Senin, 24 Juni 2019

JIKA MESIN WAKTU ITU ADA, KAU INGIN PERGI KE TAHUN BERAPA DAN KENAPA

Oleh @daras09

'Jika Mesin Waktu Itu Ada, Kau Ingin Pergi Ke Tahun Berapa dan Kenapa?'.
Bila diajukan pertanyan seperti pertanyaan di atas, menjawab kalau aku ingin kembali ke tahun 1988 ketika saya masih kuliah disalah satu perguruan tinggi swasta di kota pelajar yang terkenal juga dengan makanan budegnya eh, salah gudeg maksudnya hehehe. 
Mengapa? Saat masih sekolah setingkat Sekolah Menengah Pertama sampai Menengah Atas, sebenarnya aku sudah mulai suka tulis-tulis, hasil tulisannyap sudah berani mengirim kesebuah koran terbitan setempat nama korannya sudah lupa  karena tiga puluh tahun yang lalu, walaupun belum dihargai dalam bentuk materi tapi sudah sangat senang sekali ketika tulisannya diterbitkan, juga diberikan ulasan tentang isi dan pemilihan kata atau diksinya, kalau istilah mereka yang berkecimpung di dunia sastra disebut apresiasi, dengan memberikan apresiasi terhadap tulisanku,  apalagi guru yang ikut membaca memberikan sanjungan begitu juga teman-teman wah tambahlah bahagianya,  rasanya terbang ke langit biru bersama awan. 
Keterbatasan teknologi saat itu, semua karya yang dikirim boleh ditulis dengan tangan, tentu harus bisa dibaca. Ternyata tidak berlaku ketika  sudah ada di jenjang perguan tinggi. Semua naskah harus  diketik. Mencoba peruntungan meminta pada mereka yang tercinta, selain untuk menulis bisa juga juga digunakan untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Mungkin karena ketidakadaan dana atau  belum ada penting-pentingnya atau apalah alasannya aku tidak mencoba berdebat karena bukan watakku yang seperti itu. Rasanya seperti lagi jatuh cinta tapi tidak berbalas, patah hati,  kalau orang jawa bilang mutung. Semua kegiatan tulis-menulis diberhentikan, tidak pernah lagi menyentuh sampai selesai kuliah, bahkan sampai bekerja. Kegiatan yang menjadi momok, tidak sudi aku lirik walau sekejap. Aku jadi orang munafik, meminta dan berani menilai yang dihasilkan anak didikku sampai kadang mereka sedih karena merasa tidak dihargai sementara diri sendiri tidak punya apapun untuk dibanggakan sekalipun tulisan yang jelek tidak layak untuk disentuh, miris sekali. Hingga suatu hari di bulan Februari tahun 2019 Pimpinan menugaskan untuk mengikuti pelatihan GLS (Gerakan Literasi Sekolah) dan alhamdulilah kelompok kelasku diisi narasumber yang sehari-harinya juga seorang penulis, setengah terpaksa menulis  mengulang kembali masa yang pernah ditinggalkan cukup lama. Rasa beratnya begitu terasa, rasa percaya diri turut terserang juga. Narasumbernya begitu luar biasa memberi semangat hingga rasa percaya diri begitu nyata, dengan senyum mengembang bangga menyebut judul dan penulis memandang bangga seakan merasakan hasrat yang membuncah di dada. Dari awal mengikuti GSL kembali menantang diri untuk memulai menarikan jari-jemari yang sudah mulai lemah karena usia yang sudah mulai bertambah😢.
Seandainya boleh berandai-andai, bila ditanya 'Jika Mesin Waktu Itu Ada, Kau Ingin Pergi Ke Tahun Berapa dan Kenapa'. Akan dengan tegas tanpa tedeng aling-aling atau berpikir dulu tidak akan kulakukan lagi, aku ingin kembali ketahun 1988, agar bisa menulis apapun yang hadir dalam hati dan pikiranku tanpa harus adanya kehadiran si mesin ketik yang sudah melenyapkan semua rasa yang selama ini hanya mampu tergores dalam angan. Tuhan telah menitipkan tangan yang sangat sempurna mengapa tidak dimanfaatkan dengan sempurna juga. Kertas yang cantik warnanya bisa digunakan untuk mencurahkan semua hasrat, buku diari yang sering dibeli tidak disimpan hanya untuk diselipkan di atara buku-buku kuliah tanpa disentuh dan dibelai dengan segudang cerita.

Tapi seperti apapun itu cerita masa lalu yang penuh kisah suka maupun duka, tidak boleh juga mematahkan angan, sepanjang umur masih dipercayakan Yang Maha Kuasa kepada hambanya, tentu tidak jadi alasan menghentikan diri, mulai dari dan untuk diri sendiri, semoga bermanfaat juga untuk yang lain. Masa lalu  masa yang tidak bisa lepas dari perjalanan setiap manusia, tapi tidak untuk disesali,  jadikan sebagai cermin untuk menapaki hidup ke depan.

Jakarta, 250619
@mempertemukan
@narasibulanmerah
@irayuki
#11haribertanya
#harikesebelas
#wraitingproject
#mempertemukan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar