dengan ajakan yang disampampaikan Anton. “Kok diam saja Nggi,Mau Ngak? kejar Anton menunggu jawaban dari Anggi. Tapi Anggi tetap diam tak bersuara. 
Sebenarnya Anggi bukan tidak mau, apalagi flim yang akan ditonton mereka, flim yang sedang banyak diperbincangkan orang saat ini. Karena di benak Anggi timbul juga penasaran ingin menyaksikan flim yang sedang tayang di bioskop itu. Anggi ingin membandingkan apakah sesuai dengan persi bukunya yang tak kalah buming juga, bahkan Anggi sampai membaca novelnya hingga tiga kali tamat. Anggi sangat tertarik denga jalan cerita, karakter setiap tokoh dan latar yang tidak biasa, hingga membuat Anggi tidak bosan-bosannya menyusuri kata demi kata, dan kalimat demi kalimat yang disajikan penulis begitu indahnya.
“Gimana Nggi tanya Anton?” ketika mereka sudah berada di lobi bioskop. Ternyata Anggi akhirnya bersedia diajak menyaksikan flim yang sedang buming itu, walau pada awalnya Anggi menolak, tapi dengan segala bujuk dan rayuan maut Anton dan sedikit ancaman kalau tidak diajak lagi pergi dan pulang sekolah, Anggi akhirnya bersedia. Tapi Anggi juga punya syarat, tak mau kalah dengan Anto. Anggi mau ikut, asalkan ditraktir makan gratis sesuai dengan pilihan tempat dan menu kesukaan Anggi. Tentu saja hal itu tidak jadi persoalan pelik bagi Anton, karena uang jajan Anton sebagai anak yang orangtuanya mapan tidak perlu diragukan lagi. Kalau untuk sahabat kecilnya Anggi, begitu Anton menyebut Anggi yang berbadan mungil itu, yang tentu saja membuat Anggi sering jengkel, sampai tidak mengajak berbicara Anton, bahkan bisa sampai berhari-hari. Tapi lucunya Anggi tidak pernah absen ikut bersama Anton dalam mobilnya saat pergi dan pulang dari sekolah. Mereka paling duduk berjauhan saja, Anton di depan bersama supir sedang Anggi duduk di belakang sendiri, atau bergantian sesuai dengan keinginan Anggi, tapi tetap dalam kediaman diantara mereka. Menyaksikan tinggkah kedua sahabat itu, membuat pak Dimin sebagai supir pribadi keluarga Anton, sering kali tidak tahan dengan senyum lebarnya.
“Aku tetap milih baca buku dari pada flimnya” jawab Anggi setelah mereka duduk di salah satu cafe yang tidak jauh dari bioskop. “Loh kok jadi ke buku to Nggi?” Kejar Anton dengan bertanyaan berikutnya. “Ya, iyalah”. Akhirnya Anggi menjelaskan kalau dalam flim yang barusan mereka tonton tidak asyik, karena banyak yang tidak sama dengan isi yang terdapat dalam buku novelnya. Anggi berpendapat, dengan membaca kita lebih punya waktu untuk meresapi isi buku, tidak terikat pada tempat dan waktu. “Jadi apapun alasannya, mau terkenal, mau buming flimnya aku tetap lebih suka dan pilih membaca buku dari menonton flimnya. Anggi kembali lebih menekankan alasannya. 
Tapi anggi tentu saja bukan seorang yang tidak mampu berterimakasih dengan hal yang sudah dilakukan sahabatnya Anton, apalagi diteraktir setelah menonton, jadi nikmat yang mana lagi yang akan kau dustakan kalau punya sahabat seperti Anton, sudah ganteng, kaya, tidak sombong dan lebih lagi selalau traktir Anggi kalau mereka di sekoalah maupun ketika di luar seperti saat ini hahaha, tawa Anggi mengakhiri uraiannya. 

Jakarta, 24 Oktober 2019
#ceritaoktober #10cerita #writingproject
#mempertemukan #hari3@mempertemukan 
@narasibulanmerah @irayukii   


                                                    Misteri Bau Rokok di Ruang BK
                                                             (Darmawati Pane)

Waktu sudah hampir menjelang pukul tujuh belas. Aku baru saja selesai melatih siswa yang akan ikut berlomba berpidato dan membaca berita. Berhubung belum sholat aku bergegas ke kamar mandi untuk bersuci sebelum aku menunaikan sholat ashar sore itu. Ketika masuk ke dalam ruangan yang biasa kami tempati untuk sholat yaitu ruang bimbingan konsling, aroma menyengat segera menyambar hidungku begitu aku memasuki ruangan itu. Awalnya aku biasa saja, tapi begitu masuk lebih dalam, sedikt merasakan desiran aneh merayapi relung hatiku. Walaupu desiran aneh itu semakin menghantui, aku coba bertahan. Untuk mengusir rasa yang mulai takut walau hanya sedikit itu dengan bernyanyi, tapi tentu saja nyanyian yang aku lantunkan kali ini tentu saja beda dari biasa. Aku bershalawat, sambil mempersiapkan perangkat sholat yang akan aku kenakan. Saat akan sholat aku tunaikan, suara takbirku pun aku kencangkan. Alhamdulilah selama aku menjalankan sholatku, rasa desir yang bergelanyut di hatiku tetap bisa tertahan sampai akhirnya aku selesai menjalankan kewajibanku sore itu.

Aku segera keluar dari ruangan itu dan setengah berlari kembali ke ruang guru. Teman yang hanya tinggal empat orang dengan aku, hanya ketawa-tawa ketikan aku ceritakan hal yang baru saja aku alami. Aku juga bingung mengapa sering sekali ada hal-hal yang diluar nalar sering sekali menghampiriku. Ini sudah yang keempat kali, walau tidak setegang ketika aku mengalami yang kedua. Apakah ini benar atau halusinasi pikiranku saja, hanya kepada Allah aku serahkan semua. Semoga kejadian ini tidak terulang lagi,aku berkata sendiri dalam hati. Karena tidak nyaman rasanya kalau selalu menghadapi situasi seperti itu. 

Jakarta, 25 Oktober 2019
#ceritaoktober #10cerita #writingproject
#mempertemukan #hari4@mempertemukan 
@narasibulanmerah @irayukii   


       Permainan Masa Kecilku
(Darmawati Pane)

Samar-samar suara itu merapat memenuhi gendang telingaku. Suara apa itu pikirku dalam hati. Dengan sedikit kesal, aku tarik kakiku menghampiri arah suara yang aku dengar datang dari jendela tempat penginapan keluarga kecilku. Hatiku sedikit kesal karena tidurku menjadi terganggu. Saat membuka jendela kamar yang langsung menghadap ke taman tempat penginapan, tempat anak-anak itu bermain. Aku menyaksikan anak-anak yang perkiraanku masih duduk di bangku sekolah dasar kelas tiga, yang umurnya aku perkirakan delapan sampai sembilan tahun, menebak. Rasa jengkel yang tadinya menyusup hati karena terganggu, menjadikan senyumku terbit seketika. Akhirnya aku pun tak ingat lagi marahku karena keasyikan menyaksikan tingga anak-anak yang sedang bermain itu. Mereka sedang bermain petang umpet, tapi karena ada yang curang dengan tidak menutup matanya sampai semua anak yang ikut bermai petak umpen bersembunyi, sehing yang menjaga benteng dengan mudanya menemukan persembunyiannya. 
Tiba-tiba bayangan masa kecil melompat-lompak dalam benakku. Satu persatu permainan yang sering aku mainkan bersama teman kecilku saat itu, bermain petak umpet, main kelereng, bola bekel, dan main karet. Aku paling jago kalau sudah main kelereng dan main gelang karet. Jangan ditanya banyaknya kelereng yang aku miliki, yang biasanya aku taro di kaleng roti yang isi rotinya sudah disantap habis hahaha. Proses bermai kelereng sangat muda, tinggal digali satu lobang kira-kira kedalaman satu sampai dua senti, barang siapa yang bisa menggiring kelereng temannya sampai masuk ke dalam lubang maka dialah pemenangnya. Taruhan sesuai dengan yang sudah disepakati, bukan taruhan dalam bentuk uang tapi kelereng yang kita miliki. Kadang-kadang akan terjadi perselisihan. Biasa karena yang kalah merasa dicurangi padahal dia yang memang tidak bisa bermain, kadang juga tidak terima dengan kekalahannya, hahaha lucu juga. Dari permaninan itu bisa juga pertemanan akan meregang sejenak walaupun tidak lama namanya saja masih kecil. Aku sih nggak perduli, kalau nggak mau berteman aku akan diam di rumah, dengan mengajak adikku bermain berdua.Selain kelereng satu lagi permainan yang juga sering sekali aku menangnya, bermain karet. Bermain karet sangat muda, tinggal ditancapkan paku atau lidi di sela-sela dinding, kemudian karet digantungkan dengan jumlah yang sudah disepakati berdua atau bertiga pemain. Bisa juga di tanah, dengan menancapkan kayu yang ada cabangnya, kemudian meletakkan sejumlah gelang karet sesuai yang disepakati sebagai taruhan. Proses permainannya dimulai dengan suit atau hompimpa untuk menentukan siapa yang duluan membidik karet yang digantung atau ditancap. Kalau karet yang dibidik dengan menggunakan karet yang lain bisa menjatuhkan atau mengeluarkan dari gantungan lidi atau kayu yang ditancapkan, maka karet akan jadi milik yang pembidik. Kadang sekali bidik bisa dapat semua. Kalau karet masih banyak ditangan dan belum berpinda ke tangan lawan yang memenangkan, suasana pasti masih aman, tapi akan mulai panas permainan kalau karet mulai menipis atau habis. 
Bertengkar dan sampai menangis histeris sudah pasti terjadi. Tentu saja yang merasa menang akan senyum, bahkan berlari menghindar dari pertikaian dengan yang punya anak, karena kadang orangtua ikut histeris alias tidak terima dengan kekalahan anaknya atau cucunya hahaha. Indahnya masa kecil ya? terkadang sampai lupa waktu, bahkan lupa mandi. Diminta pulang sampai diomelin kakak sudah hal yang biasa, bahkan dihukum sampai nggak boleh keluar rumah sering sekali, tapi tentu saja akal tak boleh hanya tertanam di kepala, bagaimana caranya harus bisa terlepas dan bisa bermain kembali. Biasanya saat orangtua sudah muncul di rumah, saat itulah ngacir yang tepat dari hukuman sang kakak, karena kakak tentu tidak kan berani marah kalau di hadapan orangtua kan? senyum bahagi sambil bersiul karena kakak pemangsa sudah tepar di hadapan orangtua, tinggal mencari mangsa saja yang akan dikalahkan hari itu agar gelang karet dan kelereng pundinya bertambah lagi, heheheeee.

Jakarta, 26 Oktober 2019
#ceritaoktober #10cerita #writingproject
#mempertemukan #hari5@mempertemukan 
@narasibulanmerah @irayukii   


Kue Pohul-Pohul
Darmawati Pane

Negara kita Indonesia yang terdiri dari beribu pulau dan suku yang mendiami hamparan tanah yang begitu luas dan subur. Tentu saja memiliki ciri khas dan kebiasaan, begitu juga dengan makanan istimewanya. Salah satunya tentu saja daerahku dari Tapanuli Sumatera Utara. Penduduk yang mendiami Pulai ini disebut suku Batak. Ada batak Toba, batak Mandailing, batak Karo, nias, Simalungun, Angkola dan batak Pakpak. Masing-masing suku ini walaupun membawa adat dan  bahasanya, ternyata satu hal yang tidak berbeda dalam satu makanan khas. Nama makanannya kue pohul-pohul. Kue pohul-pohul berasal dari tepung beras. Sebelum proses penumbukan dan sebelum ada mesin pembuat tepung beras modern seperti sekarang, tentu saja pembuatan tepung harus diproses secara manual dengan penumbuk. 
Agar berasnya tidak susah untuk ditumbuk, harus direndam di dalam air terlebih dahulu, kemudian berasnya dicuci bersih. Lebih lama dalam perendaman akan lebih cepat juga nanti prosesnya menumbuknya. Setelah proses beras menjadi tepung selesai, selajutnya tepung beras diberikan parutan kelapa muda, parutan gula aren dan garam sesuai selera yang penting jangan keasinan, kemudian diadon menjadi satu. Kalau sudah bercampur keseluruhan bahan, kemudian diambil segenggama tangan, lalu diremas hingga berbentuk seperti genggaman tangan. setelah jadi kue ini boleh dinikmati dalam keadaan mentah, boleh juga dimasak dulu dengan cara dikukus, dengan diberikan daun pandan pada air pengukus agar bau kuenya lebih harum. Mmmm nikmat sekali rasanya kalau sudah berjumpa kue pohul-pohul ini. begitu nikmatnya mertua lewat samai tidak disapa hahaha.

Kue pohul-pohul, selain nikmat, juga kue yang sangat istimewa. Mengapa mengatakan kue ini istimewa?  karena hadirnya tidak bisa dinikmati setiap harinya. Kue pohul-puhul hanya akan hadir saat ada acara tertentu saja. Pertama saat lamaran, itupun ketika membicarakan sinamot (mahar) yang akan diberikan pihak keluarga calon mempelai laki-laki kepada pihak keluarga calon mempelai perempuan. Kehadiran yang sangat istimewa kedua saat hari yang sudah disepakati tiba, hari penyatuan kedua keluarga lewat ikatan pernikahan suci kedua mempelai. Makanya sering juga disebut kue ini, kue pengantin. 
            Kue pohul-pohul selain sebagai buah tangan mempelai saat hari istimewa, ternyata memiliki satu pilosofi yang sangat sarat maknanya di dalamnya. Pilosofi tersebut terletak pada bentuk kue yang mirip seperti kepalan tangan. Pohul Artinya dikepal, melambangkan suatu kekuatan, kesepakatan yang kokoh dan kuat. Kokoh berarti tidak bercerai berai. Kokoh akan kuat dalam melewati semua rintangan yang akan datang menghampiri. Dengan bersatu dan kokoh sebuah keluarga akan selamat dalam mengarungi biduk rumah tangganya, tidak mudah terhasut bila mendengarkan ucapan yang belum tentu kebenarannya bisa dipertanggung jawabkan atau istilah sekarang berita Hoaks. 

Jakarta, 27 Oktober 2019
#ceritaoktober #10cerita #writingproject
#mempertemukan #hari6 @mempertemukan 
@narasibulanmerah @irayukii   
               

1 komentar: