Minggu, 08 September 2019

DIA JODOHKU

Dia Jodohku

Karya darasPane09

Aku tak pernah merasa jatuh cinta padanya, pertemuan kamipun tanpa disengaja, bahkan kata seorang temanku lebih tepatnya pimpinan tempat aku bekerja, kalau jodoh yang baik itu, jodoh yang kita temuakan di tempat yang baik juga. Aku paham maksud perkataannya. Tapi aku hanya tesenyum saja ketika mendengarkan komentarnya, dan tidak berusaha untuk membantahnya seperti biasa kalau ada yang berkata sementara  aku tidak merasa cocok dengan apa yang disampaikan pasti dengan segera akan aku cari seribu alasan, seribu argument untuk mematahkahkan pendapat orang yang sudah berani memberikan suaranya padaku, apalagi kalau yang disampaikan kurang berkenan di hatiku, maka akan habislah dia aku lahap dengan semua pendapat yang aku juga kadang tak mengerti ntah dari mana kalimat itu begitu saja mengalir dari bibirku. Kalau kata orang terdekatku seharusnya aku tidak jadi seorang guru, tapi lebih cocok jadi seorang pengacara. 

Tapi kali ini aku tak mampu menjawab perkataan atasanku itu. mungkin jadi apa yang beliau sampaikan benar adanya, siapa sih yang tidak menginginkan pendamping yang sholeh kalau dia wanita, sholeha kalau dia laki-laki. Tapi kembali lagi pada rahasia Sang Maha Kuasa, yang sudah menentukan pasangannya masing-masing. Lihatlah fajar dan senja, yang satu dengan mentarinya yang panas tapi sangat dibutuhkan kehadirannya, dan yang satu dengan bulan yang bersinar begitu indah saat malam sudah menjelang. Mereka selalu dijodohkan, walaupun kita tahu mereka tidak pernah bisa duduk bersisian, kadang bertabrakan tapi tak pernah saling menghancurkan, atau mungkin setelah mereka saling senggol diangkasa meraka saling memaafkan, kita saja yang tidak tahu dan tidak mengerti Bahasa keduanya hahaha……

“Sombong sekali sih”. Tiba-tiba aku seperti mendengar suara di sampingku ketika aku lagi duduk manis menikmati semangkok bakso yang ntah rasanya seperti apa, tapi aku coba tetap menimati, karena sudah terlanjut membeli. Apa nanti kata orang sudah dipesan dan dibayar tapi tidak dinikmati, bukankah itu namanya menyia-nyiakan makanan yang sangat dilarang dalam agama, apalagi masih banyak yang belum makan karena ketidak mampu membeli. Aku akhirnya kembali menikmati, tanpa menghiraukan suara yang aku dengar tadi, bisa jadikan bukan aku yang di sapa, malu dong kalau dianggap kegeeran. Ternyata aku salah, ketika aku merasa seseorang duduk di depanku tanpa kuminta. Kata sombong sekali yang aku dengar pertama tadi berubah dengan sapaan lain. “Enak ya baksonya? Ajak-ajak dong kalau mau pesan bakso, aku juga pengen. Seketika wajah aku angkat, ternyata seorang laki-laki yang mungkin umurnya sama denganku sudah duduk saling berhadapan denganku dan matanya sedang asyik menikmati makanan yang sedang aku nikmati. Dalam hatiku bertanya bodoh banget jadi orang, kalau merasa enak mengapa nggak pesan saja?, tapi kalimat itu hanya ada dalam hatiku, tak sedikitpun berani aku keluarkan. Selanjutnya dia memberitahukan padaku kalau kita sama-sama berada di bus yang sama. Aku memang sedang berada dalam perjalanan pulang dari kampung halaman setelah dua minggu menikmati libur lebaran bersam keluarga. Kota tujuanku setelah liburan usai, tempat yang tidak pernah tidur siang maupun malam hari, tentu siapun tahu kota yang aku maksud, ya kota Jakarta. 

Begitulah awal perkenalan kami, ketika satu angkutan transportasi dari sumatera menujuh kota Jakarta, tempat kami berdua mencari penghidupan. Setelah kami berkenalan saling menyebut nama, pertemanan kami berlanjut walaupun aku tak pernah membayangkan. Karena menurut aku ketika kita berada disuatu ruang dan waktu dengan sesorang, kemudian berkenalan, setelah itu selesai atau berakhir hanya saat itu saja suatu hal yang wajar-wajar saja. Tidak dilarangkan kita berbicara dengan orang yang belumkita kenal sekalipun asalkan tetap hati-hati jangan sampai terjadi hal yang tidak kita harapkan. Ternyata perkenalan kami tidak seperti yang aku pikirkan hanya terjadi saat itu, begitu sampai ditujuan masing-masing akan hilang tanpa bekas. Seminggu setelah aku sampai tepatnya kami sampai di Jakarta atau di rumah kos masing-masing, karena aku tinggal di tempat kos-kosan walaupun kakakku ada di kota yang sama denganku. Aku hidup sendiri, karena aku tidak ingin merepotkan kakakku dengan keluarganya. Disamping itu akukan sudah kerja, pengen dong hidup mandiri dengan hasil yang aku dapatkan sendiri dan tentu dengan keinginan sendiri juga.

Hari Senin sore tepatnya, ketika dia pulang dari kantornya dan kebetulan aku juga sudah pulang dari tempat kerjaan, tiba-tiba ada yang mengabari kalau ada tamu untukku. Sebenarnya aku bingung dan sedikit terganggu dengan istirahatku. Tapi katanya tamu harus dimuliakan. Maka jadilah sore menjelang malam itu pertemuan kedua kami. Ternyata dia seorang yang sangat asyik diajak bercerita. Maka jadilah kami bercerita kesana dan kemari hingga tak terasa waktu sudah menjelang pukul 10 malam. Begitulah akhirnya pertemuan demi pertemuankami menjadi semakin dekat, tak terasa sudah berjalan enam bulan. Untuk ukuran pertemanan yang sudah berjalan selama itu tentu saja aku perlu juga tahu apa tujuannya, apalagi umurku sudah cukup untuk membina sebuah hubungan, bahkan melangkah kejenjang yang lebih serius lagi tentu sudah bisa bahkan harus. Coba apalagi yang harus aku pikirkan selain segera berkeluarga? Titel sudah ditangan, aku alumni salah satu perguruan swasta dari kota Gudeg, sudah kerja lagi sebagai PNS di salah satu instansi pemerintah. Aku bekerja tidak seperti pekerja PNS pada umumnya yang pulang samapi sore. Memang jurusan yang aku ambil keguruan, dengan tujuan guru kerjanya tidak sampai malam, jadi masih bisa mengurus keluarga, alasan aku mengambil jurusanku. Orangtuaku juga sudak sibuk bertanya kapan aku segera membawa calon pendamping kehadapan mereka. Jadi aku pikir aku harus segera bertindak karena apalagi yang kurang, tinggal pendamping. Aku juga bukan ABG lagi yang harus gonta-ganti pacar, jalan kesana kemari ngak jelas untuk apa dan bukan saatnya lagi.

Dengan keberanian walaupun aku seorang perempuan yang katanya pantang menyatakna hati duluan, karena menyatakan hati itu tugas laki-laki. Tapi kalau itu demi kebaikan dan untuk menghindari fitnah apasalahnya bertanya. Aku kan hanya bertanya, bukan menyatakan hati hahaha, apa bedanyanya juga y? Aku berani bertanya karena hatiku yang tadinya tidak memiki rasa apapun, perlahan-lahan mulai suka padanya, tapi selama enam bulan Bersama tak sedikitpun kami menyinggung arah pada perasaan masing-masing. Tapi yang membuat aku bingung kedatangannya yang rutin, apa coba maksudnya kalau tidak ada sesuatu juga dalam hatinya. Atau mungki seperti kata orang kalau hati tidak perlu diungkapkan, cukup dengan perbuatan atau tindakan sebagai gambaran isi hatimu. Benar juga kalau dipikir-pikir. Tapi aku perlu kepastian, kalau memang mau main-main sana pergi bukan di hatiku tenpatnya, pikirkku untuk lebih menguatkan hatiku kalau akan memastikan bila kita bertemu lagi. Masih banyak yang mengatri di belakang kalau nanti dia mengelak atau menyampaikan seribu alasan. Aku mantabkan lagi hatiku agar lebih yakin lagi. To aku tidak memaksanya untuk serius dan memintanya menikahiku. Aku hanya memintah kepastian tujuan kedatangannya yang rutin itu. Kebetulan juga sebenarnya, ada teman satu kantor yang terang-terangan menunjukkan rasa hatinya, tapi aku takut karena umur kami terlalu jauh jaraknya. Usianya lebih mudah tujuh tahun di bawahku, walaupun cinta itu tidak mengenal umur. Walaupun umur kami berbeda tapi tidak terlihat sekali perbedaan itu. Kakakku juga kurang setujuh, makanya aku langsung menutup hati. Tapi jodohkan sudah ada yang mengatur, kalau sudah jadi ketentuanNya tidak ada yang bisa melepaskan dari bingkainya.

Untuk menyambut mrnyambut kedatangannya yang kali ini menurutku agak special, aku menyiapkan sesuatu yang agak istimewa dari ahari sebelumnya yang hanya memberikannya secangkir kopi, bahkan cangkir khusus untuknya sudah aku siapkan untuk menyajikan kopi setiap kali dia datang berkunjung ke tempat kosku. Aku juga bingung atau mungkin hanya sekedar menghormati aku juga ngak tahu. Aku tata semua yang sudah kusiapkan. Lucu juga ya, aku seperti seorang ibu yang menunggu kehadiran pria yang akan melamar gadisnya, mempersiapkan hal yang akan disugukan sebelum kehadirannya. Pakaianku juga aku pakai yang lebih rapi mala mini. Benar-benar aku sudah setengah sinting batinku sambil menyapukan semua peralatan kosmetik di wajahku setelah sholat magribku malam itu. Tidak lama akupun sudah mendengar bunyi kendaraan yang takt ahu sejak kapan sangat begitu tidak asing di telingaku. Tapi aku tidak pernah secara langsung menyambutnya, aku hanya akan membuka pintu bila ketukan sudah aku dengar. Harga diri dong tetap harus dijaga kan?

Perlahan dengan tak lupa melanjutkan melapaskan doa yang sudah aku minta pada Allah SWT ketika sholat magribku tadi, Aku membuka pintu rumah kosanku. Segra aku menggiringnya keruang tamu. Berbasah-basih sebentar aku mengajaknya menikmati hidangan yang sudah aku siapkan. Aku pandangi wajahnya sejenak, terlihat jelas binar kebahagiaan dan tentu saja sedikit bingung dari tarikat dahinya yang mengeluarkan kerutan tapi tidak lama, karena akhirnya kalimat pujian yang keluar dari bibirnya kan masakan yang aku sajikan, karena masakan yang aku masak memang jarang ditemukan kalau tidak pulang kampung atau berkunjung ke rumah saudara atau teman yang berdarah sumatera. Setelah kegiatan makan kami selesai akupun segerah menyingkirkan semua bekasnya. Selanjutnya kami berbincang seperti biasa kami lakukan selama enam bulan terakhir kebersamaan kami. Aku sempat juga bingung bagaimana memulai atau memotong kesasyikan cerita kami yang tidak jelas, itu menurut aku khusus pada malam itu. Tapi tiba-tiba dia pamit ingin kebelakang, nah sangat tepat pikirku, berarti aku sudah bisa buka topik baru kalau nanti dia sudah kembali dari kamar mandi. Begitu dia kembali tanpa menunggu lama aku langsung memimpin pembicaraan. Dengan terlebih dahulu membisikkan bismillah untuk minta pertolonganNya aku memulai mengungkapkan semua apa yang selama ini aku rasakan. Dengan sedikit berbohong kalau ini permintaan orantuaku, aku beranikan bertanya akan tujuan dan maksud kedatangan rutinnya bertandang. “Aku tidak memaksamu untuk menikahi aku. Tapi aku perlu tahu apa tujuan kedatanganmu selama enam bulan ini. Kalau hanya sekedar berteman tentu tak serutin ini kan?” Akupun memulai jurus bertanyaku yang tanpa teldeng aling-aling lagi. Terserah mau dibilang cewk apaan, yang penting aku anak rantau, jauh-jauh aku datang ke kuliah dan sekarang masih tetap dirantau mencari kehidupan, jauh dari orangtua walau ada kakak, tapi bagiku aku tetap harus punya sikap. “ Kalau abang serius aku akan kenalkan abang sama keluargaku, kebetulan rumah kakak tidak jauh dari kosanku ini. Aku memang sudah memanggilnya abang sejak kami kenalan pertama, dan dia tidak keberatan, bahkan menurutku dia sangat senang dipanggil abang. 

Sejak malam itu, maka jadilah kami sepasang kekasih yang saling mencintai. Ternyata selama ini bahkan mulai pertemuan pertama sebenarnya dia sudah menaruh hati padaku, katanya aku berpenampilan lain dari yang lain menurutnya, yang membuat hatinya terpaut. Makanya memberanikan diri menyapa duluan, meminta alamat. Rasa syukur dan was-was bercampur aduk dalam dihatiku. Aku takut salah langkah dalam semua putusan telah bertanya duluan tanpa sabar menunggu sang pangeran mengungkapkan perasaan. Tapi semuanya aku serahkan padaNya, aku yakin semua yang aku sampaikan tak lepas dari tuntunan dan izin dariNya juga. Ya Alllah benarkah dia jodohku. Bila ia dekatkanlah, bila tidak tunjukilah agar aku terhindar dari hal-hal yang tidak engkau kehendaki. 

Menunggu hari-hari yang sudah kami sepakati dan juga orangtua kami. Kami coba mengurangi intensitas kebersamaan sebagai bahan penguji akan hati yang kan segerah dipersatukan lewat  mahligai pernikahan.  Enam bulan berlalu pada akhirnya kami menjadi sepasang suami istri. Dia memang jodohku dan aku memang jodoh suamiku. Semoga kebersamaan ini menjadikan kami hambahnya yanh selalu takut sehingga tidak pernah berani mengakali perintahnya walau sekejap saja.

Jakarta, 8 September 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar