INDAHNYA BERBAGI
Oleh @daras09
"Eh, Anggi sudan bayar zakat?"
"Sudah dong Ai! Kamu sendiri sudah belum?"
"Nah itu masalahnya, aku belum tahu mau bayar zakat ke mana?"
"Kok bisa, kan ada Masjid atau Musallah dekat rumah?" Tinggal datang ke Amil Zakatnya, lalu bayar sesuai dengan takaran untuk beras, jumlah uang kalau yang pakai uang bereskan. Terus masalahnya di mananya neng?"
"Ngak ada masalah dan dimananya sih!"
"Nah, kalau tidak ada masalah tinggal bayar dong!"
"Iya tahu ngak usah gitu amat kali suaranya, pakai dengan mata melotot segala lagi, serem tahu!"
"Ikh, begitu saja sudah marah!"
"Siapa yang marah? Aku cuma bilang biasa saja suaranya dan matanya ngak usah dibesar-besarkan nanti keluar benaran loh! hehehe".
Begitulah percakapan seru kedua ibu muda yang sedang asyik bercengkrama sambil tertawa renya, menertawakan candaan mereka kala terjadi perbincangan di halaman rumah dari salah seorang diantara keduanya. Keduanya ibu muda yang baru saja beberapa tahun menempati rumah mereka di komplek itu, rumah mereka bersebelahan hanya dibatasi tembok begitu keluar rumah bisa langsung bertatap muka. Mereka sudah merasa bagaikan pengganti keluarga yang tidak bisa bersama seperti sebelumnya, karena sudah harus membentuk keluarga yang baru ketika ada yang sudah lebih bertanggungjawab dan punya hak lebih dibanding keluarga. Agar rasa kehilangan dan sepi tidak selalu melanda mencari keluarga baru di tempat yang baru didatangi tindakan yang sangat bijak untuk sekedar tidak membisu sendiri, bila badan beruntung jadilah keluarga baru tempat berbagi rindu dan resa akan kehadiran keluarga yang ditinggal di kota lain.
Bila Allah sudah berkehendak apapun pasti akan terjadi, kesendirian yang dialami karena jauh dari keluarga, mampu kita gantikan dengan kehadiran keluarga lain meskipun bukan kandung tapi rasa keluarga bisa tercipta di sana yang penting mampu menciptakan situasi itu memjadi indah bak keluarga atau bisa jadi musuh karena merasa lebih tinggi derajatnya menurut pendapat sendiri, padahal yang kita nilai seperti itu biasa-biasa saja karena mungkin jadi prinsifnya berbeda. Bagi sebagaian cukup bersyukur dengan pemberian Allah yang sangat berlimpah, tapi bagi yang lain harta dianggap prestasi yang diperoleh dari hasil kerja keras, harus ditunjukkan 'ya...kaya harus disampaikan walaupu tidak langsung dengan suara, tapi gerakan dan cara berpenampilan bahkan tidak pantas dan tidak pada tempatnya.
Untungnya tidak berlaku pada kedua wanita soleha tersebut, mereka hidup berdampingan selalu lebih memilih merendahkan hati dan pikiran agar tercipta kedamaian seperti dua keluarga yang diharapkan. Bebas mengeluarkan untuk menyampaikan masukan sebagai ladang ilmu bagi yang belum tahu tanpa bermaksud menganggap rendah karena ketidaktahuannya dan tidak menjadi sombong dan congkak karena merasa lebih tinggi ilmu yang didapat. Keduanya mampu berlama-lama duduk membahas berbagai hal untuk mengusir sepi kalah suami sedang berjuang untuk memenuhi kelangsungan keluarga kecil masing-masing yang baru dianugrahi bayi kecil perempuan yang cantik untuk keluarga Aisyah yang sering dipanggil Ai oleh Anggi dan lelaki yang tampan penuh pesona untuk Anggi. Umur kedua bayi mereka tidak jauh berbeda, bayi Anggi dua tahu, sedangkan bayi Ai baru saja merayakan hari jadinya yang pertama. Pernah suatu hari di tengah keseruan perbincangan mereka ingin suatu hari kelak kalau anak-nak mereka sudah tumbuh dewasa dan sukses dengan sekolah dan karirnya ingin menjodohkan kedua anaknya agar hubungan yang sudah seperti keluarga ini benar-benar menjelma menjadi keluarga sungguhan. Begitulah keseharian mereka bila ada waktu untuk bisa berbincang sambil menjaga anak mereka yang masih balita. Kadang berteriak kompak berdua ketika akan terjadi hal yang tidak diinginkan terjadi pada kedua anaknya. Hal yang penting tentu saja perbincangan keduanya tidak sampai melupakan semua kewajiban terhadap keluarga mengurus kebutuhan suami sebelum berangkat menunaikan tugasnya, juga tugas lainnya menyempurnakan tatanan rumah agar perasaan nyaman dan betah menghinggapi perasaan seluruh anggota keluarga. Keduanya berjumpa bukan untuk melupakan dan lalai tugas utama terhadap keluarga yang juga merupak ladang pahala yang tidak ada duanya dan tidak boleh dipandang sebelah mata, bahkan jangan sampai tersia-sia. Berkat keluargalah saat ini mereka jadi bisa menjalin silaturahmi yang sangat indah juga bermakna. Karena keluarga jugalah kalau saat ini diantara keduanya menjadi seperti keluarga.
"Ai, sudah bayar zakatnya kan?.
"Sudah dong! Kan ikut anjuran temanku yang bernama?".
Sejenak Ai terdiam, dengan senyum seakan menggoda Anggi yang kelihatanya sedang serius bertanya kepada Ai.
"Ikh, kamu ya senang sekali menggoda orang".
Sambung Anggi sambil mencoba mencubit tangannya Ai, dengan cepatnya Ai menjaukan badannya sebelum tangan Anggi mendarat di tangan atau di badan. Sejurus kemudian keduanya tertawa lepas, yang membuat kedua anak mereka bengong lalu mendekat ke arah orangtua masing-masing. Sekarang mereka jadi berempat dengan anak di dalam pelukan masing-masing ibunya. Kedua anak itu seperti tahu kalau akan ada pembicaraan seru diantara kedua orangtuanya, mereka diam saja ketika dipeluk tidak seperti biasanya memilh berjalan kemana-mana mengitari seluruh halaman di depan rumah.
"Terimaksih ya Nggi dengan saranmu".
"Saran yang mana ya?"
Sekarang Anggi yang balas menggoda, seakan balas dendam akan kelakuan Ai barusan. Tapi Ai tidak membalas hanya senyum mengerti kalau Anggi hanya mencoba membalas godaannya tadi. Kali ini agak terlihat serius yang terpancar dari wajah keduanya
"Selama ini aku paksa untuk harus ke kotaku agar membayar zakat di sana atau ke kampung halaman suami, sehingga menyusahkan keluarga di sana, padahal kita boleh berzakat di mana saja yang penting sesuai aturan yang sudah ditentukan. Boleh langsung kepada yang berhak menerima atau kita bisa serahkan ke Amil Zakat yang biasanya sudah ditetapkan setiap Masjid. sebaiknya diberikan jauh-jauh hari agar mereka yang berhak bisa menikmati rasa bahagia ketika datangnya hari kemenangan setelah sebulan berjuang mulai sahur di pagi hari sampai seharian tidak menyentuh hidangan sekecil apapun karena jatuhnya haram walaupun itu makanan halal, akan jadi haram bila di siang hari ketika sedang menunaikan ibadah puasa, dan sebaliknya akan pahala bila disegerahkan ketiga saat berbuka puasa telah tiba. Subhanallah Maha Suci Allah akan segala nikmatNya yang telah dikaruniakan kepada hambahNya yang selalu taat menjalankan perintahNya. Walaupun sebenarnya kita masih syah membayar zakat ketika sholat Id belum dimulai".
Ai menambahi penjelasannya.
"Syukur alhamdulilah puji Anggi".
Sambil mengangkat kedua jempolnya mengarahkan ke Ai dan tidak lupa menyertakan dengan senyum terindahnya karena sudah bisa menghalau kegelisahan yang kemarin-kemarin sempat menggelanyuti wajah cantik Ai yang sangat manis.
"Terimakasih ya Anggi atas pencerahannya".
Bisik Ai hampir tidak terdengan kedua bola matanya berkaca-kaca. Anggi sampai dibuat terheran-heran akan tingkah tetangganya yang sudah menjadi sahabat dan juga saudaranya. Anggi jadi ikut terharu juga. Hitungan berikutnya belum sampai tiga keduanya sudah bersatu dalam pelukan masing-masing. Pelukan tanda indahnya bertetangga yang saling memberi dan mengingatkan, apalagi sesama muslimah yang taat akan perintah aturan Sang Khalik. Indahnya berbagi dengan berzakat. Indahnya berbagi ilmu dengan saudara sesama muslim dan muslimah.
Jakarta, 20 Ramadhan 1440 Hijriah/ 250519 Masehi
"Ngak ada masalah dan dimananya sih!"
"Nah, kalau tidak ada masalah tinggal bayar dong!"
"Iya tahu ngak usah gitu amat kali suaranya, pakai dengan mata melotot segala lagi, serem tahu!"
"Ikh, begitu saja sudah marah!"
"Siapa yang marah? Aku cuma bilang biasa saja suaranya dan matanya ngak usah dibesar-besarkan nanti keluar benaran loh! hehehe".
Begitulah percakapan seru kedua ibu muda yang sedang asyik bercengkrama sambil tertawa renya, menertawakan candaan mereka kala terjadi perbincangan di halaman rumah dari salah seorang diantara keduanya. Keduanya ibu muda yang baru saja beberapa tahun menempati rumah mereka di komplek itu, rumah mereka bersebelahan hanya dibatasi tembok begitu keluar rumah bisa langsung bertatap muka. Mereka sudah merasa bagaikan pengganti keluarga yang tidak bisa bersama seperti sebelumnya, karena sudah harus membentuk keluarga yang baru ketika ada yang sudah lebih bertanggungjawab dan punya hak lebih dibanding keluarga. Agar rasa kehilangan dan sepi tidak selalu melanda mencari keluarga baru di tempat yang baru didatangi tindakan yang sangat bijak untuk sekedar tidak membisu sendiri, bila badan beruntung jadilah keluarga baru tempat berbagi rindu dan resa akan kehadiran keluarga yang ditinggal di kota lain.
Bila Allah sudah berkehendak apapun pasti akan terjadi, kesendirian yang dialami karena jauh dari keluarga, mampu kita gantikan dengan kehadiran keluarga lain meskipun bukan kandung tapi rasa keluarga bisa tercipta di sana yang penting mampu menciptakan situasi itu memjadi indah bak keluarga atau bisa jadi musuh karena merasa lebih tinggi derajatnya menurut pendapat sendiri, padahal yang kita nilai seperti itu biasa-biasa saja karena mungkin jadi prinsifnya berbeda. Bagi sebagaian cukup bersyukur dengan pemberian Allah yang sangat berlimpah, tapi bagi yang lain harta dianggap prestasi yang diperoleh dari hasil kerja keras, harus ditunjukkan 'ya...kaya harus disampaikan walaupu tidak langsung dengan suara, tapi gerakan dan cara berpenampilan bahkan tidak pantas dan tidak pada tempatnya.
Untungnya tidak berlaku pada kedua wanita soleha tersebut, mereka hidup berdampingan selalu lebih memilih merendahkan hati dan pikiran agar tercipta kedamaian seperti dua keluarga yang diharapkan. Bebas mengeluarkan untuk menyampaikan masukan sebagai ladang ilmu bagi yang belum tahu tanpa bermaksud menganggap rendah karena ketidaktahuannya dan tidak menjadi sombong dan congkak karena merasa lebih tinggi ilmu yang didapat. Keduanya mampu berlama-lama duduk membahas berbagai hal untuk mengusir sepi kalah suami sedang berjuang untuk memenuhi kelangsungan keluarga kecil masing-masing yang baru dianugrahi bayi kecil perempuan yang cantik untuk keluarga Aisyah yang sering dipanggil Ai oleh Anggi dan lelaki yang tampan penuh pesona untuk Anggi. Umur kedua bayi mereka tidak jauh berbeda, bayi Anggi dua tahu, sedangkan bayi Ai baru saja merayakan hari jadinya yang pertama. Pernah suatu hari di tengah keseruan perbincangan mereka ingin suatu hari kelak kalau anak-nak mereka sudah tumbuh dewasa dan sukses dengan sekolah dan karirnya ingin menjodohkan kedua anaknya agar hubungan yang sudah seperti keluarga ini benar-benar menjelma menjadi keluarga sungguhan. Begitulah keseharian mereka bila ada waktu untuk bisa berbincang sambil menjaga anak mereka yang masih balita. Kadang berteriak kompak berdua ketika akan terjadi hal yang tidak diinginkan terjadi pada kedua anaknya. Hal yang penting tentu saja perbincangan keduanya tidak sampai melupakan semua kewajiban terhadap keluarga mengurus kebutuhan suami sebelum berangkat menunaikan tugasnya, juga tugas lainnya menyempurnakan tatanan rumah agar perasaan nyaman dan betah menghinggapi perasaan seluruh anggota keluarga. Keduanya berjumpa bukan untuk melupakan dan lalai tugas utama terhadap keluarga yang juga merupak ladang pahala yang tidak ada duanya dan tidak boleh dipandang sebelah mata, bahkan jangan sampai tersia-sia. Berkat keluargalah saat ini mereka jadi bisa menjalin silaturahmi yang sangat indah juga bermakna. Karena keluarga jugalah kalau saat ini diantara keduanya menjadi seperti keluarga.
"Ai, sudah bayar zakatnya kan?.
"Sudah dong! Kan ikut anjuran temanku yang bernama?".
Sejenak Ai terdiam, dengan senyum seakan menggoda Anggi yang kelihatanya sedang serius bertanya kepada Ai.
"Ikh, kamu ya senang sekali menggoda orang".
Sambung Anggi sambil mencoba mencubit tangannya Ai, dengan cepatnya Ai menjaukan badannya sebelum tangan Anggi mendarat di tangan atau di badan. Sejurus kemudian keduanya tertawa lepas, yang membuat kedua anak mereka bengong lalu mendekat ke arah orangtua masing-masing. Sekarang mereka jadi berempat dengan anak di dalam pelukan masing-masing ibunya. Kedua anak itu seperti tahu kalau akan ada pembicaraan seru diantara kedua orangtuanya, mereka diam saja ketika dipeluk tidak seperti biasanya memilh berjalan kemana-mana mengitari seluruh halaman di depan rumah.
"Terimaksih ya Nggi dengan saranmu".
"Saran yang mana ya?"
Sekarang Anggi yang balas menggoda, seakan balas dendam akan kelakuan Ai barusan. Tapi Ai tidak membalas hanya senyum mengerti kalau Anggi hanya mencoba membalas godaannya tadi. Kali ini agak terlihat serius yang terpancar dari wajah keduanya
"Selama ini aku paksa untuk harus ke kotaku agar membayar zakat di sana atau ke kampung halaman suami, sehingga menyusahkan keluarga di sana, padahal kita boleh berzakat di mana saja yang penting sesuai aturan yang sudah ditentukan. Boleh langsung kepada yang berhak menerima atau kita bisa serahkan ke Amil Zakat yang biasanya sudah ditetapkan setiap Masjid. sebaiknya diberikan jauh-jauh hari agar mereka yang berhak bisa menikmati rasa bahagia ketika datangnya hari kemenangan setelah sebulan berjuang mulai sahur di pagi hari sampai seharian tidak menyentuh hidangan sekecil apapun karena jatuhnya haram walaupun itu makanan halal, akan jadi haram bila di siang hari ketika sedang menunaikan ibadah puasa, dan sebaliknya akan pahala bila disegerahkan ketiga saat berbuka puasa telah tiba. Subhanallah Maha Suci Allah akan segala nikmatNya yang telah dikaruniakan kepada hambahNya yang selalu taat menjalankan perintahNya. Walaupun sebenarnya kita masih syah membayar zakat ketika sholat Id belum dimulai".
Ai menambahi penjelasannya.
"Syukur alhamdulilah puji Anggi".
Sambil mengangkat kedua jempolnya mengarahkan ke Ai dan tidak lupa menyertakan dengan senyum terindahnya karena sudah bisa menghalau kegelisahan yang kemarin-kemarin sempat menggelanyuti wajah cantik Ai yang sangat manis.
"Terimakasih ya Anggi atas pencerahannya".
Bisik Ai hampir tidak terdengan kedua bola matanya berkaca-kaca. Anggi sampai dibuat terheran-heran akan tingkah tetangganya yang sudah menjadi sahabat dan juga saudaranya. Anggi jadi ikut terharu juga. Hitungan berikutnya belum sampai tiga keduanya sudah bersatu dalam pelukan masing-masing. Pelukan tanda indahnya bertetangga yang saling memberi dan mengingatkan, apalagi sesama muslimah yang taat akan perintah aturan Sang Khalik. Indahnya berbagi dengan berzakat. Indahnya berbagi ilmu dengan saudara sesama muslim dan muslimah.
Jakarta, 20 Ramadhan 1440 Hijriah/ 250519 Masehi
#Day(18)
#OneDay OnePost30HRDC
#WraitingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar