Oleh @daras09
Pukul dua tiga puluh dini hari, Rahmi sudah terbangun dari tidurnya, pelan-pelan bangkit dari peraduannya dan berjalan tanpa menimbulkan kegaduhan karena takut membangunkan anak balitanya yang sudah berumur tiga tahun, yang tertidur lelap di samping suaminya. Mengetahui istrinya sudah bangun, sang suami beralih mengambil tugas sang istri agar anaknya tidak sampai terjaga dari tidurnya sampai istrinya selesai menyiapkan sahur mereka di bulan Ramadhan pagi ini, yang akan memasuki puasa di hari yang ke dua puluh lima. Setelah satu jam berkutat mempersiapkan segala keperluan sahur di pagi itu, Rahmi kembali ke kamarnya untuk menemui anak dan suaminya untuk mengajak sahur bersama. Ternyata tanpa perlu susah paya kedua oarang yang dicintainya sudah siap untuk menikmati makanan yang dibuatnya untuk sahur mereka di pagi itu. Kehadiran Rahmi di dalam kamar mereka disambut dengan senyum suka cita. Anaknya yang sedang berada dalam gendongan ayahnya langsung mengulurkan tangan minta digendong Rahmi. Kemudian mereka segera beranjak ke arah meja makan yang sudah menanti segera untuk dinikmati bersama saat makan sahur mereka di pagi itu.
Tidak seperti anak kecil pada umumnya yang selalu tertidur dan akan malas atau marah ketika dibangun di pagi hari, apalagi paginya masih sangat buta, seharusnya tidur masih akan lebih enak. Tapi bagi keluarga Rahmi membawa serta anak mereka bangun di pagi hari untuk sahur ketika Ramadhan bukan hal baru, karena sejak anak mereka masih dalam kandungan ketika Rahmi mengandung diawal kehamilannya yang kebetulan di bualan penuh berkah itu Rahmi sudah mulai memperkenalkan kepada anak yang dalam kandungannya kalau saat itu mereka bangun pagi untuk makan sahur karena besok ketika adzan subuh sudah berkumandang berarti harus berhenti makan karena harus berpuasa seharian sampai ada tanda berbuka puasa tiba. Hal itu terus berlanjut samapi anaknya lahir dan menginjak usia tiga tahun. Walaupun anaknya yang masih berumur tiga tahun itu hanya bisa sanggup menahan rasa lapar dan haus sampai pukul sembilan pagi harinya tak menjadi masalah, karena pembelajaran yang didapat dari semua itu akan perlahan berkembang hingga waktu rasa kuat berpuasa bagi anaknya tiba, kapan itu Ramhi tidak bisa memperkirahkan. Menurut Rahmi memperkenalkan lebih awal ajaran agama itu tidak harus menunggu anak cukup umur, pelajaran yang disampaikan dan diajarkan sejak kecil akan mampu menanamkan pemahaman anak tentang ajaran agama akan terpatri sampai kelak sang anak sudah tumbuh remaja, dan akan dipegang teguh ajaran tersebut ketika sang anak sudah dewasa.
Mengajarkan anak berpuasa lebih awal, selain sebagai perintah agama ternyata mengajarkan berpuasa dapat menjadikan anak lebih memiliki rasa kesabaran, sabar menahan lapar karena sedang melaksanakan kewajiban yang diperintahkan Allah bahwa berbuka puasa itu ada waktunya, jadi anak belajar sabar menunggu sampai waktu itu datang. Dengan berpuasa melatih anak jadi lebih perduli pada sekitarnya yang mungkin tidak bisa menikmati makan yang layak setiap harinya, bahkan mungkin tidak bisa hari itu makan karena persediaan makanan yang sudah habis tidak mampu membeli karena uang untuk membeli sudah tidak ada. Puasa juga mengajarkan anak untuk lebih menjaga sikap, tidak berbicara atau berperilaku yang dapat membatalkan pahala puasa. Rahmi sangat berharap ketika anaknya besar nanti akan menjadi anak yang membanggakan orangtua dan bagi agamanya. Untuk mendapat semua itu kuncinya harus mau mengajarkan anak lebi dini terhadap ajaran agama, tapi tentu saja tidak dengan paksaan agar anak lebih menikmati proses belajarnya tanpa merasa dipaksa sehingga tidak menjadi momok yang menakutkan. Belajar harus dengan hati riang dan kerelahan agar ajaran lebih cepat diterima. Mari mengajarkan anak berpuasa, agar karakter anak sudah tercipta sejak anak berusia belia. Jangan pernah merasa anak akan sakit atau hal negatif lain yang dipikirkan orangtua terhadap anaknya. Karena tidak ada dalam sejarah umat manusia meregang nyawa karena berpuasa. Selamat menjalankan ibadah puasa semoga menjadi pribadi-pribadi yang baik dan selalu bahagia.
Jakarta, 25 Ramadhan 1440 Hijriah/ 300519 Masehi
Tidak seperti anak kecil pada umumnya yang selalu tertidur dan akan malas atau marah ketika dibangun di pagi hari, apalagi paginya masih sangat buta, seharusnya tidur masih akan lebih enak. Tapi bagi keluarga Rahmi membawa serta anak mereka bangun di pagi hari untuk sahur ketika Ramadhan bukan hal baru, karena sejak anak mereka masih dalam kandungan ketika Rahmi mengandung diawal kehamilannya yang kebetulan di bualan penuh berkah itu Rahmi sudah mulai memperkenalkan kepada anak yang dalam kandungannya kalau saat itu mereka bangun pagi untuk makan sahur karena besok ketika adzan subuh sudah berkumandang berarti harus berhenti makan karena harus berpuasa seharian sampai ada tanda berbuka puasa tiba. Hal itu terus berlanjut samapi anaknya lahir dan menginjak usia tiga tahun. Walaupun anaknya yang masih berumur tiga tahun itu hanya bisa sanggup menahan rasa lapar dan haus sampai pukul sembilan pagi harinya tak menjadi masalah, karena pembelajaran yang didapat dari semua itu akan perlahan berkembang hingga waktu rasa kuat berpuasa bagi anaknya tiba, kapan itu Ramhi tidak bisa memperkirahkan. Menurut Rahmi memperkenalkan lebih awal ajaran agama itu tidak harus menunggu anak cukup umur, pelajaran yang disampaikan dan diajarkan sejak kecil akan mampu menanamkan pemahaman anak tentang ajaran agama akan terpatri sampai kelak sang anak sudah tumbuh remaja, dan akan dipegang teguh ajaran tersebut ketika sang anak sudah dewasa.
Mengajarkan anak berpuasa lebih awal, selain sebagai perintah agama ternyata mengajarkan berpuasa dapat menjadikan anak lebih memiliki rasa kesabaran, sabar menahan lapar karena sedang melaksanakan kewajiban yang diperintahkan Allah bahwa berbuka puasa itu ada waktunya, jadi anak belajar sabar menunggu sampai waktu itu datang. Dengan berpuasa melatih anak jadi lebih perduli pada sekitarnya yang mungkin tidak bisa menikmati makan yang layak setiap harinya, bahkan mungkin tidak bisa hari itu makan karena persediaan makanan yang sudah habis tidak mampu membeli karena uang untuk membeli sudah tidak ada. Puasa juga mengajarkan anak untuk lebih menjaga sikap, tidak berbicara atau berperilaku yang dapat membatalkan pahala puasa. Rahmi sangat berharap ketika anaknya besar nanti akan menjadi anak yang membanggakan orangtua dan bagi agamanya. Untuk mendapat semua itu kuncinya harus mau mengajarkan anak lebi dini terhadap ajaran agama, tapi tentu saja tidak dengan paksaan agar anak lebih menikmati proses belajarnya tanpa merasa dipaksa sehingga tidak menjadi momok yang menakutkan. Belajar harus dengan hati riang dan kerelahan agar ajaran lebih cepat diterima. Mari mengajarkan anak berpuasa, agar karakter anak sudah tercipta sejak anak berusia belia. Jangan pernah merasa anak akan sakit atau hal negatif lain yang dipikirkan orangtua terhadap anaknya. Karena tidak ada dalam sejarah umat manusia meregang nyawa karena berpuasa. Selamat menjalankan ibadah puasa semoga menjadi pribadi-pribadi yang baik dan selalu bahagia.
Jakarta, 25 Ramadhan 1440 Hijriah/ 300519 Masehi
#Day(24)
#OneDay OnePost30HRDC
#WraitingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar