Sabtu, 13 Juli 2019

DETAK CINTA PERTAMA


Detak Cinta Pertama

0leh Darmawati Pane

"Bruukk" Anggi yang baru saja pulang dari sekolah dan sengaja mengendap-endap agar tidak diketahui mamanya, tiba-tiba sudah duduk di samping mamanya yang sedang asyik di depan laptopnya. Tentu saja tidak tidak diragukan lagi pasti mamanya sangat kaget tingkat tinggi. Terbukti mamanya sampai menjerit sakin kagetnya. Situasi ini sangat dinikmati Anggi, karena sekaget apapun sang mama tidak akan pernah mengeluarkan kata-kata yang membuat anggi sebagai anak menjadi tersakiti karena makian yang akan Anggi terima tidak kan pernah keluar dari bibir mamanya. Mamanya seorang wanita, ibu dan istri yang sangat lembut juga penyayang sehingga selama hidupnya Anggi tidak pernah melihat pertengkaran di antra mama dan papanya. Kalaupun ada kesalahan yang terjadi penyelesaiannya selalu mereka lakukan dengan musyawarah. Anggi menjadi anak yang sangat begitu dekat dengan orangtuanya khususnya sang mama. Anggi tumbuh menjadi gadis yang lembut juga penyayang, tidak suka ribut dengan orang yang berada di sekitarnya, apalagi dengan teman-temanya di sekolah, Anggi begitu sangat disegani semua temannya, tidak hanya teman sekelas hampir satu sekolah mengenal Anggi. Baik kakak kelas yang sering terjadi ketimpangan kerena kakak kelas merasa senior yang harus dihargai dan dihormati. Anggi sangat bersyukur orangtuanya memasukkannya kesekolah yang bukan hanya bagus level akdemiknya tapi pergaulan antar siswa juga sangat terjaga. Sekolah tempat Anggi menuntut ilmu saat ini di SMA Swasta Islam Buah Hati yang kebetulan tidak jauh dari rumah tinggal Anggi. Sistem pendidikan di sekolah ini sangat mengutamakan Akhlak yang baik yang harus dimiliki anak. Akhlak yang baik sangat penting sekali untuk menjaga anak agar terhindar dari pergaualan yang sudah semakin rusak. Bila tidak hati-hati bisa terjerumus kehal yang tidak diingin sendiri juga orangtua tentunya yang bisa menghambat cita-cita bahkan untuk selama-lamanya. Bila itu terjadi tentu penyesalan yang tidak kan berkesudahan yang akan dialami. Hidup hanya sekali, jalankanlah sebaik-baiknya begitu selalu nasehat kedua orangtuanya, yang selalu tertanam juga pada pikiran Anggi sehingga tidak menolak melanjutkan ke sekolahnya setelah menyelesaikan tingkat SMP pada nama sekolah yang sama, hanya jenjangnya yang berbeda.

"Ma! panggil Anggi setelah acara jerit-menjerit tidak terdengar lagi dari bibir mamanya. Tubuh Anggipun sudah mulai mendekat, menggosok-gosokkan ke badan mamanya. Sang mamapun sudah mengerti kalau ada sesuatu yang akan dicurhankan anak gadis cantiknya. Mama hanya tersenyum sambil membelai kepala anaknya yang tertutupi jilbab putih sekolahnya. Sang mama tidak menjawab rengekan putrinya, tapi bukannya mama tidak perduli. Kebiasaan yang selalu dilakukan, menunggu dengan sabar hal yang akan dicurhatkan, cara yang diterapkan mama agar berani menyampaikan isi hati sekalipun itu pahit. Sampaikan kalau memang ingin mencari solusi lain, tapi kalau tidak simpan saja di dalam hatimu cari pemecahan sendiri. Hal inilah yang membuat anggi sangat nyaman akan bercerita apapun sama mamanya. Anggi tidak segan bercerita dan mencurahkan seluruh isi hatinya termasuk juga urusan jatuh cinta yang saat ini sedang melanda hatinya. 
"Mama pernah ngak jatuh cinta? Anggi mulai mengajukan pertanyaan yang membuat mamanya sejenak menahan nafas. Pertanyaan seperti ini sudah pasti akan terlontarkan dari sang gadis suatu saat nanti ketika anak gadisnya sudah menginjak di usia remaja, yang tentu saja sudah mulai mengenal lawan jenisnya. Meskipun mama tahu kalau peraturan di sekolah anaknya tentu hal ini sangat tidak dibenarkan. Terlihat dari pemisahan kelas antara akwat dan afwan. Tapi yang namanya hati tentu tidak ada yang bisa mengatur, cinta itu sudah anugera yang Kuasa. Tinggal penempatan dan kepantasannya yang harus di jaga. "pernah" Jawab sang mama, yang membuat Anggi mengangkat badannya yang dari tadi bersender dibadan sang mama. "Serius Ma?" Kembali Anggi mengajukan pertanyaan untuk menyakinkan akan jaaban sang mama. "Dua rius" jawab mama sambil menunjukkan dua jari, telunjuk dan tengah. Binar bahagian terpancar dari kedua mata Anggi akan jawaban yang tidak terduga dari mamanya. "Sama Papa y Ma? Pertanyaan Anggi berlanjut. " Berarti, Papa cinta pertama Mama dong?" Mama kembali megembangkan senyumnya, kali ini lebih lebar lagi. Di pelupuk matanya berlarian bagai ombak berguluk-guluk berkejaran menujuh pantai. 

"Daraaa!" Panggil Lia berteriak kencang ketika memasuki kelas, sehingga mengalihkan perhatian anak-anak lain yang sedang asyik sendiri dengan temannya atau yang hanya sekedar melamun sendiri menunggu bel masuk. Lia terlihat begitu senang saat mengetahui mereka satu sekolahan bahkan berada di satu kelas. Lia memang anak yang ceria semenjak mereka satu sekolahan ketika di SMP,  Dara sudah tahu sekali tabiat dan kesehariannya, apalagi rumah tinggal mereka saling berhadapan. Meskipun tidak pernah satu kelas ketika SMP, tapi kedekatan dianatara mereka sudah tidak perlu diceritakan lagi. Dengan tawa yang masih bertengger Lia mendekati Dara. "Kamu juga sekolah di SMA ini, aku pikir kamu melajutkan ke kota". "Tapi aku senang kok, kita akhirnya bersama lagi" Kata Lia Sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas. Dara pun sudah tahu kalau Lia sedang mencari gebetan baru. Melihat itu Dara hanya bisa tersenyum. Kebiasaan yang tidak bisa dihilangkan walaupun sudah berulang kali diingatkan Dara. Lia pasti akan memiliki sejuta jawaban untuk membuat Dara hanya bisa pasrah. Dara kembali asyik sendiri dengan buku yang dibacanya saat tangan Dara terasa ada yang menggoncang begitu keras sambil memanggil namanya, yang ternyata kerjaan siapa lagi kalau bukan Lia yang duduk di sampingnya. "Dara ada yang cakep nih buat gebetan baru, sambil cekikikan Lia menyampaikan seorang cowok yang sedang dipandangi Lia, sementara cowok yang di pandang tidak sadar atau pura-pura ngak sadar Dara ngak tahu atau tepatnya ngak mau tahu. Dengan sedikit terpaksa akhirnya Dara mengalihkan sekejam pandangan melihat ke arah yang diminta Lia. Detak jantung Dara seakan dipompa ketika beradu pandang dengan cowok yang dimaksud temannya, yang ternyata sedang memandang juga kepadanya. Sejenak kedua mata saling terpatri tak mampu berkata. Dara secepatnya menarik pandangannya walaupun detak jantungnya belum bisa berdamai. Dara merasakan sesuatu dalam batinnya yang selama ini belum pernah sekalipun itu dia rasakan selama hidupnya. "Inikah yang disebut cinta, yang sering dikisah dalam novel-novel yang  aku baca?" Dara membatin dan pikiran yang sudah terbang mengudara ke angkasa. Sampai Dara sadar saat nama dipanggil. "Mamaaaa, kok jadi melamun?. Dengan sedikit malu karena sudah berani membayangkan masa lalu yang seharusnya sudah dibuang jauh ke dalam tong sampah kenangan. Sekarang Dara sudah bersama cinta sejatinya, walaupun bukan cinta pertamanya. Dara sangat bahagia dan bersyukur ketika Dara jatuh cinta tidak seperti teman-temannya yang pergi berduaan, bergandengan tangan bahkan ada yang harus menyelesaikan sekolahnya sebelum waktunya karena harus terpaksa dinikahkan karena perbuatan yang melampaui batas. Dra sangat beruntung memiliki orangtua yang selalu menasehati agar selalu berhati-hati dalam bergaul yang bisa merusak masa depan dan melanggar perintah Tuhan. Hal sama akan diajarkan juga kepada anak gadisnya ketika Dara sudah menjadi seorang ibu dari seorang gadis yang cantik dan selalu turut akan nasehatnya. Semua itu bisa terjadi karena Dara tidak pernah membatasi apapun yang akan ditanya gadisnya, termasuk masalah cinta yang sepertinya sedang ditanyakan dan butuh jawaban yang baik darinya sebagai seorang ibu yang baik bagi anaknya.

"kayaknya ana mama sedang jatuh cinta nih, kok nanya-nanya cinta mama sama papa? sambil malu-malu Anggi menganggukkan kepalanya. "Siapa tuh yang sudah membuat hati anak mama kempat-kempot begini?" Dara memcoba menggali lebih dalam kisah perasaan yang juga pernah dialaminya saat seusia anaknya. Maka mengalirlah semua rasa itu dari bibir anaknya dan dengan penuh kesungguhan Dara mencernak kalimat demi kalimat tanpa sedikitpun terlewatkan seluruh gelombang rasa yang sedang menghantap dinding hati anak gadisnya. Pemuda yang telah berahasil memporak-porandakan perasaan anaknya hingga beterbangan ke langit yang ketujuh adalah teman satu sekolah hanya beda tingkat dua tingkat di atasnya alias kakak kelas yang sudah duduk di kelas akhir. Pertemuan terjadi ketika acara Masa Orientasi Sekolah. Awalnya Anggi tidak sedikitpun menghiraukan walaupun rasa di hatinya tidak bisa berbohong kalau benih kekaguman terhadap kakak kelas yang begitu perhatian padanya saat kegitan MOS, tentu tetap dalam koridor tata krama yang sudah ditetapkan sekolah antara ikhwan dan akhwat. Dilarang berduaan, apalagi pergi berdua-duaan tanpa pengawalan dari pihak ketiga, tidak dianjurkan dalam agama. Selain aturan dari sekolah, Anggi juga selalu ingat pesat mama papanya, Anggi selalu ingat itu setiap kali ada teman yang mengajaknya sekalipun hanya sekedar menemani. Perasaan yang selama ini dipendam Anggi karena takut cintanya hanya bertepuk satu tangan, ternyata tidak demikian, cinta Anggi berbalas. Sepucuk surat bersampul merah muda ditemuinya di laci mejanya hari pertama setelah MOS berakhir. Tangan dan hati bergetar, Anggi bingung bingung mau berkata-kata, hingga teman satu mejanya menyapa karena melihat perubahan dari wajahnya. Mencoba tenang seperti tidak terjadi apa-apa, Anggi mengalihkan perhatian temannya dengan mengatakan guru sudah datang. Anggi menarik napas legah setelah berhasil mengalihkan perhatian temannya agar tidak bertanya akan hal yang terjadi pada dirinya. Anggi belum bisa terbuka dengan teman yang baru saja dikenalnya. Kalaupun mau cerita tentu Anggi akan lebih memilih dengan mamanya di rumah. Mama sangat bijaksana dengan segala solusi dan dijamin rahasia tidak akan terbongkar. Mengingat mamanya rasa rindu tiba-tiba membuncah di dadanya Anggi, kalau tidak ingat saat ini di sekolah Anggi ingin segera pulang untuk menceritakan semua yang sedang dialaminya. Kisah surat sejenak terlupahkan ketika guru sudah memulai meyampaikan materi pelajaran pada jam pelajaran pertama pagi itu, bahkan sampai besoknya surat yang berada dengan aman di dalam tasnya pun lupa juga untuk dibaca isinya apa. Hingga besok harinya ketika kembali ke sekolah, Anggi kembali mendapatkan surat kedua dengan warn amplop yang sama merah muda warna kesukaannya. Surat dari siapa juga tertera dengan jelas seperti surat pertama yang ditemui di bawah laci mejanya. Kali ini Anggi sudah lebih bisa mengendalikan ekspresi wajahnya agar temannya tidak curiga, suratpun segera dimasukkan ke dalam tasnya dengan tidak menimbulkan kecurigaan. Anggi juga sudah bertekat dalam hati untuk membiarkan keadaan ini selama satu minggu untuk mengetahui kesungguhan hati sang pemilik surat. Kalau satu minggu ini surat tetap datang baru Anggi curhat dengan mamanya, apa yang harus dilakukan. Bila hanya sampai hari ini saja Anggi tidak akan menanggapi, berarti hanya kerjaan iseng dari manusia yang hanya mempermainkan perasaannya. Ternyata selama satu minggu setiap pagi Anggi selalu mendapatkan surat yang bersampul sama dari orang yang sama, kakak kelas yang sudah membuat jantung hatinya porak-poranda diterpa badai cinta pertama, karena memang baru kali ini hal itu dirasakannya.

Anggi menyodorkan semua surat yang diterimanya ke hadapan mamanya, bahkan surat itu belum dibuka sama sekali. Mama tertawa sambil nyeletuk. "Memang Anggi sudah yakin kalau surat ini ungkapan cintanya untuk Anggi?" "Yakinlah Ma, kan novel yang Anggi baca selalu begitu, kalau surat cinta itu selalu terbungkus dengan amplop warna merah muda" Sang mama hanya tersenyum sambil matanya tak lepas dari kalimat pernyataan hati sang arjuna yang bernama Fadlan lengkapnya Muhammad Fadlan dari surat pertama yang isinya pernyataan perkenalan, dan disusul surat kedua sampai terakhir pernyataan hatinya pada anak gadisnya. Pemuda yang spesial batin Dara setelah selesai membaca semua isi surat yang disodorkan anak gadisnya. Semua isi surat hanya menyatakan perasaannya, tapi istimewanya sang arjuna tidak menginginkan hatinya yang suci terkotori pergaulan yang sering terjadi pada rekannya sesama remaja. Fadli sang pemuda yang hanya ingin cinta mereka sunyi dalam hati saja, seperti cinta Fatimah Azzah putri Rasullah SWT terhadap Ali. Hanya saling mendoakan semoga dipertemukan kelak setelah tiba waktunya ketika seluruh tanggungjawab terhadap orangtua untuk menggapai ilmu untuk masa depan, baik dunia maupun akhirat bisa tercapai. Hingga pada akhirnya cinta dapat bersatu dalam ikatan yang diridhoi Allah SWT yaitu saat sudah berjanji di depan penghulu dan kedua keluarga.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar