Jumat, 31 Mei 2019

JANGAN SAMAKAN MEREKA

JANGAN SAMAKAN MEREKA

Oleh @daras09



          Seorang anak manusia yang hadir di muka bumi ini tentu sudah membawa nasib dan keberuntungan sendiri dalam hidupnya. Ada anak yang sudah terlihat istimewa, yang sejak lahir sudah dibicarakan setiap harinya, seperti anak seorang yang lahir dari orangtua yang sudah namanya dikenal orang, baik pada lingkup kecil maupun lingkup besar, tak perduli anak itu model atau bentuknya seperti apa, cakepkah, hitamka, maniskah atau apalah yang terjadi dengan anak tersebutu tentu menjadi istimewa. Tapi ada anak yang biasa-biasa saja atau tidak ada yang perlu dibahas tentangnya. Yang lebih diutamakan kenali anak agar tidak salah langkah yang akan menyulitkan anak nantinya saat usianya sudah beranjang dewasa, atau menyulitkan orang yang terlibat di sekitarnya.

 "Samanya nanti adik kalian itu dengan kalian". 

Sang anak mendengarkan dengan hati yang bingung di benak anak gadis tertuanya ketika membicarakan adik perempuan terkecil di keluarga mereka yang keluar dari bibir ibunya ketika dia menyampaikan agar adik terkecilnya itu tidak usah melanjutkan ke jenjang tertinggi setelah menyelesaikan sekolah ditingakat menengah atas.

"Tapi mak, pendapat aku berbeda begitu juga dengan ayah, tolonglah dipikirkan kembali".

Sahut anak gadisnya dengan hati-hati dan suara sepelan dan setenang mungkin agar hati maknya tidak tersinggung, karena bagaimanapun pastilah seorang ibu akan sedih kalau salah satu anaknya dibedakan dengan anaknya yang lain. Ibu yang mana yang rela, padahal semua anaknya dikandung dengan rahim yang sama, makanan yang sama juga, tapi mengapa saat lahir ke dunia jadi berbeda. Perlakuan berbeda, cara berpikir berbeda dan tingkat kecerdasan berbeda pula.

"Maaf y mak, bukan bermaksud membedakan adikku yang bungsu ini dengan yang lain, tapi memang mereka berbeda. Adikku yang lain semua rela mengerjakan apapun tanpa diminta. Ini jangankan berpikir sendiri untuk membantu orang lain, diminta sekalipun dia tidak perduli bahkan marah-marah tidak jelas. Jadi lebih baik dimasukkan atau diarahkan ke arah yang mengajarkan keterampilan, misalnya sekolah menjahit, kursus salon kecantikan yang akan lebih cocok untuk kehidupannya ke depan, dan tidak akan  menyusahkan keluaraga, karena sudah punya keterampilan yang bisa menopang kehidupan sendiri kelak bahkan kehidupan keluarga sendiri, untung-untung walaupun tidak berharap bisa berbagi dengan keluaraga yang, atau bersedekah untuk menambah amalan yang baik".

          Kembali menambahkan penjelasan yang lain agar maknya yang polos, baik hati dan begitu bertanggungjawabnya terhadap kelangsungan masa depan anak-anaknya itu, lebih merinci lagi alasan mengapa anak bungsunyanya itu tidak perlu melanjutkan kuliah seperti anak-anaknya yang lain. begitu juga penjelasan dari suami yang kebetulan juga seorang guru yang seharusnya pasti lebih paham dan mengerti kalau setiap anak punya kemampuan yang tidak boleh disamakan dengan anak yang lain. Hati-hati mendidik anak jangan sampai anak berbahaya karena keegoisan orangtua yang tidak paham tingkat kemampuan anak. Sekolah setinggi-tingginya harus, tapi akan sangat sayang dan sia-sia bila sekolah yang dijalani setiap hari nanti nya tidak mampu memberi solusi terhadap kehidupan anak ke depannya. Sebelum itu terjadi berikan pengertian segera bahwa masih ada alternatif yang lain untuk menjadi berhasil dan sukses bahkan melebihi mereka yang bersekolah tinggi, yang penting mau berusaha melatih diri lebih awal mumpung umur masih muda dan tingkat pendalaman terhadap kegiatan keterampilan yang disapatkan pasti lebih muda dibandingkan kalau umur mereka sudah tua, apalagi yang namanya sudah ditimpali istilah malas, sudah lengkap sudah tinggal tunggu keberhasilan yang dicita-citakan tertunda. Tapi sayang sekali semua penjelasan panjang lebar dari anak dan juga suaminya tetap tidak berhasil meluluhkan hati si Ibu. Tetap berpendapat bahwa semua anaknya sama saja, dan suatu saat kelak apa yang diperoleh saudaranya yang lain akan diperoleh juga oleh anak bungsunya. Begitulah rasa kasih dan sayang ibu yang begitu dasyat sampai tidak memikirkan hal lain di depan yang bisa saja terjadi seperti yang ditakutkan keluarga lainnya, tapi karena kuatnya benteng kepercayaan ibu begitu tidak bisa digoyah hal apapun masukan sekitar tidak akan pernah ditanggapi. Semoga jadi ibu yang bijaksana terhadap anaknya, kadang kesal meronta karena tidak sesuai harapan, tapi tetaplah dengar apa kata sekitar, tentu saja mereka yang bisa dipercaya. Demi kemajuan dan kehidupan anak yang bahagia tentram ke depannya. 

     
Jakarta, 28 Ramadhan 1440 Hijriah/ 020619 Masehi

#Day(27)
#OneDay OnePost30HRDC
#WraitingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar