Sabtu, 29 Juni 2019

CERITA MEREKA



Puisi 1
CERITA TENTANGMU GADIS KECIL KETIKA PADI MENGUNING
Oleh Darmawati Pane

Tiap kali langkah kecil itu
Susuri jalan setapak menyambut pagi 
Ketika berlalu disela-sela rumput basah
Yang kadang menempel di sela-sela gaunmu
Sisa hujan semalam belum kering 

Mentari masih malu
Beranjak dari peraduan
Dan hembus angin 
Enggan rontokan bulir air 
Tak peduli terus melangka
Ingin segera menghalau pipit 
Mungkin telah bertengger 
Memenuhi hasrat pada bulir-bulir padi 
Menikmati saat sang empunya lengah.

Terkadang mata bening indahmu
Liar menatap jauh tak berbatas
Pada jalanan yang masih sepi 
Karena derap langka belum temukan 
Menemani langka sekedar berbincang

Hati kecil yang masih lemah 
Kadang bertanya mengapa jalan ini?
Seharusnya kau masih tidur lelap
Bermimpi indah tentang dunia 
Seperti teman-teman kecilmu 
Sambil dibelai tangan halus tercinta.


Seburat sedih terpancar di wajah polosmu
Menengada bibir bergetar ke langit biru 

Seakan mencari mana Dia 

Katanya Maha Pengasih

Katanya Maha pemberi 

Membisikkan tanya di dada kecilmu 

Berontak pada Penguasa mana keadilan?

Mengapa dilimpahkan pada tubuh kecil 

Yang belum mampu seperti tubuh kekar itu

Bukankah aku masih bermain gembira

Tanpa harus turut memikul beban keluarga

Teriakmu tanpa suara 



Begitulah cerita tentangmu gadis kecil 

ketika padi menguning indah bagai butiran emas

Entah sampai kapan kau tak mampu menduga 

Namun tetap kau menjalaninya saja tanpa kata

Yang tersimpan penuh pada ruang kecil di selah tubuhmu



Pada burung-burung pipit yang datang bergerombol

Lalu menuking diam di antara butir-butir kemuning padi 

Kemudian sayup-sayup bisikan menghalau terbang jauh 

Sang gadis berpesan di antara teriakan kecilnya
Jangan datang lagi menikmati buliran padi menguning
Agar panen melimpah ruah.



Begitulah cerita tentangmu gadis kecil
ketika padi menguning bagai untain emas

Menyambut dengan suka cita akan terbayar lelah

Pada perjuangan dengan doa dan keringat kecilmu.



Jakarta, 30 Juni 2019


Puisi 2
BATU GANTUNG AKHIR KISAHMU
Oleh Darmawati Pane

Mungkin pernah ada cerita tentangmu
Gadis cantik nan ayu pada masamu
Beritanya terkabarkan bagaikan angin
Berhembus tajam memenuhi penjuru

Mungkin ada cerita tentangmu
Jatuh hati pada satu cinta
yang akan membawamu keawan biru
Bahagia, itu mimpi dan harapmu

Mungkin ada cerita tentangmu
Tak mampu berpaling juga berharap
Karena adat terlalu kuat membelit
Tak mampu kau longgarkan sedikit
Tiada belas kasih dari mereka
Penanggung bahagia raga dan batinmu

Mungkin ada cerita tentangmu
Yang kau sematkan pada akhir hidupmu
Menempuh bahagia dalam yakinmu
Pada hidup yang tidak ada
Berakhir pada keputusasaan
hingga tekatmu kuatmu
Tak lagi bisa tergoya langka
Menggapai keabadian
Di haribaan sang Maha Kuasa

Mungkin ada kisah tentangmu
Berakhir pada batu gantung
Bukti akan kisah cinta yang katanya
Akan bahagia hati pemiliknya
Kini hanya mampu dipandang
Dengan sejuta tanya
Benarkah kau pernah ada
walaupun bukti hadirmu
Ada tersaji di depan mata.

Jakarta, 30 Juni 2019

Puisi 3
BERCUMBU DENGAN KISAHMU
Oleh Darmawati Pane

Ayok sejenak bercumbu
Dengan kisahmu yang lalu
Ketika langka kecil ini
Menyusuri dirimu bersama
Rinai lembut semilir membelai
Saat aku hirup dengan mesra
Dalam bingkau sempurna

Ayok sejenak bercumbu
Kuingin menghempaskan sejenak
Bersama kembang dan pinus
yang selalu abadi memeluk
Tiap kali menyapa pada kesempatan yang ada

Rasa tak ingin berlalu
Semua penat ini masih ingin
Bercumbu bersama semua nikmat
Silih berganti tak kenal waktu
Sempurna bersama yang ingin aku peluk
Bersama waktuku nanti
ketika rindu sudah mulai tak berbingkai

Ayok bercumbu dengan kisahmu
Menikmati segelas susu kedelai
Siomai bumbu kacang
yang menari indah pada lidah

Ayok bercumbu dengan kisahmu
Bersama keluarga kecil
Memberikan seuntai senyum
yang hilang tergerus kehadiran
dengan waktu yang selalu berkeluh

Jakarta, 2 Juli 2019


Puisi 4
SUDAH TAK TERSISA
Oleh Darmawati Pane

Berlari kemana senyum itu
Ketika dulu begitu sombong
Kau ungkapkan segala hasrat
Tanpa hati mencoba menyapa
Akan tertusuk bila terus berkata

Sembunyi di mana
Tatapan penuh bahagia
Karena telah mampu
Menghancurkan bongkahan
Harga diri yang telah
kau cabik-cabik
Dengan rasa kesakitan
Tak mampu berkata

Di mana senyum itu
Berlari kemana dia
Sudah tak lagi tersisa.

Jakarta, 2 Juli 2019


Puisi 5
SEJENAK MEMELUK SEPI
Oleh Darmawati Pane

Kemarin
Ketika rinai angin
Berdenyut dari ranting
Pohon cemara
Dan ketika alunan nyanyian
Yang tidak kumengerti samar
Menemani tingka kegirangan
Anak kecil digenggaman erat
orangtua yang menemani
Langkah kecil tertati
Nampak kegembiraan
Yang tak mampu menebus harga

Kemarin
Betapa indahnya waktu
Kebersamaan yang berpendar
Merangkul asa yang lama
Tak mampir karena keruetan
Yang tak mampu menghindarkan diri
Menghirup dalam sejenak melepas sisa lelah
Dari perjuangan yang terus menghampiri
Terangkai nyaman memeluk sepi.

Jakarta, 2 Juli 2019

Puisi 6
Tema : Wajah
Judul : Sapa Hati
Oleh  : Darmawati PANE

Budayakan membaca Bro
Budayakan membaca Gan
Sering kali terucap
Ketika mencoba bertanya lebih
Pada informasi yang belum ke hati

Tak ada yang salah
sebab berita sudah tercetak indah
bahkan sempurna terukir kata perkata
Tak ada yang salah karena katanya
Sudah terinci dengan jelasnya

Cobalah menyapa hati
Bila berada  pada dirinya
Yang mungkin baru pertama
Bisa saja buta dengan gawainya

Budayakan membaca Gais
Tak ada yang salah
Semua sudah tercetak indah
Kata perkata jadi untaian yang indah
Tak ada yang salah
Tapi berikan waktu padanya
Siapa tahu jadi ladang pahala

Puisi 7
Tema : Rindu
Judul : PADA SEBUNGKUS SATE PADANG
Oleh  : Darmawati Pane

Puisi 8
Tema : Keikhlasan
Judul : Aku Perempuan
Oleh  : Darmawati Pane

Katanya dia lahir dari tulang rusuk
Katanya untuk menemani Adam di surga
Katanya dia mudah tergoda
Hingga Adam dan Hawa turun ke dunia
Lalu berpisah lama tapi tetap saling cinta

Kali ini aku bertanya padamu
yang pernah menyatakan cinta
Kali ini aku menyapa padamu
yang menyanjung tinggi hingga
tak mampu diri tolak hasrat dirinya

Mungkin kau tak bisa menjawab
karena kau bukan Adam yang
selalu cinta pada Hawa
Mungkin kau tak mampu berkata
karena janjimu hanya sampah

Katanya dia lahir dari tulang rusuk
untuk menemani harimu walaupun
tak seindah cinta Adam dan Hawa
akan aku coba setia walau hati
tetap gelisah

Jakarta, 6 Juli 2019
Titimangsa
#LCPNEPS
@EPSPublishing#lombapuisi#eventpuisi#regrann

Tema               : Keikhlasan (Puisi Lomba)
Judul               : Jodoh Akan Kembali
Nama Penyair : Darmawati Pane

Dulu aku yakin dia jodohku
kerena dia hadir dari doaku
Dulu aku yakin dia jodohku
Kerena hadirnya menyebarkan
aroma indah dalam hidupku

Dulu aku yakin dia jodohku
yang mengisih hariku kala
sepi mewarnai malamku
Dulu aku yakin dia jodohku
saat penghuni rumah kecil
semakin ramai degan kehadiran
malaikat-malaikat kecil kita

Kini masa indah itu harus
aku ikhlaskan
karena waktu untuk kita
harus berhenti pada titik
yang bukan mimpi pada awal
penyatuan diri

Kini aku harus pergi menepi
Kini harus aku simpan hati ini
Ntah pada siapa kembali nanti
hanya padaNya berserah diri

Aku pamit pergi kasih
Aku akan susuri nasib ini
Aku janji akan kembali
bila kau ingin kita bersama kembali
Aku janji dengan rasa ihklas hati
walau duri tajam sudah pernah
melukai hati ini.

Jakarta, 6 Juli 2019
Titimangsa
#LCPNEPS
@EPSPublishing#lombapuisi#eventpuisi#regrann


Judul : Gadis Kecil Penjajah Kripik
Oleh  : Darmawati Pane

Gadis kecil Penjajah kripik
Yang berkeliaran di pojok pasar
Dengan menggengam bungkusan
di tangan tak berhenti menawarkan

Gadis kecil penjajah kripik
tanpa lelah walau kakimu
mengitari tempat yang sama
bahkan berulang kali

Gadis kecil penjajah kripik
Tak seburat rasa lelah terpancar
Meski berkali di tolak tak pernah jerah
Bahkan diusir karena terganggu
tak tergambar rasa kecewa putus asah

Gadi kecil penjajah kripik
Teruslah berjuang jangan menyerah
Gantungkan harapan setinggi angkasa raya
Jangan pernah menyerah berputus asah
Hari ini boleh kau terhina karena di bawah
Besok tak tahu yang terjadi karena semua
kuasa yang empunya angkasa

Judul : Pena
Oleh  : Darmawati Pane
Nama Pena : @daras pane09

Kau hanya permainan kata
Begitu sangat sederhana
Terlihat imut licin kata
Terlihat sepele syarat makna

Jangan picing sebelah mata
Tak sembarang bergelut dengannya
Seluas samudra berpanjang kata
Diurai-urai tak ada habisnya
Tak dilukiskan kata perkata
Kan sia-sia termakan masa.

Jakarta, 21 Juli 2019

KUMPULAN TANTANGAN MENULIS PUISI

Puisi 1
Tema : Pengkhianat
Judul : Permainan Cukup di Sini
Oleh  : Darmawati Pane

Kalau kau coba menerobos
Masuk lebih ke reluk hatiku
Akan kau lihat betapa darahku
Sudah bercampur akan luka
Bernanah dan perih teriris sembilu

Kalau kau coba menerobos reluk hatiku
Tak akan kau temukan lagi nama
Yang selalu aku simpan dengan manis
Tak kan hilang begitu kita pernah berjanji

Kini aku terpaksa membongkar
Karena semua janji itu hanya delusi
Permainan kita cukup di sini
Karena kata teman bukan milik kita lagi

Titimangsa
Jakarta, 3 Juli 2019

@sastraindonesiaorg
@aepublishing
#30_Hari_Berpuisi
#Hari1
#Pengkhianat

Puisi 2
Tema: Perundungan
Judul: Tanda
Oleh : Darmawati Pane

Tanda dibibirmu
Sudah cukup untuk cerita
Kalau terjadi satu tragedi
yang telah mengoyak harga dirimu

Bisu langkamu menapi sudut rumah kita
Berpaling dariku yang bukan caramu
Agar tanya yang tak mampu kau jawab
Sejenak tertahan dalam padangan

Nak, aku yang selalu bersama
Ketika tertatih pada jejak pertamamu
Mengiringi kata yang hanya sepotong saja
Menjemput jemarimu ketika tubuh kecilmu resa

Nak, aku ibumu
Tanda dibibirmu telah bercerita
Akan duka yang kau derita

Titimangsa
Jakarta, 3 Juli 2019

@sastraindonesiaorg
@aepublishing
#30_Hari_Berpuisi
#Hari2
#Perundungan

Puisi 3
Tema: Bermuka Dua
Judul: Keindahan Palsu
Oleh : Darmawati Pane

Mawar yang indah
Merebak harummu
Memenuhi kantong hatiku
Saat senyummu berhasil
Menggapai semua anganku
Yang tak lagi sempurna

Jiwaku telah  kau robek
Ketika duri tajammu
Mencabik tanpa ampun
Pada rasa Mengagumi

Kini luka menghinggapi diri
Syair cintaku tak lagi kugenggam
Terjebak pada keindahan palsumu
Yang tak mampu lagi aku redam

Titimangsa
Jakarta, 3 Juli 2019

@sastraindonesiaorg
@aepublishing
#30_Hari_Berpuisi
#Hari3
#Bermuka Dua

Puisi 4
Tema : Menelan Saliva
Judul : Mulut
Oleh  : Darmawati Pane

Aku tahu itu
Kau adalah angin
Yang selalu lembut
Merayu meninggikan angan

Aku juga tahu
Kalau kau juga
Yang selalu menemani
Merai asah bersama
Dengan sejuta mimpi
Bersama membela badai

Begitu indahnya ruang itu
Saat kau tumpahkan
Beribu aroma anggur kucium mesra
Mutiara penyejuk hati mengalun indah
Begitu jelas menggambarkan siapa

Dari rongga itu juga
Bau busuk menebar aroma
Hingga rasa diaduk ingin munta
Begitu salivamu meluncur sendiri
Tanpa kau sadari membakar bak lida api

Rongga itu Sudan dititpkan
Padamu oleh yang kuasa
Terserah kehendak mau jadi apa
Tapi akan lebih bermakna
Bila kedamaian terciptakan disana.

Titimangsa
Jakarta, 4 Juli 2019

@sastraindonesiaorg
@eapublishing
#30_Hari_Berpuisi
#Hari4
#Menelan Saliva

Puisi 5
Tema : Pembohong
Judul : Hatimu Tak Seindah janjimu
Oleh  : Darmawati Pane

Ungkapan kata indah
Begitu merayu
Menggenggam sukma
Menjerat logika tanpa syarat
Ketika hati tertambat
Pada pesona merdu bisikmu

Akh hatiku terjerat
Pada adinda secantik bulan
Yang tersenyum memandang gelisa
Begitu janjimu menambah yakinku
Akan hatimu hanya untukku

Angan membuncah
Melayang ke awan biru
Hingga tetesan hujan
Dan gemuruh kilat menyambar
luruh terjerebab menimpah bumi
Nafas berkejaran tak sanggup terhirup

Kau buai dengan cinta palsu
Dan janji dari mulut busukmu
Kau penipu ulung yang unggul
terlapis indah pada kepalsuan rupa
Pada hatimu yang tak seindah janjimu.

Titimangsa
Jakarta, 5 Juli 2019

@sastraindonesiaorg
@aepublishing

#30_Hari_Berpuisi
#Hari5
#Pembohong

Puisi 6
Tema : Pedebah
Judul : Sampai Kapan
Oleh  : Darmawati Pane

Sampai kapan semua ini
Bisik pelan di sisi rongga
yang selalu berbisik merintih
Ketika menyaksikan dirimu
Tanpa hati selalu seenaknya
tanpa rasa

Tak bisakah sejenak
kita damai dan akui
Kalau dirimu pedebah
tidak tahu diri yang hanya
berkata tapi minus bukti

Aku sudah bosan bersisian
Karena apapun kisah yang
disampaikan tak akan pernah
menyusup pada hatimu yang
hingga kapanpun sudah tertutup

Titimangsa
Jakarta, 6 Juli 2019

@sastraindonesiaorg
@aepublishing

#30_Hari_Berpuisi
#Hari6
#Pendebah


Puisi 6-A
Tema : Pedebah
Judul : Si Pedebah
Oleh  : Darmawati Pane

Siapa si pedebah?
Aku si pedebah!
Kau si pedabah!
Dia si pedebah!
Kalian si pedebah!
Kita semua pedebah!

Ingat!
Ketika aku pernah menyakiti
Ketika kau pernah menyakiti
Ketika dia pernah menyakiti
Ketika kita saling menyakiti
Ketika sama-sama tersakiti

Siapa itu pedebah?
Kita semua pedebah
Yang hanya berdiri mengatas
namakan tahta di atar segalanya
Kita pedebah yang selalu merasa
hebat dan menang sendiri
Kita pedebah yang rela melepas
tangan terkasih demi hasrat yang
tidak terpujih

Kita adalah pedebah
hanya makhluk yang lemah
ciptaanNya yang tak sempurna
Kita adalah pedebah
Makhluk pendosa dan juga hina
Tak mungkin lama karena
semua ada masanya jangan jumawa
Kita adalah pedebah
yang bisa terjilat api neraka

Siapa si pedebah?
Aku, kau, dia, kalian dan kita!
Semua Pedebah!

Titimangsa
Jakarta, 6 Juli 2019

@sastraindonesiaorg
@aepublishing

#30_Hari_Berpuisi
#Hari6
#Pedebah

Tema : Kupu-kupu (puisi 1)
Judul : Kupu-kupu
Oleh  : Darmawati Pane

Kisahmu seekor kupu-kupu
yang ditapaki dari kepompong
bertengger pada lorong hingga
sayapmu berpendar berbondong-bondong

Warna tubuhmu yang indah
menggemaskan ingin menyentuh
tapi takut nanti kau rapuh
Karena itu kubiarkan hinggap
kemanapun yang kau mau

Kisahmu eekor kupu-kupu
Yang selalu hinggap menghisap madu
Hingga putik keluar beradu
tanda jasa tepak kakimu

Makhluk yang banyak kisah
hingga masamu tak tersisah
gugur  ke bumi tanpa cerita

Titimangsa
Jakarta, 7 Juli 2019

@sastraindonesiaorg
@aepublishing

#30_Hari_Berpuisi
#Harit7
#Kupu-kupu


Tema : Kupu-kupu (puisi 2)
Judul : Jalan Kisahmu
Oleh  : Darmawati Pane

Malam mulai menyapa bintang
Malam yang mulai berpendar
Perlahan menyapa kepak sayapmu
Melangkah menyusuri jalan panjang
yang bukan jalan kenanganmu

Malam mulai menyapa rembulan
tersembunyi malu di balik awan
Mengiring langkahmu yang terpaksa
malam yang tak seharusnya engkau lalui
kerena hasratmu saat kecil sangat tinggi
dalam angan kebahagiaan

Kepak sayapmu mulai berpendar
Menyapa kumbang-kumbang malam
Terpaksa kau lakukan demi buah hati
yang selalu ingin kau sayang
Meskipun kau tahu bukan jalan
Tak terbayang berakhir kapan?

Kisahmu kupu-kupu yang selalu
menyapa kumbang-kumbang malam
Kehadiranmu selalu dipinggirkan
Di tengah himpitan menggali rupiah
tanpa solusi pada ketidak berdayaan
Pada amarah yang membuncah di dada
Pada mereka yang hanya mampu berkata
Tanpa tahu hendak kemana
menyandarkan raga

Kisahmu kupu-kupu malam
yang tetap mengangkat tangan
Walau kau tahu tubuhmu penuh kotoran
Doamu sudah tak layak untuk dibisikkan
Tanganmu tetap kau kembangkan
Pada Penguasa Jagat pemberi ampunan.

Titimangsa
Jakarta, 7 Juli 2019

@sastraindonesiaorg
@aepublishing

#30_Hari_Berpuisi
#Hari7
#Kupu-kupu


Tema : Cahaya
Judul : Memeluk Cahaya Lembayung
Oleh  : Darmawati Pane

Syair tentang Binal
Bagai setitik air yang bertengger
pada daun menggapai pegangan
saat angın bergerak tumpah
tergulung tanpa ampun
Luruh ke tanah

Binal merintih hebat
Tubuh ringki bergetar
Tak mampu tegak
Lumpuh tercucuk
berkubang pada dosa
pasrah pada derai air mata
tanpa suara.

Binal kini berhias pada
lembayung lembut menyapa
Doa panjang yang mengalun
mohon ampun dipehujung malam
Penyejung bagai cahaya
yang selalu memeluk jiwa
dalam perjalanan
menggapai ampunnya

Cahaya telah memeluk
Tak akan cekejap terlepas
Binal telah kembali
Pada roda ketentuan TuhanNya
Memeluk cahaya lembayung

Titimangsa
Jakarta, 8 Juli 2019

@sastraindonesiaorg
@aepublishing

#30_Hari_Berpuisi
#Hari8
#Cahaya


Tema : Bintang
Judul : Memeluk Bintang
Oleh  : Darmawati Pane

Langkah kecilmu kakimu sesaat terhenti di taman kota
Setelah seharian memanggul pada bahumu yang
belum bergeser dari pikulan dari awal kehadiranmu
menjejak kota yang kau kira mampu menembus anganmu

Keringat masih menempel pada wajah kecilmu
Bersadar lelah dengan sesekali menarik nafas
untuk melepas gelisa yang menyapa hati kecilmu
Malam pun mulai merambat menyapa bumi
Tak ada jalan lain kaupun mulai merebahkan diri
Bersahabat dengan bumi yang berpeluk sepi

Bertemankan bintang mulai hayalan menari dalam benakmu
Aduhai bintang alangkah indah Tuhan menjadikan singgasanamu
Sambil tangan kecilnya terangkat seakan ingin memetik
Membawa kepelukan untuk dipersembahkan pada mak
yang menunggu di kampung dalam untai doa pada nanda

Tetes-tetes kristar bening mulai mengalir dari sudut mata
yang mulai redup segera terlelap dengan mimpi indah
Ketika besök angan menyapa pada harapan indah
Pada langkah kecil pahlawan keluarga kebaggaan mak.


Titimangsa
Jakarta, 9 Juli 2019

@sastraindonesiaorg
@aepublishing

#30_Hari_Berpuisi
#Hari9
#Bintang

Tema : Bulan
Judul : Rindu
Oleh  : Darmawati Pane

Rembulan yang bersemayam
di balik malam yang tersenyum girang
Rembulan yang hanya bisa kupadang
yang selalu memancarakan keindahan

Rembulan yang bersimpuh berteman malam
Titip rinduku padanya yang jauh di angan
Katakan padanya jangan terlalu lama menghilang
Takut pada kumbang terbang kepangkuan

Rembulan yang mengintip di balik awan
Sampaikan rinduku yang mendalam.

Titimangsa
Jakarta, 10Juli 2019

@sastraindonesiaorg
@aepublishing

#30_Hari_Berpuisi
#Hari10
#Bulan


Tema   : Langit
Judul   : Kokoh Bagai Langit
Oleh    : Darmawati Pane
            
Berteriak!
Panggil namaku
Teriakkan asahmu
Tunjuk wajahnya
Bila perlu julurkan 
Lidamu dengan sempurna
Sembur dengan busamu
Bila menjadi damai jiwamu

Berteriak!
Tak akan perduli lagi
Tak akan mengeluh lagi
Tak akan kuteteskan lagi
bulir mutiara yang meluncur
dari mata indah dan senyum
manis tak akan berlari
dari bibir merah 

Berteriaklah! 
Tak akan hiraukan lagi
Aku akan jadi langit indah
berhiaskan awan yang berserakan
Aku akan jadi langit biru yang 
selalu senyum sumringah
Langit yang tak akan menggigil
walau terguyur hujan
Langit yang akan tetap berdiri
Walau gempa menggoncang
dan menerjang

Berteriaklah!
Maki aku sesukamu
Aku akan tetap kokok
Aku akan tetap tegak
Bagaikan langit  yang bertahta
pada angkasa.

Titimangsa
Jakarta, 11Juli 2019

@sastraindonesiaorg
@aepublishing

#30_Hari_Berpuisi
#Hari11
#Langit


Tema   : Senja
Judul   : Pada Senja
Oleh    : Darmawati Pane
            
Senja belum menyentuh bumi
saat langka kaki menyusuri
jalanan di kampus sore itu
Terlihat luka dibening matamu
dan bibirmu yang kering membisu
Aku hanya mampu mengiring
sampai kemana berhenti langkamu

Senjapun mulai turun 
Warna cakrawala yang begitu 
indah seakan menatap mesra
Bunyi binatang malam mulai
bernyayi riang menyambut senja
Tanda malam tak lama akan tiba

Kembali aku tatap wajah
yang tetap beku tanpa kata
Batin bertanya ada apa gerangan
pada senyum yang selalu menggoda
pada kata yang selalu berirama
Seketika leyap tanpa suara.

Kepadamu wahai senja
yang bermandi cahaya jingga
Senja yang romantis bagi pecinta
Siapa gerangan menggores rasa hatinya
hanya kepada senja gejolak jiwa tertumpah.

Titimangsa
Jakarta, 12Juli 2019

@sastraindonesiaorg
@aepublishing

#30_Hari_Berpuisi
#Hari12
#Senja

Tema   : Pantai
Judul   : Saksi Kisah
Oleh    : Darmawati Pane

Hembusan sepoi membelai 
Butiran pasir putih terhampar
bak permadi tak bertepi 
Ombak berpeluk berlarian
menghempas ke bibir pantai

Berdiri sahdu memandang
lepas ke laut bergelombang
Menjadi saksi tanpa aksara
Kisah lampau turut terkelupas
diantar angin berbisik menguntai
kata mesra merayu pada
sang kekasih pujaan

Berdiri sahdu memandang lepas
Kisah lampau saling beradu
dalam kenangan masa lalu
Saat jemari bertaut erat
Seperti rembulan menemeni bintang
berkisah sejuta hasrat akan beriring
menembus rintangan membentang

Berdiri sahdu memandang lepas
Tinggal kenangan tak akan hilang
Karena rasa ini pernah terikat indah
Pada kisah yang tak sanggup terlepas
Meski raga tak mampu memeluk takdir
untuk selalu bergenggaman erat
Seperti janji laut kepada pantai
yang pergi walau sementara
Kembali Bila rindu menyapa.

Titimangsa
Jakarta, 13 Juli 2019

@sastraindonesiaorg
@aepublishing

#30_Hari_Berpuisi
#Hari13
#Pantai

Tema   : Jabatan
Judul   : Hanya Titipan
Oleh    : Darmawati Pane

Jabatan!
keistimewaan dan penghargaan
Kelebihan dan kekuatan
Tidak terpangku sembarang

Jabatan
Harapan dan impian
Buah dari ketekunan
Hadiah dari pembelajaran
Amanat dari bawahan.

Jabatan!
Bukan untuk membantik
Ketika rasa tidak suka
Bukan untuk menyingkirkan
ketika tidak sejalan.
Bukan untuk memukul saat
kalah berdebat.

Jabatan!
penghargaan atas ketekunan
Penghargaan atas pembelajaran
Hanya sesaat dalam pelukan
Tak bertahan di genggaman

Jabatan!
Hanya titipan boleh diminta
Jadikan doa dan amalan
sebagai bekal saat kembali
Pada Pemberi amanat.

Titimangsa
Jakarta, 14 Juli 2019

@sastraindonesiaorg
@aepublishing

#30_Hari_Berpuisi
#Hari14
#Jabatan


Tema   : Dunia
Judul   : Dunia dalam Sajian
Oleh    : Darmawati Pane

Suguhan apa yang disajikan
Hingga begitu nikmatnya
kau rasakan tanpa berpaling
Minuman apa yang kau teguk
hingga begitu memabukkan
Sampai Kau lupa daratan

Aku hanya bisa memandang
tak berkedip sejenak pun
Aku hanya bisa menelan saliva
karena tak ditawarkan
bagaimana rasa manisnya

Terbayang!
Ketika kaki yang sudah tak kokoh
tetap bertahan pada giliran
Umuryang sudah tak muda lagi
Berjalan dengan hasrat membara
walau tertati tapi tak perduli
Jari yang keriput di makan waktu
Semakin suram karena tercampur warna

Tapi begitulah hidup di dunia
Bagai senja yang indah saat sore tiba
Akan tertelan bila malam menyapa
Tidak ada yang sempurna dalam keabadian
Semua penuh dengan fata morgana
Hanya mimpi yang akan berakhir
Ketika tidur sudah terjaga

Inilah dunia!
Bagai lautan gelombang menghempas
Akan terombang-ambing tanpa arah
Bila tak ada iman bersarang di sana.

Titimangsa
Jakarta, 15 Juli 2019

@sastraindonesiaorg
@aepublishing

#30_Hari_Berpuisi
#Hari15
#Dunia


Tema : Angkasa
Judul : Gadis Kecil Penjajah Kripik
Oleh  : Darmawati Pane

Gadis kecil Penjajah kripik
Yang berkeliaran di pojok pasar
Dengan menggengam bungkusan
di tangan tak berhenti menawarkan

Gadis kecil penjajah kripik
tanpa lelah walau kakimu
mengitari tempat yang sama
bahkan berulang kali

Gadis kecil penjajah kripik
Tak seburat rasa jerah terpancar di mata
Meski berkali di tolak tak pernah jerah
Bahkan diusir karena terganggu
tak tergambar rasa kecewa

Gadi kecil penjajah kripik
Teruslah berjuang jangan menyerah
Gantungkan citamu setinggi angkasa
Jangan pernah putus asah
Hari ini boleh kau terhina karena di bawah
Besok tak tahu bagaimana
karena semua ada waktunya
kuasa yang empunya angkasa

Titimangsa
Jakarta, 16 Juli 2019

@sastraindonesiaorg
@aepublishing

#30_Hari_Berpuisi
#Hari16
#Angkasa

Tema : Samudra
Judul : Menunaiakan Panggilan
Oleh  : Darmawati Pane

Aku pamit teman-teman
Bisikmu sesaat sebelum
membela angkasa raya
Mimpimu indahmu memandang
samudra sudah terwujud nyata

Wajah tenang dan ikhlas
Terpancar dari tatap matamu
dengan sedikit senyum kecil
menggabarkan kesiapan hati
memenuhi panggilanNya

Waktu yang kau nanti
sudah tiba masanya
Selamat jalan teman
Samudra raya yang terlewati
menjadi doa yang tak lekang
termakan zaman

Titimangsa
Jakarta, 18 Juli 2019

@sastraindonesiaorg
@aepublishing

#30_Hari_Berpuisi
#Hari17
#Samudra

Tema : Laut
Judul : Jangan Ukur
Oleh  : Darmawati Pane

Kalau tanya hatiku sedalam apa padamu
Berhentilah karena tak ada jawaban untuk itu
Kalau kau tanya sayangkah aku padamu
Cukup, karena tak akan ada ukuran untuk itu
Tak akan ada hitungan yang pasti tentang itu

Hatiku bukan laut yang dapat diukur dalamnya
Hatiku bukan laut yang dapat diukur panjangnya
Hatiku bukan laut yang pasti isinya ikan dan karang
Hatiku bukan laut yang pasti airnya asin tak terperi
Hatiku bukan laut yang selalu bergelombang lalu terhempas

Lihatlah senyum manisku yang tulus saat menyapa
Lihatlah gerakan gemulaiku ketika bersama
Lihatlah gerak bibirku yang tak henti meminta padaNya
Lihatlah yang aku kisahkan hanya tentangmu saja
Jangan ukur aku dengan semua alat ukur di dunia
sekalipun itu pada kedalaman laut yang terdalam
Karena aku bukan yang dapat kau ukur juga kau hitung

Titimangsa
Jakarta, 19 Juli 2019

@sastraindonesiaorg
@aepublishing

#30_Hari_Berpuisi
#Hari18
#Laut

Tema : Elok
Judul : Lelakiku
Oleh  : Darmawati Pane

Lelakiku,
yang elok tak berkelok
Terimakasih sudah jadi
pribadi yang elok
Sudah setia menjaga
Hingga hati tak ingin berbelok

Lelakiku,
Berparas elok tak berkelok
Walau sudah tak elok
tetaplah patrikan di hati
Untuk cintamu yang elok

Titimangsa
Jakarta, 19 Juli 2019

@sastraindonesiaorg
@aepublishing

#30_Hari_Berpuisi
#Hari19
#Elok

Tema : Kecewa
Judul : Rela Demi Terbaikmu 
Oleh  : Darmawati Pane

Suara petir menggelegar menyambar
padahal hujan tak setetespun menitik
Ketika kabar akan keberangkatanmu
Lewat guratan tangan yang kau layangkan.

Terpaku dan termangu dalam diam
Tak percaya pada pandangan
Batin berbisik, secepat ini kah?
Benarkah ini kabar darinya?

Rasa baru kemarin kebersamaan
Rasa baru kemarin tertawa lepas
Rasa baru kemarin bermimpi indah
Menapaki langkah melanjutkan harapan
yang sudah tergenggam erat
tak ingin terlepaskan.

Akh, haruskah kami melepas genggaman
Haruskah kita akhiri rinai-rinai angin
rinai-rinai air yang selalu kita pandang
di sepanjang hari disela sibukmu
mengitari ruang demi ruang yang kadang
menimbulkan senyum, kecewa dan sedih
di sela bibirmu.

Tapi tak mengapa kalau ini suratan
Tak mengapa bila ini kebaikan
Mungkin sepi akan menemani hari
Mungkin gunda akan selalu memeluk diri
Tak akan ada seperti dirimu lagi
di pagi buta memeluk dingin menanti hadir kami
Dengan senyum ikhlasmu penyejuk hati.

Berangkatlah bersama doa kami
Kencan kita cukupkan sampai di sini
Walaupu kecewa melilit diri itu pasti
Demi terbaikmu aku relakan takdir ini.

Titimangsa
Jakarta, 20 Juli 2019

@sastraindonesiaorg
@aepublishing

#30_Hari_Berpuisi
#Hari20
#Kecewa

(Selamat Pak Priyanto,M.Si, semoga ini terbaik tapi tetap berharap bersama di SMP Q)

Tema : Gagal
Judul : Karena Gelap Juga Cahaya
Oleh  : Darmawati Pane

Kau pernah berdiri dititik nadir itu
Ketika putih hatimu tergores luka
benang sembilu menancap tajam
Berdarah dan bernanah
Membias kecewa akan penghianatan

Pernah kau berdiri dititik nadir itu
Ketika semua mata menatap dalam
Ketika semua tangan menunjuk
Hingga kau putuskan, cukup!

Perjalanan pernah membawakmu dalam gelap
Perjalanan membuat langkakmu pernah terhambat
Membuat larimu yang kencang terhenti sejenak
Tapi bukan untuk dikutuk, dihujat juga dicela
Semaumu berkata, sesukamu menatap
Tanpa mencoba merayu relung hati apakah terluka

Kegelapan malam yang pernah terlewati
Akan tetap mengirim cahaya lewat bintang
Kegelapan malam yang ditinggal mentari
Tetap jadi harapan selalu jadi impian
Hanya perlu kokoh dalam perjuangan
Meskipun angin datang menampar.

Titimangsa
Jakarta, 21 Juli 2019

@sastraindonesiaorg
@aepublishing

#30_Hari_Berpuisi
#Hari21
#Gagal

Tema : Cinta
Judul : Menggenggam Sampai Ujung Masa
Oleh  : Darmawati Pane

Bagaikan malam yang bermandikan bintang
Bagaikan rembulan yang tersenyum riang
Bagaikan langit yang bergelung berselimut awan
Dalam guratkan rasa yang terdalam
mengukir kata demi kata yang terpendam
Dalam ungkapan hati yang mulai meremang
Demikian lukisan dirimu menyemai pada relung
-relung gua hati bersemi.

Bagaikan ombak menghempas ke bibir pantai
Datang dan pergi silih berganti
Bagaikan angin yang membelai lembut
Kau buai hati yang sedang bergolak indah
Bersemi dalam nafas nada asmara
Tak perduli sekalipun kau kan rapuh
Pada sendi yang tak bisa tertopang

Begitu kisahmu seperti wujud yang
kau mau terserah dirimu
Tapi kau mampu memberi
suatu yang menjadi kejutan indah
Mengeratkan dikala asah mulai goya
Menggenggam erat sampai ke ujung masa
Cinta.

Titimangsa
Jakarta, 22 Juli 2019

@sastraindonesiaorg
@aepublishing

#30_Hari_Berpuisi
#Hari22
#Cinta

Putra Pertiwi
Karya Darmawati Pane

Baharudin Yusuf Habibi Putra Pertiwi
Nama yang disematkan pada dirimu
Oleh ayah bunda yang mengasihi
Delapan puluh dua tahun yang lalu

Namamu tak asing di negeri ini
Dengan perjuanganmu yang gagah berani
Pesawat impianmu walau sesaat mengudara
Menjabat presiden di saat genting melanda negara

Hujatan atas ketidak mampuanmu memeluk erat
Ejekan akan peranmu dalam pesawat oleng
Siap mendarat membentur semua dinding rapuh
Menghampiri imanmu agar segera hengkang
Memompah semangatmu kian membara

Pertiwi sedang menangis merontah
Anak negeri dipertaruhkan 
Tekatmu diberikan pada dua pilihan 
Menghapus derai tangis ibu pertiwi
Menyingkirkan diri tak mau perduli

Baharudin Yusuf Habibi
Putra pertiwi kebanggaan sejati
Rela berjuang walau dihina dan dicaci
Demi pertiwi tak berkecil hati.

Baharudin Yusuf Habibi Bapak pertiwi
Senja mulai menjemput kesibukan mentari
Memintak kembali pada keanggunan malam
Suara kebesaran Sang Pemilik Keagungan
Datang menghampirimu mengajak pulang
Kekasihmu yang setia tersenyum melambai 
Bergandeng tangan  menemui Sang Ilahi Robbi

Innalillahi wainna ilaihi rojiun
Selamat jalan putra pertiwi
Selamat jalan  putra terbaik bangsa
Husnul khatimah kami antar dalam doa.

Jakarta, 12 September 2019




Tidak ada komentar:

Posting Komentar