UJI NYALI DI BUALN RAMADHAN
@daras09
Membaca postingan salah satu peserta 30HRDC, melayangkan anganku kemasa-masa Sekolah Dasar sampai aku menginjak bangku SMA. Mungkin karena kegiatan yang selalu diadakan setiap datang bulan Ramadhan ini yang sudah menempah diriku ketika SMA bisa jadi juara pada ajang lomba pidato saat ada acara Maulis Nabi yang diadakan sekolah walaupun bukan juara pertama tapi dapat bertengger di posisi kedua. Kata teman-teman sih seharunya aku yang harus diposisi pertama, tapi sudahlah yang penting aku sudah bisa membuktikan tanpa bimbingan guru aku mampu menjadi editor pidato yang diberikan guru sebelum kemudian tampil berpidato di depan guru dan tema-teman satu sekolah, menurut saya bukan hal yang musah dilakukan dan tidak semua mampu melakukan itu. Kebiasaan di bulan Ramadhan yang juga membuat diriku juga punya keberanian tampil menjadi pembina upacara saat hari senin ketika saya sudah menjadi seorang pengajar, tanpa pemeran pembantu, Ikh.... seperti pemain sinetron saja hehehe.... padahal itu debut pertamaku sebelumnya tidak pernah.
Setiap tiba di bulan Ramadhan, bulan penuh rahmat bagi seluruh umat islam diseluruh penjuru dunia ini. Aku dan adikku harus siap-siap untuk mengikuti lomba berpidato yang diadakan masjid tempat aku dan keluarga menunaikan sholat berjama'ah setiap harinya, atau ketika bulan Ramadhan telah menghampiri. Semua anak yang yang sudah duduk dibangku Sekolah Dasar diwajibkan untuk mengikuti ajang tersebut, hadiah tentu juga menanti bagi yang berpidatonya bagus. Selama dua minggu berturut-turut ceramah yang biasanya diisi orang-orang dewasa, diambil alih ustad dan ustazah cilik, dengan menampilkan tema dan gaya masing-masing yang lucu-lucu. kadang dari awal suaranya bereriak-teriak tak jelas apa sebenarnya yang sedang disampaikan, yang malu-malu juga ada walaupun akhirnya pidato dapat diselesaikan, ada juga yang nangis padahal belum bicara sepatah katapun. Dengan senyum sabar semua orangtua yang hadir memberi semangat. Begitulah setiap Ramadhan datang setiap tahunnya. Ajang yang selalu ditunggu olehku bersama anak lainnya, meskipun acara ini selalu membuat tegang.
Mengingat kembali kenangan ini membuat melo di lubuk hati, pelan-pelan setitik bening mulai mengananak sungai di dua belah pipi. Teringat ayahanda sebagai perancang acara ini. Ternyata beliau telah mendidik aku tidak secara langsung untuk bisa berdiri berani di depan umum. Sekarang beliau sudah tiada lagi bersama kami, semoga jejak ilmu yang sudah diberikan beliau menjadi amalan yang selalu mengalir untuknya di sisi Allah SWT.
Jakarta, 11 Ramadhan 1440 Hijriah/160519 (Edisi mengenang)
#Day(10)
#OneDay OnePost30HRDC
#WraitingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar