BAGAI MENGUKIR DI ATAS BATU
Dini sudan terjaga dari tidurnya setelah pagi tadi melaksanakan sahur bersam keluarga besarnya. Walaupn Dini masih berumur 8 tahun dan masih duduk di bangku kelas dua Sekolah Dasar Swasta Islam di kotanya, tidak mengurangi semangatnya untuk mengikuti berpuasa Ramadhan seperti tahun sebelumnya, apalagi sebelum menjelang puasa guru agama sudah bercerita tentang puasa dan keutamaannya. Karena itu Dini sudah berniat akan mencoba berpuasa tidak lagi setengah hari, ikut sahur pagi hari dengan semangat karena makan rame-rame, apalagi hidangan yang dibuat Ibunya sangat enak dan nikmat, tiba pukul sepuluh pagi Dinipun segera berbuka meskipun beduk magrib tanda berbuka puasa masih lama. Mengingat itu semua Dini jadi senyum dan agak malu sendiri, karena selalu Dinilah yang paling semangat ketika akan sahur dan buka puasa padahal puasanya hanya setengah hari saja tidak sampai, tapi seluruh keluarga tidak ada yang mengejek semua tingkah yang Dini tunjukkan, semua mendukung karena mungkin mengerti kalau Dini masih kecil sekali untuk kuat berpuasa seharian.
Di tengah lamunan Dini dengan masih jelas terlihat senyum di antara bibirnya, tiba-tiba tanpa disadari Dini ibunya sudah berada di dalam kamarnya. Dini buru-buru bangun dari tidurnya sekalian tak lupa mengucapkan salam. Ibunya berjalan mendekati Dani sambil tak lupa menjawab salam anaknya.
"walaikumsalam sayang, gimana masih tetap lanjut puasa sampai beduk magrib ?"
Tanya ibunya sambil tersenyum seakan menggoda gadis kecilnya.
"Akh Ibu, jangan godain Dini dong"
Pinta Dini sambil bersembunyi menenggelamkan diri ke pelukan hangat ibunya. Tentu sang ibu menyambut hal yang dilakukan anaknya, dengan memeluk dengan erat sambil membelai rambut panjang legam anaknya. jadilah pagi itu berpelukan seperti teletabis diantara ibu dan anak. Saking asyiknya perpelukan, tiba-tiba kamar Dini sudah penuh diisi ayah dan semua kakak-kakaknya. Dengan terpaksa juga acara pelukan Dini dan Ibunya bubar. Suasana kamar Dini menjadi kacau balau, ada yang langsung loncat ke tempat tidur. Jadilah tempat tidurnya tidak jelas lagi bentuknya, yang biasa ditiduri sendiri, sekarang masuk tiga kakak laki-lakinya. Dini memang anak yang terakhir di dalam keluarganya, dan jarak diantara Dini dengan kakak-kakaknya sangat jauh. Kakaknya yang diatasnya sudah duduk di bangku SMA kelas XII, kakak nomor satu tingkat terakhir disalah satu perguruan tinggi negeri, sedang menyusun tugas akhirnya, sedang kakak nomor dua kuliah tingkat dua di kampus yang sama dengan kakak pertamanya hanya beda jurusan. jadilah Dini anak terakhir dan permpuan satu-satunya, sehingga sangat dimanja semua anggota keluarga. Tapi tidak membuat Dini jadi anak manja yang pemalas mentang-mentang anak bungsu dan perempuan sendiri lagi, hal inilah yang membuat semua anggota keluarga tambah sayang pada Dini. belum lagi prestasi yang selalu didapatkan Dini di sekolah. Selalu juara kelas disetiap semesternya.
Keputusan Dini mencoba berpuasa penuhpun sangat didukung kedua orangtuanya, begitu juga dengan ketiga kakak laki-lakinya. Bahkan kakak pertamanya menjanjikan sebuah hadiah yang indah untuk adiknya bila bisa berpuasa seharian penuh selama satu bulan Ramadhan. Tambah kuat lagilah tekat Dini untuk menuntaskan puasanya yang dimulai hari senin kemarin diawal bulan Ramdhan, berarti hari ini puasa Dini sudah masuk hari kedua. Semoga rencana Dini yang ingin menuntaskan puasa sebulan dapat tercapai, hingga hari kemenangan menyapa semua hambahnya yanag menjalankan dengan penuh tanggungjawab karena keimanannya terhapat Allah SWT.
Dari sekelumit kisah Dini seorang gadis kecil yang memiki tekan dan niat ingin berpuasa sebulan penuh, begitu mendapat dukukan dari pihal keluarga menjadi cermin pelajaran bagi kita, bahwa kekompakan keluarga dalam mendukung sangat dibutuhkan dalam perkembangan anak. ketika kecillah asupan agama sangat bagus dan tepat diajarkan, bagai memberikan asupan gizi yang kebutuhannya ketika sang anak besar nanti. Dengan mengenalkan anak sedari dini, tanpa perlu was-was takut tanpa sebab yang tidak jelas, akan menjadikan anak ketika besar nanti tentu akan berjalan sendiri menjalankan kebawajiban agamanya. Seperti pribahasa 'Bagai Mengukir di Atas Batu' tentu susah untuk hilang bekas perjalanan pelajaran saat kecil yang dibimbing keluarga tanpa disadari anak dan terbawa sampai anak dewasa dan akan melanjutkan estapet pelajaran yang diterimnya pada generani berikutnya saat sang anak sudah memiliki keluarga lain dalam hidupnya. akan berputar terus sepanjang dunia ini ada. Begitulah seharusnya yang dilakaukan orangtua kepada anak-anaknya. Semoga bermanfaat.
Jakarta, 070519

Tidak ada komentar:
Posting Komentar