SEMUA ADA WAKTUNYA
Oleh@daras09
senyum kecil itu perlahan melebar ketika mendengar tidak bisa ikut buka puasa bersama karena mengikuti iktikaf mulai hari kesepuluh di bulan Ramadhan tahun ini. Tahun kemarin masih mau ikut. Hanya mampu mengucapakan alhamdulilah semoga jadi berkah tahun ini dan untuk tahun-tahun bulan Ramadhan yang akan datang, Aamiin. Mengalir rasa syukur yang mendalam. Tentu semua ini tuntunan hati kepada hambaNya yang diinginkan dan diridhoi Allah SWT.
Pelan-pelan hamparan kisah mengalir deras di pelupuk mata. Semua kejadian demi kejadian kembali. Saat kecil yang suka marah kalau ditanya tentang suatu hal, ketika tiba-tiba uang dari laci warung kurang, sang kakah bertanya apakah melihat, bukan mau menuduh uangnya diambil, apalagi uang itu milik keluarga sebagai tambahan penghasilan, orangtua membuka warung sembako kalau istilah orang sekarang. Tinggal jawab tidak susah sekali atau tinggal jawab baik-baik tidak akan menyusahkan diri. Tapi yang terjadi kata-kata kotorlah yang akan keluar sebagai jawaban dari pertanyaan sang kakak, tidak tahu malu dan sungkan kalau orangtua ada di sana kata-kata tersebut tetap akan mengalir enteng tanpa disaring pantas atau tidak ucapan tersebut dikeluarkan. Padahan orangtua sudah selalu memberi pesan agar kata-kata yang tidak pastas diucapakan jangan sampai naik ke dalam rumah, hanya boleh sampai pintu sebelum kaki melangkah masuk. Hal ini berlangsung sampai masuk SMP yang lebih parah, sampai terjatuh dari motor bersama temannya di bawah sendiri ke rumah sakit bersama teman yang dibonjengnya, keluarga tidak tahu sementara akibat kecelakaan itu ada yang harus dijahit. Sang dokter yang menangani saja sampai sedikit ragu, tapi adek yang bandel ini masih sempat-sempatnya memberi semangat yang tinggi kepada sang dokter agar jangan ragu melaksanakan tugasnya. Mungkin ini dilakukannya karena rasa takut terhadap orangtua kalau dimarahi bila ketahuan diam-diam mengendarai motor, ketempat yang seharusnya tidak boleh karena SIM saja belum punya. Ya, itulah di kampung, tidak begitu ketat bila dibandingkan dikota-kota besar yang polisinya akan ditemukan di setiap sudut jalan. Dia berani menyampaikan berita kecelakaan ini setelah semuanya dapat dikendalikan sendiri olehnya. Bila ingat kejadian yang pernah dialaminya itu meskipun dikemuadian hari setelah sama-sama dewasa, hati sang kakak selalu perih dan tidak bisa membayangkan kalau sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan semenatara keluarga tidak ada di sampingnya hanya berdua dengan temannya saja. Meskipun tetap bersyukur Allah masih melindungi Adek laki-laki satu-satnya itu.
Perlahan semua kelakuannya yang amburadul itu pelan-pelan mulai terkikis, meskipun belum sembuh kalau dengan emosi. Sampai kuliah selesai dan bekerja bahkan samapai berkeluarga luapan emosi kadang masih menghampiri. Marah dan suka mengancam masih terus dilakukan. kesel dan pusing karena tidak memahami maksud dan tujuan. Tetap tidak boleh dikasih tahu pasti marahnya tetap yang terdepan. Pernah suatu hari karena sang kakak sudah tidak kuat lagi dengan memendam semua kelakuannya sang kakakpun akhirnya balas marah, tentu saja seperti kelakuannya selama ini selalu tidak mau kalah, apapun kan dilakukan untuk mempertahankan dirinya padahal sudah jelas-jelas kelakuannya sudah tak pantas.
Begitulah seharusnya jadi kakak atau kalau ingin membuat oarang lain berubah. Setelah selesai marah tidak dilanjutkan dengan dendam apalagi dendam itu berkepanjangan. Sesalah apapun saudara itu tetaplah keluarga, apalagi yang terlahir dari ibu yang sama. bukannya memusuhi apalagi sampai mengajak anak-anak yang tidak tahu cerita. Membiarkan anak bercerita tentang kejelekan saudara kita padahal sang anak kemungkinan hanya membela diri, fakta yang sebenarnya jauh panggang dari api, jauh dari kebenaran yang sesungguhnya. Sebaik-baiknya orang di luar keluarga bahkan mungkin seperti keluarga, bisa berbagi cerita tentang hati yang gunda gulana, tentulah penolong yang sebenar-benarnya penolong dan membantu yang sebenarnya membantu tentulah masih keluaraga seayah dan seibu kita. Janganlah pernah putuskan silaturrahmi dengan keluarga. Berbicara dari hati ke hati tidak memutuskan sepihak akan lebih bijak. Belum tentu yang disampaikan sesuai dengan kenyataan, jatuhnya jadi suudzon.
Alhamdulilah semua telah berlalu, semua pasti ada waktunya. Tidak ada yang tidak mungkin ketika Allah SWT sudah berkata bisa tentulah semua akan terjadi seperti yang diinginkanNya, tinggal kita percaya atau tidak akan kasih sayang dan ketentuan indah dariNya. Mari menjalin kembali tali silaturrami yang sudah terputus, karena memutus salaturramisuatu hal yang tidak baik dan merugikan. Barang siapa yang memutuskan silaturrami memperpendek masa tinggal di muka bumi ini, nauzubika minjalik
Jakarta, 22 Ramadhan 1440 Hijriah/ 270519 Masehi
Alhamdulilah semua telah berlalu, semua pasti ada waktunya. Tidak ada yang tidak mungkin ketika Allah SWT sudah berkata bisa tentulah semua akan terjadi seperti yang diinginkanNya, tinggal kita percaya atau tidak akan kasih sayang dan ketentuan indah dariNya. Mari menjalin kembali tali silaturrami yang sudah terputus, karena memutus salaturramisuatu hal yang tidak baik dan merugikan. Barang siapa yang memutuskan silaturrami memperpendek masa tinggal di muka bumi ini, nauzubika minjalik
Jakarta, 22 Ramadhan 1440 Hijriah/ 270519 Masehi
#Day(19)
#OneDay OnePost30HRDC
#WraitingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar